Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 85: Tamu


__ADS_3

Setelah menemani Kubro sarapan bubur ayam, Saras berkeliling alun-alun. Taman hijau terbuka untuk umum itu ramai pengunjung, sudah pasti, ini hari Minggu. Banyak dari mereka sekedar duduk-duduk di taman atau menemani anak mereka bermain perosotan dan ayunan yang ada di pojok taman. Atau sekedar cuci mata mengamati orang-orang yang berseliweran lewat.


Selain itu para penjaja makanan juga ikut andil meramaikan tempat umum itu. Dari berbagai gerobak bubur ayam, sate lontong, soto, hingga siomay, cilok dan kawan-kawan. Surga bagi Saras yang doyan jajan.


Dengan mata berbinar isteri Paijo itu ikut mengantri di depan gerobak cimol. Padahal di tangannya juga sudah menenteng berbagai jajanan lainnya.


"Sis, kamu badan kecil tapi perut ternyata baskom yah?! Muat banyak, dari tadi jajan melulu..."


Saras tidak menjawab hanya tertawa menanggapi ocehan Kubro. Pandangannya asyik tertuju pada wajan besar berisi minyak panas yang di gunakan untuk menggoreng cimol. Pedagang yang berjualan pun sampai kewalahan. Untung dua orang, yang satu bertugas menggoreng dan yang satu lagi sibuk melayani pesanan bocil-bocil yang kemriyik mengantre. Jadi Saras saingan mengantre dengan anak-anak itu. Hingga gilirannya tiba.


"Mbak yang cantik, beli berapa?" Saras tidak akan meleleh hanya di panggil mbak cantik, dia justru lebih tersanjung jika si Bapak yang Budiman ini ngasih imbuh, bumbu pedas tabur di banyakin, misalnya.


"Dua puluh ribu jadikan empat Pak, pedes poll ya!"


"Yoi..."


"Jualan tiap hari di sini Pak?" Saras kepo.


"Enggak Mbak, biasa di depan SMP 2, di sini kalau hari Minggu tok" Saras manggut-manggut paham.


"Pak, banyakin bumbu taburnya boleh?"


"Segini?" tanya si Bapak sambil membubuhkan bumbu dari botol plastik.


"Lagi boleh, hehe..." Kubro menyenggol bahu Saras sambil berbisik.


"Rugi Bapaknya! Kemaruk!"


"Hishhh... apaan sih!"


"Kalau doyan bumbunya kenapa beli cimol, beli aja bumbu taburnya sendiri, 'kan ada..."


"Mbak Kubro cerewet ihh, kayak anak SMP, protes padahal nanti juga minta" Kubro melengos, ngomel sama isteri bosnya memang percuma, dia kalah terus.


Si Bapak tersenyum kecil mendengar perselisihan Saras dan wanita di sebelahnya. Agak heran juga menatap keduanya. Yang satu indah bagai surga dan yang satu lagi titik-titik, diisi sendiri Kubro mirip apa. Wkwkwk...


Saras menyerahkan uang pas dua puluh ribu kepada si Bapak. Sekantong cimol sudah di tangan, hati Saras gembira sekali. "terimakasih ya Pak"


Tanpa mereka sadari seorang wanita paruh baya mengamati mereka dari dalam mobil.


"Pulang sekarang yuk, udah panas nihhh"


Kubro merengek seakan di dunia ini yang kepanasan hanya dia.


"Panas pagi sehat kali Mbak... baru jam delapan, ga pengen muter lagi nih?"


"Eh, Saraswati, kamu enak ya terlahir berkulit putih berparas ayu, hla aku ini? sudah layu bisa tambah layu kalau kepanasan!"


Saras terkekeh terus tidak lupa mendzolimi si Kubro. "Layu kayak kangkung terus alum ya, ga enak di buat sayur, kalau gitu buang aja ke kali!"


"Hmmm... tuh udah pinter ngehina!"


"Yawes, ayok pulang!"


"Naik apa?"


"Naik kereta beroda manusia, mau?"


"Amit-amit! Sembarangan kalau ngiming!"

__ADS_1


Tak lama menunggu, taksi online yang di pesan Saras datang. Kubro asyik terkagum-kagum saat dirinya ikut masuk kedalam mobil. "Ya Allah, terhura aku ini, biasa naik dokar bau telek kuda, ini pulang naik mobil kempling!"


