Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 65: Kage Bunshin no Jutsu


__ADS_3

Tepat hari ketiga, Saras di perbolehkan pulang. Paijo sedang mengurus administrasi, sedangkan Saras masih berkemas di bantu Budhe Sri. Selang infus telah dilepas setengah jam yang lalu.


"Udah beres semua? ga ada yang ketinggal?"


"Udah, kayaknya kesini juga aku cuma di bawakan baju ganti doang, ga ada yang berharga, hp dan dompet juga ga punya,"


Budhe Sri terkekeh, benar juga. Saras sudah mirip kaum duafa, hp bahkan semua kartu kredit di sita Haji Bagong. Untuk makan dia ikut Budhe Sri. Selama di sana jajan juga ga pernah, ga punya uang mau jajan pakai apa. "Hah, dirawat disini juga masih untung ada yang bayar. Salut juga Budhe sama Paijo. Tanggung jawabnya ada!"


"Hlah toh, baru sadar... Mas Paijo itu pengertian dan baik sekali. Hanya orang-orang yang menutup mata yang tidak bisa melihat kebaikannya," lagi-lagi Budhe Sri mencibir. Keponakannya itu memang tidak segan memuji kekasihnya.


Pintu kamar rawat Saras terbuka, sosok Paijo muncul dengan selembar kertas dan kantong plastik berisi obat.


"Vitamin, harus di habiskan kata dokter."


Saras menerima bungkusan itu dan langsung memasukan ke dalam tas jinjing pakaiannya. "Ayok pulang sekarang!"


"Udah ga ada yang ketinggalan?" Paijo memastikan. Barangkali ada yang tertinggal.


Saras cengengesan sebelum menjawab. "Ga ada yang tertinggal Mas, semua udah aku bawa termasuk rasa cinta dan sayang 'ku padamu, hahaha..."


Kalau tidak ada Budhe Sri di sana mungkin Paijo sudah memeluk Saras sangking gemasnya. Karena pekewuh alhasil dia hanya bisa senyum-senyum kayak monyet yang baru dapat pisang.


"Tanya Jo, dia mau minta apa? biasanya kalau udah sok manis gitu ada maunya, Budhe pernah di puji cantik sama dia, tapi ujungnya di kibuli, 'iya Budhe bagus posenya, Budhe udah kayak model'"


"Tahu-tahu dia colong hp Budhe!" Budhe Sri mengungkit kejadian saat di ladang tembakau.


Saras terkekeh, sikap culasnya tak berbuah manis. "Haha... khilaf itu Budhe, lagian Saras juga ga beruntung. Niat mau telpon kamu Mas, malah ga apal nomornya, gagal deh."


"Oh ya, kalau sekarang udah hafal?"


"Udah, udah aku catat di bagian Hippocampus otakku Mas, aku simpan di sana dan udah aku lingkari, jadi ga mungkin lupa lagi."


Budhe Sri bertepuk tangan tinggi mengapresiasi kepintaran Saras membual. "Sudah selesai? mari kita pulang!"


"Oh ya, tadi Abah kamu sempat telpon. Katanya besok pagi Andre kesini di suruh jemput kamu."


Paijo dan Saras berhenti melangkah. Keduanya tertegun, sama khawatirnya. Pulang ke istana Haji Bagong sama dengan masuk kedalam penjara. Saras sendiri merasa sesak di dalam sana. Bernafas pun terasa takut.


Saras menatap Paijo dengan lekat, mengabaikan Budhe Sri yang ikut berdiri membatu. "Jangan khawatir, nanti kita cari jalan keluar,"


****


"Oh... menantu saya memang hebat. Kemarin pulang dari dinas luar negeri. Lihat Ji, saya di belikan jam tangan Rolex, asli buatan Swiss."


terang salah satu anggota Perkumpulan Haji Kaya (PHK) sekabupaten Kendal. Haji Bagong termasuk di dalamnya.


"Wow, luar biasa ya Ji. Mantu kamu itu dengar-dengar anggota dewan ya?"


"Iya begitulah.... anak perempuan saya memang pintar cari suami, kalau anak kamu gimana kabarnya, jadi nikah sama Gus siapa kemarin?"


