Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 86: Balapan


__ADS_3

Warning!!! harap di baca serius, jangan sambil makan atau ngemil cantik!😁


Malam hari Paijo pulang dengan membawa sekantung makanan seperti biasa. Kali ini nasi Bik So'ah yang melegendaris. Melegenda karena sudah berdiri puluhan tahun lamanya dengan harga yang stabil merakyat. Bukan tak mampu membeli makanan mahal atau jenis makanan yang kebarat-baratan, hanya lidah Paijo lebih cocok ke makanan lokal.


Nasi dengan sayur tewel yang menyerupai gudek itu sudah menjadi ciri khas warung makan Bik So'ah. Di padukan dengan kering tempe yang ngelumet dan sambal goreng tahu mix rambak, terus di siram dengan kuah opor ayam. Jangan lupakan sambalnya yang pedas menampar lidah hingga membuat semua orang dari yang miskin hingga kaya raya rela mengantri dan berbaur untuk sekedar makan di sana.


Seharian ini Saras malas masak. Selepas Umiknya pulang dia sibuk menangis di temani Kubro. Cimol yang dia beli sampai tercampakan hingga malam. Penampakannya bahkan sudah memprihatinkan karena sudah jadi cimol keriput dan kisut.


Maka dari itu Paijo membelikan Saras nasi. Dan sekarang mereka berdua sudah duduk lesehan di depan televisi yang menayangkan sinetron ftv. Paijo terlihat membuka bungkusan itu untuk Saras.


"Mari makan, ini bergedelnya juga enak, kamu pasti suka" Paijo menambahkan dua bergedel di atas nasi Saras. Tidak seperti biasanya yang antusias saat di ajak makan. Saras hanya mengangguk kecil. Lalu menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


Paijo mengamati isterinya saat sedang mengunyah, " Enak 'kan?"


"Enak," jawab Saras singkat.


"Hmm... Sayang, kamu mau tidak aku ceritakan sesuatu yang lucu?"


Saras melirik suaminya, sebenarnya Saras tidak mau bersikap dingin seperti ini, hanya hatinya sedang tidak baik. Merasa... embuhlah. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan Paijo sudah tahu kenapa, maka dari itu sejak datang tadi dia sudah berusaha menghibur Saraswati.


Lirih Saras menjawab suaminya, "cerita apa?"


"Kamu tahu pagar kayu di belakang rumah bapak?"


"Yang deket pohon mangga arumanis itu?"


"Iya, dulu Mas suka mainan di sana. Main layang-layang atau kelereng bareng temen-temen,"


Saras mengernyitkan alis, seingat Saras belakang rumah mertuanya itu sudah penuh dengan rumah-rumah warga. Mainan layangan apa ga nyangkut tuh.


"Dulu masih lapangan sepak bola Saras, masak kamu lupa, kalau sekarang sih udah jadi rumah semua" terang Paijo. Saras hanya ber-oh kecil. Mau menanggapi gimana, lama-lama tak sadar sesuap demi sesuap nasi sudah masuk kedalam mulutnya. Saras terbuai dengan perpaduan sambal dan kuah opor yang gurih. Enak batin Saras.


"Terus..."


"Terus suatu siang, habis ngejar layangan putus, Mas sama temen-temen Mas, kira-kira ada empat orangan, capek dan haus, kita duduk istirahat di dekat sana, laper juga sih,"


" terus pandangan kami tertuju pada kresek hitam yang cemantel di pagar kayu itu"


"Mata kita udah berbinar dong ya... kali-kali ada orang baik gitu yang sengaja lupa ninggalin makanan di sana" Paijo diam sebentar, memastikan wajah istrinya yang mulai tertarik mendengar ceritanya. Kemudian baru melanjutkan lagi.


"Mas inget temen Mas yang namanya Soni, dia yang ngambil bungkusan kresek itu, terus teriak"


"Woi, makanan ini ndaa...gorengan pow?"


"Terus dia pegang, kog empuk-empuk, gorengan opo tai iki?"


