
Mungkin ini definisi rumah mewah yang sebenarnya. Mewah, mepet sawah. Berada di sayap kanan area pabrik kayu milik Paijo. Sisi kanan dan belakang rumah ini benar-benar di kelilingi tanaman padi yang masih menghijau.
Sebelum kepindahan mereka, Paijo mengajak Saras untuk melihat hasil renovasi yang bisa dibilang dadakan itu. Sepetak rumah dengan satu kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah dan ruang dapur yang temboknya masih basah, karena baru selesai di lepoh dengan semen.
Saras tersenyum mendapati rumah itu sekarang tak berdinding kasar. Berbeda dengan pernyataan Paijo yang sempat khawatir jika Saras menolak tinggal di rumah petak yang jauh dari kata pantas karena berdinding tembok kasar.
"Ini kenapa temboknya sudah mulus semua?" tanya Saras setengah mencibir.
"Hahaha... aku khawatir tangan atau lengan isteri ku lecet jika temboknya kasar"
Bukankah itu manis sekali? Saras tersipu dan tidak segan-segan mengecup pipi kanan Paijo.
"Cup... ah manis sekali suamiku"
"Yang sini belum?" tunjuk Paijo pada pipi kirinya.
"Oke!" Kecupan singkat dan manis itu mendarat dua kali. Kanan dan Kiri jangan sampai mereka iri.
Tapi Paijo seperti belum puas juga. "Yang tengah iri nih sayang!" goda Paijo sambil memonyongkan bibirnya. Minta di kecup. Saras menggeleng sambil tersenyum renyah mengalahkan renyahnya kerupuk rambak.
"Ahay, genit ya Mas Paijo!"
Paijo hanya terkekeh, ga mau memaksa juga. Padahal jika mau, dia juga bisa.
Mereka pun lanjut berkeliling, meski rumah itu terlihat sederhana dan setengah jadi, Saras terlihat senang dan sangat excited. Dia bahkan dari tadi menyunggingkan senyuman. Sampai saat di dapur kepala Saras melongok. Tampak ada yang kurang.
"Mas, kamar mandinya sebelah mana?"
Paijo nyengir, itu dia masalahnya. Paijo membuka pintu belakang rumah yang bermodel dutch, pintu dari kayu yang memiliki dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai pintu dan jendela.
Lurus dari gawang pintu itu, tangan Paijo menunjuk seonggok bangunan yang berdinding papan kayu, lengkap dengan atap berupa asbes. Saras melongo bego.
"Kenapa tidak sekalian saja bikin kamar mandi di Israel sana!"
Jadi kamar mandi mereka terpisah dari bangunan rumah. Mental, sekitar dua ratus lima puluh meter dari bangunan utama. Paijo malah tertawa, mendapati wajah Saras yang cemberut, sepertinya isterinya itu tidak akan berhenti ngedumel sampai tahun depan.
"Mentang-mentang tanahnya luas ya, terus bikin kamar mandinya sombong banget. Jauh hlo itu Mas!"
Paijo merangkul pundak Saras, mengelus lembut di sana. Maksudnya sih biar Saras tenang. "Hai, denger dulu, itu ada maksud dan tujuannya kenapa di letakkan di sana,"
"Dih, udah kayak bikin proposal aja ada maksud dan tujuannya segala"
Bukannya tersinggung, Paijo malah mulai bercerita. Dan bodohnya Saras, dia tertarik saja untuk mendengarkan.
"Kamu lihat di sebelah sana ada sumur bong?" Mata Saras mengikuti arah telunjuk suaminya.
"Konon, sumur itu dibuat oleh pemilik pertama tanah ini, dulu di pakai buat menyiram tanaman saat kemarau, para petani sekitar dulunya juga sering numpang mandi di sana, karena itu satu-satunya sumur yang paling dekat di area persawahan ini, airnya juga jernih sampai sekarang."
"Maka dari itu, maksudnya daripada kita bikin baru, dan belum tentu juga air sumber di sini bagus seperti itu sumur, jadi apa salahnya kita bikin kamar mandi di dekat sana sekalian?"
__ADS_1
"Lebih praktis!" Paijo mengakhiri ceritanya dengan drengesan bodoh.
Sedangkan Saras masih belum mau menerima alasan itu. "Kenapa tidak pasang pipa aja Mas, di salurkan kesini yang lebih dekat gitu loh," "sumpah, aku ga bisa membayangkan, kebelet pipis harus lari sampai sana, euuuhhhhh..."
Paijo cengengesan lagi, "Ga usah di bayangkan sayang, panggilan alam itu pasti mengalahkan segalanya, jalankan jarak dua ratus meter, meskipun itu kamu masih di medan perang, aku jamin kamu milih keluarin itu kotoran daripada menahannya bukan?!"
"Hla itu masalah suamiku... bisa-bisa brojol di tengah jalan sebelum sampai!"
"Hahaha.... tenang nanti aku tetep dampingi kamu kog!"
Dampingi? apa maksudnya Paijo bersedia menemani di kala Saras pengen buang air?
