
Setelah menemukan tempat persembunyian yang aman. Saras mulai mencoba menghubungi nomor Paijo. Bibirnya yang mungil bergerak-gerak menyebutkan deretan dua belas angka yang samar-samar diingatnya.
"087 829122 811"
"Nomor yang anda tuju salah!"
"087 829 221 811"
"Nomor yang anda tuju salah!"
"087 829 212 811" Barangkali bisa, 212 Saras jadi ingat Wira Sableng. Bukan pahlawan di zamannya memang, tapi dulu cita-cita kakak kandung Saraswati ingin menjadi istri Wira Sableng. Yang clegekan tapi hebat.
"Nomor yang anda tuju salah!"
Lagi-lagi mesin operator yang menjawab. Bahkan angka andalan Wira sableng tak cukup ampuh. Saras menggerutu merasa bodoh karena hanya mengingat tiga digit angka di awal dan akhirnya saja. "Bodoh! Bodoh! payah nomor pacar sendiri tidak hafal, aghhh..."
"Ayo Saras mikir! mikir cara lain!" Saras bermonolog. Memaksa otaknya agar mencari jalan keluar.
"Sosmed!"
"Iya benar, Instagram, Facebook..." Cepat-cepat Saras mengklik laman Facebook. Tapi yang ada titik-titik loading...
"Haaaaahhhhh..." Saras mengacak-acak rambutnya sendiri. Tidak ada sinyal.
"Sinyal oh sinyal kemana kamu?" Saras berjalan mondar mandir sambil mengangkat hp yang dia pegang setinggi mungkin. Barangkali sinyalnya nyangkut di pohon.
Atau sinyalnya tidur belum bangun, "Hah! Hah! Hah!" Saras mengabapi hp Budhe Sri, layaknya memaksa keong laut keluar dari cangkangnya.
Entah teori dari mana, dulu saat sekolah ikut kemah di daerah perbukitan, dia sering melakukan hal konyol seperti itu. Padahal sampai sehangat apapun hp yang Saras tiup-tiup itu tetap saja, sinyal tidak mau keluar.
"Huh, sialan! benar saja susah sinyal"
"Aku berdiri di bawah kaki gunung" Mata Saras menyapu alam sekitar. Dari tempat kaki Saras berpijak, dia bahkan bisa melihat empat gunung sekaligus. Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing. Dengan lesu Saras berjalan menuruni bukit. Saras harap Budhe Sri tidak meninggalkannya. Saras tidak hafal jalan pulang. Bisa-bisa dia tersesat.
Saat sampai di area ladang yang Saras yakini milik Budhe Sri. Pandangan Saras kembali menyapu dimana Budhe kritingnya. Yang tadi dia campakkan.
Suasana ladang sedikit lebih ramai. Beberapa orang terlihat sedang mencangkul, menyemprot hama dan lainnya. Mata Saras menangkap Budhe Sri yang duduk selonjor di bawah pohon pisang.
Dengan nafas terengah-engah dia menghampiri Budhe Sri yang asyik memakan singkong rebus. Entah dari mana Budhe Sri mendapatkan makan itu. Saras jadi lapar, baru ingat belum di kasih makan.
"Bud, ini hpnya Saras kembalikan"
"Terimakasih, tapi percuma saja, tidak bermanfaat sama sekali,"
Budhe Sri hanya melirik dengan mulut masih mengunyah singkong rebus yang terlihat lezat karena masih hangat. "Kenapa? apa kamu tidak bisa menelpon laki-laki itu?"
"Jangan-jangan dia sudah tidak peduli sama kamu!'
"Dih sembarangan! bukan begitu. Saras yang tidak ingat nomor hpnya," Saras meringis.
__ADS_1
"Mau inbox atau DM juga ga bisa, sinyal disini payah ya?"
Budhe Sri tiba-tiba berhenti mengunyah. Senyum tipis tertahan di bibirnya. Setelah berhasil menelan singkong rebus yang sudah dia kunyah lembut, Budhe Sri tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... bukan sinyalnya yang payah, kalau tidak ada kuota data mana mungkin bisa login"
"Budhe hanya punya pulsa telpon, belum ngisi paketan. Hahaha...."
"Maaf anda belum beruntung!" Budhe Sri mengejek Saras dengan semangat perjuangan. Yang di ejek begitu merasa didzalimi. Mulutnya mengerucut sebal.
Saras mencomot satu potong singkong dan mengigitnya besar. "Asem-asem!"
