Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 88: Kebohongan Yang Fatal


__ADS_3

"Kenapa kamu baru datang?"


Tidak biasanya Andre datang terlambat ke toko, dan hal itu membuat Haji Bagong sedikit merasa aneh.


"Aaaahhh... itu...itu... tadi..."


Dan Andre tiba-tiba jadi Aziz gagap. Saat Andre di jalan tadi, mobilnya tidak sengaja bersimpangan dengan mobil milik Hajah Maesaroh. Dan entah dapat bisikan dari mana dia lancang mengikutinya. Kemudian berakhir melihat sebuah kenyataan, jika Hajah Maesaroh menemui putrinya, Saraswati.


Sekarang Andre bingung, apakah dia harus membeberkan informasi ini pada Haji Bagong. Andre yakin sekali jika Hajah Maesaroh pergi ke sana sembunyi-sembunyi. Andre masih ingat betul geger gedhen saat di rumah Paijo. Haji Bagong jelas tidak mau lagi mengakui Saras sebagai anaknya.


Haji Bagong mengernyitkan alis, "Kamu kenapa ha?!"


"Oh... itu tadi Andre sakit perut, mules, jadi mampir pom bensin dulu" Andre beralasan. Mungkin lebih baik dia diam.


"Makanya kalau makan itu pilih-pilih, jangan asal emplok !" omel Haji Bagong, "sudah sana kamu ganti itu si Sri, saya ragu kalau bukan kamu yang pegang uang di kasiran!"


Andre mengangguk, namun mulutnya tiba-tiba berbasa-basi. "Bah, Umik apa kabar?"


Haji Bagong menatap Andre curiga lagi, "Baik, kenapa?"


"Umik bilang mau main ke Mbah Kaji hari ini, kenapa kamu mau sekalian ke sana? Tengok kakekmu juga?"


Andre meringis. Benar. Hajah Maesaroh bahkan berbohong. Jelas tadi dia melihat Hajah Maesaroh bertemu dengan Saras.


"Enggak...eh maksudnya Andre kapan-kapan aja ke sananya, hehe..."


"Haishhh... cucu durhaka ya begini. Tengok kakeknya kog kapan-kapan"


"Kapan-kapan kalau inget maksudnya..."


Andre meringis lagi. Buru-buru dia kabur. Masuk kedalam area kasir yang di sekat-sekat dengan pembatas kaca transparan. Dari pada kena omel lebih lanjut. Haji Bagong diam saja sudah menyeramkan apalagi ngomel. Bikin pening kepala.


***


Menjelang toko tutup, semua karyawan sibuk membereskan pekerjaan masing-masing. Baki-baki berisi perhiasan di kemas untuk di masukan ke sebuah brangkas besar. Haji Bagong berdiri mengawasi mereka. Pikiran Haji Bagong tiba-tiba tertampar dengan omelannya sendiri pada Andre tadi pagi. Bisa-bisanya dia mengatai Andre cucu durhaka karena tidak menengok kakeknya. Sedangkan dia yang anaknya saja juga jarang berkunjung ke rumah Bapaknya.


"Ndre!" Haji Bagong menghentikan Andre yang berjalan melewatinya. Sepupu Saras itu sontak berhenti dan bergumam ya.


"Abah mau ke rumah Mbah Kaji, kamu mau sekalian ikut ga?"


Andre garuk-garuk kepala. Gawat! bisa-bisa Umik ketahuan kalau bohong. Bagaimana ini?


Andre pening. Dari pada harus jadi saksi huru hara keributan pamannya, lebih baik dia menolak. Masa bodoh dengan kebohongan Hajah Maesaroh, Andre ga mau ikut-ikutan lagi.


"Andre ada janji sama temen, nanti kalau di batalin dia ngambek, Bah, hehe..."

__ADS_1


"Hah, sudahlah percuma Abah ngajak kamu!"


"Banyak alasan!"


Mobil Haji Bagong sudah terparkir di halaman rumah Mbah Kaji yang luasnya seluas lapangan sepak bola di kampung mereka. Kedatangannya pun langsung di sambut hangat oleh laki-laki keriput yang meski berlanjut usia tapi ingatannya masih tajam setajam siletnya Feni Rose.


"Kog ya ga barengan kalau mau kesini? Tadi pagi istrimu kesini, sekarang maghrib-maghrib kamu baru datang"


Haji Bagong melembutkan pandangannya, menatap laki-laki tua yang di panggilnya Abah. Di usinya yang udzur, Mbah Kaji lebih dulu di tinggal sang istri. Ibu Haji Bagong itu meninggal dunia lima tahun yang lalu. Beruntung Mbah Kaji meski punya banyak anak kandung, semasa masih jaya beliau juga mengangkat anak dari salah satu yayasan yatim piatu. Di saat anak-anak kandungnya sudah berumah tangga masing-masing dan hidup serba kecukupan di rumah yang megah-megah, Mbah Kaji tidak risau karena di temani anak angkatnya yang sangat berbakti, menemani dan merawatnya dengan telaten.