Kubro yang lahir di daerah pesisir pantai dan minim pendidikan itu bisa berkaca-kaca hanya karena naik ojek online. Betapa Saras ingin menghujat ndeso! tapi untungnya mulut Saras masih punya peri kemanusiaan.


"Berapa ongkosnya? pasti mahal?" tanya Kubro dengan mata masih berkaca.


"Jangan cengeng, lihat nih!" Saras menyodorkan layar aplikasi di ponselnya. "Aku pakai promo" terang Saras cengengesan.


"Hlah... kog aku merasa lebih kaya dari kamu ya, naik dokar lebih mahal dari pada naik mobil bagus seperti ini, kadang dunia memang tidak seadil itu, huaaaa ..."


"Hahaha... so, jangan merasa miskin hanya karena kamu cuma bisa naik dokar, yang naik mobil pun belum tentu kaya, wkwkwk..."


Kali ini Kubro tidak mendebat, dia hanya ingin menikmati dinginnya AC dan wanginya parfum mobil yang Kubro yakini tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.


****


Saras keluar dari taksi online yang dia tumpangi, di susul Kubro yang sepertinya enggan turun. Terbukti mulut Kubro cemberut mirip anak kecil yang tidak di turuti saat minta mainan.


Bersamaan dengan taksi mereka yang sedang putar balik, sebuah mobil putih yang Saras kenali berhenti di belakang mereka. Jantung Saras rasanya merosot hingga lutut. Tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Saras terpaku, matanya langsung berkaca-kaca tanpa di minta saat seorang wanita keluar dari mobil itu.


"Saras..."


"Uuu-mik..."


Kubro yang merasa di sekitarnya mendung seketika, langsung menggiring mereka masuk ke dalam rumah. Sebelum air mata keduanya benar-benar tumpah di pinggir jalan.


Hajah Maesaroh duduk di kursi sederhana berbusa tipis yang berada di ruang tamu multifungsi milik Paijo. Pandangannya beredar meneliti setiap jengkal ruangan itu. Tidak ada hiasan dinding yang mencolok apalagi barang berharga. Hanya sebuah jam dinding bundar berwarna abu-abu dengan kelis berwarna merah. Tembok setengah jadi itu pun terlihat polos belum berwarna karena memang belum di cat.


Saras meletakkan dua cangkir teh hangat di meja yang terletak tepat di hadapan ibunya. Saras mencoba tegar, meski sangat rindu ingin memeluk ibunya, namun dia malu. Malu sudah durhaka karena berani meninggalkan rumah. Sekaligus lancang menikah tanpa restu orang tuanya. Saras menunduk, tenggelam dengan perasaan yang mengerikan itu. Beberapa detik keduanya hening.


"Apa Paijo tidak bisa mencarikan tempat tinggal yang layak buat kamu?" Saras mendongak menatap ibunya.


"Umik, kami tinggal berdua di sini..." ucapan Saras menggantung, ada kecemasan dan rasa bersalah yang masih bergumul di hati Saras.


"Apa?! Bagaimana bisa Saraswati?!"


Saras tak kuasa, air matanya menetes bersamaan dengan mulutnya yang bergetar mengakui kebenaran yang mereka sembunyikan. "Ma-af Umik, kami-- kami sudah menikah"


Giliran Hajah Maesaroh yang ternganga, air matanya pun menyusul menetes. "Kamu, anggap apa Umik? apa kamu juga sudah menganggap Umikmu ini mati?"


"Apa tidak bisa kalian memberi tahu Umik?"


Saras tidak kuat, dia berhambur, berlutut memeluk kaki ibunya. Hatinya juga sama perihnya. Saras kangen ibunya, dia memendam kerinduan itu sendiri. Tanpa pernah mengeluh pada Paijo. Saras tidak ingin suaminya itu terus kepikiran dan merasa bersalah.


"Maafkan Saras, maafkan Saras, huaaaa... huaaa...hiks...hiks..."


Tubuh keduanya bergetar, menangis terisak-isak. Sebagai ibu tentu saja Hajah Maesaroh kecewa dan ingin memarahi mereka dengan keputusan mereka karena sudah menikah siri. Tapi di sisi lain dia juga kasihan karena putrinya harus kesusahan seperti ini. Menikah tanpa restu orang tua dan hidup sederhana di sepetak rumah yang jauh dari kata mewah.


"Maafkan Saras Umik, hwaaaa...."


