
Paijo menghempaskan tubuhnya di kasur, baru sehari bekerja kembali tapi dia sudah merasa lelah. Dia merasa kesepian di sepetak kamar yang menjadi tempat tinggalnya setahun belakang ini. Memiliki uang dari hasil kerja kerasnya sendiri tak lantas membuat dirinya bahagia. Keluarga? Ayahnya bahkan sampai sekarang tidak pernah menanyakan kabarnya.
Dia merasa hanya sang kakek satu-satunya keluarga baginya sekarang. Teman? tidak ada. Bagaimana dia punya teman jika dia harus berangkat bekerja saat subuh tiba dan pulang saat malam tiba.
Pandangan Paijo menerawang, meneliti langit-langit kamar. Sarang laba-laba bergelantungan di sana. Mana sempat dia mengusir, di kamar ini dia hanya mampir menutup mata selama beberapa jam saja. Selebihnya, waktunya habis untuk mengitari hutan-hutan. Dari depo kayu satu ke depo kayu lainnya. Memastikan kayu yang dia bayar sesuai standar dan siap untuk di kirim ke pabrik.
Tiba-tiba dia ingat Saraswati. Gadis itu, satu-satunya gadis yang nomor ponselnya tersimpan di kontak hp miliknya. Walaupun menyebalkan, kadang secara bersamaan dia sangat lucu dan menggemaskan.
Hah, lalu kenapa dia tidak menghubungi Saras saja. Sedang apa dia?
Bagaimana jika aku mengajaknya besok. Menemani 'ku bekerja, sepertinya mengasyikan.
Paijo bangkit duduk dan menyambar hp yang dia lempar sembarang tadi. Saat akan mengetik pesan, wajahnya kembali muram.
Ah... bagaimana kalau dia menolak. Atau bagaimana kalau dia jadi geer. Gadis itu 'kan sedikit gila. Ah...
Aku harus memberi alasan apa? Setidaknya yang masuk akal, agar dia tidak merasa aneh.
Paijo mengacak rambutnya frustasi. Lebih baik aku ke kamar mandi dulu. Siapa tahu dari kamar mandi dapat inspirasi.
Dengan terkantuk-kantuk Paijo masih jongkok buang air besar. Berharap mendapat inspirasi dia malah mengantuk, hampir saja lupa kalau dirinya sedang membuang ampas sisa makanan yang dia makan seharian ini.
Ah... aku hampir tertidur disini. Harus memulai dari mana. Ah... iya itu ide bagus!
Mata Paijo kembali melek setelah mendapatkan wangsit bagus.
Paijo berdiri, setelah mengguyurkan seember air kedalam WC, cepat-cepat dia cebok dan mandi. Ah... untung kamu tidak lupa untuk cebok Jo. Baunya nyampe sini tahu.
[Saraswati, apa besok ada waktu?]
Tidak lama pesan balasan masuk.
[Siapa?]
Hah, benar juga dia tidak tahu nomor 'ku. Kemarin dia hanya menyimpan nomornya disini.
[Besok pagi datanglah ke alamat ini. Aku butuh bantuan, bisa? ternyata aku masih belum kuat untuk mengendarai motor sendiri]
[aku bilang juga apa!]
****
Paijo kira Saras menolak, karena akhir dari pesan balasan darinya, hanya mengatakan kalau dirinya tidak pernah salah. Dan pagi ini gadis itu sudah berdiri di hadapan Paijo. Memakai pakaian yang modis sekali. Celana joger kargo berwarna coklat, kaos putih dan jaket army polos yang sedikit kedodoran, namun justru itu terlihat keren jika dia yang pakai.
Apa dia pikir aku akan mengajaknya touring kedalam hutan, pakaiannya mendukung sekali, lengkap dengan tas ransel di punggung. Memang apa isi tasnya?
Untung saja hari ini Paijo memakai pakaian terbaiknya. Jeans hitam, kaos putih dan jaket kulit yang baru dia beli seminggu yang lalu.
"Kita bisa pergi sekarang?"
__ADS_1
Paijo keren juga dengan jaket itu, Saras ternyata juga meneliti penampilan laki-laki mantan tunangannya itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Keren tapi ada yang kurang, apa ya? ah... kacamata, harusnya dia pakai kacamata bukan?
Sedikit canggung, Paijo membalas pertanyaan Saras. "Apa kamu mau masuk dulu? di dalam pabrik bagian produksi kayu untuk bahan bangunan rumah. Barangkali kamu tertarik melihat,"
"Boleh, apa di dalam banyak orang?" Pertanyaan bodoh itu Saras, hanya karena Paijo sedikit terlihat keren kenapa kamu salah tingkah?
Paijo tersenyum tipis, "Kenapa? kamu takut sepi kita hanya berdua? atau malu kalau banyak orang di dalam?"
"Aaa.... maksudnya, dari luar terlihat tertutup. Jadi... aku hanya ingin memastikan apa pekerja pabrik jam segini udah datang?"
"Sudah, tapi mereka baru mulai bekerja jam delapan. Setengah jam lagi mulai. Ayok masuk! Kalau mereka sudah mulai bekerja, aku khawatir sama kamu."
Mereka berdua melangkah masuk kedalam, menyusuri tiap sudut pabrik yang penuh dengan tumpukan kayu dan gunungan serbuk kayu.
Langkah mereka tentu mengundang perhatian para pekerja. Pekerja yang dominasi bapak-bapak itu tidak jarang yang menyapa. Bahkan ada yang bersiul menggoda Paijo. Baru pertama kali, Paijo mengajak wanita ketempat itu. Wajar saja mereka heboh.
