Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 60: Berdarah Tapi Senang


__ADS_3

Hari-hari berikutnya Paijo masih berusaha keras membujuk Haji Bagong. Menunggu Haji Bagong berangkat di pagi hari atau saat beliau pulang di sore hari. Setiap hari Paijo menerima penolakan. Ingin menemui ibu Saras juga sulit. Wanita itu bagaikan Rapunzel yang di kurung di dalam istananya. Susah di temui dan jarang keluar. Menyogok Malik si satpam yang garang dengan martabak telur dua puluh juga percuma. Kredibilitasnya sebagai penjaga pintu gerbang rumah Haji Bagong tidak di ragukan lagi. Walaupun martabak di makan, tapi mulutnya tidak bisa diajak kerja sama.


Paijo pontang-panting, mengurus pembangunan pabrik dan perijinannya. Di sisi lain dia selalu mengkhawatirkan keadaan Saras. Hampir dua minggu tidak bertemu, Paijo rindu. Rindu berat.


Paijo terlihat menyedihkan, kegalauan hatinya membuat dia lupa memperhatikan diri. Rambutnya tiwul-tiwul minta di pangkas. Brewok yang biasanya tidak pernah dia biarkan bersarang di dagu tumbuh tak beraturan. Paijo yang tidak tampan semakin terlihat lebih tua karena tidak terurus.


"Jo, sudah mandi?" Salma yang melihat putra sambungnya sejak tadi hanya mengganti-ganti chanel tv, tanpa ada ketertarikan untuk menonton itu pun duduk di sebelah Paijo.


"Belum..."


"Makin muram saja wajah kamu. Sudah sore mandi dulu sana!"


"Iya bentar lagi..." Salma membuang nafas kasar mendengar jawaban Paijo.


"Huh, belum ada kabar sama sekali dari Saras?" Paijo hanya menggeleng.


"Haji Bagong memang kelewatan, sejak kemarin ibu menghubungi Hajah Maesaroh juga tidak bisa. Sekarang malah nomor ibu di blok juga,"


"Pengen ibu labrak itu Haji Bagong, kalau saja kamu ga ngelarang ibu buat ikut campur--"


"Jangan! nanti tambah runyam yang ada,"


Paijo bergidik ngeri, saat ingat tingkah Salma yang menggagalkan rencana pertunangan Saras dengan mendatangi keluarga Bambang dan mengatakan jika Saras hamil anak Paijo.


"Hemm... ya ibu ga bisa bantu banyak kalau kamu larang. Ngomong-ngomong, itu rambut sama brewok kamu potong sana ke barbershop. Miris lihatnya, kamu udah mirip manusia gua yang jauh dari peradaban! Kelihatan tua!"


"Biarin, emang udah tua..."


"Dih, sedih boleh Jo, tapi kamu juga harus memperhatikan diri kamu. Kamu mau saat ketemu Saras nanti kamu jelek gini?"


"Enggak banget Jo!"


"Apaan sih? mulai berisik ibukkkk!"


"Dih, kamu di bilangin ngeyelan," Salma merenggut karena perhatiannya pada Paijo tak di sambut baik.


"Yang penting Paijo masih mau mandi, itu udah cukup."


"Terserahlah Jo... Sini remotnya, ibu mau lihat gosip aja daripada nasehati kamu ga di dengerin,"


Melihat Salma dan Paijo bisa sehangat itu, diam-diam Burhanuddin merasa senang. Kehangatan keluarga yang dulu terasa mustahil kini terwujud nyata. Paijo banyak berubah sejak kepulangannya lagi ke rumah ini. Lebih dewasa. Hal itu membuat Burhanuddin sudah tidak lagi memaksakan kehendaknya agar Paijo kuliah lagi. Apalagi saat ini Paijo sudah bisa membuktikan jika dirinya bisa mandiri merintis usaha miliknya sendiri.


"Bu, buatin bapak kopi ya..."


Salma menoleh, baru sadar jika suaminya sudah pulang. "Eh, sudah pulang, kog ga ke dengeran ya buka pintu,"


"Iya, itu karena dari tadi ibu berisik," Paijo bangkit, meski malas dia harus tetap mandi.


"Dih,"


****


Keesokan harinya Paijo pergi ke daerah Sukorejo untuk survei lapangan. Dari informasi yang di berikan Om Irwan, di daerah itu banyak sekali depo-depo yang menjual kayu sengon atau bahkan jati. Paijo mendatangi dari satu depo ke depo lain. Membandingkan harga, sekiranya yang masuk di perhitungkan untuk di jual atau diolah lagi sesuai permintaan nanti.


