Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 45: Lunturnya Suatu Amarah


__ADS_3

Saras merasa kepalanya mendidih, dia butuh yang dingin-dingin untuk menyeimbangkan emosi. Hajjah Maesaroh yang melihat kelakuan anak gadisnya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Saras masih berdiri di depan kulkas dan kesetanan minum air putih dingin sebotol besar dalam satu kali tegukan.


"Aghhhhh...." Saras mengusap bibirnya yang basah.


Masih dengan heran Hajjah Maesaroh bertanya, jika siang hari dia pasti maklum tapi ini sudah malam. Manusia mana yang malam hari kehausan seperti orang yang berabad-abad tidak minum. "Kamu minum apa mau jadi sapi gelonggongan?"


Bukannya menjawab Saras malah gejok-gejok, mengacak-acak rambutnya sendiri seperti orang yang punya banyak tumo alias kutu rambut. "Aaaaaaa....hiks...hiks... aaaaa....." Saras merengek, tidak menjawab ibunya dan malah ngeloyor naik ke lantai dua menuju kamar. Hajjah Maesaroh terbengong, mulutnya sampai mangap-mangap, tidak habis pikir apa yang terjadi pada anaknya.


flashback on...


Setelah urusan bertemu dengan ibu Fatimah selesai, Paijo memutuskan untuk pulang ke Semarang. Mumpung masih ada Bapak dan ibu tirinya yang menjaga Cak Sam. Sebelum pamit Paijo sempat meminta maaf pada Burhanudin, bapak Jo. Laki-laki itu hanya mengangguk, masih dingin karena itu sifat aslinya. Salma begitu terharu sampai meneteskan air mata. Tidak apa-apa walau masih terlihat kaku, setidaknya dia lega Paijo sudah mau lebih dulu meminta maaf. Seiring waktu Salma berharap kehangatan hubungan Bapak-anak itu bisa kembali terjalin.


Sesampainya di rumah, Paijo mengamati setiap sudut rumahnya yang sudah setahun lebih dia tinggalkan. Kamar Paijo masih terawat dengan baik. Siapa lagi kalau bukan Salma yang mengurusnya. Setelah mandi dan beristirahat sebentar Paijo ingin segera menemui Saras. Paijo sudah tahu jam berapa Saras biasanya pulang. Maka dari itu dia menunggunya di depan rumah Saras. Tidak langsung bertamu, Paijo masih mempertimbangkan jantung Haji Bagong. Kalau-kalau orang itu kaget. Karena sampai sekarang hubungan mereka masih di balik layar.


Walaupun harus menunggu lama, Paijo ikhlas lahir batin. Tapi saat melihat Saras datang keluar dari sebuah mobil berwarna hitam. Paijo terkejut dan tidak ikhlas dunia akhirat. Dari jauh Paijo bisa mengamati jika dua orang itu seperti sedang bersengketa. Saras terlihat sedang marah. Dan laki-laki itu berusaha membujuknya. Lalu siapa laki-laki itu? apa hubungan mereka? apa Saras berselingkuh di belakangnya selama ini? Pertanyaan itu berkecamuk dalam pikiran Paijo. Berniat memberikan suprise malah dia sendiri yang terkejut. Tangannya mengepal karena menahan emosi. Jelas dia kecewa dan marah.


flashback off...


Paijo urung menemui Saras malam itu. Sepulang dari rumah Saras dia memilih menyendiri di tepi pantai. Deburan ombak dan hembusan angin malam menjadi teman Paijo. Paijo tidak berniat menenggelamkan diri, dia sudah tenggelam dengan pikirannya sendiri.


Ponselnya bergetar, nama Saras bertengger di sana. Paijo masih enggan berbicara dengan gadis itu. Dia meletakan ponselnya di atas pasir dan kembali menerawang garis cakrawala yang gelap gulita. Jauh di sana ada kehidupan yang seperti apa? apa semua orang di belahan bumi manapun pernah merasakan sakit yang sama dengannya? Ponselnya kembali menyala dan bergetar berulang-ulang. Paijo mulai sebal, dia itu menelpon atau meneror. Setelah panggilan yang ke dua puluh delapan kali, Paijo mulai bergeming.


"APA?!!!!!" jawab Paijo yang langsung ngegas ketika menerima panggilan telpon dari Saras.