"Mereka semua terlihat welcome, kenapa kamu tadi mengkhawatirkan 'ku?"
Paijo tertawa sebelum menjawab. "Hahaha... kamu lihat itu! Gunungan serbuk kayu!"
"Iya aku lihat, aku tidak buta!"
"Haha... iya, jujur aku mengkhawatirkan bulu mata kamu!"
"Hah?" Saras masih terbengong bingung, apa korelasi bulu mata dengan serbuk kayu coba?
"Aku benar-benar tidak bisa membayangkan, itu lucu sekali!" Paijo tertawa terbahak-bahak dengan hasil pemikirannya sendiri.
Saras tentu mendengus kesal. "Woi... berani sekali menyamakan bulu mata extension 'ku ini dengan sapu lidi. Ini mahal tahu, aku bahkan harus meminta Hayu membayarkan dulu kemarin!" Mana Abah belum kirim uang sampai sekarang.
"Hehe... maaf, lagi pula kenapa harus sambung bulu mata? jangan bilang, hanya akan bertemu dengan 'ku, kamu dandan maksimal. Ngaku saja!"
"Ah... sudahlah. Pria mana tahu, jika wanita itu tidak hanya butuh makan dan minum saja. Kami butuh skincare untuk wajah, perawatan rambut, termasuk bulu mata agar terlihat lebih cantik."
" Dan itu semua tidak murah. TIDAK MURAH, Catat!"
"Maka dari itu, hari ini aku akan meminta bayaran. Aku tidak malu, karena aku anggap hari ini bekerja dengan 'mu."
"Terpaksa juga, aku butuh bertahan hidup sebulan ini."
"Abah belum mengirimkan uang. Kadang aku ragu, apa aku anak kandungnya, hah..."
Paijo membuang nafas kasar, "huftt... jadi ini bukan termasuk tanggung jawab kamu membantu 'ku?"
"Tidak, aku minta bayaran. Aku sudah bilang jujur kalau aku sudah tidak punya uang."
"Aaa... baiklah. Tidak masalah. Kalau begitu berapa yang harus aku bayar?"
__ADS_1
Ahhh... Saras hampir mengumpat lagi. Harga dirinya jelas jatuh di hadapan Paijo. Pertanyaan Paijo kenapa seakan dia seperti wanita nakal. Membicarakan tarif untuk seharian menemaninya.
Melihat raut wajah Saras, Paijo mengoreksi pertanyaannya.
"Maaf, maksudnya nanti aku bersedia memberi 'mu upah. Tenang saja!"
Saras mengulum senyum. "Itu kalimat persetujuan yang lebih baik. Aku juga ga minta banyak. Terserah kamu mau memberi berapa."
Terlanjur juga, andaikan punya pacar yang royal. Mungkin dia tidak akan susah payah mengemis seperti ini.
"Baiklah deal. Ayok nona, kita berangkat sekarang!"
"Siap tuan..." keduanya tertawa saat melangkah meninggalkan pabrik. Kebetulan hari ini pak Irwan tidak berkunjung. Jadi Paijo tidak perlu repot-repot mencari alasan saat mengenalkan Saras padanya.
Perjalanan yang sangat jauh, hampir dua jam Saras duduk membonceng di belakang Paijo. Saras sedikit curiga, bukankah tadi kesepakatannya dia yang di depan. Untuk itu dia nekat meminta bayaran.
Motor mereka sudah pergi menjauh meninggalkan hiruk pikuk kota. Sekarang mereka sudah berada di jalan tengah perbukitan. Hamparan hutan yang luas dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Jalanan yang meliuk, naik turun dan berkelok. Saras jadi ragu, mana bisa dia mengendarai sepeda motor Paijo. Jika nekat pasti mereka berdua akan mati konyol masuk ke jurang.
Saras memajukan kepalanya saat akan bertanya. Motor berisik milik Paijo masih melaju kencang.
"Hei, apa tempat tujuannya masih jauh?" Saras sedikit berteriak, karena suaranya tentu bergelut dengan angin dan suara motor yang bising.
"Sebentar lagi, sabar!"
Ahhh... pantat 'ku sudah kebas. Untung saja pemandangan sekeliling sangat indah. Jadi tidak bosan.
"Itu namanya sungai apa?" Saras menunjuk sungai yang mereka lewati, sungai yang lebar dengan batuan besar-besar. Arusnya juga cukup deras. Saras berpikir mungkin sangat mengasyikkan jika bisa nyemplung di sana. Main air atau memancing ikan. Tapi ada ikannya tidak ya?
Berisik sekali ternyata gadis ini. Tanya ini dan itu. Apa dia tidak bisa diam saja, anteng melingkarkan tangannya ke pinggang 'ku? menyandarkan kepala sekalian juga boleh.
"Aku tidak tahu! apa kita perlu tanya orang dulu? agar pertanyaan 'mu itu terjawab!"
"Menyebalkan, tinggal jawab saja kalau tidak tahu. Kenapa sewot!"
Hening, keduanya terdiam sepanjang sisa perjalanan menuju depo kayu yang pertama.
Paijo menyesal, benar juga kenapa dia harus ketus. Saras hanya mengajaknya mengobrol layaknya manusia. Mungkin efek jarang bersosialisasi dengan manusia dan lebih sering bertatap muka dengan balok-balok kayu.
Jadi dia sedikit susah berkomunikasi dengan sesama manusia.
Apa karena sering berkutat dengan kayu-kayu itu, sifatnya jadi mirip dengan sepotong kayu. Lempeng dan atos! Mustahil jika aku bisa hidup dengan pria seperti ini. Hih....!!!
.
.
.
.
__ADS_1
like dan komen yang banyak ya😘