Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 73: Pasca Geger Gedhen


__ADS_3

"Abah, dimana Saras?"


"Ndre, kenapa kalian hanya berdua? Saras udah ketemu 'kan? kenapa tidak ikut pulang?"


Hajah Maesaroh sudah pasti gusar. Sejak tidak menemukan anak gadisnya di dalam kamar.


Perasaannya sudah tak karuan. Pagi sekali tadi Haji Bagong meninggalkan rumah dengan wajah penuh amarah, suaminya itu mengklaim kalau Saras pasti kabur bersama Paijo. Dan sekarang mereka berdua kembali ke rumah dengan tangan kosong. Apa yang terjadi?


"Mulai saat ini kita sudah tidak punya anak lagi!"


"Anak kita sudah mati semua!"


Hati ibu mana yang tidak sakit? Hajah Maesaroh sudah takut setengah mati jika ini terulang lagi. Dan benar, ini yang kedua kalinya, suaminya mengatakan kalau anak mereka mati.


"Tidak! jangan bicara seperti itu Abah, Umik mohon..."


"Ndre, dimana Saras? kenapa dia tidak mau pulang?" Hajah Maesaroh masih mengabaikan fakta jika suaminya membuang anaknya sendiri. Atau tidak mau lagi mengakui Saras sebagai anak mereka.


"Bulek tenang dulu, Saras gapapa, dia cuma belum mau pulang,"


"TIDAK!"


"DIA SUDAH MATI ANDRE!!"


"JANGAN SEBUT NAMANYA LAGI DI RUMAH INI, DAN JANGAN ADA YANG PEDULI LAGI PADANYA!!!"


"SEKALI AKU BILANG DIA MATI, ITU ARTINYA DIA SUDAH MATI"


Lutut Hajah Maesaroh terasa lemas tak bertulang. Air mata yang sejak tadi dia tahan runtuh saat itu juga. Untung ada Andre yang sigap membantu menopang tubuh wanita itu. Hidup dengan suami dan segenap sifat kerasnya, bukanlah hal yang mudah. Butuh kesabaran yang luar biasa. Hajah Maesaroh selalu menurut dan diam. Berusaha menjadi istri yang sholehah untuk suaminya. Tetapi di hadapkan dengan situasi seperti ini untuk yang kedua kalinya, apa ini adil untuknya? Apa dia juga masih harus diam dan menurut?


"Kalau dia sudah mati, lalu dimana jasadnya?"


"Aku ini ibunya, aku ingin memandikannya untuk yang terakhir kali..."


"Andre, lihat Bulek! ini tangan Bulek," Hajah Maesaroh mengangkat kedua tangannya layaknya orang yang sedang berdoa setelah sholat.


"Tangan ini yang pertama kali memandikan Saraswati, menimangnya dalam pelukan hingga dia terlelap"


"Bulek yang membesarkan Saras dari bayi merah hingga sekarang genap berusia dua puluh dua tahun,"


"Bolehkah tangan ini juga memandikan jasadnya sekarang, kalau benar dia sudah mati?"


Pertanyaan berisi sarkasme itu tentu menyentil Haji Bagong. Laki-laki yang penuh kesombongan itu tak bergeming di hadapan istrinya. Hajah Maesaroh bahkan enggan menatap Haji Bagong saat menyuarakan isi hatinya.


****


Sementara itu di kediaman Kepala Desa Burhanuddin, situasi masih terlihat berkabung. Paska Geger Gedhen pagi tadi, mereka masih tidak bisa tersenyum. Perasaan mereka diliputi rasa was-was. Kalau-kalau Haji Bagong datang kembali dan memaksa Saras pulang lagi.


Hanya Salma yang berusaha bersikap biasa saja, meski dalam hati sebenarnya dia juga sama galaunya.


"Ayok semuanya kita sarapan dulu!"


