
Ke pasar, belanja, menggiling daging, membantu jualan di warung. Lelah dan bosan. Itu yang di rasakan Paijo. Jiwanya bergejolak.
Kalau begini-begini saja kapan bisa kaya, kapan bisa sukses.
Paijo mengusap-usap meja dengan sebuah kain serbet kotak-kotak, padahal meja itu sudah nampak kinclong. Dia terlihat melamun, memikirkan masa depannya yang masih abu-abu. Mau melangkah tapi bagaimana caranya? mau buka usaha tapi apa? Jelas berjualan bakso bukan passionnya. Dia hanya sementara menjalani ini.
"Mejanya udah bersih! Salah-salah nanti mejanya laku di beli orang!" sindir cak Sam yang sedari tadi mengamati cucu kesayangannya.
Paijo besengut kesal, tingkahnya itu sudah mirip anak gadis yang sedang PMS. "Aku bosan mbah, sampai kapan aku bantu-bantu gini. Aku ngerasa ga ada perkembangan. Ke pasar, giling daging, mengantar semangkuk bakso, mengambil piring kotor. Gitu terus muternya. Membosankan! Tidak ada yang menantang. Aku sih yakin ini bukan passion 'ku mbah!"
"Passion?" Cak Sam sedikit bingung jika diajak ngobrol ke Inggris-inggrisan begitu. Dia mencampakkan uang yang sedang dia tata. Kemudian meraih hp miliknya dan mengetikan kata itu itu di mesin pencarian. "Bagaimana mengeja kata passion?"
"P-a-s-s-i-o-n!" eja Paijo.
Cak Sam terdiam untuk beberapa detik, sekilas dia membaca arti dari kata itu pada sebuah artikel. Sekarang dia paham apa maksud Paijo.
"Memangnya kamu tidak senang membantu kakek 'mu ini? Padahal mbah berfikir akan mewariskan warung bakso ini sama kamu."
Paijo mendekat ke meja kasir dimana sang kakek duduk. "Maaf mbah, bukannya aku tidak senang. Aku beruntung tinggal sama mbah, merasa lebih nyaman di bandingkan di rumah."
"Tapi jualan bakso seperti ini..." ada jeda dalam kalimat Paijo.
"Aku merasa kurang hihhh...!" ucap Paijo sambil mengepalkan tangan diudara. "tidak ada tantangan, maupun gairah. Mbah paham 'kan?"
"Terus bagaimana? mbah bisa bantu apa biar kamu bisa menemukan hihhh 'mu itu?!" Ucap Cak Sam ikut menirukan gaya Paijo tadi.
Suasana warung yang sudah mulai lenggang di malam hari membuat aktivitas mereka tidak begitu sibuk. Pukul sembilan malam, hanya tinggal beberapa pelanggan yang terlihat masih menikmati bakso mereka. Bejo kawan-kawan juga terlihat sudah persiapan bersih-bersih warung, karena sebentar lagi warung tutup.
"Entahlah aku juga bingung mbah. Pengen kerja yang sesuai passion kog susahnya kayak mau cari jodoh. Apa aku harus merayu Tuhan dulu, biar cepat ketemu jalan yang benar? yang sesuai gitu dengan keinginan hati 'ku!"
Cak Sam mencibir lagi. Dari kemarin Paijo memang kebanyakan mikir dari pada bertindak. Mbulet aja ngomongnya. "Jawab singkat dan jelas. Sebenarnya kamu pengen jadi apa?"
"Pengusaha mbah... pengusaha!"
"Pengusaha apa yang jelas!"
__ADS_1
"Mbah juga pengusaha hlo ini. Kamu di warisi warung bakso ga mau! Piye toh suwi-suwi aku melu mumet ndase. Lama-lama aku ikut pusing kepala!"
"Aku suka berdagang mbah. Saat di Semarang aku udah coba dagang bolang-baling (sebutan lain odading) keliling sehabis subuh gitu. Tapi keuntungan tidak seberapa mana bisa cepat kaya kalau ngumpulin uang receh aja. Mana dulu pernah pas keliling di kejar anjing, habis deh bolang baling sewakul tak buat nimpuk tuh anjing!" kenang Paijo saat di kampung halamannya. Pekerjaan jualan bolang-baling itu tentu tanpa sepengetahuan Bapaknya.
"Usaha apa ya mbah, yang cepat menghasilkan uang dan cepat kaya raya."
"Jualan narkoba resiko besar, ketangkap sekali busuk di penjara. Jualan ginjal ga tega terlalu tidak manusiawi. Apa aku ternak tuyul aja mbah? lebih manusiawi karena kita manfaatin makhluk halus, dan tidak melanggar hukum juga, toh belum ada undang-undangnya."
Cak Sam geleng-geleng, dia merasa tingkat kewarasan cucunya menurun saat malam semakin larut. "Bangun nak, tidurmu kakehan miring!"