Di sana Saras cukup terkejut, tapi dia juga sedang sebal, makanya tidak mau kalah dia juga balik ngegas. "KAMU ITU LAGI APA?! Dari tadi aku telpon ga diangkat! Aku lagi butuh kamu!" Saras nerocos ngomong tanpa tanda baca titik atau koma. Tidak mendengar sahutan dari Paijo Saras melunak. Suaranya lemah dan terdengar frustasi. "Aku lagi sebel dan pengen cerita tau..."


"Cerita apa?"


"Cerita kalau kamu pulang diantar laki-laki bermobil?"


Deg!


jantung Saras serasa mau lepas. Dari mana Paijo tahu, batinnya. Apa dia mengirimkan mata-mata? atau pasang CC TV tanpa sepengetahuannya. "Aaa... apa maksudmu?"


Atau jangan-jangan Paijo pulang kesini?


"Kamu dimana hah?"


"Kenapa? apa itu penting buatmu aku ada dimana!"


Samar Saras mendengar deburan ombak, kalau benar Paijo pulang, Saras tahu dia ada dimana.


Pantai Ngebum.


"Tunggu aku disana, jangan pergi!" Paijo belum menjawab, Saras sudah mematikan telpon.


****


"MAS JO!"


Paijo menoleh tanpa bangun dari duduknya, tidak menyangka Saras bisa menyusulnya kesini. Saras berlari kecil mendekat. Senang bisa melihat Saras dari jarak dekat. Tapi dia belum lupa kalau hatinya baru saja tersakiti. Paijo masih terdiam dingin. Membuang muka dan lebih memilih menatap cakrawala kembali.


Kemudian Saras memilih duduk di sebelah Paijo. Agak ragu tapi dia percaya Paijo tidak akan mengusirnya. Ini tempat umum bukan miliknya saja, mana boleh dia mengusir.


Beberapa detik kemudian Paijo baru membuka mulut "Bagaimana kamu tahu aku ada disini?"

__ADS_1


"Kamu lupa aku gadis yang pintar? hanya dengan mendengar deburan ombak, aku yakin kamu di pantai ini." jawab Saras santai. Emosi marah dan lelah seakan terbang terbawa angin. Dia sangat senang Paijo pulang, andai laki-laki yang dicintainya ini tidak sedingin es kristal, mungkin sejak datang tadi Saras sudah lompat memeluknya.


Paijo tidak merespon candaan Saras. Kalau boleh request kalaupun sedang marah harusnya Paijo tinggal marah-marah saja. Saras siap diomeli tapi asal jangan diam begini. Saras malah bingung sendiri.


"Maaf aku tidak cerita kemarin-kemarin, tapi aku sama Pak Jamal tidak ada hubungan apa-apa. Dia itu asisten bos di kantor, dia emang berusaha mendekatiku. Tapi tidak pernah aku tanggapi,"


"Aku sudah berusaha menghindar dan mengabaikannya."


"Tapi sial, tadi pas pulang ban motorku bocor. Jadi Pak Jamal maksa ngantar sampai rumah." Beneran di paksa, bukan sekedar menawarkan diri, Saras tidak bohong.


"Dan sialnya lagi, kamu lihat ya?"


"Kog ga nyamperin?"


Paijo masih diam menyebalkan. Rasanya Saras ingin menggigit lengannya. "Aku udah jelaskan hlo, kamu masih diam terus aku kudu gimana?"


Paijo diam karena berpikir, apakah dia bisa percaya pada Saras. Bagaimana kalau dia hanya di permainkan? Selama ini Paijo tidak pernah punya pacar, Saras pacar pertama dan sejak sadar dengan perasaannya sendiri dia sudah berniat menjadikan Saras yang terakhir juga.


"Pinjam hp 'mu..."


Saras membuang nafas kasar, Paijo ketus, Saras tidak suka. Saras mengulurkan ponselnya, mau diapakan Saras sudah pasrah.


Paijo menggulir ponsel milik Saras. Mengecek siapa saja yang rajin chat lewat WhatsApp. Satu kontak yang menjadi saingannya. Nama kontak itu Pak Jamalga. Benar dia, namanya Jamal. Paijo membuka pesan itu satu persatu, banyak sekali dan hampir tiap hari dan tiap waktu. Selamat pagi, selamat siang, selamat malam, Paijo heran dia itu asisten bos apa penjaga pintu toko yang menyambut pembeli?


Malam ini aku tidak bisa tidur,


bukannya aku tidak mengantuk


tapi pikiranku yang tidak mau berhenti memikirkan kamu...


