
...Dia Paijo, cucuku yang sudah pandai mencari uang, tapi belum paham makna menjadi kaya raya yang sebenarnya. Jelaskan padanya, dan ceritakan kisah kita agar dia bisa berani memperjuangkan cintanya......
^^^Ttd,^^^
^^^Sam^^^
Fatimah melipat kembali sepucuk surat setelah membacanya sekilas. Senyumnya mengembang, betapa semakin kagum dirinya pada sosok laki-laki yang menua bersama dengannya, walaupun terpisahkan jarak dan waktu.
"Bagaimana kabar Sam?" Paijo mengulas senyum tipis. Saat ini mereka berdua duduk di ruang kerja wanita itu. Di sudut kanan terlihat rak berisi deretan buku yang tertata rapi. Dari sini Paijo paham jika wanita ini pemilik sekaligus kepala Panti asuhan Fatimah.
"Mbah Sam sempat terkena serangan jantung tempo hari. Setelah tidak sadarkan diri, baru beberapa hari yang lalu beliau siuman."
"Ah... syukurlah..."
"Mbah memintaku datang kesini, mengantarkan ini juga," Paijo menyerahkan amplop coklat yang sudah di pastikan berisi uang. Fatimah menerima amplop itu, tanpa berniat membukanya.
"Terimakasih, saya sudah tahu jika amplop ini berisi uang."
"Uang untuk anak-anak," Paijo masih diam menyimak.
"Mungkin kamu bertanya-tanya, hubungan seperti apa antara saya dengan kakek 'mu bukan?" Paijo mengganggukan kepala pelan.
Membuat Fatimah tersenyum lebar.
"Minumlah teh itu dulu, karena saya akan menceritakan sebuah kisah nyata, rahasia kami berdua..."
Paijo menelan ludah, pikirannya sudah kemana-mana. Setengah takut jika ternyata wanita ini benar istri kedua atau istri kesekian kakeknya yang sengaja di sembunyikan. Paijo mengangkat cangkir teh yang telah di sajikan. Meminumnya sekilas, sebatas membasahi tenggorokan yang terasa kering. Setelah Paijo meletakkan gelasnya, Fatimah kembali berbicara. Pandangan matanya menerawang, mengajaknya bernostalgia ke masa muda.
Wanita itu menarik nafas dan menghembuskan pelan sebelum berbicara.
"Usiaku enam belas tahun ketika aku pertama kali jatuh cinta pada seorang pemuda,"
"Pemuda miskin penjual bakso keliling,"
"Aku mengatakannya miskin, karena dulu memang orang tuaku termasuk orang yang kaya raya, kalau anak muda zaman sekarang mungkin menyebutnya crazy rich, benarkan?" Fatimah tersenyum meminta persetujuan Paijo yang membalas dengan senyuman pula.
"Awalnya aku hanya jatuh cinta pada bakso jualannya, setiap hari aku menghadangnya lewat di depan rumah. Sampai pada akhirnya aku jatuh cinta pada orangnya."
" Kami hanya bisa curi-curi pandang. Remaja zaman dulu, tidak seberani zaman sekarang. Yang mudah bersuit-suit jika melihat wanita cantik lewat. Tanpa sepatah kata apapun, apalagi rayuan gombal."
"Hari-hari selanjutnya, dia selalu menggratiskan setiap aku membeli. Sampai pada suatu ketika, dia mulai sedikit berani. Mengajakku bertemu di sebuah taman. Aku masih ingat, itu adalah pertama kali aku berbohong pada orang tuaku."
"Aku mengatakan akan membeli kain untuk menjahitkan baju baru, padahal aku menemui pemuda itu. Hehe..."
"Hatiku berdebar saat itu, bukan hanya karena takut kalau ketahuan berbohong. Tapi juga berdebar saat bertemu dengannya."
"Kami berdua jatuh cinta."
"Tapi sayang, kami tidak bisa memperjuangkan cinta kami."
"Cinta beda kasta zaman dulu sangat mengerikan. Bukan dia tidak mau berjuang, tapi lebih ke sadar diri, dia siapa aku siapa?"
"Sampai pada suatu hari, perjodohan untukku di tetapkan. Dan aku menikah dengan seorang pemuda dari keluarga yang terhormat."
"Aku seorang gadis yang di didik untuk selalu menurut. Sedikitpun aku tidak punya keberanian untuk berbicara apalagi menolak."
__ADS_1
"Menikahlah, katanya. Aku memang mencintaimu, tapi aku sama sekali tidak pantas untukmu. Aku hanya bisa mencintaimu seumur hidupku dalam diam."
