Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 75: Terjerat Cinta Mas Paijo


__ADS_3

Sebuah pernikahan seharusnya bukankah di sambut dengan suka cita? Panggung dekorasi yang penuh bunga, atau dentuman musik dangdut yang terdengar menggelegar hingga ke sudut-sudut kampung. Lalu para tamu berbondong-bondong datang dengan pakaian dan riasan wajah terbaik.


Namun di pernikahan Paijo dan Saras, hal umum seperti itu sama sekali tidak terjadi. Tidak ada panggung dekorasi apalagi suara dangdutan. Nyaris sepi layaknya orang yang sedang berkabung.


Di ruang tamu itu, sofa-sofa empuk di singkirkan sementara. Di ganti hamparan permadani yang tertata apik. Kemudian di tengahnya terdapat meja persegi yang akan mereka gunakan untuk akad nikah nanti.


Cak Sam yang mendengar kabar rencana pernikahan Paijo secara tiba-tiba langsung bertolak datang ke kampung halaman Paijo dua hari yang lalu. Lelaki tua itu kini duduk bersampingan dengan kyai Aziz. Dan terlihat sedang mengobrol ringan.


Di ruangan lain, Saras telah selesai di rias. Meskipun dengan balutan kebaya putih yang sederhana dan rias wajah yang sederhana pula, gadis itu terlihat anggun dan mahal. Memang kalau sudah terlahir cantik, rasanya cermin saja bakal minder melihat Saras.


Salma muncul dari balik pintu, berdiri di belakang Saras yang sedang mematut dirinya di depan cermin setinggi badan orang dewasa.


"Cantik, anak Ibu cantik sekali" puji Salma.


Saras terharu, membalikkan badan dan langsung memeluk Ibu mertuanya. Salma bahkan tidak menyebut Saras sebagai menantu, tapi anak. Anak ibu. "Bu, terimakasih banyak ya, sudah menyayangi Saras sampai sejauh ini"


"Enggak boleh ngomong gitu, sudah sewajarnya Ibu sayang kamu, kamu itu anak Ibu"


Percakapan mengandung bawang bombai semacam ini harus segera di hentikan. Salma tidak mau riasan Saras luntur gara-gara dia.


"Hari ini kamu harus tersenyum, ga boleh ada air mata, oke?"


Saras mengangguk kecil, "Oke." Meskipun rasanya tetap saja berat. Air matanya sudah bermuara jadi satu. Tinggal nunggu runtuh saja. Saras ingat ibunya, bukankah seharusnya yang mendampinginya saat ini Umiknya. Saras ingin menangis, tapi jangan, tadi dia sudah setuju untuk tidak menangis. Saras harus tahan air matanya.


Tepat jam tujuh pagi, tidak kurang tidak lebih.


"Saya terima nikah dan kawinnya Yunita Saraswati binti Muhammad Bagong dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


"SAH?" tanya kyai Aziz.


"SAH!!!" serempak suara Burhanuddin, Cak Sam dan dua orang saksi yang merupakan tetangga Paijo itu menjawab dengan lantang.


Kemudian Kyai Aziz membacakan doa setelah ijab Qabul selesai dan di amini bersama.


Saras yang duduk agak jauh dari tempat duduk Paijo tidak bisa untuk tidak meneteskan air mata. Dia sudah susah payah menahan, namun air matanya yang berkhianat. Saras meneteskan air mata sembari mengamini doa-doa yang di ucapkan dalam bahasa Arab itu.


Salma yang tadi mewanti-wanti jangan menangis pun ikut menangis. Terharu. Baru beberapa detik kemudian dia menuntun Saras agar duduk mendekat di samping Paijo, suaminya.


"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri"


"Silahkan mbak Yunita, cium tangan suaminya, Mas Ahmad." terang Kyai Aziz.

__ADS_1


Sumpah demi apapun, Saras hampir terlonjak kaget. Tidak biasa dengan panggilan yang dia dengar barusan. Ahmad? Saras meringis, hampir saja lupa, benar Ahmad Ranvir Al Ghazali. Itu nama suamiku, dan Paijo hanya nama alias.


Saras harus membiasakan mengingat nama itu. Ya Tuhan Saraswati, jangan sampai kamu bertanya dalam hati lagi. Siapa itu Ahmad Ranvir Al Ghazali.


Saras mengecup lembut punggung tangan suaminya. Paijo tersenyum. Rasanya masih seperti mimpi, tapi Saras dengan balutan kebaya putih di hadapannya terlihat nyata dan bukan abal-abal. Dia isteri ku sekarang!


Dia suamiku sekarang, yang aku pilih sendiri, bukan karena fisik apalagi harta. Aku terjerat cinta Mas Paijo hingga menikah bersamanya, aku berharap hidup bahagia dengannya, selamanya.