"Mas hp 'ku..."


Paijo hanya melirik dan menyerahkan hp itu pada pemiliknya. Saras jadi prihatin. Ingin menangis rasanya. Sudah di diamkan seperti ini, di tambah casing hpnya meleot. Tidak rusak ataupun pecah, hp Saras memang masih bisa menyala. Tapi bodi belakangnya sangat jelas meleot nyaris melengkung, gara-gara di genggam dengan kekuatan super Paijo.


"Sudah lihat sendiri, walaupun dia sering chat, tapi satupun ga aku bales."


"Udah percaya 'kan?"


"Aku ga selingkuh di belakang kamu" Saras diam menanti jawaban Paijo Paijan.


"Blokir nomornya! kalau dia masih berani ganggu kamu, lebih baik kamu keluar saja. Ga usah kerja."


"kalau aku ga kerja aku ga punya kesibukan. Sering anteng di rumah bisa-bisa besok aku nikah!" Sebal juga ternyata Saras.


Paijo langsung noleh, menatap tajam ke Saras dengan satu pertanyaan. "Maksudnya apa?"


"Kamu lupa, saat di Malang saja aku di jodohkan sama Bambang. Perjodohan gagal memang, tapi bukan berarti Abah ganti cita-cita."


"Masih sama, ga berhenti mencarikan jodoh buat anaknya yang cantik jelita ini..."


Paijo menarik senyuman tipis, "Hah... dasar! Cantik jelita apanya?"


"Menyebalkan iya!"


Ah... Saras tersenyum lebar. Jika sudah begitu, Paijo berarti mendekati waras. Saras senang kalau Paijo kembali waras alias tidak marah lagi. "Mas Paijo kalau cemburu mengerikan!" goda Saras.

__ADS_1


Kemudian Saras menilik nasib hpnya lagi. "Lihat Mas, casing hp aku sampai bengkok gini."


Paijo melirik dan masih merasa tidak bersalah. "Masih untung hp kamu, ga aku lempar ke laut!"


Benar juga kalau di lempar kelaut, Saras bakal kerepotan. Banyak kontak nomor penting yang tersimpan di sana. Saras tidak mau repot. "Hah... iya Alhamdulillah," dengan terpaksa Saras ikhlas.


Gemas Paijo merengkuh Saras kedalam pelukannya. Dia kangen sekali. Berpelukan semakin erat diiringi deburan ombak dan angin pantai yang semakin kencang membuat rambut Saras berantakan. Dengan tekun Paijo menyisipkan helaian rambut Saras ke belakang telinga. Memuaskan diri memandang setiap jengkal guratan di wajah Saras. Luntur sudah amarah yang tadi memuncak. Satu hal yang sama-sama mereka sadari. Mereka benar-benar saling mencintai.


"Ayok pulang, kamu bawa motor?" Saras menggeleng.


"Tadi naik ojek, aku tadi 'kan udah cerita, ban motornya bocor. Ga tau nasibnya gimana. Supir kantor yang ngurus."


"Ya udah ayok pulang. Aku anterin sampai rumah."


"Aku ga mau langsung pulang," Paijo heran, "sudah malam mau kemana memang."


"Mau minta makan dulu, aku lapar dari pulang belum makan."


Paijo mendesis, "Ah... iya hampir lupa aku. Kalau pacarku ini doyan makan. Ayo cari makan dulu yang enak-enak. Kamu mau makan apa?"


Mereka sudah berjalan beriringan meninggalkan tepi pantai. Berjalan bergandengan tangan. "Bagaimana kalau nasi goreng Pak Jamal yang di pinggir Kalibendo?


Enak hlo Abah langganan disana."


"Enggak mau, aku benci sama orang yang bernama Jamal!"


Saras tertawa terbahak. "Widih segitunya..."


.


.


.


.


.


.


note: * Pantai Ngebum itu asli ada ya, di daerah Kaliwungu-Kendal.


*Kalibendo itu juga nama jalan di Kaliwungu


jadi tidak sebatas menghalu, saya ingin mengajak anda berkunjung ke daerah saya.


Silahkan gogling aja, yang penasaran sama 'Kaliwungu kota santri'


😁😁😁


Like, komen, bagi hadiah...


pokoknya kalau kalian rajin bagi hadiah, aku rajin up, pamprih ya aku, sok banget!😁😁😁🀣🀣🀣


becanda🀭

__ADS_1


__ADS_2