Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 47: Jadi Makin Cinta deh!


__ADS_3

Monggo nyanyi dulu sebelum lanjut baca!


...mas aku pengen cerito...


...Tentang kita berdua...


...wong tuoku ora setuju...


...Yen kuwe lan aku bersatu...


...kondomu marang aku...


...kuwe bakal berjuang...


...Pengengatku marang sliramu...


...Ojo sampe... salah jalan...


...Aku rak mundur dek...


...teguh atimu...


...masio sendaya...


...ora ngerestuiku...


...Koyo tepung kanji...


...nong duwur mejo...


...Yen Gusti ngerestui...


...wong tuwo biso opo.......


...Hokya...hokya...!...


...yayaya.......


Gara-gara quotes Umik, siang ini Saras jadi memutar lagu itu. Sambil menyelesaikan pekerjaannya sepasang headset menyumpal di telinga. Saras sesekali manggut-manggut menikmati lagu yang dia putar keras-keras. Entahlah dia sepertinya tidak takut kalau jadi budeg. Padahal jelas-jelas di layar muncul peringatan, jika mendengarkan dengan volume melebihi ambang batas bisa mempengaruhi pendengaran.


Suara lagu dangdut tiba-tiba berhenti, berganti sebuah panggilan masuk. Saras mengecek ponselnya, dan tidak berfikir dua kali untuk segera menjawab panggilan itu.


"Hai, mau jemput? tapi aku ada motor. Sudah selesai di tambal."


"pengen ketemu? tadi malam 'kan udah,"


"Ah... iya, iya nanti pulang kerja kita ketemu lagi."


"Segitu kangennya ya sama aku?"


"Biasa aja?"


"Dasar nyebelin!"


"Iya...bye..."


Paijo mengajak Saras bertemu lagi, padahal baru semalam mereka bertemu. Saras sih seneng-seneng aja. Tapi kalau di tanya lagi prihal kesiapan, Saras masih belum punya jawaban.


Pukul empat sore tepat, para karyawan mulai keluar berhamburan. Malas mengantri di lift yang selalu penuh saat jam pulang, Saras lebih memilih turun lewat tangga. Toh, hanya turun dari lantai tiga tidak masalah baginya. Itung-itung olah raga juga.


Keluar dari gerbang mata Saras langsung awas, menemukan sosok Paijo yang sudah menunggunya duduk di atas motor. Saras menghentikan motornya tepat di samping motor Paijo.


"Ayo, cari makan dulu. Kamu pasti lapar, mau makan apa?" pemborosan memang, jika mereka bertemu tak jauh dari jajan dan makan. Tapi tak apa uang Paijo banyak, dia yakin tidak akan miskin hanya karena jajan. Kalaupun uangnya habis, gampang besok tinggal cari lagi. Itulah motto hidup Paijo. Jajan dan makan enak nomor satu. Ga perlu banyak gaya.


Saras nampak berfikir sebentar, "pengen makan steak. Tapi jauh harus sampai Ngaliyan."


"males naik motornya."

__ADS_1


Paijo memutar otak, ketemu ide juga akhirnya. "Gimana kalau motor kamu tinggal di parkiran kantor lagi. Kita boncengan aja. Nanti pulang dari Ngaliyan kita ambil lagi kesini, gimana?"


"Wow, Mas Jo cerdas. Kenapa tadi aku tidak kepikiran gitu ya...hehe..."


"Itu karena kamu lapar. Aku tahu kalau lapar otak kamu suka konslet,"


Di goda begitu Saras tidak tersinggung malah berbangga hati, ternyata Paijo perhatian juga. Othor tepuk jidat ngrasake Saras. Saras tersenyum bahagia, karena selalu di turuti Paijo. Minta makan apa, kasih! Jadi ga perlu susah-susah hamil duluan terus ngidam baru deh minta apa-apa di turuti. Hamil? amit-amit jabang bayi. Walaupun hidup di dunia modern, Saras masih memegang teguh prinsipnya. Bagi Saras mahkotanya hanya untuk suami halalnya kelak.


