
Baru satu minggu di rumah, Saras jadi makhluk paling mager sedunia. Bukan mager makan gereh, tapi mager dalam arti yang sesungguhnya. Setelah selesai masa kuliah Saras kira hidupnya akan bahagia, beban berkurang, tapi nyatanya dia mendapat predikat baru, pengangguran. Mau loncat indah daftar CPNS juga belum ada pembukaan. Sedangkan jika ingin bekerja di kantoran, tentu harus punya setidaknya informasi bukan. Saras tidak mau panas-panasan menenteng amplop coklat dari satu kantor ke kantor yang lain. Terlalu capek Saras tidak suka.
Untung Haji Bagong sayang Saras, dia paham jika putri yang di banggakannya itu pasti capek, dan tentu butuh waktu untuk istirahat.
"Masih capek?"
Saras yang sedang bersantai selonjoran nonton Spongebob sambil makan bakwan jagung tergelak kemudian mengangguk pelan. "Abah mau ke toko sekarang?"
"Iya, istirahat! jangan nonton tv terus. Udah gede masih aja suka kartun." Saras nyengir, dalam hati dia bersorak. Bukan ingin mengusir cepat, tapi kalau Abah segera pergi Saras ingin secepatnya vidio call pujaan hati.
"Tidur, makan, tidur, makan. Aku ingin istirahat Spongebob!" Suara Patrick mengusik jiwa mager Saras. Sialan, batinnya. Tersindir, dia mematikan tv dan lompat mengambil hp di kasur.
Jam sembilan pagi lebih sedikit, Saras menghubungi Paijo. Tersambung tapi lama tidak di angkat. Tut... Tut...Tut... kemudian putus. Jujur saat seperti ini Saras takut, takut kalau LDR, komunikasi buruk bisa berakhir seperti panggilan tadi. Sumpah, pikiran Saras yang lebay. Padahal dari subuh, mereka lancar berbalas chating.
Ah... lagi apa sih Paijo Paijan. Giliran ada kesempatan dia ngilang,
Saras mendengus kesal, dia keluar kamar mencari Hajjah Maesaroh.
"Umik...!" Yang di panggil ternyata sedang sibuk menyirami tanaman. Saras cemberut, anaknya belum di kasih makan, malah tanaman yang sudah mendapat perhatian.
"Mik, Saras lapar..." selain fix menjadi kaum rebahan, Saras sekarang jadi anak alay yang manja.
"Lapar ya makan. Perasaan tadi ada yang ambil bakwan jagung sepiring." jawab Umik tanpa menoleh.
"Ah... apa iya? Saras lupa, hehe..."
"Masak apa Mik?" Si Umik masih fokus nyiram bunga-bunga indah. Saras menjatuhkan pantatnya di kursi taman. "Sup jagung manis sama goreng tempe, mau Umik ambilkan?" Hajjah Maesaroh membalikan badan dan seketika istighfar. Rambut Saras awut-awutan mirip rambut singa.
"Anak gadis, jam berapa ini rambut belum di sisir!!! belum mandi, masih pakai baju tidur!!!!"
Trang tang tang tang! Hajjah Maesaroh mulai mengomel.
"Apa begini lulusan Universitas Malang? Masuk! mandi! jangan sampai di lihat tetangga!"
"Malu-maluin!"
Saras nyengir, baru satu minggu jadi kaum rebahan. Sudah di kata malu-maluin. Apa menjadi pengangguran itu aib?
****
Siang hari sebelum sholat dhuhur, Saras baru mandi. Dia membuka pesan dari Paijo. Ternyata hanya balasan berisi, nanti malam aku telpon, hari ini aku sibuk.
Tidak ada akhiran kalimat manis i love u atau i miss you. Paijo terlalu sibuk atau Saras yang memang luntang-luntung ga punya kerjaan.
__ADS_1
Akhirnya Saras menyalakan tv lagi. Mencari-cari tontonan yang menarik tapi tidak ada. Kemudian terpaksa menonton Spongebob lagi. Baru ingin fokus, suara Hajjah Maesaroh memanggil dari balik tembok.
"Saras, tolong belikan Umik minyak goreng di warung depan!" Saras mendengus malas. Tapi dia bangkit juga dengan langkah di seret.
"Mik, panas di luar. Saras pesan lewat aplikasi aja gimana?" Umik geleng-geleng.
"Tinggal jalan lima langkah Saraswati, kamu kog males banget!"
"Ih... bukan begitu Mik. Mumpung ada promo gratis ongkir." Saras berkilah. "Lihat ini, Umik mau pesan apa tinggal klik-klik."
"Kita duduk manis, nunggu barang diantar!"
