Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 82: Hari Pertama Di Rumah Mewah


__ADS_3

Saras membuka mata saat matahari sudah bertengger di atas kepala. Dia merasa tidur terlalu lama, apa sudah pagi atau sudah siang?


Nyawa Saras masih berserakan. Sepertinya Saras harus bersusah payah mengumpulkannya. Tangan Saras meraba-raba permukaan bawah bantal dengan mata masih setengah terpejam, seingatnya tadi malam dia meletakan di sana. Dan ketemu. Angka di layar hp menunjukkan setengah tujuh, pantas saja terasa gerah.


Apa? Setengah tujuh!


Saras hampir memekik setelah sadar, mereka kesiangan.


Saras beristighfar dalam hati. Subuh terlewatkan di hari pertama mereka tinggal di rumah mewah. Dan suaminya yang tidak tampan tapi berkharismatik itu juga masih terlelap di sampingnya. Ya Tuhan, mereka berdua ceroboh sekali melewatkan sholat subuh. Ampuni Paijo dan Saras, Tuhan.


"Mas, Mas,"


"Hemm..." jawab Paijo dengan mata masih terpejam. Semalam acara jamuan pindah rumah mereka memang hanya di hadiri keluarga dekat Burhanuddin saja. Namun, Salma yang masih setengah hati mereka pindah rumah terlihat betah mengobrol sambil membantu Saras memindahkan pakaian ke lemari mereka, hingga baru pulang sekitar jam sepuluh malam lebih sedikit.


"Mas!" Saras menyentak tubuh suaminya agak keras.


Paijo terlonjak kaget, memang susah sekali membangunkan Paijo kalau sudah tidur. "Aghhh... jam berapa ini?"


"Jam tujuh pagi Mas, dan kita ga subuhan, gimana dong!?" Saras panik, padahal saat masa kuliah dulu dan hidup ngekos dia terbilang sering lalai dengan kewajibannya. Sekarang, Saras sudah berubah. Tidak sholat rasanya menyesal, takut, dan cemas.


"Mas, kita berdosa sekali ini. Kamu yang tanggung dosa ya Mas, kamu 'kan suamiku..." rengek Saras.


"Ini kita harus bagaimana Mas?" Saras baru menyesal karena saat remaja dulu sering mogok kalau di suruh sekolah madrasah. Malah fokus ikut ekstrakurikuler yang menyita waktu. Beginilah jadinya, buta ilmu agama.


Paijo nyengir, terlihat sekali penyesalan di wajah istrinya. "Saraswati, kita tidak sengaja bangun kesiangan, oke? jadi bisa kita qadha. Ya semoga kita di ampuni." ucap Paijo sambil mengelus pucuk rambut Saras.


"Benarkah? gimana caranya Mas?"


"Ya, sholat seperti sholat subuh biasanya, cuma beda di niat"


"Niatnya gimana?" wajah cemas itu berumah jadi raut antusias. Sangking antusiasnya, tidak sadar tubuh Saras malah menindih tangan Paijo. Paijo mengerang kesakitan. Dia biasa menindih bukan di tindih bukan.


"Wadow... ini kamu ga bisa geser dikit apa? tanganku sakit nyonyah!"


"Hee... sori dori blueberry Mas, ga sengaja" giliran Saras yang meringis. Dosa banget memang, sudah meninggalkan sholat, masih menganiaya suaminya sendiri. Pasal ganda kalau ini.


"Gimana Mas niatnya?"


"Ushallii fardash-Shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati qodho’an lillaahi ta’aalaa."


"Ulangi Mas...."


"Ushallii fardash-Shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati qodho’an lillaahi ta’aalaa... setelah qiblati di tambahi qodho'an, ingat jumlah rakaat tetap sama, jangan di tambahi apalagi di korupsi!"


"Oke, Ushallii fardash-Shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati qodho’an lillaahi ta’aalaa, gitu?."


Paijo mengangguk, "Dan juga kita mesti menyegerakan, sesegera mungkin!"


Paijo merasa sudah seperti mamah Dedeh, pagi-pagi memberikan tausiyah. Tunggu deh Jo, kamu itu laki-laki keles. Kog mamah Dedeh sih? Yang bener itu kamu mirip ustadz Maulana, Jamaah... oi... Jamaah!


