
"Mas Paijooooo..."
"Mas Paijooooooooo....!!!!"
Saras tidak mengenal perempuan bertubuh besar dengan rambut poni ala-ala Rita Sugiarto itu. Atau belum kenal saja. Karena wanita itu tiba-tiba masuk ke rumah padahal Saras belum mempersilahkan masuk.
"Eh...Mbak ini siapanya Mas Paijo?"
Hai hallo, bukankah harusnya Saras yang bertanya. "Hmm... permisi, Ibu ini siapa?"
"Hahahaha... maaf, maaf, saya dengar Mas Paijo bakal menetap di rumah ini, perkenalkan saya Bu Tutik, tetangga depan rumah"
"Kalau Mbaknya siapa? saudara atau adiknya Mas Paijo?"
Haruskah mulai besok Saras memesan nametag, dan menuliskan di sana, nama beserta statusnya? Saras baru menyadari di seberang jalan ada deretan rumah lainnya. Dan itu artinya dia punya tetangga. Dan wanita ini salah satunya.
"Oh... saya Saraswati, isteri Mas Paijo" jawab Saras sambil mengulurkan tangannya.
"Benarkah?" Ada nada tidak percaya sekaligus kecewa di sana. Saras tidak tahu kenapa. Dia pun hanya mengangguk kecil membenarkan pernyataannya tadi.
"Ow... saya baru tahu kalau Mas Paijo sudah menikah. Dan... dan kamu sepertinya masih sangat muda. Lebih cocok jadi adiknya ketimbang isteri."
Kenyataannya Saras isterinya, lalu kenapa tetangganya satu ini sewot. Saras memaksakan tersenyum lagi,
"Ibu Tutik ada perlu apa ya?"
"Soalnya Mas Paijo sudah berangkat ke Sukorejo sejak subuh tadi"
"Hmm... saya kira ada Mas Paijo. Soalnya, anak saya Siti baru saja selesai masak rawon. Niatnya mau ngajak Mas Paijo sarapan bareng gitu"
"Ga taunya yang di rumah bukan Mas Paijo"
"Anak saya itu dekat sekali hlo dengan Mas Paijo, dia sering mengantarkan makanan kesini, sangking dekatnya saya kira mereka ada hubungan"
"Ga taunya, Mas Paijo udah punya isteri aja!"
"Hufttt...."
Saras melongo, bingung, harus mengklasifikasi kan wanita ini ke dalam makhluk hidup jenis apa. Sudah berumur harusnya jika manusia itu lebih peka dan beretika. Tapi sejak kemunculannya dari beberapa detik lalu, setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya bak mercon banting. Ceplos-ceplos seenak udelnya.
"Iya sayang sekali yah Bu, mungkin memang jodohnya sama saya, hehe...."
Benar-benar mulut Saras berkhianat, pengen memaki tapi yang keluar malah candaan yang euuh gitu.
Bu Tutik melengos. "Huh, ya sudahlah. Mas Paijo sepertinya hanya sedang tersesat. Jelas anak saya Siti lebih cantik di bandingkan kamu"
"Memang benar kata pepatah, kadang gajah di pelupuk mata tak terlihat sedangkan semut di seberang lautan justru nampak jelas"
"Saya permisi pulang dulu!"
Saras membuang nafas kasar. Setelah terlepas dari manusia menyebalkan bernama Jaelani. Saras kira akan hidup damai di sini. Tapi ternyata kuman memang ada di mana-mana.
Gajah di pelupuk mata, semut di seberang lautan? Cih, wanita itu bahkan salah memilih pepatah. Mungkin niatnya membanggakan anaknya yang lebih cantik. Tapi makna dari pepatah itu yang benar bukankah kekurangan orang lain lebih mudah di lihat dari pada kekurangan diri sendiri? Dasar wanita aneh!
Siti? secantik apa gadis itu, Saras jadi penasaran. Meski sadar ini hanya akan jadi penyakit. Namun, Saras masih sama seperti wanita yang lainnya. Merasa terusik jika hak miliknya ternyata ada yang melirik.
****
Saras terkantuk-kantuk menunggu suaminya pulang. Beberapa kali menguap dan beberapa kali juga mulutnya hampir kemasukan nyamuk, sangking lebarnya saat menguap.
Samar terdengar suara motor yang tidak asing di telinga Saras. Meski jaraknya masih cukup jauh dari rumah. Tapi Saras yakin itu Paijo, suaminya. Dia pun lompat menyongsong, membukakan pintu lebar-lebar. Dan benar sekali itu Paijo.
__ADS_1
Senyum Saras tersungging dan semakin lebar ketika melihat gondal-gandul kantung plastik di stang kiri motor Paijo. Saras yakin itu makanan.
"Bawa apa Mas?"
"Martabak telor, kesukaan kamu!"
Mata Saras berbinar, menerima bungkusan itu dan membiarkan suaminya itu mendorong sendiri motornya ke dalam rumah. Saras ga mau bantu dorong, berat, Saras ga kuat. Ruang tamu mereka memang multifungsi, merangkap ruang kerja sekaligus garasi motor di malam hari.
Setelah membuka bungkusan martabak setebal spring bed itu, tanpa ba-bi-bu Saras mencomot dan melahapnya. Paijo tersenyum melihat tingkah isterinya.
"Hini teelor bela-pa Mas?" tanya Saras dengan mulut penuh mengunyah, apalagi masih sedikit panas. Membuat ucapannya itu tidak begitu jelas.
"Pelan-pelan makannya, masih panas hlo!"