Saras putar balik masuk ke area perusahaannya. Setelah memastikan motornya sudah terkunci, dia berlari-lari kecil keluar gerbang lagi.


"Ayo! i'm coming steak, yummy!"


Saras nemplok membonceng Paijo. Urusan makan dia memang selalu semangat empat lima. Untung saja pawakan tubuhnya tidak gampang melar, andai dia mudah gemuk dan mengembang mungkin Saras rela menggunakan otaknya untuk berpikir menjaga pola makan alias diet. Paijo tersenyum juga, baginya tidak ada hal yang membahagiakan melebihi bertemu dengan Saraswati.


Tak jauh dari tempat mereka berdua, ternyata Jamal mengamati pemandangan itu dari balik kaca mobil. Dia menunggu bosnya yang tadi sempat bilang minta diantar pulang karena tidak membawa mobil.


Tatapan Jamal sendu, jika tidak malu pada pohon kaktus yang bergoyang-goyang di dashboard mobilnya. Mungkin Jamal sudah meneteskan air mata karena patah hati.


BRAKKK!


Gusti, bos Jamal masuk dan menutup pintu dengan keras. Biasanya Jamalga akan mengomel dengan mengatakan, "Bos, tidak bisa lebih pelan sedikit? cicilannya belum lunas. Awas saja kalau pintu mobil saya rusak sebelum lunas, saya tidak segan-segan minta ganti rugi!"


Huh, tapi kali ini laki-laki yang sudah matang tapi belum menemukan jodohnya itu masih tak bergeming. Tatapan matanya kosong. Membuat Gusti tergumun-gumun.


"Heh Unta! Ngelihatin apa sih?"


Seketika mata Gusti ikut menyisir pemandangan yang menjadi pusat perhatian asisten sekaligus teman baiknya itu. Mulutnya gatal ingin mengolok-olok Jamal.


"Oh... jadi itu pacarnya Saras? bau-baunya ada yang patah hati?"


"Udah capek usaha ngejar-ngejar dia?"


"Berisik!" Alis Jamal menaut jengkel.


Dalam hati harga dirinya tercabik-cabik, dia yang sadar punya wajah ganteng dan karir gemilang. Ternyata tak mampu mengalahkan seorang pemuda biasa yang tidak begitu tampan. Apa bagusnya dia coba? Selera Saras enggak banget!


"Tidak semua wanita memandang harta dan ketampanan."


"Okelah lo lebih klimis dari pacar Saras, tapi lo belum tentu lebih baik dari dia,"


"Kadal macam lo, harus insyaf dulu kalau mau dapat istri yang sholihah macam Saras. Hahaha..."


"Bacot! kurang insyaf gimana, mabok udah berhenti, main cewek juga udah bosen. Giliran cari istri kog susah banget."


"Dulu ngincer Alya di samber bos, giliran ada pandangan yang sejenis malah udah ada yang punya. Sialan banget memang!"


"Eh... bedebah! berani sekali kamu menjadikan istri gue role model, mau cari mati?"


"Heleh, apa salahnya coba? Ga kelong juga. Alya masih utuh di rumah, bahkan sudah berkembang biak membelah diri jadi Lisana."


Gusti rasanya ingin memotong gaji Jamal selama satu bulan, kalau saja tidak ingat dosa. Temannya itu memang sering berbicara seenak pantatnya.


"Yang kreatif, harusnya lo turunin standar dikit. Ketinggian kalau mau punya istri seperti istri gue."


"Istri gue yang paling cantik jelita dan berhati mulia..."


"Ahh... sudah ayo cepet jalan. Gue udah kangen sama mereka, Lisana juga pasti sudah nunggu Bapaknya pulang."


"Kira-kira mereka mau kemana ya?" Jamal penasaran juga. Tidak mungkin langsung pulang. Tadi dia lihat sendiri, Saras kembali masuk memarkirkan motornya.


