
Bakso malang Cak Sam, tiga belas ribu rupiah semangkuk. Berisi satu gulung mie kuning, satu bakso besar dengan isian telur puyuh, satu bakso urat sedang, tiga bakso kecil, tahu kuning isian bakso, tahu putih isian bakso, pangsit basah, pangsit kering, bola-bola siome goreng. Kuah panas mengepul dengan taburan daun bawang dan bawang goreng. Tinggal tambahkan sambal dan kecap. Saras tidak suka saos. Menggugah selera, cocok di makan saat cuaca dingin ataupun panas.
Abaikan Paijo yang berserakan dimana-mana. Aku juga heran sejak pulang ke sini kenapa lingkaran pertemuan 'ku berputar dan lagi-lagi tak sengaja bertemu dengannya. Lebih baik mari kita coba semangkuk bakso yang sudah membuat mulutku kemecer ingin mencicipi.
"Ayo di makan! jangan malu-malu santai saja."
Saras tersenyum tipis, Bambang memimpin memulai makan. Gerakannya sangat halus, beretika layaknya sedang makan hidangan dengan mempraktekkan ilmu table manner. Saras terperangah, apa tidak bisa biasa saja. Pikirnya. Apa dia harus mengikuti cara Bambang makan? Sarah sedikit kikuk, setidaknya dia harus menahan diri agar tidak terlihat rakus.
Satu suapan, "Hem... ini enak sekali!" seru Saras yang tidak bisa menutupi kekagumannya. Kapan-kapan Rani dan Hayu juga harus coba ini. Atau nanti aku bungkus untuk mereka.
"Betul, ini enak dan murah. Bisa di jadikan langganan."
Paijo masih setia curi-curi pandang. Saras bukannya tidak tahu. Justru dia merasa ini saatnya dia tunjukkan kalau dia bisa mendapatkan yang lebih dari seorang Paijo. PNS banding penjual bakso tentu jauh. Bambang lebih berpendidikan, Saras respek dengan yang satu itu.
"Lebih enak jika di makan dengan kerupuk. Mas Bambang mau kerupuk?"
"Tidak kamu saja."
Dimeja Saras tidak ada toples kerupuk, dia bangun untuk mengambil kerupuk dari toples yang ada di meja kasir. Tatapan mereka bertemu, Saras masih acuh dan secepat mungkin mengambil dua buah kerupuk acir. Kerupuk bundar putih kesukaan Saras. Dia kembali duduk dan melanjutkan makan dengan sikap seanggun mungkin.
Kriuuk....
Kriuuukkk....
Mantap pecah deh, rasa lezat bercampur pedas sambel cabai setan, di dampingi kerupuk acir. Ga ada ampun. Enak sekali!
Saat Saras mengunyah dalam-dalam, dan lidahnya seakan sedang di manja-manja. Tiba-tiba Bambang mengernyitkan dahi, Saras menangkap raut wajah itu.
"Saras, kalau makan kerupuk bisa tidak ga usah keluarin bunyi? Itu tidak sopan!"
Hoho... apa aku tidak salah dengar? Ini aku sudah berusaha keras hlo buat ga ngeluarin bunyi. Mulutku udah mingkem saat ngunyah. Namanya juga kerupuk ya, pas digigit jelas berbunyi kriuk. Kalau ga keluar bunyi pasti mlempem. Aneh sekali, apa perlu aku rendem dulu kerupuk ini ke dalam kuah baru aku makan? jadi seblak dong kalau gitu. Rempong! makan kerupuk diatur, bisa-bisa nanti semua-semua dia atur. Keterlaluan ga sih?
"Hey, kamu denger ga sih? malah bengong!"
"Oh-- , sori. Aku dengar kog. Maaf kalau bikin berisik."
Saras memilih meletakan kembali kerupuk di atas selembar tisu di meja, mana mungkin dia melanjutkan makan kerupuk yang baru saja mendapatkan komplain itu. Matanya nanar menatap kerupuk, itu makanan pelengkap yang paling dia sukai.
Paijo bisa mendengar teguran itu, dia hampir tertawa terbahak di sana. Saras sadar itu. Paijo menahan tawa, merasa kasihan pada Saras. Makan bakso terlihat tertekan. Wajar, ternyata dia juga makan hati. Dongkol-dongkol deh. Kini Paijo paham satu hal.
Gadis itu sebenarnya berjiwa bebas, dia terlihat tertekan menjaga sikap. Kasihan sekali.