"Mas penasaran ikut mendekat, bukak woi!"


"Soni yang kebagian buka, kalau beneran makanan, gorengan atau getuk, kita sepakat di makan bareng-bareng"


"Eh... setelah dibuka ternyata jeng-jeng-jeng..."


"Kamu tahu apa?"


Sumpah Saras sudah penasaran, tapi kayak yang di tarik ulur gitu. "Apa? beneran getuk?" tanya Saras sudah antusias ngalahin antusiasnya emak-emak yang ngantri beli minyak goreng di Alpa kemarin. Raut sedih di wajahnya kurun pudar.


"BENERAN TAI!!! Hahahaha..." Paijo terbahak.

__ADS_1


"Masih anget, baunya baru tercium setelah di buka, hoekkkkkk.... Mas ga bisa lupain itu"


"Dih..."


"Sampai-sampai Mas sama temen-temen yang lain kalau panggil Soni itu, Soni buntelan tai, Hahahah..." tawa Paijo pecah lagi. Pundaknya sampai berguncang. Tapi cerita lucu menurutnya itu tidak juga membuat Saras tersenyum. Tapi Paijo lega, karena nasi bungkus Saras terlihat sudah habis ludes tak tersisa, bersamaan dengan cerita yang bisa di bilang lebih menjijikkan dari pada lucu.


"Ga lucu ya? maaf..." Garing ga sih?


Buru-buru Saras mengangkat wajah. "Lucu kog!"


"Kalau lucu kenapa ga senyum?"


Tiba-tiba saja jadi melow, Paijo meletakkan sendok makanya, lalu meraih tangan Saras. Menggenggamnya dengan kepastian.


"Kamu kenapa ha? Umik kesini, bukannya harusnya kamu seneng?"


"Cerita, apa yang kamu rasain, aku juga ga keberatan jika Umik mau kesini lagi...oke?"


Masalahnya hati Saras sendiri yang merasa galon maksudnya galau. Dia senang ibunya datang, tapi diam-diam. Lalu bagaimana kalau Haji Bagong tahu. Pasti akan sangat murka. Bagiamana kalau suatu saat nanti tiba-tiba ayah kandung Saras itu datang dan memaksa Saras pulang. Saras khawatir. Saras ingin hidup aman dan bahagia. Namun seperti masih terhalang. Ibarat senyum, mau senyum lebar rasanya sulit. Ingin bahagia tapi masih mengganjal, karena restu yang terhalang.


"Mas..."


"Hemmm...?"


"Maaf ya... aku ga tau kenapa, kayak yang mood swing, aku pengenya nangis terus dari tadi..."


"Kalau gitu ayok! kamu boleh nangis di dada aku, atau kamu mau pinjam punggung? biar romantis kayak San chai dan Hua ce lai?" canda Paijo sambil melebarkan kedua tangannya.


Saras tidak menyia-nyiakan, ternyata nyaman sekali berpelukan sehabis makan. Saras menyandarkan kepalanya di dada Paijo yang selebar lapangan footsal. Saras tidak menangis kali ini, hanya merasa rapuh. Lagian juga air matanya sudah habis-habisan tadi siang.


"Kamu jangan terlalu khawatir dengan apapun yang belum terjadi, terus berprsanka baik sama Allah, jalani yang ada dulu, karena apapun yang terjadi hari ini itu kuasa Tuhan"


"Baik atau buruk harus kita lewati bersama, kalau kita bisa, itu artinya kita bisa lanjut naik kelas, hidup itu sesimpel itu kalau kita mau belajar dan memahami, aku sayang, sayang banget sama kamu!"


Cup, cup, cup, Paijo mengecup gemas kening Saras, pipi kanan, pipi kiri, secara cepat dan bergantian. Saras mengulum senyum lalu menenggelamkan wajahnya lagi di dada Paijo.