"Jangan berpikir menguntit mereka, gue mau pulang sekarang!" tegur Gusti yang sudah nyaman dengan posisi duduknya. Punggungnya sudah bersandar pas di sandaran kursi. Sebentar lagi mungkin dia sudah nyaman tertidur. Mumpung ada yang nyetir.


"Berisik! udah numpang mulutnya ga bisa diam!"


"Lagian kenapa sih ga naik taksi aja. Hobi sekali nyusahin gue!"


Gusti menengok wajah sebal Jamal. "Jangan lupa, gue masih bos Lo!"

__ADS_1


Jamal kicep, kalau sudah keluar kalimat pamungkas itu dia bisa apa? Yang ada dia semakin nelangsa kalau sampai di pecat.


Saraswati, apa memang harus begini?


Aku mundur kalau memang itu bisa membuat kamu lebih nyaman.


***


Saras sudah tidak sabar menyantap sepotong beef steak di hadapannya. Bukan ndeso, tapi karena memang mereka sudah menunggu lama sejak tadi. Warung steak ini memang cukup terkenal di Semarang. Selalu ramai pengunjung. Jadi harus sabar menunggu pesanan datang.


"Enak?" tanya Paijo yang bisa bahagia hanya karena lihat Saras makan.


"Banget! dagingnya benar-benar empuk, delicious!" Bak seorang Foodies, yang pintar menilai makanan, Saras berkomentar menirukan gaya mereka.


Membuat Paijo terkekeh lagi. "Nanti nambah, di bungkus juga boleh," Setelah mengatakan itu, Paijo mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ransel yang dia bawa. Sebuah tas kain berwarna hitam dengan sablon nama konter seluler. Paijo mengangsurkan tas itu di hadapan Saras. "Ini buat kamu..."


"Hah, apa itu?" Walau Saras bisa membaca tulisan sablon di tas itu, namun dia tidak mau menebak apa isinya. Kalau-kalau seperti saat musim lebaran, dari luar kaleng Tanggo, saat dibuka ternyata isinya gadung. 'Kan bikin nyesek ati.


"Buka sendiri, semoga kamu suka"


"Kalau ga suka bilang, nanti biar aku tuker, mumpung masih garansi satu kali dua puluh empat jam,"


Saras meletakan pisau dan garpu di tangannya. Dan mulai membuka tas itu, bukannya girang Saras malah tambah bingung.


"Hp baru?"


"Buat siapa?" tanyanya polos.


Hih, Paijo gemas pengen cium pipi boleh? tadi sudah bilang buat dia, kenapa Saras masih tanya.


"Buat anak kita nanti kalau sudah lahir."


Mendengar celetukan Paijo Saras geli gimana gitu. Anak-anak, on proses saja belum pernah.


"Buat aku yah? tapi hp 'ku masih bisa di pakai kog,"


"Ganti pakai itu saja!"


"Maaf ya, kemarin aku emosi. Hp kamu jadi korbannya."


"Eh... tapi beneran kog hp 'ku masih bisa, ga rusak." bukan maksud nolak, tapi Saras sama sekali ga punya kepikiran ganti hp, toh masih bisa di gunakan.


"Iya... tahu, tapi casing belakang sampai melengkung gitu. Pakai yang baru, lumayan sinyalnya udah 5G, bisa lancar nonton Drakor."


Saras menilik hp baru yang masih terbalut kardus itu. Wah hp keluaran terbaru, jika di lihat dari tipe dan spesifikasinya, Saras yakin harga hp ini di atas lima jeti.


"Aku ga minta hlo ya..."


"Iya... aku yang kasih, ikhlas tanpa pamrih kog,"


"Ahh... baiklah kalau di paksa, terimakasih Mas Paijo SAYANG, kata ustadzah rejeki tidak boleh di tolak. Maka dari itu, aku terima ini dengan ikhlas juga..." Saras sok jual mahal padahal mau juga. Di kasih hp baru siapa sih yang nolak.


Bukan matre tapi lebih ke logika aja. Wong ga minta tapi di kasih, kalau aku sih yes!


Jadi makin cinta sama Mas Paijo, Wkwkwkkw....


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen bagi kembang yah😘


__ADS_2