"Maaf Bah, kalau pagi saya 'kan ke toko, sedangkan Umiknya Saras, maksudnya, Mae mau main kesini duluan," Demi apa, Haji Bagong bahkan mengoreksi panggilan itu. Alergi mungkin menyebut nama Saras.


"Oh ya... bagaimana? Abah suka tidak dengan rawon masakan Maesaroh?"


"Jangan makan banyak-banyak, ingat kolesterol sudah tua... saya juga ga berani makan banyak meski suka"


"Rawon dengkulmu!" Mbah Kaji nyolot, meski sudah tua dirinya belum pikun.


"Mae kemari tidak bawa rawon, lihat itu buah-buahan yang dia bawa saja masih di meja makan, tadi baru tak makan gandosnya yang empuk, kalau makan buah gigi Abah suka linu, udah ga kuat nyokot"


Lalu rawon tadi pagi untuk siapa?


Haji Bagong meremas tangannya, istrinya berbohong. Baru kali ini dia berani berbohong. Atau dia sudah biasa membohongi, tapi dirinya yang tidak sadar di bohongi?


"Bilang sama si Mae, kalau masak rawon juga ga perlu repot di bawakan kesini, Abah sudah ga punya gigi, sudah lama ga makan daging-daging, mau main kesini saja Abah sudah seneng"


"Oh ya, kamu beneran, tidak mau mengajak Saras pulang?"


"Itu cucu Abah kesayangan kog ya ada-ada aja"


"Kamu ajak dia pulang! bagaimana pun caranya!"


"Ngisin-ngisini, anak wedok loro kog podo wae, gondeli wong lanang timbang wong tuane dewe!"


Kepalan tangan Haji Bagong mengeras. Marah dan kecewa karena istrinya sudah berani berbohong. Di tambah ingatan pada kelancangan Saras yang sudah minggat dari rumah. Apa kabar kalau Haji Bagong tahu Saras sudah menikah dengan Paijo. Kena mental bisa-bisa.


"Saya pulang dulu, ada hal yang perlu saya urus!"


Haji Bagong bangkit dari duduknya. Mengabaikan teriakan Mbah Kaji yang memintanya untuk sholat Maghrib dulu.


"Hlah, bocah gendeng, ora sholat ndisek malah langsung balik"


"Jane ono opo! Malah melu mumet aku!"


****

__ADS_1


"Abah udah pulang?"


"Mau Umik siapkan makan dulu atau mau mandi dulu?"


"Sudah sholat Maghrib belum?"


"Tumben sampai jam segini baru masuk kerumah, mampir kemana?"


Haji Maesaroh bersikap biasa-biasa saja, bahkan lebih terlihat bahagia. Karena tadi pagi hingga siang hari, sudah dia habiskan bersama Saras.


"Mampir kerumah," jawab Haji Bagong dingin.


Hajah Maesaroh membulatkan mata, kaget.


"Mampir ke rumah, rumah saya, rumah orang tua saya!" terang Haji Bagong dengan nada tandas. Mengintimidasi.


Jantung Hajah Maesaroh rasanya rontok berserakan di lantai saat itu juga.


"KAMU BOHONG! SUDAH BERANI SEKARANG!"


"Bah, dengerin Umik dulu..."


"HUSH...!"


"JAWAB, BUAT SIAPA KAMU MASAK RAWON?!!!"


Tubuh Hajah Maesaroh bergetar hebat. Air matanya kembali mengalir. Pertengkaran ini bukan yang pertama, tapi sakitnya masih sama.


Hajah Maesaroh dilema sebagai istri dan juga seorang ibu dari anak-anaknya. Hatinya sakit saat di bentak-bentak seperti ini. Sekaligus sakit karena di paksa melupakan anak-anak yang lahir dari rahimnya. Bagaimana bisa?


"Untuk Saras, Saras anak kita"


Detik kemudian, tubuh Hajah Maesaroh limbung. Jatuh tersungkur di lantai. Tak sadarkan diri.


.


.


.


.


.


Othor lagi belajar menajamkan konflik ya, yang berharap Haji Bagong kena stroke terus sadar mau menerima pernikahan Saras, kayaknya terlalu biasa ya. Pengen coba yang beda, semoga kalian suka. Matursuwun😁

__ADS_1


__ADS_2