Oke lanjut Thor!


"Terus kenapa kita masih anteng di sini?"

__ADS_1


Saras menepuk lengan berotot suaminya, setengah menyalahkan lagi. Paijo jadi serba salah. "Ah, kamu ya Mas, buruan ambil wudhu!" Saras melompat turun dari spring bed barunya. Di susul Paijo.


Sepanjang perjalanan menuju kamar mandi yang letaknya dua ratus lima puluh meter, Saras terpekur. Mungkinkah mereka terlalu nyaman tidur karena kasur baru itu? Rasanya Saras ingin menjadikan spring bed itu kambing hitam.


"Ya Tuhan, jalan ke kamar mandi saja sudah seperti perjalanan ke hutan Afrika. Banyak rumput liar." gerutu Saras.


"Nanti aku suruh Yadi potong rumput-rumput ini!" jawab Paijo mengalah. Dari pada di debat bisa tambah panjang urusannya.


***


Hari ini Paijo tidak pergi bekerja. Sudah terlanjur siang, perjalanan ke Limbangan butuh waktu berjam-jam. Bisa-bisa Paijo tidak pulang karena pasti kemalaman. Kerja dari rumah pun masih bisa. Apalagi ini hari pertama mereka tinggal sendiri di rumah mewah.


Saras tidak pernah menyangka mengerjakan pekerjaan rumah tangga bisa seindah ini.


Saras hendak mencuci pakaian, setelah perut mereka kenyang habis sarapan.Tadi Paijo membelikan makanan di warung, keburu lapar jika menunggu Saras memasak. Apalagi mereka ternyata belum beli kompor. Hahaha...


Setelah merendam pakaian kotor mereka, Saras di kejutkan dengan penampakan Paijo yang ikut masuk kedalam kamar mandi yang memiliki luas tak seberapa.


"Mas, mau ngapain?" Saras yang duduk di sebuah dingklik kayu kecil, dengan tangan penuh busa menatap curiga pada Paijo.


"Mau bantu kamu nyuci!"


"Jangan ngidi-ngidi kamu Mas, aku bisa selesaikan ini sendiri dengan kekuatan sepuluh tangan, ga lama, mending kamu nonton berita di tv aja sana!"


Yang di usir tak tahu diri, malah jongkok di sebelah Saras. Membuat pergerakan Saras semakin susah dan sesak. "Isterinya nyuci masak iya aku tega leha-leha, mau aku yang ngucek kamu yang bilas, atau sebaliknya?"


Saras membuang nafas kasar, lagipula apa salahnya menerima bantuan. Pekerjaan akan cepat selesai jika di kerjakan bersama bukan.


"Oke aku paham" jawab Paijo antusias. Pakaian pertama sudah dia belas. Saras mengacungkan jempolnya karena ternyata Paijo sangat luwes. Saat memeras pun juga tidak wagu. Padahal Saras kira tangan suaminya itu akan ikut terpelintir saat memeras. Ternyata tidak. Saras tersenyum geli karena pikirannya sendiri.


"Kenapa tersenyum? kagum ya sama aku? Cah kene omahe kono! Gini doang mah kecil!"


Saras semakin tertawa lebar. Inikah manusia yang dulu kaku mirip kayu balok? Dia bahkan sekarang sudah pandai menyombongkan diri.


"Sombongnya..." cibir Saras.


Detik berikutnya, pandangan tubuh Saras yang memakai daster batik selutut setengah basah itu terlihat menggoda di mata Paijo. Saras menyeka keringat di dahinya dengan lengan, tangannya masih penuh busa cucian.


Ah, itu seksi sekali. Batin Paijo.


Tanpa sadar tubuh Paijo menegang, seperti ada magnet yang menariknya untuk mendekati sang isteri. Paijo setengah merunduk, mencuri ciuman dari bibir isterinya yang selalu memabukkan. Saras kaget, jantungnya tidak siap jika diajak beradu cepat seperti ini. Serangan yang tiba-tiba dan mematikan.