Hish, terkadang Paijo memang menyebalkan seperti itu. Oke, tadi Saras terpukau dengan tembok kasar yang sudah diperhalus sekarang. Tapi ini, kamar mandi yang fundamental, syarat akan kepentingan yang luar biasa. Bisa-bisanya di abaikan.
"Sekarang, katakan apa tujuan lainnya, kenapa kamar mandi di letakkan sejauh itu?"
"Hemmft, sebenarnya ini yang paling masuk akal juga, berhubung pas bikin kamar mandi dan toilet itu harus cepat-cepat, ya tampungan tinjanya ala kadarnya. Maka dari itu, biar kalau habis pup, baunya tidak menguar sampai ke dalam rumah. Lebih nyaman bukan? hehe...."
Bahu Saras merosot, apapun dan bagaimanapun dia sudah berjanji akan menerima segala kondisi yang serba terbatas ini. Berjanji untuk ikut kemanapun suaminya pergi.
"Gimana sayang, apa kamu keberatan tinggal di sini?" wajah Paijo memelas, mirip anak kucing yang berteduh saat kehujanan.
Dengan menyemangati dirinya sendiri, sepertinya Saras harus ikhlas. "Oke, aku tetap mau di ajak tinggal di sini, tapi syaratnya kamu harus mau nganterin aku pas malem aku mau pipis atau pup, janji!?"
"Oke, janji!"
Tidak ada dari mereka yang tidak terkagum-kagum dengan kehebatan Paijo memilih isteri. Semua berkomentar dan bahkan tidak canggung memuji kecantikan Saraswati.
Pak Anwar yang sholeh meski namanya tidak ada embel-embel sholeh pun ikut menggoda Paijo.
"Wah, Mas Paijo, isterinya cantik meni, kayaknya bukan manusia kalau seperti ini bentuknya!"
"Terus apa Pak?" balas kawan yang lain.
"Ini bidadari yang sedang mampir ngopi ke bumi!" Tawa mereka pecah, sungguh gombalan receh tapi Saras suka. Dia merasa hidup kembali, setelah satu bulan yang lalu penuh duka.
"Pak Anwar pikir, dunia kita ini angkringan kali ya, mampir pesen kopi!" Cibir yang lain. Diantara mereka hanya satu makhluk yang tak bersuara, jalankan memuji, melirik saja tidak berani. Yadi, duduk terpekur di pojokan dan lebih memilih fokus makan bakwan jagung.
"Saya bukan bidadari Pak, saya juga tidak suka kopi!" balas Saras.
"Terus sukanya apa Mbak Saras?"
"Saya suka Mas Paijo!" jawab Saras sedatar mungkin.
Dan cie, cie, pun terdengar meriah di sana. Saat Saras membalas gombalan itu. Paijo yang di gombalin malah cuek. Sok banget memang.
****
"Kita mau kemana lagi Mas?"
__ADS_1
Saras bertanya karena Paijo melajukan motor kearah yang berbeda dengan arah pulang ke rumah.
"Mampir ke toko Aminah dulu ya!"
"Memang mau beli apa?" Saras agak bingung, karena belum tahu persis toko apa itu.
"Memang besok kamu mau tidur di tikar?"
"Owalah, aku lupa, kita belum punya tempat tidur, hehe..."
"Padahal, itu penting sekali ya Mas,"
"Hem..."
"Kamu tanya dong Mas, kenapa penting bukan hanya hem, apaan ih!" Sewot Saras.
Menikah dengan Saraswati memang di jamin tidak membosankan. Cantik dengan segala sikapnya yang unik. Dewasa, meski kadang masih kekanak-kanakan, pengertian, lucu, cengeng, dan kadang seperti saat ini, bawelnya minta ampun. Lengkap sudah di borong semua sama Saras.
"Iya, memang penting kenapa?"
Paijo harus sabar padahal dia juga sambil nyetir motor bukan mobil. Kadang saja suara Saras dari belakang ikut terbang terbawa angin. Jadi tidak jelas Saras bicara apa.
"Kamu masak gitu aja masih tanya Mas. Jelas itu penting, nanti kalau tidak ada tempat tidur, arena cikiday kita pakai apa?"
"Jangan bilang bisa di tikar, ga enak Mas, atos, pasti badan kita bakal sakit semua," ucap Saras dengan cepat.
Paijo sepertinya nanti harus memeriksa dahi Saras. Fase bawel seperti ini yang bikin ngelus paha, eh maksudnya ngelus dada. Tidak tanya, di suruh tanya. Sudah tanya masih di bilang, "masak kamu gitu aja masih tanya Mas!"
Wes toh angel-angel, wanita memang luar biasa. Maunya di sayang dan di pahami. Jangan tanya kenapa?
Nanti di gas, masak gitu aja tanya!
Catat ya Mas Paijo!
Beruntung saat memilih tempat tidur Saras tidak rewel. Dia hafal merek spring bed yang kualitasnya bagus. Mahal dikit ga apa kan Mas? yang penting awet. Itu katanya tadi.
.
.
.
.
.
Hai apa kabar? Semoga sehat selalu ya, amin.
Mumpung sedang on fire, aku nulis nih, semoga kalian suka ya😘
__ADS_1