Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 46: Loro Pikir


__ADS_3

Menolak makan malam di warung langganan Abah Saras hanya karena punya nama yang sama dengan laki-laki yang jelas-jelas mendekati Saras, akhirnya mereka memutuskan makan di warung bakmi Surabaya. Bukan tempat makan kekinian apalagi restauran mewah. Sekali lagi ini hanya kisah rakyat jelata biasa. Jadi setting di sesuaikan ya teman-teman. Hehe...


Dua mangkuk besar mie rebus dengan toping suwiran ayam, bakso dan telor terhidang di hadapan mereka. Saras melek melihat makanan, karena perutnya sudah benar-benar lapar dan di tambah lagi tadi sempat mengalami drama menjengkelkan yang menguras energinya. Otomatis dia butuh asupan gizi agar otaknya kembali normal.


"Pelan-pelan kalau makan!" Paijo sudah mirip papan jalan di gang-gang kampung yang memberi peringatan 'pelan-pelan, nabrak benjot!' Tapi Saras tidak peduli, dia makan dengan lahap. Ga ada jaim-jaimnya memang.


Hanya butuh beberapa menit semangkuk mie sudah berpindah di area pencernaan Saras. Paijo kalah cepat, terbukti dia masih tekun makan sesuap demi sesuap.


Saras tidak sadar jika mulutnya belepotan, Paijo yang melihat juga tidak berniat membantu membersihkan, dia sama sekali tidak romantis. Saras tahu itu.


"Mulutmu belepotan, bersihkan dulu!" dengan dagu Paijo mengisyaratkan agar Saras mengambil tisu di depannya agar bisa membersihkannya sendiri. Ah dasar tidak peka, batin Saras.


Menunggu Paijo menghabiskan makan, Saras tertegun melihat pasangan di meja sebelahnya. Mereka terlihat sangat romantis, makan suap-suapan. Saras jadi iri sendiri.


"Mas...."


"Hmm?"


"Kamu ga pengen apa romantis kayak mereka?" mata Saras gantian menggiring pandangan Paijo ke meja sebelah.


Paijo melirik sekilas, "Apa?"


"Ya, gitu... suap-suapan?"


Paijo menggeleng, "jangan di tiru, kamu tidak takut di tangkap KPK karena terciduk suap-suapan?"


Saras mendesis sebal. "Itu suap-menyuap! beda cerita."


"Minimal pas tadi, kamu harusnya bantu bersihin mulut aku yang belepotan gitu,"


"Ga kepikiran, lain kali ya kalau ingat." jawab Paijo singkat dan kembali menekuni mie di mangkuk. Sumpah Saras jadi dongkol. Paijo yang tidak romantis sama sekali, tapi entah kenapa Saras bisa terjerat cinta mas Paijo gini.


"Hewhew..."


****


Selesai dengan makan dan membayar makanan mereka, Paijo bersiap di atas motornya. Tapi Saras terlihat ragu untuk naik.


"Ayok!"


"Mas aku pulang naik ojol lagi aja ya?" Saras meminta persetujuan, sekarang Paijo malah berpikir apa Saras kecewa gara-gara tadi dia tidak mau diajak romantis-romantis.


"Kenapa?"


"Sudah malam mas, nanti kalau diantar sampai rumah terus Abah lihat, pasti marah besar." Jujur Saras khawatir memang, tadi dia tidak sempat terfikir begitu karena lapar. Tahu sendiri kalau lapar Saras jadi lemot otaknya.


"Aku sama sekali ga takut, kalaupun Abah kamu marah dan ngusir aku, aku gapapa, aku hadapin!"

__ADS_1


"Buruan naik! kelamaan mikir keburu lebaran!"


"Mas aku deg-degan asli!" tambah Saras frustasi duduk di belakang Paijo. Satu masalah perjodohan belum fix terselesaikan, ini bagaimana ceritanya nanti kalau Abah tahu dia pulang diantar Paijo. Mumet, mumet!


"Ya wajar kalau deg-degan. Katanya kamu cinta sama aku? wajar kalau pas deket gini jadi deg-degan."


Saras pengen menjiktak Paijo kalau tidak ingat ada helem di kepalanya. Berhubung ingat ya urung dia, eman pasti tangannya yang nanti sakit sendiri.


"Bukan deg-degan yang itu mas, tapi deg-degan karena takut sama Abah." Mendengar curahan hati Saras, Paijo menepikan motornya di tepi jalan yang aman. Saras kira Paijo kebelet pup, mukanya terlihat serius.


Mereka berdua berdiri berhadapan. Paijo meraih kedua tangan Saras. Mata mereka pun bertumbukan saling tatap di iringi kilatan cahaya lampu kendaraan yang berlalu lalang melintas.


"Saras, kamu denger ini baik-baik. Aku benar-benar cinta sama kamu. Cintaku sudah mentok sama kamu. Mungkin aku bisa gila kalau benar-benar pisah sama kamu. Kalaupun kamu minta besok juga aku datang buat nikahin kamu, aku sudah siap."


"Sekarang tinggal kamu yang harus berani bilang ke orang tua kamu tentang hubungan kita."


Saras merasa di tampar, sampai detik ini dia juga belum bilang pada Paijo. Kalau Abahnya berniat menjodohkan Saras lagi, kali ini bahkan calonnya ada dua. Saras diam. Bingung mau menjawab apa.


"Jadi gimana? mumpung aku sudah disini. Malam ini juga aku temui Abah kamu ya?"