Selesai menghabiskan bakso, Saras berharap Bambang menawarkan untuk di bungkus. Tapi di tunggu-tunggu kog ga ada basa-basi sama sekali. Padahal tadi Saras sudah memancing dengan mengatakan jika dia tinggal bertiga dengan dua orang temannya. Dan ketiganya sangat suka kuliner. Mau bilang langsung juga sungkan. Saras memilih diam. Toh besok-besok dia masih mampu jika sekedar mentraktir temannya makan di sini.
Mereka berdiri di depan kasir untuk membayar. Paijo sendiri yang melayani pembayaran di kasir.
"Dua mangkuk bakso, satu es teh, satu es jeruk, dua kerupuk. Semua tiga puluh lima ribu."
Bambang mengeluarkan selembar uang berwarna biru. Seperti orangnya, uang itu terlihat licin tanpa ada tanda-tanda garis tekukan sama sekali. Paijo menerima uang itu dan terlihat eker-eker mencari uang lima ribuan.
"Maaf yang lima ribu receh!"
Paijo menyerahkan selembar uang sepuluh ribu, dua lembar uang dua ribuan dan seribu uang koin. "Tak masalah..." Bambang menerima uang kembalian. Saat akan memasukannya lagi kedalam dompet, uang koin itu terjatuh dan menggelinding kebawah meja.
Alih-alih malu untuk memungut, Bambang malah terlihat berjongkok mencari-cari di kolong meja.
Kemana uang itu jatuh. Sial! lumayan bisa buat parkir.
Saras semakin gondok dan malu di depan Paijo yang tersenyum mengejek.
Huh... ada ya orang macam Bambang. Seribu perak hlo itu. Ponakan 'ku saja ogah di kasih uang seribu. Kog kayak dia kehilangan uang satu milyar. Bikin malu.
"Biar saya ganti mas. Nanti biar saya yang cari!"
Bambang mendongakkan kepala. Bukannya menolak malah antusias menerima uang dari Paijo.
"Oh... baik mas. Terimakasih. Lumayan 'kan bisa buat bayar parkir. Walaupun seribu rupiah di suruh cari ngamen di lampu bangjo juga belum tentu ada yang ngasih."
Ga punya harga diri. Siapa juga yang mau ngamen.
Sesampainya di kos, Bambang langsung pamit pulang. Hayu dan Rani tertawa terbahak-bahak saat Saras menceritakan tingkah mister B dari awal hingga akhir.
"Najis, bikin ill fill."
"Terus gimana masih mau lanjut?" tanya Rani lagi.
Saras mendengus kesal. "Mau bagaimana lagi, aku jalani dulu. Nuruti Abah dari pada di suruh berhenti kuliah atau yang lebih menakutkan ga dapat kiriman uang."
Trokototok... kotok...kotok...!
Bunyi suara vespa di depan rumah mengehentikan obrolan mereka.
"Siapa tuh?" Hayu melongok keluar.
"Huiihhh... mas Paijo Ras."
"Saras ngeri deh, sore sama mas Bambang malam di apeli mas Paijo. Mau nyaingin aku?"
__ADS_1
Saras bangun dan ikut melongok. "Mau apa dia?"
"Samperin sana!"
Saras melangkah keluar. "Cari siapa?"
"Nih kasihkan temen kamu. Sama ini kerupuk. Kasihan tadi aku lihat ada yang tertekan ga bisa makan kerupuk karena dianggap ga sopan."
Saras melongo, ini orang cenayang? gimana dia tahu isi pikiran 'ku tadi.
Dia menerima bungkusan berisi tiga porsi bakso dan sekantong plastik kerupuk acir. "Dalam rangka apa?"
"Ga ada maksud apa-apa. Cuma kasihan."
"Aku balik, ga perlu bilang makasih."
Paijo menggenjot vespanya lagi, satu kali genjotan mesin langsung nyala.
"Kalau boleh ngasih saran, mending kamu ganti pacar. Ga pantes buat kamu."
"Peduli apa kamu!?" urat emosi Saras menegang.
"Aku ngasih saran gratis. Laki-laki macam dia hanya akan mendekte kamu, pelitnya juga udah kelihatan. Mana bisa membahagiakan kamu."
Paijo melenggang pergi tanpa menunggu jawaban Saras. Jelas hal itu membuat Saras jengkel. Dia bahkan menghentakkan kakinya dengan sebal.
Paijo! Dasar menjengkelkan! Sok peduli tapi aku tahu dia menertawakan 'ku dalam hati!
Kenapa semua orang begitu menjengkelkan. Aghhh...!!!
Saras menutup pintu gerbang dengan kasar. Setidaknya pintu itu tidak akan mengadu kesakitan. Asal jangan sampai ketahuan ibu kos. Bisa-bisa kena marah juga kalau sampai pintu itu rusak.
bersambung...
.
.
.
.