Motor Paijo melaju kencang membelah jalan yang naik turun dan berliku. Sukorejo memang masih satu kabupaten dengan kampung halaman Paijo. Namun, kecamatan ini merupakan daerah dataran tinggi yang di kelilingi pegunungan.


Paijo tiba-tiba ingat Saras. Bayangan gadis itu masih kental di benak Paijo. Bagaimana Saras tertawa, bagaimana dia terus mengoceh seperti beo. Paijo rindu itu semua.


Dimana pun, entah di kota atau di gunung, entah tidur atau terjaga, di mataku hanya ada bayanganmu, Saraswati.


Setelah selesai dengan urusannya, Paijo bergegas pulang sebelum petang. Saat sampai di alun-alun Sukorejo Paijo berhenti untuk mampir membeli minum. Tenggorokan Paijo terasa kering. Ternyata es kelapa muda terasa lebih menggoda daripada janda muda. Iyalah kamu haus Jo. Paijo pun mampir di salah satu warung es kelapa muda.


Setelah meneguk beberapa kali minumannya, Paijo menyapukan pandangan di sekitar. Patung ayam bertelur yang menjadi ikon kota Sukorejo menarik perhatiannya. Banyak orang yang ternyata tertarik untuk bersua foto di sana. Kemudian pandangan Paijo berpindah, tak sengaja menangkap siluet tubuh seorang pria tua yang dia kenali. Pria itu berjalan hendak menyeberang.

__ADS_1


Dari arah lain, sebuah mobil Avanza terlihat tidak mengurangi kecepatan. Paijo terlonjak.


"Astaga!!!"


Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttt......!!!!!!!!!!


"Awas!!!!"


Brakkkk!!!!


Meski jatuh terguling, Paijo berhasil menyelamatkan pria tua itu. Mobil yang melaju kencang itu menabrak tong sampah di tepi jalan. Suara rem berdecit dan diakhiri suara tubrukan tong sampah, otomatis mengundang perhatian.


Orang-orang berduyun-duyun datang mengerubungi Paijo yang terkapar bersisian bersama pria tua itu.


"Mas-- mas, baik-baik saja atau ada yang terluka?"


"Ayo di bantu, geser kepinggir!"


Sebagian orang ada yang membantu membangunkan Paijo dan pria tua itu, sebagian lagi menahan pemilik mobil Avanza yang nyaris jadi tersangka penabrakan.


"Pakde Haji, tidak ada yang luka 'kan?"


Haji Bagong tercekat, pinggangnya terasa sakit juga karena jatuh terduduk. Tapi keadaan Paijo lebih parah, kedua sikunya terlihat berdarah-darah.


"Mas harusnya lebih khawatir sama keadaan sendiri, lihat tangan mas sampai berdarah begitu! Coba di gerak-gerak! Tidak tergilir 'kan!" Seorang bapak-bapak terlihat sangat mengkhawatirkan Paijo.


Paijo pun nurut menggerakkan tangan, "Tidak, hanya lecet paling ini..."


Kemudian pengemudi mobil di gelandang untuk di mintai pertanggungjawaban.


Seorang pemuda terlihat mewakili bicara, "Lihat pak, mereka terluka. Gimana ini pertanggungjawaban bapak!"


"Iya! tanggung jawab kalau tidak ingin kami laporkan polisi!"


Wajar jika semua orang di sana geram, area alun-alun selalu ramai dengan pengguna jalan. Harusnya setiap kendaraan yang lewat sudah paham dan mengurangi kecepatan.


"Saya juga tidak mau sepenuhnya di salahkan!"


"Bapak tua ini yang menyeberang tidak hati-hati, lihat mobil saya juga penyok gara-gara menghindari kalian berdua!" Pengemudi itu terlihat tidak terima dan malah menuding-nuding menyalahkan Haji Bagong.


Dada Paijo memanas, emosinya sudah tidak terbendung lagi. "Heh!!!!" Paijo berdiri ganti menuding wajah orang tak tahu diri itu.


"TIDAK HATI-HATI MATAMU!!!"


"JUSTRU KAMU YANG HARUSNYA HATI-HATI!!"


"DARI JAUH SAYA SUDAH LIHAT MOBIL KAMU TIDAK MENGURANGI KECEPATAN SAMA SEKALI!!!"


"MATAMU PICEK!!? GA BISA BACA RAMBU!!!"


Haji Bagong tercekat, seper sekian detik dia merasa tersanjung sudah di bela di muka umum.


"Sabar, sabar, bicarakan baik-baik," Lerai bapak-bapak yang tadi memapah Paijo.


Haji Bagong hanya diam, mungkin juga masih syok berat.


"Baik, saya tanggung jawab. Berapa saya harus ganti rugi? Saya bayar!"