Saras masih berpikir-pikir. Oke dia harus berani mengakui kalau dia sudah menjalin hubungan dengan Paijo. Tapi malam ini juga? apa ini benar waktu yang tepat? Saras menggeleng cepat. "Jangan! jangan malam ini. Setidaknya beri aku waktu buat memberi tahu Abah pelan-pelan."


Paijo mendengus, menjambak rambutnya sendiri frustrasi. Saras sampai ngeri takut kalau-kalau Paijo jadi botak. "Ahh... terus kapan?" Erang Paijo lagi geregetan.


Saras menelan ludah, "Nunggu sebentar lagi ya, aku juga pusing ini..." jawab Saras memelas.


Alhasil Paijo mengantar Saras hanya sampai depan pintu gerbang rumahnya. Saras langsung mengibaskan tangannya, mengusir Paijo agar segera lenyap dari bumi, eh maksudnya agar segera pergi. Paijo pun hanya bisa nurut dengan mulut mecucu karena agak sebal.


"Abah udah pulang?"


"Udah mbak, dari tadi jam sembilan."


"Mati aku!" ucap Saras frustasi sambil menumbukan kepalanya sendiri di pagar besi secara berulang-ulang.


Satpam berkepala pelontos pun terheran. "Wah, mbak Saras jangan bunuh diri disini! nanti saya seram kalau jaga malam sendiri!" Bukanya segera membukakan pintu gerbang, si satpam malah komentar nyleneh. Membuat Saras jengkel saja!


"BUKAIN KALAU GITU!"


"bukan malah nyumpahin saya mati gentayangan!"


Sadar Pak Satpam memukul mulutnya sendiri hingga mundur. "Maaf, mbak... sebentar saya bukain,"


Saras masuk mengendap-endap, sandal yang dia pakai sampai dia lepas agar tidak menimbulkan suara di lantai rumah Haji Bagong yang dipastikan berharga mahal. Saras berharap Abahnya sudah tidur. Penuh kehati-hatian dia berjalan, bahkan dia menahan nafas layaknya menghindari vampire yang mungkin tidak sengaja lewat.


"Saras!" punggung Saras ditepuk tiba-tiba. Saras menyendil untung saja jantungnya tidak lepas jatuh kelantai. Saras menengok kebelakang, ternyata Umik.


"Hah, umik bikin kaget ah..." Saras mengelus dadanya.

__ADS_1


"Lagian kamu kenapa? jalan udah kayak maling gitu?"


"Emang Umik pernah lihat maling jalan?" Hajjah Maesaroh menggeleng.


"Hlah... sok tahu berarti..."


Jengekel Hajjah Maesaroh mengeplak lengan Saras. " Hish kamu! kenapa hah?"


Saras kembali berbisik. "Jangan keras-keras! Abah mana?"


"Sudah tidur, campek barangkali, habis pulang langsung boga!"


"Apa itu boga? tata boga? Abah belajar masak?"


"Bobok ganteng!" jawab Umik narsis. Saras hanya mencibir kemudian tersenyum lebar.


"Ahhh.... aman!"


Hajjah Maesaroh jadi curiga, tadi pulang kerja Saras frustasi kayak orang gila, marah-marah tidak jelas. Ini lagi sudah malam baru pulang, sekarang malah senyum-senyum sendiri. Mencurigakan!


"Aman apanya? kamu tetap hutang penjelasan sama Umik! Dari mana kamu jam segini baru pulang? terus kenapa tadi pas pulang kerja marah-marah? sekarang udah ganti senyum-senyum? kamu sakit?"


Saras mengangguk mengiyakan. "Loro pikir, mik!" (sakit pikiran). Hajjah Maesaroh geleng-geleng, kemudian mau tidak mau Saras menyeretnya naik kekamarnya. Malam itu Saras menceritakan kisah cintanya pada seorang pemuda bernama Paijo. Diakhir cerita dia bergumam.


"Begitulah mik, Saras sudah terjerat cinta mas Paijo!"


"Sekarang Saras harus bagaimana?"


Hajjah Maesaroh malah beberapa kali terlihat menyeka air mata sekaligus ingus, mendengar kisah cinta Saras beliau sangat terharu. Apalagi Saras menceritakan perjuangan seorang Paijo yang banting tulang mencari uang agar menjadi orang sukses. Hajjah Maesaroh benar-benar terharu.


"Yakin saja nduk, kalau jodoh tidak akan kemana. Ibarat tepung kanji nong duwur mejo, Yen Gusti ngrestui wong tuwo biso opo?"


Saras yang tadi sedih, jadi geli sendiri. Alih-alih mencari quotes yang lain, ibu yang mengandungnya selama sembilan bulan lebih satu minggu itu malah menasehati menirukan bait lagu dangdut milik mbak Via vallen. Saras nyengir, "Umik, itu lagu bukan sih?"


"Ga tau," jawab Hajjah Maesaroh cuwek. "Umik baper sama kisah cinta kamu,"


"Kasihan sekali anak Umik, sini peluk!"


Dengan senang hati Saras memeluk ibunya, nyaman sekali. Pelukan ibu memang bisa jadi obat mujarab, jalankan loro pikir, sakit-sakit yang lain akan segera sembuh jika sudah di peluk ibu begini.


.


.


.


.

__ADS_1


Terimakasih yang sudah sabar menunggu Paijo dan Saras ya. 🙏🙏🙏🙏🙏


terimakasih untuk hadiah dan vote ya😘


__ADS_2