Setelah itu Paijo dan Saras sungkem pada Bapak dan Ibunya. Menghaturkan terimakasih dan memohon maaf karena sebagai anak banyak salah dan khilafnya. Haru biru mewarnai prsosesi pernikahan mereka yang sangat sederhana. Meski belum mendapatkan pengakuan negara, tapi Tuhan sudah menyaksikan, dan ikatan suci ijab dan qobul sudah terlaksana dengan begitu khidmatnya.


"Ayok, meskipun pernikahan ini sangat sederhana. Kalian harus punya foto dokumentasi dong!" Salma antusias memanggil keponakannya yang dari tadi menenteng kamera DSLR.


"Mbak Muna sini!"


"Benar, silahkan bisa di bantu mendokumentasikan!" terang Kyai Aziz.


Beberapa kali dalam jepretan kamera. Baik Saras maupun Paijo ternyata masih malu-malu bersentuhan. Foto mereka terlihat kaku. Membuat Muna terkekeh untuk menggoda saudaranya itu.


"Mas Jo, itu istrinya boleh kog di rangkul, ga usah malu-malu, udah sah!" ejek Muna yang langsung mendapat respon gelak tawa dari yang lainnya.


"Hush, anak kecil!" meski begitu Paijo berusaha keras menjatuhkan tangannya di bahu Saras. Saras melirik malu, kenapa rasanya malah aneh ya. Deg-deg ser gitu.


"Ya gitu tahan! satu, dua, tiga, cekrek!"


Rasanya melegakan, baik Paijo dan Saras, atau Burhanuddin dan Salma selaku orang tua mereka. Mereka semua merasa benar-benar lega. Akhirnya mereka berdua bisa di satukan dalam pernikahan yang suci. Meskipun bagaimana nanti hidup mereka setelah ini. Paijo siap berdiri tegak, memikul tanggungjawab barunya sebagai seorang suami. Dan Saras bersedia mendampingi laki-laki itu hingga menua nanti. Paijo dan Saras berjanji akan menjadi pasangan yang solid. Meski harus saling belajar, karena pernikahan merupakan hal yang baru bagi keduanya.


****


"Sudah selesai acaranya, kalian berdua bisa istirahat di kamar."


Masih siang hari, dan Salma menggiring pasangan pengantin baru itu masuk kamar. Sumpah demi Pluto yang berhasil di tendang dari Tata Surya, Saras malu. Dan bingung harus apa? Tahu akan begini canggung, kemarin harusnya Saras membeli mainan ular tangga. Lumayan bisa untuk aktivitas berdua di dalam kamar.


"Kamu ga pengen ganti baju?"


Pengen banget, gerah pakai kebaya. Ternyata Saras hanya berani menjawab dalam hati.


"Kamu ga pengen keluar dulu?" Pertanyaan macam apa ini Saras?


Paijo jelas tersenyum, Saras sangat ketara malunya. "Duduk sini!" Paijo menepuk-nepuk kasur kosong di sebelahnya.


Dia enak ga ribet, cuma perlu lepas jas menyisakan kaos putih dan celana hitam, sudah aman buat rebahan. Hla Saras harus mincak-mincik dengan kain yang melilit tubuh bawahnya. "Masih siang Mas, aku malu"

__ADS_1


Astaga, apa yang Saras pikirkan coba, Paijo hanya memintanya duduk di sampingnya. Kenapa jawaban Saras absurd gitu.


"Hahaha... duduk sini!"


Mau tidak mau Saras mendekat. Dan siapa sangka Paijo akan menariknya begitu cepat dan Hap!


Saras berhasil duduk, tapi bukan di kasur, melainkan di pangkuan Paijo. Tangan Paijo bahkan sudah berhasil melingkari tubuh Saras.


Ini yang pertama kali, jantung Saras rasanya merosot hingga ke lambung.


"Mas, jangan gini ya, please aku belum nyaman,"


"Aku bakal buat kamu nyaman, ga usah malu, pangku-pangku gini kita udah ga dosa, bahkan kalaupun lebih kita bakal dapat pahala banyak"


Hembusan nafas Paijo sangat terasa di tengkuk leher Saras. Saras bisa gila. Di sentuh ketika sudah sah memang efeknya luar biasa, untung saat pacaran mereka jarang bersentuhan intim seperti ini. Jadi ini lebih nikmat.


"Mas...." Saras memejamkan mata. Malu tak sanggup menatap Paijo.


"Aku bantu buka baju ya!"


.


.


.


.


.


.


Eeeeeeaaaaa....


Masih siang bolong, mereka lagi ngapain sih?


Intip rame-rame yok🧐😁😁😁


Sampai sini saja atau masih pengen lanjut?


Kira-kira kalian pengen kisah mereka selanjutnya bagaimana?

__ADS_1


Atau udah sampai chapter ini aja ending. Tamat aja gitu ...


Komen ya!


__ADS_2