"Abah bilang, kamu sudah mati. Umik tidak rela! Umik menunggu kamu pulang, bukan menghilang lalu, lalu tau-tau kamu bilang sudah menikah! Kalian semua anggap Umik apa hah?!"


"Huaaaa....hiks...hiks... Saras takut di pisahkan lagi dari Mas Paijo, Saras tidak mau menikah dengan orang yang di jodohkan Abah, hanya ini yang bisa kami lakukan Umik... maafkan Saras karena nekat begini, srrooooottt....!"


Saras memegang tangan ibunya lalu memaksa wanita yang sudah melahirkannya itu untuk memukuli kepalanya.


"Pukul Saras, pukul Saras kalau Umik mauuuuu... hwaaa....!"


Hajah Maesaroh mana tega memukul anaknya, terisak dia menahan Saras melakukan hal itu. Kemudian malah mendekap Saras kedalam pelukannya.

__ADS_1


"Umik sayang kamu, sebesar apapun kesalahan seorang anak, tidak ada ibu yang sanggup membenci anaknya!"


Saras mempererat pelukannya, Saras tidak berharap banyak, cukup di maafkan saja dan di peluk seperti ini rasanya sudah melegakan.


"Umik harus pulang sekarang, Abah sedang tidak enak badan dan ingin makan bubur ayam, makanya tadi Umik lihat kamu, Umik kira tadi salah lihat tapi ternyata memang kamu,"


Saras mengangguk-angguk kecil, "Umik Saras minta tolong, jangan ceritakan ini dulu ke Abah, Abah pasti marah besar, pasti semakin kecewa sama Saras, dan juga Saras masih takut, hiks...hiks..."


"Saras percaya, suatu saat nanti semuanya pasti membaik, Saras juga terus berdoa semoga Abah terbuka pintu hatinya dan mau menerima keputusan Saras..."


"Umik doakan Saras juga ya... srooott...!


"Tentu, tentu saja Umik doakan kamu"


Di bawah atap rumah lain, seorang wanita berjambul Rita Sugiarto mengintip dari balik korden jendela. Dia berjingkat kaget karena tiba-tiba lengannya di tepuk oleh sang anak.


"Hish! kamu bikin ibu jantungan tau!"


"lihat apa sih Bu?"


"Itu lihat ada mobil kempling di depan rumah Paijo, kira-kira siapa yang bertamu?"


"Ibu... berhenti menguntit kehidupan orang lain!"


"Mas Paijo itu sudah punya isteri, kapan Ibu bisa berhenti ambisius menjodohkan Siti dengan Mas Paijo? sampai-sampai ada tamu juga Ibu kepo"


"Dengar Ibu, berapa kali Ibu bilang, Paijo itu berpotensi menjadi orang kaya, atau memang sebenarnya dia sudah kaya raya, kamu harus jeli, kalau tidak kaya mana mungkin isterinya itu mau, secara Paijo tidak begitu tampan, dugaan Ibu Saras itu dari keluarga miskin sama seperti kita, dia pintar memilih target untuk naik kasta"


Siti menghela nafas kasar, "Bagaimana kalau dugaan Ibu salah? Bagaimana kalau sebenarnya Saras itu yang kaya raya terus rela meninggalkan semuanya demi Mas Paijo yang tidak terlalu tampan itu?"


"Kamu pikir ini sinetron Bollywood huh?"


"Pergi sana kalau tidak ingin ikut mengintip!"


Siti pergi melenggang membuka pintu, lalu pura-pura mengambil sapu di bawah pohon mangga di depan rumahnya. Dari posisinya, dia bisa melihat jelas siapa tamu rumah tetangganya itu. Seorang wanita setengah baya yang cantik dengan balutan gamis dan jilbab yang gombrong. Khas penampilan seorang Hajah-Hajah. Wanita itu menciumi wajah Saras dengan rakus sebelum masuk ke dalam mobil mewahnya.


Fix itu ibunya... batin Siti.


Dari balik jendela Bu Tutik mendesis, karena ternyata anaknya lebih cerdas mengintai.


"Padahal tadi bilang ga mau kepo! Cihh!"


.


.


.


.


.


.


Kalian punya tetangga yang seperti itu ga gaess? kalau aku pernah punya sih🤣🤣🤣


Biasakan komen yuk, like juga jangan lupa, bagi bunga atau bagi kebahagiaan juga boleh banget ya...


matursuwun😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2