"Pasti pada lapar? Ibu sudah masak nasi goreng pete, kita makan sama-sama ya!"


Paijo dan Saras tidak menjawab. Hanya diam dengan pikiran masing-masing. Sedangkan Burhanuddin sudah pergi keluar untuk bekerja sejak setengah jam yang lalu.

__ADS_1


"Hai, malah pada diam?"


Paijo sedikit terperanjat kaget, "Eh... maaf Bu, tapi Paijo belum lapar, Ibu sarapan dulu aja"


"Eh... mana boleh. Anak Ibu sekarang tambah satu lagi. Kalau kamu ga mau makan, Ibu juga harus mikirin anak Ibu satunya. Ayo Saras makan dulu yuk nduk!"


"Ayo Jo, kasihan Saras. Makan dulu, masalah kalau di pikirin terus ga akan rampung, isi perut dulu baru nanti di lanjut mikir cari jalan keluar,"


Setelah di bujuk-bujuk barulah pasangan kekasih itu mau makan. Salma sangat iba pada mereka, kasihan. Saling mencintai tapi terhalang restu orang tua itu memang merepotkan.


"Oh ya Jo, Saras tidak mungkin pinjam pakaian Ibu terus bukan? Habis sarapan, kalian pergi sana belanja baju ganti buat Saras"


"Beli yang banyak, terus keperluan lainnya juga"


Ah, Paijo telat tidak menyadari hal itu. Saras sudah pasti perlu banyak hal. Bukan hanya pakaian saja. "Benar kata Ibu, maaf ya, aku kurang perhatian sama kamu"


"Habis ini kita beli pakaian, kamu mau?"


"Maaf mas, aku malah ngerepotin terus"


"Bu, maafkan Saras ya... Saras sudah banyak merepotkan,"


"Ehhh... kamu sekarang putri Ibu juga. Ga ada yang merasa direpotkan. Itu juga sudah jadi kewajiban Paijo membelikan kamu pakaian. Itung-itung latihan jadi suami yang baik, hehe..."


Salma tersenyum, senyumnya menyalurkan kehangatan bagi Paijo dan Saras. Mereka berdua ikut mengulas senyum.


Sore hari, Saras memakai pakaiannya sendiri yang telah kering setelah di cuci tadi pagi. Jeans panjang dengan kaos oblong berwarna navy. Rencananya mereka akan berbelanja beberapa potong pakaian. Tidak mungkin Saras meminjam baju Salma terus menerus. Memakai baby doll di hadapan Paijo saja dia malu setengah mati. Untung saja kemarin malam Salma urung meminjamkan daster, ibu tiri Paijo itu tidak sengaja menemukan setelah baby doll panjang yang kekecilan sejak pertama beli. Baju tidur itu seketika di berikan pada Saras.


"Kita pergi sekarang?"


"Oh... tentu. Sebentar aku ambil ke kamar dulu."


Beberapa detik menghilang ke dalam kamar kemudian muncul dengan meneteng jaket Hoodie berwarna abu. "Pakai ini, masih wangi baru dari dalam lemari"


Saras tersenyum, padahal kalau di kasih bekas di pakai juga ga apa. Bau keringat orang yang disayangi, pasti harum bagai wangi surga.


"Udah siap? ayok berangkat." Paijo mengernyit melihat Saras yang terlihat enggan keluar rumah.


"Mas, nanti kalau di luar banyak orang bagaimana?"


"Banyak orang? tetangga maksudnya?"


Saras mengangguk. "Aku ga enak mas, malu, pasti mereka pada bertanya-tanya."


"Ya kalau mereka tanya tinggal jawab aja, kamu calon istriku, beres.."


"Nanti kalau mereka pikir kita kumpul kebo gimana?" Tidak bisa di pungkiri hidup di kampung. Apalagi Burhanuddin kepala desa. Pasti segala tindak tanduk keluarganya ikut di soroti.


