
Saras harus terbiasa bangun pagi. Jangan sampai keduluan ayam berkokok. Malu. Meski harus terseok-seok turun dari ranjang tak apa. Toh itu sudah menjadi kewajibannya. Dan dia senang sudah bisa melayani suaminya dengan baik. Paijo begitu memanjakannya semalam, melakukannya dengan penuh kelembutan dan kesabaran.
Pengantin baru dan rambut basah di pagi hari adalah hal yang wajar dan berkolerasi. Bagi orang dewasa apalagi orang tua pasti paham. Tapi hal itu tentu saja membuat dilema seorang menantu. Saras malu jika rambut basahnya di lihat mertua. Karena kamar mandi di rumah Paijo juga model satu untuk bersama, jadi sebisa mungkin dia bangun lebih awal dan mandi wajib sebelum ketahuan penghuni yang lain.
"Mas bangun, udah jam lima lebih sepuluh, kamu belum subuhan ntar keburu matahari terbit"
Paijo dengan wajah kelelahan hanya bergeliat, belum mau membuka mata. Membuat Saras gemas. Jari tangan Saras bergerilya, menyusuri dari lekuk alis, turun ke bulu mata Paijo yang jika di perhatikan lebih dekat ternyata lentik juga. Hidungnya mancung meski tidak nyucuk betet. Tapi pas, proporsional, bersanding dengan bentuk bibir yang tebal. Ah, Saras boleh mampir di sana bukan?
Satu kecupan saja, dan itu mampu membuat Paijo melek. "Nakal ya sekarang..."
"Hahaha... morning kiss, biar kamu bangun! Buruan bangun, mandi!"
"Oh Saras, kamu tidak hanya membangunkan aku, tapi juga dedek Jo, ciki lagi yuk?"
"Ooooo... tidak, aku sudah mandi Mas" Saras menggeliat berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya. Percuma, karena sekarang tubuhnya sudah di bawah kungkungan Paijo.
"Nanti mandi lagi," Paijo beraksi.
"Haduh, mubazir mandiku tadi Mas, heummmmbbb"
"Gapapa, air PAM di rumah ini terhitung murah"
Dan pagi itu Saras harus rela mandi dua kali. Menyebabkan rambutnya masih basah meski sudah berusaha dia keringkan dengan handuk.
Saras membantu menyiapkan sarapan untuk mereka. Meski malu dengan rambut basahnya, dia terlihat cekatan menata lauk pauk di atas meja makan. Salma jelas saja menahan senyum sejak tadi.
"Yang ini biar ibu yang lanjutin, kamu panggil Paijo aja sana. Kita sarapan bareng."
"Oh... oke Bu" Itu artinya dia harus masuk ke dalam kamar lagi. Wah, Saras merasa terancam, anak laki-laki Bu Salma memang aleman sekali. Tanduk terus dari semalam.
"Mas, lagi ngapain sih? Ibu udah nunggu kita sarapan hlo"
Ternyata Paijo sedang sibuk dengan ponselnya. "Eh, bentar lagi urus kerjaan"
"Emang langsung mau berangkat kerja?"
"Enggaklah, aku mau libur dulu barang dua hari, masih bisa di handle di rumah, kenapa?"
"Ga mau di tinggal?" Paijo terkekeh, rasanya menyenangkan memiliki isteri, apalagi isterinya itu Saraswati.
"Hmm... nanti aku ngapain di rumah, aku bingung kalau ga ada kamu"
"Ada ibu, kamu ga akan kesepian,"
__ADS_1
"Iya sih, emang aku ga boleh ya kerja gitu..."
"Enggak boleh, buat apa?"
Saras manyun, sebenarnya dia ingin bekerja. Menganggur hanya makan dan tidur di rumah, Saras merasa tak berguna. Tapi semenjak keluar dari perusahaan milik Pak Gusti, Paijo selalu melarang dia bekerja. Sejak pacaran, apalagi sekarang sudah menikah. Apa-apa memang sudah di cukupi Paijo.
Paijo sendiri senang bisa mencukupi Saras. Menjadikan isterinya layaknya ratu. Butuh apa tinggal bilang. Dan biarkan dirinya saja yang banting tulang. Hal yang sekarang ini menjadi langka, karena kebanyakan pasangan merasa kurang secara ekonomi dan merasa perlu sama-sama bekerja.
Paijo tidak ingin menganut aliran itu, baginya dirinyalah tulang punggung keluarga kecilnya nanti, mau kepala jadi kaki atau kaki jadi kepala, yang jelas dia akan tetap berusaha jangan sampai perut istri dan anaknya kelaparan. Toh Tuhan tidak akan membuat umatnya kelaparan, setiap orang punya takaran rezeki masing-masing, tergantung bagaimana kita bisa mensyukuri rezeki itu.