Usap like dan komen😘
Bakso malang Cak Sam, tiga belas ribu rupiah semangkuk. Berisi satu gulung mie kuning, satu bakso besar dengan isian telur puyuh, satu bakso urat sedang, tiga bakso kecil, tahu kuning isian bakso, tahu putih isian bakso, pangsit basah, pangsit kering, bola-bola siome goreng. Kuah panas mengepul dengan taburan daun bawang dan bawang goreng. Tinggal tambahkan sambal dan kecap. Saras tidak suka saos. Menggugah selera, cocok di makan saat cuaca dingin ataupun panas.
Abaikan Paijo yang berserakan dimana-mana. Aku juga heran sejak pulang ke sini kenapa lingkaran pertemuan 'ku berputar dan lagi-lagi tak sengaja bertemu dengannya. Lebih baik mari kita coba semangkuk bakso yang sudah membuat mulutku kemecer ingin mencicipi.
"Ayo di makan! jangan malu-malu santai saja."
Saras tersenyum tipis, Bambang memimpin memulai makan. Gerakannya sangat halus, beretika layaknya sedang makan hidangan dengan mempraktekkan ilmu table manner. Saras terperangah, apa tidak bisa biasa saja. Pikirnya. Apa dia harus mengikuti cara Bambang makan? Sarah sedikit kikuk, setidaknya dia harus menahan diri agar tidak terlihat rakus.
Satu suapan, "Hem... ini enak sekali!" seru Saras yang tidak bisa menutupi kekagumannya. Kapan-kapan Rani dan Hayu juga harus coba ini. Atau nanti aku bungkus untuk mereka.
"Betul, ini enak dan murah. Bisa di jadikan langganan."
Paijo masih setia curi-curi pandang. Saras bukannya tidak tahu. Justru dia merasa ini saatnya dia tunjukkan kalau dia bisa mendapatkan yang lebih dari seorang Paijo. PNS banding penjual bakso tentu jauh. Bambang lebih berpendidikan, Saras respek dengan yang satu itu.
"Lebih enak jika di makan dengan kerupuk. Mas Bambang mau kerupuk?"
"Tidak kamu saja."
Dimeja Saras tidak ada toples kerupuk, dia bangun untuk mengambil kerupuk dari toples yang ada di meja kasir. Tatapan mereka bertemu, Saras masih acuh dan secepat mungkin mengambil dua buah kerupuk acir. Kerupuk bundar putih kesukaan Saras. Dia kembali duduk dan melanjutkan makan dengan sikap seanggun mungkin.
Kriuuk....
Kriuuukkk....
Mantap pecah deh, rasa lezat bercampur pedas sambel cabai setan, di dampingi kerupuk acir. Ga ada ampun. Enak sekali!
Saat Saras mengunyah dalam-dalam, dan lidahnya seakan sedang di manja-manja. Tiba-tiba Bambang mengernyitkan dahi, Saras menangkap raut wajah itu.
"Saras, kalau makan kerupuk bisa tidak ga usah keluarin bunyi? Itu tidak sopan!"
Hoho... apa aku tidak salah dengar? Ini aku sudah berusaha keras hlo buat ga ngeluarin bunyi. Mulutku udah mingkem saat ngunyah. Namanya juga kerupuk ya, pas digigit jelas berbunyi kriuk. Kalau ga keluar bunyi pasti mlempem. Aneh sekali, apa perlu aku rendem dulu kerupuk ini ke dalam kuah baru aku makan? jadi seblak dong kalau gitu. Rempong! makan kerupuk diatur, bisa-bisa nanti semua-semua dia atur. Keterlaluan ga sih?
"Hey, kamu denger ga sih? malah bengong!"
"Oh-- , sori. Aku dengar kog. Maaf kalau bikin berisik."
Saras memilih meletakan kembali kerupuk di atas selembar tisu di meja, mana mungkin dia melanjutkan makan kerupuk yang baru saja mendapatkan komplain itu. Matanya nanar menatap kerupuk, itu makanan pelengkap yang paling dia sukai.
Paijo bisa mendengar teguran itu, dia hampir tertawa terbahak di sana. Saras sadar itu. Paijo menahan tawa, merasa kasihan pada Saras. Makan bakso terlihat tertekan. Wajar, ternyata dia juga makan hati. Dongkol-dongkol deh. Kini Paijo paham satu hal.
Gadis itu sebenarnya berjiwa bebas, dia terlihat tertekan menjaga sikap. Kasihan sekali.
