Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 37: Walaupun tidak tertampan, tapi selalu di depan!


__ADS_3

Cak Sam sudah terbaring lemah di ranjang rumah sakit ketika Paijo datang. Berbagai alat medis sudah menempel di tubuh laki-laki tua yang berhati mulia itu. Di luar ruangan, Bejo dengan raut cemas masih setia menunggu juragannya sadar.


Nafas Paijo masih terengah-engah, "Gimana keadaan Mbah?! Apa yang terjadi?"


"Serangan jantung, belum sadar." Bejo menatap Paijo dengan tatapan iba. "Kata dokter kita harus terus berdoa. Semoga ada keajaiban."


Paijo berjalan gontai memasuki ruangan Cak Sam. Hatinya mencelos mendapati kenyataan, jika dirinya terlalu sibuk bekerja. Kurang perhatian dan tidak memperhatikan kesehatan kakeknya. Paijo merasa bersalah dan tak berguna. Disaat dia tidak tahu harus bersandar pada siapa, ada kakeknya yang mau menerima dengan tangan terbuka. Tapi di saat dia sudah menemukan dunianya, dia seperti lupa dan tenggelam.


"Maafkan aku Mbah, maaf...." Paijo terisak menangis di samping Cak Sam. Jujur dia merasa takut di tinggalkan. Di dalam hati, Paijo berjanji akan merawat kakeknya dengan sebaik mungkin.


"Apapun yang Mbah inginkan, Jo pasti akan usahakan untuk memenuhinya. Cepatlah bangun Mbah. Bukankah Mbah masih hutang satu ilmu yang belum Mbah ajarkan padaku."


Jo berdialog tanpa jawaban. Hanya suara monitor yang menampilkan grafik detak jantung Cak Sam yang memenuhi ruangan.


Siang berganti malam, malam berlalu berganti pagi. Paijo menjaga kakeknya sendiri, dia hanya meninggalkan ruangan itu saat akan membeli makanan dan kembali dengan terburu-buru. Paijo tidak ingin saat Cak Sam membuka mata, tidak ada dirinya di sampingnya. Lelah tentu saja, tapi dia tidak menyerah. Paijo yakin Cak Sam akan bangun dan sehat kembali.


****


Sejak sadar jika dirinya terancam di jodohkan lagi, Saras bertekad mencari pekerjaan. Mencari informasi lowongan pekerjaan dari mana saja, bertanya pada teman seangkatan juga dia coba. Mengirimkan lamaran lewat email maupun pos. Pokoknya bagaimana pun caranya dia harus segera bekerja. Agar punya alasan untuk mangkir dari janjinya. Walaupun alasannya sangat klasik, sibuk bekerja.


Kabar Cak Sam dirawat di rumah sakit juga membuatnya semakin khawatir. Kasihan Paijo, oleh karena itu Saras memilih tidak bercerita dan hanya akan menambah beban pikiran laki-laki yang sangat dia cintai.


"Bagaimana keadaan Mbah Sam?"


"Masih sama, belum ada kemajuan,"


Saras menatap iba pada Paijo yang terlihat semakin kurus dengan kantung mata yang menghitam. Pasti kurang tidur. "Aku susul ke Malang? aku bisa membantu 'mu untuk bergantian berjaga."


Paijo tersenyum tipis, "Tidak perlu, doakan saja. Kamu sudah menemani begini saja, aku sudah senang."


"Btw, bagaimana sudah ada panggilan kerja?"


"Udah ngirim lamaran kemana aja?"


Paijo melihat wajah Saras yang mendengus kesal di sebrang sana. Membuat dirinya gemas. Jika saja ada di dekatnya, pasti Jo sudah menjambel pipi Saraswati. "Cari kerja memang susah, baru sekarang oh aku rasakan. Tidak punya channel, rasanya kesusahan."


"Apa iya?"


"Iya, mau setinggi apapun pendidikan kita, bakal kalah sama yang punya koneksi orang dalam. Bahkan jadi kuli tukang bangunan juga sekarang harus ada yang bawa. Hla aku? murni tanpa embel-embel gawanan orang dalam. Ya harus sabar nunggu,"

__ADS_1


"Ya harus yakin, jika orang-orang jadi gawanan orang dalam, kamu lebih hebat, gawanan gusti Allah taala." Paijo terkekeh setelah mengatakan itu.


"Aaa... betul itu! tidak ada yang tidak mungkin. There is a will, there ia a way."


"Oh... ya ngiming-ngiming kayaknya ram--but"


Tut..!


Obrolan mereka terputus tiba-tiba, layar hp yang tadi di penuhi wajah Paijo tiba-tiba mati. Padahal sejak tadi lancar karena sinyal juga stabil.


"Yah... kog putus!" padahal belum ngasih wejangan kalau waktunya Paijo potong rambut. Rambutnya sudah panjang awul-awulan. Walaupun tidak tampan, kalau rapi 'kan enak di pandang." Saras bergumam sendiri.