"Kualat! Makanya jangan jahil, mengelabuhi Budhe ngajak foto-foto ternyata ada maksud lain,"
"Semesta tidak akan berpihak pada orang yang licik!"
"Dih, siapa yang licik!"
"Saras hanya berusaha memanfaatkan peluang tahu?"
"Ya--- tapi kurang beruntung!"
"Besok bisa di coba lagi!" Saras bersunggut yakin.
"Lupakan! hiduplah tenang bersama Budhe disini!"
"Ogah, gak minat!"
"Buru-buru banget,"
"Saras lapar Budhe, ga peka ya?"
"Halah... makan singkong ini nanti juga kenyang,"
"Mana bisa, kalaupun singkong rebus ini Saras habiskan, hanya nylilit sampai kerongkongan saja. Mana bisa mengenyangkan!"
"Hish dasar! Rakus!"
"Jangan sampai Saras laporkan Umik, disini Saras di telantarkan ga di kasih makan sama Budhe, Saras baru kenyang kalau sudah makan nasi titik!"
"Iya-- cerewet lama-lama kamu!" Saras tidak peduli Budhe Sri berambut keriting mau komen apa lagi. Yang jelas dia lapar mau makan nasi.
****
...
"Apa laki-laki itu sudah gila?"
"Apa yang dia lakukan?"
__ADS_1
"Kenapa dia?"
"Aneh sekali!"
Paijo mengabaikan suara-suara sumbang yang tertangkap telinganya. Dia masih berlutut tanpa gentar. Dari pagi menjelang siang hari. Pandangan matanya tenang. Sekali lagi Paijo berharap welas asih Haji Bagong.
"Heh, mau sampai kapan kamu berlutut seperti itu?" Andre sepupu Saras yang sudah paham duduk permasalahannya menghampiri. Dia bisa saja membantu Paijo. Tapi bukan itu tujuannya.
Paijo masih diam. Dia tidak kenal pria itu, tidak ada urusan juga. Paijo mengabaikan Andre bagai makhluk astral. Tidak nampak wujudnya apalagi terdengar suaranya.
"Dasar keras kepala!"
"Kalau mau jadi patung kera, pindah sana ke jalan Hanoman, bukan disini!"
Kalimat hinaan itu harusnya mengusik harga diri Paijo. Tapi Paijo tidak peduli. Dia tidak akan bicara kecuali dengan Haji Bagong.
"Huh... percuma. Mungkin telinga 'mu sudah tuli!"
Andre jengkel sendiri, dia pergi keluar untuk mencari makan. Jangan sampai jam istirahatnya terbuang sia-sia.
Tak lama setelah kepergian Andre, Haji Bagong keluar dari ruangannya. Bukannya tidak tahu. Haji Bagong tahu jika Paijo masih berlutut di sana. Dia sama sekali tidak peduli. Paijo mendongak saat sebuah kaki melewatinya. Paijo segera bangkit mengikuti Haji Bagong.
"Pakdhe Haji, saya mohon. Dimana Saras sekarang?"
Semakin Paijo mengiba, Haji Bagong semakin mempercepat langkahnya masuk ke dalam mobil. Paijo berusaha menahan pria tua itu saat akan pergi tanpa menjawab pertanyaannya. Haji Bagong kekeh diam dan secepat mungkin menutup pintu mobil.
BRAKKK!
Paijo berusaha mengimbangi pergerakan mobil yang hendak keluar dari area parkir. Dari balik jendela kaca mobil. Haji Bagong masih bisa melihat bagaimana Paijo berusaha keras mengiba. Dia masih terus memohon-mohon.
"Pakdhe Haji, saya mohon..." Brak...brak...brak...!
Paijo menggedor mobil Haji Bagong. Meski tidak terlalu keras. Jika keras-keras Paijo takut bisa memecahkan kaca mobil Haji Bagong. Nanti yang ada Abah Saras itu semakin marah.
"Pakdhe Haji, saya mohon..."
"PAK...!!!!" Mobil di gas begitu saja. Tubuh Paijo limbung, hampir saja jatuh tersungkur ke aspal.
Sedangkan mobil Haji Bagong sudah melesat pergi.
"Aggghhhhhhhhhh!!!!!" Paijo meninju ke udara. Kemudian kedua tangannya reflek meremas rambutnya sendiri. Paijo frustasi, jika tidak segera menemukan Saras. Bisa-bisa Paijo menjadi pasien di rumah sakit Dr. Amino Gundohutomo. Poor Paijo....
.
.
.
.
__ADS_1
Ayo ibu-ibu lebih rajin lagi ya like dan komentarnya.😁
suwun🙏