
Saras keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang bertengger di kepala. Saat akan masuk ke dalam kamar dia berpapasan dengan Jae. Saras lantas menunduk dan buru-buru masuk ke dalam kamar. Sungguh situasi yang tidak mengenakkan.
Berbeda dengan Saras, anggap saja Jae lancang karena lagi-lagi berani menatap istri saudaranya. Dia memang sebrengsek itu, kalem di luar bajingan di dalam. Tentu berbeda dengan biskuit coklat yang crunchy di luar, lumer di dalam.
Setelah berkemas Paijo dan Saras berpamitan pada Salma. Daripada tidak nyaman di rumah, mending ikut suaminya bekerja. Siapa tahu bermanfaat. Salma pun tidak melarang Saras untuk ikut, yang penting mereka bahagia gitu aja.
"Kalian ga sarapan dulu? atau mau Ibu buatkan roti panggang?"
"Ah, tidak perlu Bu, nanti gampang sarapan di jalan" Paijo menginterupsi.
"Kami pergi dulu Bu" pamit Saras. Lantas membonceng di belakang Paijo.
****
Motor mereka melaju, membelah jalanan yang masih sepi. Maklum masih jam lima lebih sedikit. Hawa dingin sisa hujan semalam saja masih sangat terasa. Mereka memang harus pergi sepagi itu, mengingat perjalanan mereka tidak dekat.
Butuh waktu sekitar dua jam setengah untuk sampai ke daerah Sukorejo. Belum lagi nanti dalam waktu seharian ini Paijo harus berputar ke arah Limbangan. Dua tempat itu memang menjadi kawasan Paijo menjelajah. Berpindah dari satu depot kayu ke depot lainnya.
Saras mengencangkan pelukannya ketika Paijo menambah kecepatan saat melewati jalan di tengah hutan yang meliuk-liuk. Sekilas dirinya seperti mengalami dejavu. Dulu saat di Malang mereka juga pernah berboncengan seperti itu bukan? Saat pinggang Paijo sakit setelah menolong Saras. Dan Saras dengan bijaksana memaksa mendampingi Paijo bekerja, padahal sama saja dia hanya menyusahkan.
Sesampainya di depot pertama, Saras hanya bisa mengekori Paijo. Sedangkan suaminya itu tenggelam bernegosiasi dengan rekan bisnisnya.
"Udah segitu, kalau lebih saya ga berani"
Laki-laki bertubuh kurus itu agaknya harus mengalah. Paijo memang pandai menawar. Kapan-kapan Saras ingin coba cek Paijo kalau di ajak ke pasar bagaimana, apa dia bisa sepandai itu jika di suruh menawar harga cabai dan telur.
"Ya udah, kalau ga sama Mas Paijo saya ga boleh harga segitu"
"Oke deal, lima rit ya, kirim hari ini juga"
"Siap, saya minta uangnya cash aja bisa?"
"Tentu, saya bawa"
Saras melongo saat Paijo mengeluarkan segepok uang dari dalam tasnya. Suaminya itu terlihat santai saja membawa kemana-mana uang sebanyak itu. Padahal tiap hari jalan yang di lewati jalan tengah hutan, ya Tuhan semoga begal tidak sadar keberadaan orang bernama Paijo itu.
Selesai dengan transaksi itu, Paijo mengajak Saras untuk sarapan. Mereka memesan nasi soto ayam beserta es jeruk.
"Mau nambah?"
"Enggak Mas, udah kenyang, seger pagi-pagi sarapan soto di pinggir sawah seperti ini" Saras takjub dengan pemandangan sekitar. Nuansa pegunungan memang selalu membawa kedamaian.
"Capek ga?" tanya Paijo sembari menyuapkan sesendok nasi berkuah itu ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Saras menggeleng cepat. "Aku seneng ikut kerja kamu, berasa piknik, hehe..."
Paijo terkekeh. "Kasihan isteri aku, sekarang jadi jarang piknik ya, aku sibuk kerja terus"
"Santuy Mas, yang penting aku ga panik walaupun ga piknik" itu candaan, tapi Paijo merasa miris. Tingkat kepekaannya yang setara sensor ultrasonik itu tidak bisa di manipulasi. Intinya Paijo paham jika Saras tidak nyaman tinggal di rumah semenjak kedatangan Jae-langkung.
"Mas boleh tanya sesuatu?"