"Heh, kita memang tinggal serumah. Tapi 'kan ada Bapak dan Ibu. Ga mungkinlah mereka berpikir macam-macam."


Bahu Saras merosot, selama mereka belum menikah mana boleh Saras lama-lama tinggal serumah. Saras tak enak hati. "Mas, aku boleh cari kerja ga?"


"Aku ga bisa numpang terus di sini,"


Paijo menghela nafas, acara mau beli baju tertunda gara-gara obrolan yang melebar kemana-mana. "Kamu nginep baru semalem hlo... kog kayak yang sudah berhari-hari."

__ADS_1


"Boleh kita ngobrol ini nanti? Keburu hujan nanti malah ga jadi beli baju,"


Saras meringis lagi. Terlalu banyak hal di pikirannya, Saras merasa harus menyampaikan semuanya daripada mengganjal. "Ya udah ayok, kita bisa sambil ngobrol di jalan"


Benar dugaan Saras, meski agak mendung tapi sore hari memang waktu santai untuk ibu-ibu berkumpul di teras rumah. Selonjoran sambil mengobrol ngalor-ngidul tidak jelas.


"Permisi Bu..." Sapa Paijo saat melewati gerombolan ibu-ibu di bawah pohon mangga. Ada sekitar lima orang wanita, meski berdiri tidak duduk, sepertinya tidak mengurangi kenikmatan mereka berceloteh atau bergosip?


Entahlah Saras tidak tahu. Saras hanya sempat melempar senyum sekilas, pandangan mereka langsung bertumpu pada Saras. Saras sadar sekali.


"Eh iya...!" sahut diantaranya.


"Eh... itu siapa? pacar Paijo kali ya?"


"Cantik ya Bu"


"Iyo, ayu meni..."


"Baru lihat kali ini, Paijo jarang sekali boncengin cewek, ga pernah lihat malah"


"Ini sudah serius mungkin, buktinya udah berani di bawa pulang,"


"Kayaknya udah dari tadi pagi di rumah Paijo, tadi pagi sempet lihat dia jemur pakaian hlo ibu-ibu"


"Ah... masak sih?"


Begitulah tetangga. Dimana pun tempatnya, mata tetangga lebih tajam daripada mata elang. Telinganya bagai telinga serangga yang meski mendengar suara rendah tapi tajamnya bukan main. Sehingga informasi apapun akan cepat terdengar dan tersebar berkat tetangga.


****


"Mas kamu muter-muter sendiri dulu sana!"


"Hla emang kenapa? dari tadi aku ikut muter kamu juga ga protes, kenapa sekarang protes?" Saras selesai memilih beberapa potong pakaian. Dan Paijo yang baik hati dengan tekun membawakan setumpuk pakaian yang sudah di pilih Saras.


Setengah berbisik Saras berbicara. "Aku mau pilih daleman, malu kalau mas ikut. Emang mas ga malu? kalau ga malu ya ayok!"


Jelas Paijo malu, kalau pipinya putih dan semulus opa-opa Korea mungkin dia sudah merah merona sekarang. Membayangkan setumpuk pakaian dalam wanita dengan corak dan warna yang sudah menyerupai warna pelangi, mejikuhibiniu, merah, jingga, kuning, hijau, biru, bila dan ungu. Apalagi ada Saras di hadapannya. Otak Paijo bisa kena virus mesum, bahaya.


"Aaa.... kalau gitu aku nunggu dekat kasiran ya. Cepet, ga pakai lama!" Paijo jalan nyaris berlari. Dia harus menetralkan otaknya agar tidak mesum karena prahara barang pembungkus pusaka wanita itu. Horny dong jadinya. Dasar iman Paijo setipis triplek.


"Hahaha...." Saras terkekeh melihat tingkah laku anak manusia satu itu.


"Paijo lucu sekali..."


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Maaf ya ga bisa rutin update, terimakasih sudah sabar menunggu.šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2