"Insyaallah, insyallah Ji-- meskipun awalnya Ainun agak susah di bujuk, tapi sekarang dia nurut. Sudah aku pondokan baik-baik, martabatnya pasti naik kalau dia jadi nikah sama anak Pak Yai, pemilik pondok pesantren itu,"


Haji Bagong hanya bisa menyimak obrolan mereka. Sebulan sekali anggota mereka berkumpul. Sekedar ngopi, mengaji kitab fiqih atau bertukar informasi seputar usaha, maupun rencana pendaftaran umroh di tahun berikutnya.


Mereka bahkan sudah naik Haji berkali-kali, namun peraturan baru membuat mereka sekarang harus puas dengan menjalankan ibadah umroh saja. Perkumpulan yang seharusnya diisi dengan kajian ilmu tak jarang bergeser jadi ajang pamer. Membanggakan kekayaan atau kehormatan yang mereka miliki.


"Kalau anda gimana Haji Bagong?"


"Saya dengar, kemarin Haji Basri menawarkan diri untuk besanan sama njenengan?"


"Siapa nama anaknya? Yang pegawai kejaksaan itu ya?"

__ADS_1


"Gunawan," jawab Haji Bagong singkat.


Kesombongannya tidak bisa di adu disini, mengingat sejarah yang pernah di torehkan anak pertamanya, kakak perempuan Saras itu nekat menikahi seorang laki-laki dari keluarga biasa. Hal itu membuat Haji Bagong seperti inscure, dan berambisi mencarikan calon suami yang hebat untuk Saras. Setidaknya yang pantas untuk di banggakan di depan teman-temannya anggota PHK lain.


"Gimana kelanjutannya?"


"Masih saya pikirkan," Jawab Haji Bagong dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.


Haji Muslim yang dari tadi mendominan obrolan mereka kembali bertuah, "Yah, harus selektif cari mantu, anak perempuan kita harus terjamin masa depannya. Jangan sampai dapat suami melarat, amit-amit nanti yang ada mereka menderita. Mereka harus hidup layak bagaikan ratu, terhormat dan bergelimang harta. Kita saja sebagai Bapaknya sudah menghidupi mereka dengan layak, apa jadinya kalau dapat suami melarat. Jangan sampai!"


Kata-kata semacam itu terus menohok hati Haji Bagong. Kaya, terhormat, dan Pegawai Negeri, sadar tak sadar menjadi standar yang harus dimiliki bakal calon Saraswati.


****


Paijo dan Saras duduk berdua di bangku belakang rumah Budhe Sri. Pohon mangga yang rindang menjadi naungan mereka dari matahari yang siang ini tidak begitu menyengat namun tetap membawa hawa-hawa sumuk.


"Abah kamu masih bersi keras melarang hubungan kita"


"Padahal, aku juga sudah berusaha agar bisa lebih dekat dengannya, minimal beliau harusnya sudah bisa menilai bagaimana aku ini,"


"Aku khawatir kalau kamu bakal di sembunyikan lagi, lebih jauh dari tempat ini"


"Sekarang aku tanya sama kamu, seandainya dalam waktu dekat aku mengajakmu, menikah, bagaimana pendapatmu?"


Saras tertegun dengan pertanyaan yang baru saja diucapkan Paijo dengan keseriusan yang jelas di wajahnya.


"Menikah? dalam waktu dekat?" Saras sebenarnya mau saja, tapi bagaimana dengan restu orang tua.


"Iya-"


"Mas, aku juga bingung. Bingung harus bagaimana. Aku mau Mas nikah sama kamu, tapi bagaimana dengan Abah?


"Kamu percaya sama aku?" Saras mengangguk lagi.


Paijo menelan ludah, dia merasa harus memikirkan langkah selanjutnya, andai terjadi hal yang terburuk. "Kalau begitu, apa kamu bersedia aku nikahi secara siri?"


Ini adalah pertanyaan paling sulit bagi Saras. Sepanjang dia mengenyam pendidikan, tidak ada pertanyaan yang lebih sulit dari ini. Bahkan pertanyaan saat sidang skripsi pun dapat Saras jawab dengan dada membusung. Saras menggigit bibir bawahnya. Khawatir salah menjawab. Dia menginginkan Paijo menjadi suaminya, tapi berharap restu orang tua juga hal yang sangat penting dalam hal menikah. Saras diam belum bisa menjawab.


"Kamu percaya sama aku bukan?"


"Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan kamu,


itu untuk sementara saja, sampai Abah kamu mau merestui pernikahan kita"


Saras meraup wajahnya sendiri. Jika itu terjadi, berarti dia mengulang sejarah kakaknya. Dan bahkan sampai hari ini, Haji Bagong sedikit pun tidak goyah. Jalankan restu, kakaknya bahkan sudah dianggap mati.


"Mas, tolong cari jalan lain." tatapan Saras mengiba.


"Itu artinya kamu masih ragu,"


Saras meraih tangan Paijo dan menggenggamnya. "Lihat aku Mas!"


"Sedikit pun aku tidak pernah meragukan cinta kita, tapi apa benar itu jalan yang terbaik?"


"Sebagai perempuan, aku butuh wali untuk menikah. Restu Abah sangat penting dalam hal ini. Dan nikah siri? mungkin--"


"Kita bisa cari wali hakim, aku akan cari orang yang mau menikahkan kita!" potong Paijo.


"Tidak semudah itu Mas, tidak! Bagaimana dengan orang tua kamu? Bapak kamu dan Ibu kamu apa sudah setuju dengan rencanamu ini Mas?" Paijo giliran diam. Dia memang belum bicara dengan orang tuanya masalah ini.


"Lagipula selama aku belum menikah dengan orang lain, kita masih punya waktu untuk mengiba pada Abah,"

__ADS_1


"Aku yakin Mas, suatu hari nanti Abah pasti merestui kita!"


"Hah! lalu bagaimana kalau tiba-tiba dia menyembunyikan mu lagi? tanpa kabar, kamu seperti di telan bumi, hilang begitu saja!"


"Bagaimana kalau tiba-tiba kamu sudah duduk di pelaminan dengan laki-laki lain?"


"Aku tidak bisa! aku pasti milih bunuh diri saat itu juga!"


PLAK!!!!


Saras menggeplak paha Paijo keras-keras. "BODOH! Kalau itu terjadi kamu harus bawa aku kabur Mas, kalau kamu mati sendiri, itu sama artinya kamu tega meninggalkan aku hidup menderita sendirian, setidaknya kita mati bareng Mas, masuk neraka bareng!"


Pletak!


Giliran Paijo memoles kepala Saras. Otak gadis ini sepertinya agak miring, makanya susah diajak ngobrol serius.


"Auchhhhhh.... sakit Mas!" keluh Saras sambil mengusap kepalanya yang terasa panas akibat polesan.


"Susah ya, ngomong serius sama kamu!"


"Hlah, dari tadi aku juga serius Mas. Kalau cuma bercanda dari tadi aku ngomong bisa sambil main dakon kali Mas!"


Paijo merenggut. Susah payah dia mencari jalan keluar, tapi Saras seperti masih ragu.


"Sudahlah Mas, dipikir sambil jalan aja. Lihat kondisinya nanti urgen apa tidak. Kalau masih aman kita sabar, nunggu Abah dapat hidayah dari Tuhan. Kalau urgen, baru kita ambil jurus seribu bayangan!"


"Kamu pikir kita Naruto? pakai jurus Kage Bunshin no Jutsu sambil teriak game-game! terus masalah beres gitu?"


"Bercanda saja terus!" Saras terkekeh melihat Paijo yang sebal merenggut.


"Hahaha.... Hla 'kan kalau pakai jurus itu kita jadi banyak Mas, suruh aja bayangan-bayangan itu yang gantiin kita, biar Abah bingung lihat kita jadi banyak. Habis itu kita yang asli bisa kabur nikah, hehe..." Paijo berdiri hendak pergi. Mutung.


"Heh mau kemana?"


"Mau pulang! males ada bicara serius di tanggapi guyonan!"


" Dih! gitu aja ngambek!"


"MAS!"


Meski di panggil-panggil Paijo tetap ngeloyor keluar lewat samping rumah. "Dih, beneran pulang!"


"Ayok, Mas kita nikah sekarang aja!" teriak Saras. Tidak di gubris sama sekali.


.


.


.


.


.


.


Selamat pagi menjelang siang. Sudah sarapan semua?


Alhamdulillah kalau sudah, yang belum nanti aja di rapel makan siang. Hehe...


Baca Mas Paijo dulu baru like dan komen😁

__ADS_1


__ADS_2