"Buakakakakakaka..." sebuah tawa menggelegar membuat semua orang menoleh ke sumber tawa itu. Terlihat seorang pria separuh baya berkepala plontos tertawa terbahak mendengar sesi obrolan kakek vs cucu itu. Buru-buru pria itu menutup mulutnya, saat sadar dirinya sudah menjadi pusat perhatian. "Ehem...!"
Cak Sam dan Paijo bergidik ngeri. Jangan-jangan pria itu kesurupan siluman bakso. Atau dia pembeli 81 yang urat saraf otaknya putus satu. Daripada melihat dua orang beda generasi itu menatapnya curiga. Pria itu berjalan mendekat, toh bakso di mangkuknya sudah tatas dia makan.
"Maaf saya tadi lancang mendengar obrolan kalian. Saya jadi ikutan ketawa karena obrolan kalian sangat lucu menurut saya." Pria itu mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri tanpa di tanya.
"Perkenalkan nama Saya Irwan tapi bukan Irwan Musri suaminya Maia Estianty hlo ya. Hehe..."
"Irwandi saja."
Irwan mengernyitkan dahi. "Kalian lintas generasi kenapa namanya satu edisi. Bahkan nama saya lebih keren dari nama 'mu anak muda!" Irwan terkekeh geli sedangkan Paijo terlihat enggan untuk mendengarkan obrolan ini.
"Nama aslinya Ahmad Ranvir Al Ghazali. Anggap saja Paijo hanya nama panggungnya!" Sahut Cak Sam membela cucunya dari praktek bullying oleh pria di hadapannya ini.
"Oh...maaf saya hanya sekedar bercanda jangan dianggap serius. Apa nak Paijo butuh pekerjaan? kebetulan saya punya pabrik pengrajian di area Malang sini. Saya butuh orang untuk bantu-bantu, lebih tepatnya saya mencari orang yang bisa diajak join bekerja sama."
"Saya yang mendanai anda yang bekerja di lapangan. Kita bagi hasil. Jadi kalau mau kita semacam rekan. Saya bukan atasan kamu, tapi partner kerja. Bagaimana tertarik?"
Paijo melongo belum paham arah pembicaraan ini. "Bisa kasih sedikit gambaran?"
"Hahaha... masih bingung ya? ini kartu nama saya. Jika kamu mau silahkan datang ke alamat ini. Biar kamu bisa lihat langsung apa usaha yang saya tawarkan."
"Berhubung saya sudah selesai makan dan saya sangat menikmati bakso ini. Saya ucapkan terimakasih banyak. Sekalian bisa saya bayar sekarang?"
"Bakso satu, es jeruk dan tiga kerupuk. Berapa?"
__ADS_1
Mendengar tawaran itu, Cak Sam merasa ini peluang bagus untuk cucunya. Dia merasa orang di hadapannya bisa di percaya juga. "Besok saya pastikan dia datang ke alamat anda. Untuk baksonya malam ini tidak perlu bayar. Jika cucu saya bisa bekerjasama dengan anda. Tentu saya akan sangat senang."
"Haa... benarkah? Saya terimakasih sudah di traktir. Saya harus pergi sekarang. Besok jangan lupa datang. Saya tunggu."
Paijo mengangguk kecil, dalam hati juga dia belum memutuskan apakah akan datang. Irwan berlalu meninggalkan mereka setelah pamit.
"Ih mbah, kog main di kasih gratis. Siapa tahu dia ngibulin kita. Sok nawarin pekerjaan padahal mau dapat gratisan. Jaman sekarang berbagai modus tipu-tipu 'kan banyak, kreatif dan variatif. Dia juga ga ada basa-basi nolak. Bisa Rugi kita!"
"His kamu ini! Mbah ikhlas ngasih. Berprasangka baik, siapa tahu tawaran ini jalan kamu menuju sukses! Kalaupun dia bohong kita juga tidak rugi banyak."
"Mbah baru kasih gratis satu porsi, hla kamu tadi aja bisa kasih tiga porsi langsung ke orang lain. Banyak mana ruginya hayo?"
Paijo garuk-garuk kepala, dia pikir membungkus tiga porsi bakso tadi tanpa sepengetahuan kakeknya. Ternyata kakeknya memperhatikan juga.
"Itu beda cerita mbah!"
"Hmm... Mbah paham. Paham sekali!" ucap Cak Sam dengan tatapan menghina.
Sementara itu Saras tersedak saat makan bakso pemberian Paijo.
"Uhuk... uhuk! air mana air?"
Rani cepat-cepat mengisi gelas dengan air putih dan menyerahkannya pada Saras. "Makan pelan-pelan! Kita juga udah punya sendiri kog, ga bakal minta punya kamu."
"Hm... kayaknya ada yang sedang ngomongin aku. Atau Paijo tidak ikhlas ngasih ini?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Usap like dan komen. Suwun😘