"Itu kata-katanya yang membuatku menangis tujuh hari tujuh malam. Bahkan saat di pelaminan air mataku terus mengalir."
"Kami berpisah selama bertahun-tahun, tanpa bertukar kabar."
"Aku menjalani hidupku, dan dia menjalani hidupnya."
Paijo merasa dadanya sesak, setiap tutur kata yang di ucapkan Fatimah terasa dalam. Ternyata wanita ini adalah orang yang berarti bagi kakeknya.
"Sepuluh tahun aku menikah tanpa cinta. Bertahan dengan seorang laki-laki yang temperamental. Mungkin kondisi psikis yang selalu tertekan membuatku susah memiliki keturunan. Hingga suamiku menceraikan aku,"
"Aku tahu jika dia juga sudah menikah dan hidup bahagia bersama anak dan istrinya."
"Sedikit pun aku tidak berniat menjadi orang ketiga. Tapi entah dari mana dia tahu jika rumah tangga 'ku gagal. Dia menemui 'ku sebagai teman."
"Dia bilang istrinya sudah tahu tentang kisah kami dulu, tapi nenekmu benar-benar baik. Dia sama sekali tidak melarang kami berteman."
"Bahkan mendukung keinginan 'ku untuk bisa mendirikan panti asuhan ini,"
Paijo memberanikan diri untuk bertanya. Kisah cinta yang memilukan. "Nenekku sudah lama meninggal, kenapa kalian tidak memutuskan bersama saja?"
Fatimah kembali tersenyum manis. "Nak, aku tahu nenekmu juga perempuan yang baik. Aku juga tahu jika Sam juga sangat mencintai nenekmu. Bagi kami, apalah arti membangun rumah tangga yang baru. Toh, kami sama-sama sudah pernah menjalaninya masing-masing. Cukup kami saling menyayangi sebagai saudara jauh. Sekedar bertanya kabar, dan ikut bahagia jika melihat orang yang kita sayangi bahagia."
"Aku ingin, hanya nenekmu yang berjodoh dengan Sam hingga surga nanti. Bagaimana pun juga dari rahim nenekmu lah, anak-anak Sam lahir. Jadi, dia yang berhak untuk menjadi bidadari Sam hingga akhir nanti, bukan aku,"
"Kami saling mencintai, tapi sampai saat ini kami sepakat, tidak ada hubungan apapun antara kami berdua"
"Lagipula kami sudah punya banyak anak, hampir seratus anak. Bagiku ini sudah cukup."
"Maksud anda, anak yatim di sini?"
"Saya ibunya dan Sam Bapaknya. Sebagai seorang Bapak dia jungkir balik mencarikan nafkah untuk kami, menyekolahkan mereka setinggi mungkin."
"Sam adalah orang yang kaya raya, bukan kaya raya dengan harta yang berlimpah. Namun, kaya karena kebaikan hatinya." "Kedermawanannya pada orang lain. Dan bukan orang yang suka menumpuk harta. Andaikan dia tidak menafkahi anak-anak ini, bukan hal yang sulit jika sekedar punya rumah yang besar dan bagus. Tanah yang berhektar-hektar. Atau mobil bagus yang bersuara halus."
"Tapi pada kenyataannya, dia masih hidup dengan kesederhanaannya."
Air mata Paijo sudah merembes. Dia merasa dadanya di hantam palu besar. Paijo ingat bagaimana pertama kali dia mencibir Cak Sam dulu saat pertama kali datang, mengungsi saat dirinya kabur setelah bertengkar hebat dengan Bapaknya.
Mbah katanya sukses? kenapa rumah Mbah sudah tua dan jelek sekali?
Pokoknya, aku tidak mau pulang ke rumah sebelum aku bisa menjadi orang kaya melebihi Bapak. Memiliki tanah yang luasnya berhektar-hektar.
Pulanglah Mas, aku menunggu 'mu untuk segera menyusul pulang!
Suara Cak Sam dan Saraswati terngiang-ngiang di telinga Paijo. Selama ini Paijo sudah buta mengejar dunia. Mengumpulkan pundi-pundi rupiah tanpa tahu menggunakannya untuk hal-hal yang berbau sosial. Kesombongan diri untuk bisa lebih di atas Bapaknya juga sifat buruk yang luput dia sadari. Dan membiarkan Saras pulang tanpa kepastian hubungan kedepannya, padahal dia merasa sangat mencintai gadis itu. Harusnya dia berani melangkah. Bukan terus terbuai memupuk harta untuk pembuktian diri. Saraswati adalah gadis yang layak dia perjuangkan. Bagaimana pun caranya. Dan harta bukan segalanya.
