
Saras tidak tahu siapa nama lengkapnya, Siti Nurbaya, Siti Amalia, atau Siti Nurhaliza?
Yang jelas gadis berlubang hidung lebar itu sudah mengusiknya selama dua hari belakangan ini. Tidak banyak bicara, tapi justru meresahkan. Siti lagi-lagi sudah muncul berdiri di depan rumah bersama induknya. Siapa lagi kalau bukan Bu Tutik gigantropus.
"SELAMAT PAGI MAS PAIJO!!!" itu suara Bu Tutik bukan Siti. Saras jadi ragu, ini emak atau anaknya yang kegatelan.
Masih terlalu pagi untuk manusia biasa pergi ke pasar. Kemarin Bu Tutik menggunakan alasan itu untuk menumpangkan anaknya. Sekarang apalagi?
"Mas Paijo, Siti nunut lagi ya, saya kog kepingin bolang baling yang dekat alun-alun. Makanya minta Siti yang beliin. Numpang ya Mas..."
Paijo melempar pandangan pada Saras. Isterinya itu semalam sudah terang-terangan menyatakan tidak rela jika Paijo memboncengkan Siti. Bayangan tangan panjang Siti melingkar di pinggang Paijo benar-benar mengusik hati Saras. Padahal Paijo juga sudah mengatakan jika tidak ada adegan seperti itu. Siti tidak seberani itu.
"Eummmm... gima-na ya?" Paijo ingin menolak tapi tidak enak dengan Bu Tutik.
"Halah! Mas Paijo ga bakalan repotkan? toh masih searah!"
Saras tak sadar menggigit bibir bawahnya sendiri. Geram dengan tidak tahu dirinya Bu Tutik. Sedangkan Siti hanya diam anteng, tidak bersuara. Andai saja Siti yang kegatelan terang-terangan, mungkin Saras tidak akan berpikir dua kali untuk menjambak bulu hidungnya. Jangan lupakan lubang hidung Siti yang lebar, pasti mudah saja bagi Saras.
"Emm... ya sudah ayok!"
"Sayang, aku berangkat kerja dulu ya, kamu jangan capek-capek. Kalau males masak, beli aja, jangan telat makan, oke?"
Lagi, Saras harus rela melepas keberangkatan suaminya dengan memboncengkan wanita lain. Siti mengangguk kecil pada Saras sebelum membonceng dengan gerakan yang halus. Saras tidak bisa membaca tatapan mata Siti. Entah itu merasa tidak enak hati atau sebuah kamuflase belaka. Ibarat kata, Siti tidak jelas berperan protagonis atau antagonis disini.
Kakinya yang jenjang tidak akan kesulitan untuk melangkah naik ke motor milik Paijo. Tapi tetap saja tangannya sempat mampir berpegangan di bahu suami Saras itu. Saras tidak rela. Ingin sekali rasanya cepat-cepat meminta Paijo melepas jaket itu, merendamnya dengan deterjen banyak-banyak agar bekas pegangan itu segera luntur.
"Haaahhhh..." terdengar helaan nafas yang menyebalkan. "Mereka serasi sekali ya?"
"Seneng lihatnya!" lalu tertawa kecil mengejek.
Ucap Bu Tutik tanpa dosa. Padahal dosanya banyak sekali.
Saras tidak tahu harus berekspresi seperti apa, yang jelas ada baiknya Bu Tutik segera pergi. Sebelum Saras berubah jadi barongan.
"Ahhh...saya lupa masih muter mesin cuci tadi, permisi pulang dulu,"
"Kamu juga, kalau jadi isteri itu yang rajin, jangan pemalas, cuci pakaian, bersih-bersih rumah, masak kalau mau makan, jangan apa-apa beli!"
Untung saja dari awal Saras sudah mampu menilai bagaimana Bu T-U-T-I-K itu. Kalau tidak sepintar itu menilai orang, mungkin udah kena mental Saras.
"Ahhh .... terimakasih Bu saran gratisnya, tapi tadi Bu Tutik dengar sendiri bukan? Suami saya itu slow, capek nyuci bisa di laundry, males masak bisa delivery, bahkan kalau males bersih-bersih rumah, saya disuruh tinggal minta tolong aja sama itu mbak Kubro."
Makhluk yang di sebut namanya muncul melambaikan tangan. Beberapa hari ini Kubro yang berpawakan wanita namun memiliki suara berat khas pria itu, bertugas memasak untuk makan siang para pekerja.
