Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 54: Bambang is Back


__ADS_3

Sebutkan semua nama pria tertampan di dunia,


aku tidak akan berpengaruh, bagiku Paijo is number one.


-Yunita Saraswati-


Jadi pejuang LDR lagi? Aku rak popo. Kehidupan Saras berjalan normal seminggu setelah keberangkatan Paijo ke Malang. Kondisi di rumah juga terasa adem ayem. Meski Saras harus waspada. Saras tidak mau tertipu untuk ke dua kali. Jikalau Abahnya nekad tiba-tiba menikahkannya dengan pria asing pilihan Abah, Saras tidak akan segan-segan kabur. Atau minum sianida sekalian agar cintanya abadi, versi Romeo Juliet jaman now.


Hish, amit- amithabhchan. Saras masih punya iman. Mendingan kabur kelaut daripada bunuh diri. Yang ada di akhirat nanti dia di suruh take berulang-ulang, reka adegan. Saras ngeri, yang punya cita-cita bunuh diri mending ganti cita-cita. Apalagi jika gantung diri, tidak bisa membayangkan kelak di neraka harus gantung diri berulang-ulang sampai ribuan tahun, kan capek ya.


Banyak buah semangka


Dibawa dalam sampan


Banyak anak jejaka


Hanya Abang yang tampan


Berjuta bintang di langit


Satu yang bercahaya


Berjuta gadis yang cantik


Adiklah yang kucinta


Pandai Abang merayu


hatiku rasa malu


Di sela pekerjaannya Saras sempat berselancar di dunia Tok Tok. Lumayan cari hiburan di saat kepala kosong daripada di bisik-bisik gangguan setan untuk bunuh diri, mending lihat yang asyik-asyik. Saras menemukan sebuah Vidio di Tok Tok yang menurutnya sangat menghibur. Seorang perempuan berjilbab berparas ayu terlihat berbalas lagu dengan seorang laki-laki berwajah biasa-biasa saja lebih ke jelek. Mereka berdua berduet menyanyikan lagu milik Haji Rhoma, pantun cinta.


Saras terkekeh geli dan tidak sadar memutarnya berulang kali. Kapan-kapan boleh di coba bikin konten Tok Tok seperti ini. Saras merasa lagu ini cocok sekali dengannya dan Paijo. Saras senyum-senyum sendiri, seperti orang gila. Membayangkan wajah Paijo yang tidak tampan. Meski di matanya tetap Paijo yang paling tampan.


Mulut Saras mengatup sempurna saat dia sadar ada Jamalga berjalan melewati mejanya. Salah tingkah dia langsung mematikan ponselnya dan kembali menatap layar komputer. Mampus, jam kerja malah mainan hp. Saras kira Jamal akan menegurnya. Tapi ternyata tidak. Laki-laki yang patah hati sebelum berhasil menyatakan cinta itu hanya meliriknya sekilas kemudian berlalu begitu saja.


Ahh... syukurlah. Mau dingin seperti es di kutub, aku juga tidak masalah. Untung divisi Saras tidak menuntutnya harus berinteraksi langsung dengan asisten bos itu.


****


Tidak ada hal yang paling membahagiakan Saras saat ini selain jam pulang kerja. Sesampainya di rumah nanti Saras berencana mandi berlama-lama. Berendam air hangat sambil mendengarkan musik pasti nyaman sekali. Luluran juga kalau perlu.


Tapi siapa sangka, saat sampai di rumah justru dia dibuat tidak nyaman dengan kehadiran sesosok pria yang namanya sudah dia Tipe-X sejak lama itu.


Bambang atau mister B, lelaki pelit medit itu duduk serius di ruang tamu bersama Umik Saras. Secangkir kopi terlihat tinggal separuh, itu artinya dia sudah cukup lama di sini. Saras sempat mengira dirinya berhalusinasi, tapi tidak ternyata memang dia.

__ADS_1


"Sedang apa kamu disini hah?"


"Apa kabar Saraswati?"


"Senang bertemu denganmu,"


"Apa begitu caramu menyambut tamu?" Bambang tersenyum licik.


Saras menghembuskan nafas kasar. Saras tidak menyangka dia berani kesini setelah memutuskan lamaran sepihak dulu. Walaupun Saras senang karena batal, tapi tetap saja sikap keluarga mereka mencoreng nama baik keluarga Saras.


"Aku kira perutmu sudah besar, atau kamu sudah melahirkan?"