Mereka berciuman, mengabaikan air di selang yang memenuhi ember hingga tumpah-tumpah.


Nafas Saras hampir habis karena ulah suaminya. Ini gila, gila sekali. Jika tidak di hentikan, Saras khawatir saluran air di bawah sana akan penuh. Ingin bilang stop tapi yang keluar dari mulutnya malah ******* lembut yang membuat Paijo semakin menggebu.


Melihat isterinya yang kepayahan, Paijo mengambil jeda. Lantas tersenyum bangga.


"Sepuluh detik! sebelum lanjut ke sesi berikutnya, hahaha...."


Saras berdecak, "mau apa memangnya?"


"Pengen mandi bareng, kita belum pernahkan?"

__ADS_1


Ah, harusnya dari awal Saras sudah bisa menebak isi pikiran suaminya. Tapi pikiran Saras itu memang terlalu suci, mana mungkin dia kepikiran konten plus-plus seperti itu.


"Nehi Mas! ini kamar mandi di alam terbuka hlo, aku ngeri kalau ada yang ngintip pas kita lagi enak-enaknya sirkus"


"Hahaha....ini daerah teritorial ku Saraswati! Pantang orang asing menginjakkan kaki di sini!"


Jawab Paijo tegas. Hidung mancungnya bahkan sudah bertengger di ceruk leher isterinya. Saras bohong kalau dia juga tidak merasakan sensasi geli dan horny bersamaan.


"Ah... Mas... cukup!"


Keduanya menggebu kembali, entah sirkus macam apa yang ingin mereka peragakan. Tapi suara ketukan pintu dari luar membuat api yang berkobar panas seakan diguyur air seember dengan tiba-tiba. Byasssss.... padam begitu saja.


Sialan! Umpat Paijo dalam hati.


"MAS PAIJO!"


"Udah belum beraknya? di tunggu Pak Slamet mau minta surat jalan!


Saras terkikik geli, "Dikira berak kamu Mas!"


Paijo geram, rasanya dia ingin sekali memakan orang yang baru saja meneriakinya. Dia pun membuka pintu dengan kasar. Dan wajah tengil Yanto seketika pucat pasi. Leher dan pundak Paijo penuh busa cucian. Paijo dan Saras masih belum menyadari itu. Benar-benar berantakan. Dan Yanto paham dia sudah menjadi pengganggu tentu saja.


"UPS, maaf ada Mbak Saras ya, lagi nyuci Mbak?" tanya Yanto bukan basa-basi lagi, tapi memang basi karena sudah tahu kenyataannya.


Saras kikuk hanya mengangguk kecil. Paijo langsung menutup pintu itu rapat-rapat. Tidak ingin pemandangan isterinya yang berdaster setengah basah itu di nikmati orang lain.


"Ayok ikut saya! Surat jalan udah tak buatkan dari tadi, kamu tinggal ambilkan di meja harusnya!" gerutu Paijo berjalan cepat di ikuti Yanto.


"Sori Mas, ga tau kalau lagi ehem-ehem di dalam!"


"Besok lagi kalau mau gitu, buat tulisan di pintu aja Mas,"


"Don't Disturb me! Hahahah..."


"Sialan!!!" teriak Paijo, karyawannya itu lari terbirit-birit setelah menggoda bosnya. Paijo masih muda, jadi di saat tertentu mereka tidak segan bercanda atau menggodanya. Seperti barusan. Kadang sebagai bos, Paijo merasa tak punya harga diri. Tak apalah Mas Paijo, yang penting punya uangkan? Hahaha....


.


.


.


.


.


.


Maaf karena tidak bisa rutin update, saya hanya penulis amatir jadi kalau nulis itu memang kayak nunggu yang mood bener-bener bagus. Selain itu aku juga pembaca novel seperti kalian, sering tenggelam baca hingga ga sadar waktu. Bab ini bahkan aku tulis selama tiga hari baru kelar, hahaha... ketik, hapus, ketik, hapus,


Hufttttt.... maaf juga di akhir harus di buat yang semi horny-horny. Kan pengantin baru ya, mumpung sepi juga sih🤣


Makasih yang masih setia menanti, makasih banget yah😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2