Saras nyengir, "Sori, ini enak Mas, telur berapa bisa setebal ini?"
"Spesial, aku minta tujuh telur tadi"
"Kenapa? kalau masih kurang aku masih ada nih dua telur lagi!" Paijo mengerlingkan mata. Saras paham sekali maksudnya telur yang di bawah sana, yang selalu di bawa kemana-mana.
"Dih!"
Saras mencibir dan memilih fokus kembali pada martabak saja.
Paijo terbahak. Seharian bekerja di luar, menggoda isterinya sesampainya di rumah, cukup meredakan lelahnya. "Ini suaminya ga di buatin minuman gitu? padahal udah di belikan martabak hlo!"
Saras sudah sigap berdiri di dapur yang menyatu dengan ruang tengah tempat Paijo duduk.
"Teh apa susu?"
"Teh aja dulu, nyusunya nanti sebelum tidur!"
"Mesum terooos!"
"Oke, asal jangan bercanda begitu aja sama Siti"
Paijo mengernyitkan dahi. Menoleh menatap isterinya yang sedang mengaduk teh hangat. Sedikit curiga jangan-jangan bukan gula tadi yang di masukan kedalam teh, garam atau pupuk organik. Misalkan.
"Apaan sih?"
"Cie, cie, yang ternyata punya secret admirer"
"Ga paham ngomong apa kamu!"
"Pengagum! Siti, tetangga depan!"
Sebenarnya Saras ingin menahannya, setidaknya sampai nanti setelah suaminya itu membersihkan diri dan beristirahat. Namun, lagi-lagi Saras lemah. Mulutnya lancar sekali mengulik.
"Siti anaknya Bu Tutik?"
"Memang ada berapa Siti di kampung ini? tentu saja Siti yang itu, yang sering mengantarkan makanan buat kamu, sering makan bareng juga kan?"
Hidung Paijo mengendus-endus. Padahal Saras juga tidak kentut. "Bau apa ini?" tanya Paijo dengan hidung kembang kempis.
"Bau apa?" Saras ikutan mengendus.
"Oh, ternyata bau-baunya ada yang cemburu, hahaha..."
Gigi Saras bergemletuk, dia kesal ternyata hanya di kerjai. "Enggak, siapa yang cemburu? aku hanya memastikan, tadi pagi soalnya ada yang kesini ngajak sarapan"
"Siapa? Siti?"
__ADS_1
"Enggak, ibunya!"
"Yang ngajak sarapan ibunya Siti, harusnya kamu cemburu sama ibunya, bukan anaknya"
"Ga usah di dengerin juga, aku sama Siti ga pernah dekat, dia sering ngasih makanan juga yang sering makan itu si Yanto dan Yadi"
Saras tidak mau mendebat. Percaya saja pada suaminya. Dia hanya penasaran. "Huh, Bu Tutik bilang, Siti lebih cantik daripada aku, apa iya?"
"Siti ya?" Paijo membuat mimik wajah berpikir yang menyebalkan. Membuat Saras menghadiahkan cubitan di paha suaminya.
"jangan besar kepala, Mas Paijo itu tidak tampan, harusnya bersyukur udah punya isteri secantik aku, awas saja ya Mas kalau kamu berani bilang dia cantik!"
"Tapi dia itu memang cantik kog," Saras mendelik.
"Tapi tidak lebih cantik dari kamu"
"Hah, gombal!"
"Hahaha... sekarang kamu sudah tahu sendiri 'kan Saraswati, meski tidak tampan, suamimu ini kharismatik, tak heran banyak yang suka, suamimu juga termasuk menantu idaman ibu-ibu di kampung ini hlo"
"Jadi kamu harus jaga suamimu ini dengan baik-baik, oke!?"
"Huh, ge-er!"
****
Pagi harinya, Saras mengintai dari balik jendela. Terlihat Bu Tutik sedang berdiri di tepi jalan bersama seorang gadis. Saras yakin itu yang bernama Siti. Perawakannya mirip sang ibu. Tinggi dan besar. Bongsor kalau orang Jawa bilang. Tapi kalau para sejarawan yang bilang, mungkin ibu dan anak itu bisa di kategorikan kedalam kelompok gigantropus erectus.
Dih, ibunya bilang dia cantik!
Cantik apanya coba? lubang hidungnya saja selebar itu!
Masih bagus hidungku, runcing seruncing bambu runcing!
Jangan body shamming Saraswati! itu jahat!
Bodo amat! kan cuma di batin. Saraswati senyum-senyum merasa menang. Jelas dirinya lebih cantik kemana-mana.
Bu Tutik tidak salah memuji anaknya memang, diakan ibunya. Bahkan sejak kecil tidak ada orang tua yang mengudang anak bayinya, misal, anakku sing elek dewe!
Tidak ada bukan? semua orang tua pasti bilang ya gini, anakku sing ayu dewe! sing bagus dewe! sing pinter dewe!
Meskipun pada kenyataannya, anaknya tidak secantik itu atau setampan itu.
Saras sudah bisa menarik kesimpulan, seperti ala Bu Tutik itu. Tetangga yang cukup julidin, dan berbakat menjadi admin akun lambe nyir-nyir. Jadi mulai sekarang Saras memutuskan untuk memasang dinding tinggi-tinggi. Memberi batasan, agar wanita itu tidak semena-mena. Lain kali mungkin omongannya yang nyelekit dan kompor-kompor itu perlu di balas. Lihat saja nanti.
.
.
.
.
.
.
.
Masih suka ga sih sama cerita ini?
__ADS_1
komen ya, like juga, makasih😁