Paijo baru sadar jika baterai ponselnya lowbat hingga berujung kematian. Kebiasaan buruk. "Ahh... tadi Saras ngomong apa?"


"But...but..., ram---but? rambutan atau rambut yang mana?" Paijo bingung sendiri, menggaruk rambut ketiaknya yang tiba-tiba gatal.


****


Seminggu kemudian, hati Saras sedikit lega. Dia begitu bersyukur, ternyata benar saat kita hanya bergantung pada Tuhan segalanya terasa mudah. Semalam saat dia bermain game Cophee tanam pohon, satu email masuk. Saat dia buka ternyata balasan dari salah satu perusahaan yang dia kirimi lamaran pekerjaan kemarin. Saras di minta untuk datang mengikuti tes wawancara hari ini.


Lokasi perusahaan itu juga lumayan dekat, berada di kawasan industri Semarang. Saras memantapkan hatinya, walaupun ini pengalaman pertama baginya. Berbekal ilmu dan pengetahuan yang dia peroleh dari kuliah hampir empat tahun, dia sudah seharusnya percaya diri.


PT. ASIA MAJU ABADI, sekilas Saras sempat Googling tadi. Perusahaan besar yang memproduksi celana jeans dengan brand ternama. Hasil produksinya bahkan di ekspor ke Amerika, India, Thailand, Hongkong, dan negara lainnya.


"Permisi Pak, perkenalkan nama saya Saraswati."


Satpam berkumis tebal berwajah garang itu, melirik Saras sekilas. "Ada yang bisa di bantu!?"


Saras melempar senyuman, yang paling manis. Biar bisa melunturkan wajah garangnya.


"Saya mendapat panggilan wawancara hari ini, bisa saya bertemu dengan Bapak Jamalga?"


"Di sini tertulis, saya harus menemui beliau," Saras menunjukkan pesan itu, harus ada bukti otentik agar dia di beri ijin masuk.


"Ohhh... silahkan ikut saya!"


"Maaf, itu motor saya apa aman di parkir di sana?"


Wajah Pak satpam masih garang punya. "Bawa masuk! parkiran pabrik ini masih luas jika hanya untuk menampung motor anda!"

__ADS_1


Ingin rasanya Saras menyuapi mulut Pak Satpam satu ini dengan remukan emas milik Hj. Bagong. Baru jadi satpam saja songong. Saras hanya diam, menahan jengkel. Setelah memindahkan motornya dia bergegas mengikuti langkah kaki panjang Pak Satpam yang tidak ada manis-manisnya.


"Silahkan duduk dulu. Pak Jamal belum datang, mungkin sekitar lima belas menit lagi baru sampai." Saras mengangguk. Dia pun duduk di sofa tak jauh dari meja resepsionis. Lima belas menit, bukan waktu yang lama. Semoga saja yang di tunggu segera datang.


Saras menyibukkan diri berbalas pesan dengan Paijo. Kekasihnya itu baru saja mandi. Saras harus maklum saat Paijo mengatakan belum sempat potong rambut. Dia tidak bisa meninggalkan Mbah Sam untuk sekedar memangkas rambutnya di salon.


Pintu kaca terbuka, dua orang pria tampan melintas berjalan melewati Saraswati. Salah satu pria itu sempat melirik Saras, dengan tatapan mempesona. Sedangkan pria yang satunya berjalan lurus tanpa menoleh. Dari tempat duduk Saras, dia bisa mendengar jelas. Jika wanita cantik yang berdiri di balik meja resepsionis itu menyapa kedua pria itu.


"Selamat pagi Pak..."


"Sudah di tunggu, hari ini Bapak ada wawancara dengan Mbak di sebelah sana!"


Pria tampan tapi terlihat menyebalkan itu hanya mengangguk dan kembali berjalan menyusul pria satunya.


Jelas, mungkin pria itu yang bernama Jamalga. Sedangkan pria satunya, sudah pasti bosnya. Meski sama-sama tampan, namanya bos tingkat ketampanannya pasti lebih menonjol.


Saras istighfar dalam hati, sadar Saraswati! walaupun kekasihmu tidak begitu tampan. Tapi dia baik hati dan Ter segalanya. Terbaik, tersayang, terpercaya, dan selalu terdepan! Kenapa terasa lebih mirip slogan iklan motor ketimbang pujian. wkwkwkwk....


"Saraswati, anda di minta masuk ke ruangan Bapak Jamalga. Silahkan ikut saya, biar saya antar!"


Deg! deg! deg!


Jantung Saras berdegup, bukan jatuh cinta lagi. Ini namanya nervous, momen gugup saat tes wawancara. Ayolah Saraswati, all is well.


Demi alasan untuk tidak segera di jodoh-jodohkan.


.


.


.


.


.


Hai apa kabar? semoga sehat selalu, amin.


Tahukan siapa bosnya PT. Asia maju abadi?

__ADS_1


Like, komen, bagi hadiah ya, wkwkwkkw...


__ADS_2