"Hai Sis! Ke pasar jam berapa?"
"Nanti jam tujuh aja, sepagi ini ke pasar juga mau apa? Nyapu pasar?" Saras harap tetangga seberang rumahnya itu tersindir.
Bu Tutik melengos dan berlalu pergi. Bahkan seonggok Kubro pun tidak dianggap sama sekali.
"Ngapain itu Mak lampir pagi-pagi udah beredar?"
"Hahaha..." Saras langsung ngakak. Saras kira dirinya saja yang menilai Bu Tutik bermulut jahat, ternyata itu sudah bukan menjadi rahasia umum. Bahkan Kubro menyebutnya dengan julukan Mak Lampir.
****
Sepanjang perjalanan Paijo hanya diam. Dia merasa juga tidak berkewajiban basa basi pada gadis yang duduk di belakangnya. Kalau mau basa-basi juga bukankah seharusnya Siti yang berstatus menumpang itu yang ambil suara.
Tapi nyatanya gadis itu hanya diam seperti kemarin.
__ADS_1
"Terimakasih Mas" ucap Siti selepas turun dari motor Paijo.
"Ya"
Hanya seperti itu, setelah itu Paijo melajukan motornya menuju arah Kendal-Weleri. Paijo tidak ingin ambil pusing. Niatnya bekerja mencarikan nafkah untuk isteri di rumah.
Hingga setelah sampai di salah satu depo kayu, hpnya berdering. Panggilan Vidio call dari tuan putri Saras.
"Udah sampai Mas?"
"Baru aja, ini juga belum sempet lepas helem kamu udah telpon aja, kenapa? khawatir suaminya hilang?" Saras terlihat terkekeh di layar.
"Enggak, cuman mau ngingetin. Kalau lihat tempat cucian motor jangan lupa kamu mampir!"
"Astaghfirullah...." Paijo mendengus. Semalam untuk menenangkan istrinya itu, dia sendiri yang berkelakar bakal langsung mencuci motor nya apabila si Siti memboncengnya lagi, sekarang kemakan omongan sendiri. Haha...
"Jangan lupa Mas minta struk pembayaran, zaman sekarang apa-apa harus ada hitam di atas putih bukan?" Saras terkekeh lagi.
Sedikit gila dan berlebihan memang, tapi tidak apa. Toh motor Paijo memang sudah kotor. Hujan yang belakangan sering turun membasahi bumi itu, sudah pasti membuat jalanan sedikit berlumpur dan mengotori motornya.
Paijo dan Saras tidak ingin masalah Siti yang bahkan nama belakangnya mereka tidak tahu menjadi bibit masalah dalam rumah tangga mereka. Mereka berkomitmen tidak akan bertengkar, hanya saja harus saling memahami seperti tadi misalkan.
Kita cukup bertengkarnya di atas ranjang saja!
Ucap Paijo semalam. Dan Saras setuju dengan satu hal itu.
Kebahagiaan dan ketentraman di dalam sebuah keluarga, siapa lagi yang mengusahakan kalau tidak kita sendiri. Meminimalisir pertengkaran yang tidak perlu adalah jalan terbaik untuk mencapai keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Paijo dan Saras akan bekerja sama untuk itu.
****
Saras tidak akan membiarkan Siti atau Bu Tutik mendapatkan gelas atau piring karena berhasil tiga kali menumpang pada suaminya. Hari ini harus gagal. Pagi-pagi sekali Saras sudah mandi, sudah memasak, sudah wangi dan berdandan cantik.
Tepat sekali dugaan Saras. Bu Tutik gigantropus erectus berponi Rita Sugiarto itu kembali menyongsong mereka di depan pintu.
Kali ini Siti yang di gandeng sang ibu terlihat cemberut. Seperti habis berselisih.
"Mas Paijo udah mau berangkat?" tanya Bu Tutik mengabaikan Saraswati yang sudah berdiri cantik bak boneka Barbie.
"Iya Bu, ada yang bisa di bantu?" tanya Paijo basa-basi kali ini. Saras sudah melatihnya berdialog tadi, dan Paijo harus bisa melakoninya sesuai skrip.
"Ahh, Mas Paijo memang baik sekali"
"Ini Siti mau numpang lagi sampai alun-alun, kayak kemarin"
"Oh... hari ini mau beli apalagi Bu?" tanya Paijo pura-pura bego.