Ah, Paijo rasanya mau menabok mulut pria itu. "Ga perlu pak! KAMI GA BUTUH UANG GANTI RUGI!"


"Harusnya bapak sadar salah dan minta maaf saja sudah cukup, tapi sepertinya bapak kurang belajar etika, jadi hal seperti itu saja tidak paham,"


Rahang pengemudi mobil itu mengeras. Tapi jika terus mendebat bisa-bisa dia di gebukin masa.

__ADS_1


"Hla, bapak dengar? jelas bapak yang salah, kami lihat juga mobil bapak ngebut. Kalau mau cepat selesai lakukan saja yang mas ini minta,"


"Ah, ga adil itu. Pisan-pisan kei pelajaran wong koyo iki. Dumeh numpak mobil sak penak e dewe! wes salah seh wani ngegas!" celetuk pemuda yang lain. (sekali-kali di beri pelajaran orang seperti ini. Mentang-mentang bermobil seenaknya. Udah salah masih berani ngegas)


"Masih diam? masih tidak terima? mau di teruskan ke kantor polisi? saya antar, ga jauh kog!" tambah bapak-bapak yang bijaksana.


Nyali pengemudi itu mengkerut, "Oke, Pak-mas, saya minta maaf. Mari saya antar ke rumah sakit untuk berobat"


"Ga! ga perlu saya bisa sendiri!" tolak Paijo.


Pengemudi itu melongo, ada orang macam ini. "Terus saya harus bagaimana untuk bertanggung jawab?"


"Besok lagi lebih hati-hati kalau nyetir, jangan sampai kejadian seperti ini terulang sama orang lain!"


Keadaan sudah kondusif, bapak-bapak yang sejak tadi menjadi penengah membubarkan masa. "Baiklah kalau sudah sepakat berdamai, semuanya terimakasih, bisa bubar semua!"


"Huuuuuuu... yok! yok! bubar!" pemuda yang tadi sudah semangat baku hantam nurut membubarkan diri. Setelah berdamai, pengemudi mobil itu pun pamit pergi, karena Paijo bersikeras tidak mau diantar ke rumah sakit. Tinggal Paijo dan Haji Bagong di sana.


"Pakde Haji, mana yang sakit? kita ke rumah sakit dulu?" tanya Paijo cemas.


"Tidak usah! Kamu kenapa bisa ada disini?"


"Pakde Haji sendiri sedang apa disini?"


"Kalau ada orang tanya itu di jawab dulu, bukan gantian di tanya!" ini pertama kali Paijo mendengar Haji Bagong bicara bukan mengusir. Meski dari nadanya masih sama, tidak lembut.


"He... maaf, saya baru survei ke depo kayu cari supplier, ya meski masih tahap pembangunan, tapi saya berencana membuka pabrik kayu di daerah Wonorejo."


"Pakde Haji sendiri dari mana?"


Haji Bagong gelagapan, tidak mungkin dia menjawab habis menjenguk Saras. Lagipula Haji Bagong heran, kenapa bisa kebetulan seperti ini. Kenapa Paijo bisa kelayapan di area dimana Saraswati disembunyikan.


"Pakde?" Paijo menunggu jawaban Haji Bagong yang terlihat melamun.


"Hah,... saya, saya ada urusan di bank swasta itu." tunjuk Haji Bagong mengalihkan kegugupannya. Paijo hanya manggut-manggut.


"Kalau begitu saya pergi dulu!"


"Beneran ga ada yang luka 'kan Pakde?"


"Tidak, itu kamu obati sendiri tangan kamu!"


Walau dengan nada dingin, tapi Paijo senangnya bukan main. Merasa di perhatikan ayah mertua.


"Baik Pakde... terimakasih... Pakde Haji hati-hati ya, mari saya antar sampai mobil!"


Haji Bagong merinding mendengar keramahan Paijo. Padahal detik lalu dia terlihat geram saat mengomeli pengemudi yang nyaris menabrak dirinya. "Ga perlu! saya masih tidak suka kamu! jadi jangan senang terus kemudian kamu besar kepala!"


"Hehe... ga apa-apa Pakde, nanti saya buat Pakde suka saya," jawab Paijo dengan cengengesan. Hatinya berbunga-bunga, padahal kedua sikunya berdarah-darah. Haji Bagong pun pergi lebih dulu meninggalkan Paijo.


"Aduh, ternyata sakit juga ini!" tilik Paijo pada kedua sikunya yang terluka.


Kemudian dia balik ke warung es degan yang tadi dia tinggalkan. Belum bayar soalnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Chapter ini 1611 kata, panjang ini ya ibu-ibu.


Mohon di like dan komen, biar saya senang😁


__ADS_2