***
"Bu, Bu Salma!"
Panggil seorang tetangga yang rumahnya ada di tikungan depan gang rumah Paijo. Cukup jauh, entah ada apa wanita itu sampai repot-repot datang ke rumah Paijo.
"Eh... Mbah Nyai (panggilan untuk ibu dari kyai pemilik pondok) ada apa?"
"Mana menantu kamu?" Tidak ada hujan tidak ada angin, Saras yang duduk santai menonton drakor di temani suaminya harus rela menghentikan aktivitasnya.
"Siapa Bu?" Saras memang belum kenal secara intens dengan wanita tua yang di mulutnya masih ada sejumput susur sirih yang membuat warna di mulutnya agak orange-orange gitu.
"Mbah Nyai, Saras, Salim dulu!" Saras menurut, mencium punggung tangan orang yang dituakan sekaligus orang yang cukup berpengaruh di kampung itu.
"Nduk, minta bedaknya sedikit. Putune Mbah kayaknya kena sawan kamu. Kemarin pas di gendong di depan rumah, kamu lewat, terus sekarang rewel wae, badannya juga demam"
"Ambilin sana, buat syarat ya Mbah?"
"Iyo nduk, sawan pengantin iku kadang luweh nyamari di bandingke sawan mayit"
"Eh... kamu ayu meni nduk, pantes nyawani!"
"Pinter hlo, Paijo nek golek bojo"
Saras tersipu malu, okelah di bilang cantik, tapi kog agak gimana ya, aura pengantinnya sampai malah membuat anak kecil rewel. Kan horor. "Hehe... makasih Mbah, sebentar tak ambilkan"
Saras mencibir melewati Paijo yang masih terkekeh, dia tahu apa yang di batin suaminya.
Selang beberapa detik, Saras kembali dengan bedak miliknya. Masih baru, baru di pakai dua hari. "Ini Mbah Nyai, di bawa saja"
"Hlo... ga punya yang tabur nduk?"
Saras menggeleng. "Di bawa aja Mbah, mbonten nopo. Semoga cucunya ga rewel lagi"
__ADS_1
Salma dan Paijo tersenyum. Mbah Nyai meski tadi bilang rikuh tapi demi cucu akhirnya di bawa juga itu bedak padat milik Saras. Selepas Mbah Nyai pergi, mereka duduk santai lagi di depan tv.
"Kog masih ada yang percaya sawanen ya Bu" tanya Saras.
"Iya masih, meski mitos, mau gimana lagi terlanjur turun temurun dan lagi selama kita masih tinggal di tanah jawa, hal-hal seperti itu kayak masih berlaku, asal jangan yang terlalu percaya yang berlebihan, itu yang ga baik"
"Denger itu Saras, besok lagi kayaknya lebih baik kamu beli bedak yang tabur aja, yang harga empat ribu dapat sekarung" goda Paijo pada isterinya.
"Maksudnya bedak Vivo? enggak cocok aku Mas, sudah terbiasa pakai yang mahal"
"Biarin, biar uang kamu cepet habis, iya 'kan Bu?" bela Saras.
"Hahaha... resiko ya Jo punya isteri cantik, bedaknya mahal"
"Aku sih ga masalah Bu, tapi baru sejangkah keluar rumah udah jadi penyebab sawanan anak orang, gitu bilang pengen kerja di tempat luar, bisa-bisa semua orang kesurupan lihat kamu"
"Eh... emang kamu pikir aku barongan? bilang aja posesif, isterinya ga boleh di lihat pria lain, iyakan?"
Sruputtt!
Kecupan dengan kecepatan cahaya mampir di pipi Saras. Di depan ibu mertua, ya Tuhan Saras malu. Suaminya itu memang kurang asem.
"Mas!" Saras melotot. Malu.
"Hahahaha...." Salma terkekeh, menikmati perannya sebagai penonton. Anak dan menantunya memang lucu, rumah jadi serasa hidup ada mereka.
"Iya, isteriku ga boleh di lihat pria lain. Makanya anteng aja di rumah! Jangan merengek pengen kerja!"
Saras mencibir, "Yah, kalau Mas Paijo udah bilang begitu, mau gimana lagi. Yang penting krim pagi, krim malam, uang belanja, uang jajan, uang shopping, sama kuota 65gb lancar ya Mas Paijo. Biar nonton drakor juga lancar, ga putus-putus."
"Nanti pasang WiFi, ga usah khawatir!"
HAHAHA...
Saras dan Salma bahagia sekali. Betah kalau ada WiFi di rumah. Ibu-ibu yang lain gimana?
.
.
.
.
__ADS_1
Seneng banget pada mau komen kemarin, andaikan kalian seperti itu terus, ga usah diancam baru komen, pasti diriku semangat up🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Terimakasih ya😘😘😘