Saras terbengong. "Kamu mabuk atau sudah gila hah!" Hajah Maesaroh hanya bisa menjadi pendengar mereka. Sedikit banyak tadi B memang sudah menjelaskan. Situasi yang rumit.


"Ngaco!!!"


"Hahaha...." B bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Saras yang terpaku di depan pintu. Drama sekali.


"Lalu siapa disini yang bohong. Jika kamu tidak hamil sama laki-laki yang bernama Paijo itu, bagaimana mungkin ibunya sendiri yang datang ke rumah 'ku dan mengatakan hal itu,"


Saras tertegun, ibunya Paijo? alasan lamaran di gagalkan? Saras masih belum paham. Seingat Saras tempo hari dia hanya di minta Paijo untuk tenang di rumah. Lamaran dari Bambang di batalkan sepihak dan Abahnya marah besar.


"Duh... duh... aku merasa di permainkan kalau begini, atau kamu yang pura-pura, dan menyembunyikan hal itu dari keluarga 'mu,"


Ingin sekali Saras meremas mulut Bambang. Laknat sekali tuduhannya.


"Mungkin kepalamu pernah terbentur dan tidak sadar. Ngomong ga jelas. Aku hamil? hamil matamu!"


"Anj...!" Saras sudah ingin misuh-misuh, tapi mulutnya terhenti saat suara lain menggelegar mirip gledek.


"SARAS!!!!"


Mati aku!


Hajah Maesaroh terperangah, Saras memejamkan mata merutuki nasibnya yang seakan tidak mengijinkannya hidup tenang. Rencana mandi berlama-lama sepertinya hanya wacana.


"Selamat sore Abah," sapa Bambang semanis mungkin.


"Abah... jangan percaya di--"


"DIAM!! Biarkan Bambang yang bicara!"


"Maafkan saya Abah, mari kita duduk dulu, saya akan menceritakan kronologi yang sebenarnya,"


Bambang dengan semangat perjuangan menceritakannya prihal kejadian beberapa bulan yang lalu. Tentang ibu Paijo yang tiba-tiba datang dan mengatakan jika Saras hamil dengan Paijo. Haji Bagong menautkan alis, Saras yakin jika amarah Abahnya sudah terkumpul dalam satu titik. Tinggal menunggu waktu untuk meledak.

__ADS_1


"Begitulah Abah, saya mohon maaf tidak menyampaikan ini sejak awal. Orang tua saya juga kecewa. Makanya sepihak kami membatalkan lamaran. Saya juga di larang untuk menemui Saras lagi."


"Tapi ini tidak adil, saya merasa perlu mencari tahu kebenaran. Apa benar Saras hamil? Jika ini hanya akal-akalan Paijo, tentu saya di pihak yang di rugikan,"


"Saya mencintai Saras sampai detik ini juga. Perasaan saya masih sama."


Saras terdiam, kepalanya sudah berputar-putar, pusing. Saras tidak bisa membayangkan bagaimana kemurkaan Abah.


"Cukup!"


"Sekarang, saya minta kamu pergi dari rumah saya!


"Saya juga tidak tahu siapa yang benar siapa yang salah. Tapi saya tahu apa yang harus saya lakukan untuk kebaikan anak saya."


"Kamu!"


Haji Bagong menunjuk wajah B, dengan tatapan membunuh. "Sama saja dengan laki-laki bernama Paijo itu!"


"Bapakmu sudah menghina anak saya, seharusnya dari awal kamu kesini. Tapi kenapa baru sekarang?! Hah, pecundang!"


"PergiI!!!"


"Abah maafkan saya, saya memang pengecut. Tapi saya mohon berikan satu kali kesempatan."


"Saya masih mengharapkan Saras untuk--"


"PERGI!!!!"


Sialan! Aku pikir Haji Bagong akan memaafkan ku, tapi ternyata tidak. Yang ada aku tetap saja di usir. Hah, tapi baiklah. Tidak apa-apa, setidaknya jika Saras tidak jadi milikku, Paijo juga tidak akan bisa memilikinya. Haji Bagong ternyata juga tidak menyukainya. Hahaha....


Bambang pun pasrah, dia meminta ijin untuk pulang. Sekarang giliran Saras yang terancam lagi. Mustahil jika Abahnya tidak akan memintai keterangan lebih lanjut. Apalagi perihal mulut Bambang yang mengatakan jika dirinya hamil.


Bangsat sekali dia, setelah melemparkan bom dia pulang dengan tenang. Aku yakin dia tertawa dalam hati.


.


.


.


.


Happy reading 😁


Suwun🙏

__ADS_1


__ADS_2