"Ckk, dia tak suruh beli bolang-baling lagi Mas, kemarin Ibu minta yang ada wijennya, malah dia belinya yang biasa, Ibu mana suka!"
Hlah untung mintanya bolang-baling makanan, bukan bolang-baling bambu punya Doraemon. Repot si Siti kalau harus bolak balik Indonesia-Jepang.
"Ehem... maaf ya Bu Tutik, tapi sepertinya hari ini Mbak Siti ga bisa bareng Mas Paijo deh, soalnya aku juga mau bonceng sampai alun-alun, gimana?"
Bu Tutik mengernyitkan dahi, lalu memindai penampilan Saras dari bawah sampai atas.
"Memangnya kamu mau beli apa sampai sana?" tanya Bu Tutik dengan mata tajam.
"Dih, harus ya dandan gitu cuma ke alun-alun doang?"
Sumpah, mulut Bu Tutik sepertinya sudah terlatih untuk nyir-nyir. Saras padahal hanya pakai cusion dan lip balm. Sedikit menyemprotkan minyak wangi ke bajunya. Kalau terlihat cantik bukan salah Saras dong. Mungkin ini saatnya Saras unjuk gigi. Memberi pembelajaran yang mungkin belum pernah Bu Tutik dapatkan semasa sekolah.
__ADS_1
"Saya mau beli benang putih sama jarum jahit Bu, gimana?"
"atau Bu Tutik mau nitip di belikan bolang-baling sekalian? sebelah mana biasanya beli?"
Bu Tutik menghentakkan kaki, beli benang dan jarum? padahal juga bisa beli di warung dekat sini. Huh! Asem! anak masih bau kecut ini, pintar juga ternyata!
Yah gimana, Bu Tutik aja bisa nyleneh beli bolang-baling sampai alun-alun padahal yang dekat juga banyak. Bukan salah Saras kalau ikutan lebih nyleneh.
"Tidak perlu! nanti biar Bapaknya Siti yang beli!" jawab Bu Tutik sewot. Lalu menggandeng Siti menyebrang balik ke rumah mereka.
Paijo mengacak rambut isterinya lalu terkekeh bersama. "Dasar nakal! isteri siapa sih ini?"
"Isterinya Mas Paijo dong! Hahaha..."
Saras mengunci pintu, kemudian dengan rasa puas duduk membonceng suaminya. "Peluk erat ah...ini kan suamiku, mana suamimu?"
Tidak benar-benar beli benang dan jarum. Saras turun di alun-alun untuk sekedar menghirup udara pagi. Sudah ada Kubro yang menunggunya di sana. Tak apalah iseng-iseng seperti ini sekali-kali. Saras berharap besok sudah tidak ada lagi drama numpang-numpang tak jelas untuk sekedar beli ini dan itu. Biar kapok!
"Kamu hati-hati ya Mas di jalan! Ngebut boleh, tapi janji harus selamat sampai pulang ke rumah!"
Paijo terkekeh, isterinya memang menggemaskan. "Iya... kamu jangan lama-lama jalan-jalannya."
"Mbak Bro, nitip isteri saya, jagain kalau ada yang godain dia!"
"Kamu jangan genit juga!"
"Dih...!"
"Awe-aweee... co cuit-cuit kalian berdua! jadi pengen manjah-manjah gitu..."
"Sama siapa?" tanya Paijo.
"Sama orang lah masak sama pohon beringin!" cibir Kubro.
"Pohon beringin aja males sama kamu! Hahaha..."
"Ihhh...Sis, kamu belain akuh dong! suamimu itu durjana sama akuh!"
"Hahaha... Udah Mas! kasian Mbak Kubro. Kamu ini hlo... walaupun aslinya bener kamu harusnya ga bilang gituu tau..."
"Tuh 'kan, sama aja Mbak Saras! Sebel deh!"
Kubro menghentak-hentakkan kakinya sebal. Wanita setengah pria itu memang aneh, suaranya berat tapi sok kecentilan. Paijo dan Saras tertawa terbahak lagi.
"Udah Mbak jangan cemberut! Ayok aku traktir bubur ayam!"
Mbak Kubro pun berbinar. Kalau pergi sama Saraswati memang ga perlu takut kelaparan. Makan, jajan, makan, jajan, lancar pokoknya.
.
.
.
.
Maaf baru sempat nulis lagi, sibuk di dunia nyata. Maklum pejuang receh dan Ibu rumah tangga biasa,š
Ramaikan di komentar ya...
__ADS_1