Paijo meneteskan air mata, menyesali kebodohannya. Dari kisah cinta Cak Sam dan Fatimah, Paijo menarik kesimpulan jika cinta memang perlu di perjuangkan, jika tidak ingin kita menyesal di kemudian hari. Terlepas berjodoh atau tidak, ya kita harus terima sebagai garis takdir yang sudah di tentukan oleh Tuhan, yang penting sudah berusaha.
Sekarang Paijo sadar, jika kakeknya itu benar-benar orang yang baik. Dermawan, walaupun tidak berkecukupan. Beliau mengabdikan diri untuk menafkahi anak-anak yatim. Benar sekali Mbah, anda ternyata orang yang kaya raya. Sekarang aku malu, malu sekali.
"Nak,..."
"Menginaplah semalam di sini. Kamu cucu Sam, itu artinya kamu juga cucu saya."
__ADS_1
Paijo menyeka air matanya, dia mengangguk menyetujui untuk menginap. Belum selesai dia terenyuh. Ketukan pintu terdengar dari luar.
"Masuk!" ternyata seorang pemuda berusia lebih muda dari Paijo. Ibu Fatimah memanggilnya As. Entah As siapa. Astaga atau Assalamu'alaikum, Paijo tidak tahu. Pemuda itu terlihat sangat alim dengan pakaian Koko lengkap dengan sarungnya.
"Ada apa As?"
Dengan menunduk khidmat As menjawab. "Bu, ada tamu yang akan menitipkan anaknya di sini."
"Oh... silahkan bawa masuk saja."
"Oh ya As, perkenalkan ini Paijo. Cucu Pak Sam. Persiapkan satu kamar untuknya. Malam ini dia menginap disini " As melempar senyum ramah dan mengulurkan tangan, bersalaman. Dia tidak banyak bicara.
Merasa akan ada tamu, Paijo sadar diri. "Apa saya harus keluar dulu, saya bisa menunggu di luar."
Fatimah tersenyum, "Tidak perlu, duduklah di sini. Temani saya."
"As, siapkan berkas-berkas yang di perlukan ya. Ibu itu tadi sudah konfirmasi untuk menitipkan anaknya di sini. Datanya harus di lengkapi sekalian."
As mengangguk dan keluar lagi. Beberapa detik kemudian masuk bersama seorang ibu dan anak kecil berusia sekitar tujuh tahun.
"Silahkan duduk Bu," Fatimah sangat ramah.
Wanita itu mengangguk sungkan dan duduk di samping Jo. "Salim dulu sama Ibu dan Mas," ujar wanita itu pada anaknya. Bocah kecil itu menurut saja. Dari raut wajahnya, sudah terlihat jika dia sedih.
"Eh pinter, namanya siapa?" Bocah itu nampak enggan menjawab.
"Jawab dek, namanya siapa?" rayu ibunya.
"Alvin" jawabnya lirih menyayat hati.
Fatimah dengan penuh kasih sayang mengajaknya berbicara. "Alvin, panggil saya Oma Fatimah dan ini Om Paijo."
Anak itu masih menunduk. Sedangkan ibunya sibuk mengisi data-data yang diperlukan.
Tangan Alvin masih setia melingkari lengan ibunya. Ibu Alvin kembali memberikan pengertian pada anak laki-lakinya yang akan di titipkan itu. "Alvin, pengen sekolah 'kan? kalau di sini Alvin bisa sekolah."
"Kalau sama Ibu, Ibu ga bisa menyekolahkan Alvin."
"Nanti Ibu janji sering jenguk kesini."
Bocah kecil itu mulai merengek. Bahkan sudah menangis terisak-isak.
"Alvin mau sama ibu."
Paijo sungguh tidak tega. Di depan matanya anak kecil itu akan hidup terpisah dengan ibunya. Ibunya seorang janda yang baru di tinggal mati suaminya. Keadaan ekonomi yang buruk dan hidup tanpa saudara. Mungkin itu yang membuat wanita itu terpaksa menitipkan anaknya. Agar anaknya lebih hidup terjamin.
Paijo beruntung, meski samar mengingat wajah ibunya, karena sudah di tinggal meninggal ibunya sejak balita. Setidaknya, ada Salma yang membesarkannya seperti anak kandungnya sendiri. Dan dia tumbuh dengan serba kecukupan. Sungguh, hari ini Paijo merasa di tampar bertubi-tubi. Merasa tak tahu diri sekali.
.
.
.
.
__ADS_1
.
like dan komen bagi hadiah juga😁😘😘😏