Selesai menghabiskan bakso, Saras berharap Bambang menawarkan untuk di bungkus. Tapi di tunggu-tunggu kog ga ada basa-basi sama sekali. Padahal tadi Saras sudah memancing dengan mengatakan jika dia tinggal bertiga dengan dua orang temannya. Dan ketiganya sangat suka kuliner. Mau bilang langsung juga sungkan. Saras memilih diam. Toh besok-besok dia masih mampu jika sekedar mentraktir temannya makan di sini.
__ADS_1
Mereka berdiri di depan kasir untuk membayar. Paijo sendiri yang melayani pembayaran di kasir.
"Dua mangkuk bakso, satu es teh, satu es jeruk, dua kerupuk. Semua tiga puluh lima ribu."
Bambang mengeluarkan selembar uang berwarna biru. Seperti orangnya, uang itu terlihat licin tanpa ada tanda-tanda garis tekukan sama sekali. Paijo menerima uang itu dan terlihat eker-eker mencari uang lima ribuan.
"Maaf yang lima ribu receh!"
Paijo menyerahkan selembar uang sepuluh ribu, dua lembar uang dua ribuan dan seribu uang koin. "Tak masalah..." Bambang menerima uang kembalian. Saat akan memasukannya lagi kedalam dompet, uang koin itu terjatuh dan menggelinding kebawah meja.
Alih-alih malu untuk memungut, Bambang malah terlihat berjongkok mencari-cari di kolong meja.
Kemana uang itu jatuh. Sial! lumayan bisa buat parkir.
Saras semakin gondok dan malu di depan Paijo yang tersenyum mengejek.
Huh... ada ya orang macam Bambang. Seribu perak hlo itu. Ponakan 'ku saja ogah di kasih uang seribu. Kog kayak dia kehilangan uang satu milyar. Bikin malu.
"Biar saya ganti mas. Nanti biar saya yang cari!"
Bambang mendongakkan kepala. Bukannya menolak malah antusias menerima uang dari Paijo.
"Oh... baik mas. Terimakasih. Lumayan 'kan bisa buat bayar parkir. Walaupun seribu rupiah di suruh cari ngamen di lampu bangjo juga belum tentu ada yang ngasih."
Ga punya harga diri. Siapa juga yang mau ngamen.
Sesampainya di kos, Bambang langsung pamit pulang. Hayu dan Rani tertawa terbahak-bahak saat Saras menceritakan tingkah mister B dari awal hingga akhir.
"Najis, bikin ill fill."
"Terus gimana masih mau lanjut?" tanya Rani lagi.
Saras mendengus kesal. "Mau bagaimana lagi, aku jalani dulu. Nuruti Abah dari pada di suruh berhenti kuliah atau yang lebih menakutkan ga dapat kiriman uang."
Trokototok... kotok...kotok...!
Bunyi suara vespa di depan rumah mengehentikan obrolan mereka.
"Siapa tuh?" Hayu melongok keluar.
"Huiihhh... mas Paijo Ras."
"Saras ngeri deh, sore sama mas Bambang malam di apeli mas Paijo. Mau nyaingin aku?"
Saras bangun dan ikut melongok. "Mau apa dia?"
"Samperin sana!"
Saras melangkah keluar. "Cari siapa?"
"Nih kasihkan temen kamu. Sama ini kerupuk. Kasihan tadi aku lihat ada yang tertekan ga bisa makan kerupuk karena dianggap ga sopan."
Saras melongo, ini orang cenayang? gimana dia tahu isi pikiran 'ku tadi.
Dia menerima bungkusan berisi tiga porsi bakso dan sekantong plastik kerupuk acir. "Dalam rangka apa?"
"Ga ada maksud apa-apa. Cuma kasihan."
"Aku balik, ga perlu bilang makasih."
Paijo menggenjot vespanya lagi, satu kali genjotan mesin langsung nyala.
"Kalau boleh ngasih saran, mending kamu ganti pacar. Ga pantes buat kamu."
"Peduli apa kamu!?" urat emosi Saras menegang.
"Aku ngasih saran gratis. Laki-laki macam dia hanya akan mendekte kamu, pelitnya juga udah kelihatan. Mana bisa membahagiakan kamu."
Paijo melenggang pergi tanpa menunggu jawaban Saras. Jelas hal itu membuat Saras jengkel. Dia bahkan menghentakkan kakinya dengan sebal.
Paijo! Dasar menjengkelkan! Sok peduli tapi aku tahu dia menertawakan 'ku dalam hati!
Kenapa semua orang begitu menjengkelkan. Aghhh...!!!
Saras menutup pintu gerbang dengan kasar. Setidaknya pintu itu tidak akan mengadu kesakitan. Asal jangan sampai ketahuan ibu kos. Bisa-bisa kena marah juga kalau sampai pintu itu rusak.
bersambung...
.
.
.
.
Usap like dan komen😘
__ADS_1