"Emang bisa?" Hajjah Maesaroh akhirnya tertarik juga. Saras tersenyum menang, selicin perosotan dia menjelaskan cara memesan minyak goreng lewat aplikasi pesan antar.
Tidak menunggu lama, pesanan datang. "Mik, udah diluar abang ojolnya."
"Ya kamu ambil sana, Umik lagi repot nyuci ikan ini!"
"Ga lihat?"
Entahlah, untuk melangkah ke depan rumah saja Saras malas, apalagi memikirkan melangkah ke pelaminan. LDR sialan, Saras mengumpat dalam hati. Kangen setengah mati, ternyata bisa membuat memburuknya mood seseorang.
Saras keluar sebentar dan kembali masuk dengan sekantong minyak goreng di tangannya. "Ini minyaknya Mik," Saras kembali duduk di kursi pantry, mengamati punggung ibunya yang belum juga selesai mencuci ikan.
"Kamu lupa Abah 'mu itu makan tiga kali sehari harus dengan lauk yang berbeda?" Saras meringis, merepotkan sekali pikirnya. Tidak bisa di bayangkan kalau kelak suaminya seperti itu, bisa-bisa rak kober cincing, seharian harus di dapur.
"Kapan kamu cari kerja?" Umik akhirnya melontarkan pertanyaan yang seminggu dia pendam dalam hati.
"Hmm... nunggu mood Saras bagus Mik, lagi badmood males mikir," jawab Saras enteng kreweng.
"Emang kenapa Mik? bosen ya lihat Saras di rumah?"
Hajjah Maesaroh akhirnya selesai juga dengan ikannya. Dia mencuci tangan dengan sabun untuk menghilangkan bau amis bukan karena markonah atau koronah, baru kemudian mengeringkan tangannya dengan kain lap. Lalu menatap anak gadisnya dengan pandangan yang serius.
"Kamu ga merasa aneh sama Abah?"
Saras berpikir keras sekarang, setelah itu hanya menggeleng. "Memang aneh kenapa?"
"Sepertinya Abah santai-santai saja lihat Saras belum dapat kerja,"
"Hla,... hla itu harusnya kamu mikir!"
"Sekarang, Umik tanya sama kamu. Kamu sudah siap di nikahkan?"
__ADS_1
"Hah, apa Mik?" apa hubungannya belum kerja dengan pernikahan? neutron di otak Saras belum terkoneksi sama sekali.
"Abah, tidak masalah kamu tidak bekerja. Toh itu lebih memudahkannya agar bisa segera mendapatkan jodoh yang tepat untuk kamu!"
"Sampai sini kamu paham?"
Bagai di paksa bangun dari mimpi indah, Saras menelan ludah dengan susah payah.
Mati, mati, mati aku! Bagaimana aku lupa, jika ambisi Haji Bagong tidak lain dan tidak bukan, selain hanya ingin melihat 'ku menikah dengan pria yang kaya, terhormat, dan seorang pegawai negeri.
Saras semakin lesu, kalau boleh dia ingin menginap di rumah cangkang milik Patrick saja. Menghilang, agar lolos dari penjajahan berupa perjodohan yang tidak di inginkan.
****
Sementara itu jauh di Malang sana, laki-laki malang bernama Paijo sedang duduk termangu di balik tumpukan kayu. Cahaya matahari sore menyelinap dari ranting-ranting pohon, di mana ia duduk. Bohong jika dirinya tidak rindu pada sang kekasih. Di setiap kesibukannya dia pasti mengingat gadis itu.
Tak jarang, dia seakan melihat bayangan Saraswati yang melintas begitu saja. Bagaikan air di tengah gurun Sahara. Paijo ingin meneguknya dan melepas dahaga. Paijo ingin bertemu dengan Saras dan mengobati kerinduannya. Tapi disisi lain, dia masih keras kepala tidak mau pulang.
Ponselnya berdering, mengagetkan jiwanya yang nyaris kabur tertiup angin.
"Hallo,"
"iya ada apa Jo?" ternyata telpon dari Bejo.
"APA???" Paijo shocking soda mendengar kabar dari pria yang namanya hampir mirip dengannya.
"Tolong, bawa Mbah Sam ke rumah sakit segera! aku menyusul secepatnya!"
Tak perlu ijin dengan siapa-siapa, Paijo berlari menyalakan motor dan bergegas pulang ke rumah Cak Sam. Sepanjang perjalanan, Paijo hanya bisa berdoa agar Cak Sam di beri keselamatan.
.
.
.
.
.
to be continue...
like, komen, bagi hadiah, walaupun up nya arang-arangðŸ¤
__ADS_1
terimakasih 😘