Saras mengambil lagi perkedel kentang dan menggigitnya pelan. Ah, dia jadi ingat Umiknya. Ibunya itu sangat suka perkedel kentang. Sedang apa Umik? Saras kangen...
"Saras?"
"Ah... gimana Mas?" Saras tersadar dari lamunannya.
"Ngelamun apa?"
Saras menunduk, tiba-tiba jadi pengen nangis.
"Aku kangen Umik," jujur Saras, meski pengen nangis entah kenapa perkedel di tangannya masih lancar jaya dia kunyah. Membuat Paijo geli. Kasihan tapi lucu bersamaan gitu.
Paijo mengusap pelan punggung tangan Saras, "Maaf ya, aku bawa kamu ke situasi yang sulit seperti ini---aku belum bisa bahagiain kamu sepenuhnya"
"Apa sih Mas, aku bahagia kog" mulutnya bilang tidak apa-apa tapi matanya berkaca-kaca. Saras cengeng.
Saras mengulas senyum, lagi melow malah di goda. "Enggak, makasih"
"Tadi, Mas mau bicara apa?" tanya Saras lagi setelah cengengnya menguap.
"Oh... itu, semisal, Mas ajak kamu pisah kamu mau ga?"
Saras mengernyitkan alis, "Maksudnya apa?!" setengah berteriak.
"Mas udah ngajak kita pisahan aja, padahal kita baru menikah beberapa minggu?!"
****! Saras ingin mengumpat, atau sekalian saja sisa kuah soto di mangkuknya, Saras siramkan di wajah Paijo.
"Eh... shtttttttttt! maaf salah ngomong, maksud Mas, kalau kita tinggal pisah dari rumah Bapak-Ibu , kamu mau tidak?"
"Huh, kamu bikin jantung ku mau copot Mas! Untung saja aku belum jadi nyiram muka kamu sama kuah ini"
Paijo meringis, "Hehe... Dih sadis banget!"
"Emang kamu udah ada tabungan buat beli rumah?"
__ADS_1
Paijo agak ragu mengatakannya. Saras sudah terbiasa tinggal di rumah bagus bahkan mewah. Jika akan diajak tinggal berdua di rumah sepetak dan bertembok kasar apa dia mau?
"Hmm... gini, aku tahu kamu canggung tinggal serumah sama Bapak dan Ibu, belum lagi sekarang ada Jae. Aku belum punya tabungan, uang masih muter terus buat usaha."
"Di pabrik aku ada kamar sepetak. Maksudnya kalau kamu mau, nanti tinggal kita tambah ruangan buat dapur,"
"Aku masih ada uang, sebenarnya uang kamu sih, uang mahar yang ga mau kamu terima, dan malah minta mahar seperangkat alat sholat doang."
"Tapi aku anggap itu tetap uang kamu, maka dari itu aku ijin kamu, gimana?"
Saras tersentuh, bukan karena perihal uang mahar itu, tapi karena kepekaan Paijo. Meski dia tidak mengutarakan perasaannya, tapi Paijo bisa memahami Saras sejauh itu.
"Aku mau Mas!" jawab Saras tegas.
Paijo tersenyum bangga. Bangga pada mantan gadis cengeng yang sekarang ini tampak berusaha sekuat wonder woman. Meski di lain waktu, cengengnya masih ada. Kayak tadi.
"Aku siap hidup susah dan senang bareng kamu"
Itu hanya kalimat biasa, tapi terdengar seperti gombalan di telinga Paijo. Sumpah, kalau Paijo berkulit putih macam opa-opa Korea, wajahnya yang tidak terlalu tampan itu pasti merona. Untung saja kulitan wajah Paijo sawo matang, jadi tersamarkan. Ga apalah sawo matang, asal jangan sawo busuk.
"Aku bakal berusaha ga bikin kamu susah, aku sayang kamu"
"Aku tahu, wekkk" ejek Saras.
Keduanya lantas tersenyum bersama, mau tertawa keras kog ga sopan. Warung soto itu ramai pengunjung. Dan mereka berdua cukup tidak tahu diri karena tak kunjung pergi setelah soto mereka habis.
Paijo Paijan, rak kerjo rak iso jajan! Semangat ya kalian berdua!
.
.
.
.
.
.
Like dan komen kalian sangat berarti yess!
Aku sayang kalian yang masih setia baca novel embuh kayak gini๐
__ADS_1