"Eummmm... makasih Mas,"


Perasaan Saras bisa lebih baik setelahnya, ternyata perut kenyang dan pelukan suaminya bisa jadi obat mujarab kegundahan hati. Saras patut bersyukur untuk itu. Kemudian tiba-tiba perutnya mules hingga mengeluarkan bunyi bergemuruh. Krutuk, krutuk, krutuuuukkk...


Paijo melepaskan pelukannya dan menajamkan telinga, "Ehem...! Kamu masih lapar?"


"Enggak Mas... udah kenyang. Cuman mungkin perutku yang kaget, dari siang ga makan, malem gini baru makan pakai sambal lagi," terang Saras sambil mengemasi kertas minyak bungkus nasi tadi. Paijo masih belum paham dengan penjelasan Saras. Biasanya perut bunyi itu artinya lapar bukan? mana ada perut kaget.


"Intinya perutku mules Mas," Saras meringis, dan cepat-cepat bangkit dari duduknya. Anehnya, Paijo juga ikut bangkit.


"Wah, kita berdua memang sehati. Kalau begitu mari kita balapan!"


"Satu, dua, tiga, Go!"


Paijo buru-buru membuka pintu belakang, Saras terhenyak sesaat. Lalu kemudian baru sadar jika suaminya itu menghitung, mengajaknya balapan menuju toilet yang jauhnya bermeter-meter itu.


Saras kecolongan, kalah star lebih tepatnya. Lantas geram berteriak sambil menyusul langkah suaminya.


"Mas aku duluan, udah mau keluar ini!"


"Ga bisa! aku sampai duluan Saraswati! aku yang menang, berarti aku duluan, lepas!"

__ADS_1


"Mas tega kamu ya... awas aku duluan!"


Mereka tarik menarik tidak ada yang mau mengalah. Paijo merasa juga miliknya sudah mintip-mintip pengen keluar. Mana bisa di tahan. Dengan meminjam kekuatan Spiderman Paijo berhasil meloloskan diri dari Saras. Dia buru-buru masuk kedalam toilet dan menguncinya.


Brakkkk! Brrrrakkkk! Braaakkk!


Saras menggedor-gedor pintu dari luar. Jengkel sekali merasa di bohongi. Paijo ternyata diam-diam juga menahan pup. Astaga mereka itu memang.


"Mas cepet! aku udah ga kuat ini!"


Brakkk...Brakkk...Brakkk...!


"Bentar masih setugel!" teriak Paijo dari dalam.


"Mas aku hitung sampai sepuluh, kalau kamu ga cepet keluar, aku potong jatah cikiday kamu, lihat aja nanti!!!" ancam Saras. Lalu suara grujukan air terdengar.


"Yang bersih nyiramnya!" teriak Saras lagi.


Tak ada sahutan. Sepertinya Paijo sedang berkonsentrasi lagi.


Diluar Saras tak berhenti mengomel, "Mas kamu nyin-nyik apa tidur sih lama banget!!!"


"Dih! sama isteri ga mau ngalah...Mas...!"


Saras sudah pucat pasi, panggilan alam memang tidak bisa di sepelekan. Bahkan ada perang dunia ketiga sekalipun. Kemudian suara kran dan gemericik air terdengar lebih keras. Lalu pintu terbuka.


"Ahhh... lega..." pamer Paijo begitu keluar dari toilet.


Saras hanya mendengus kesal, lalu buru-buru masuk sampai lupa tidak mengunci pintu.


Paijo memang Paijo, tingkahnya bisa berubah-ubah sesuai kondisi dan cuaca. Dia bisa jadi laki-laki serius saat bekerja dan menghitung laba, bisa dewasa saat isterinya butuh sandaran seperti tadi, bisa ketakutan sekaligus cengeng jika di tinggalkan Saras, dan bisa jail dalam kondisi seperti ini.


"Cilukkkk Baaaaaa!"


Saras menjerit karena tiba-tiba Paijo menongolkan kepala dari sela pintu yang sengaja dia buka. Saras kaget, untung T A satunya tidak ikut kaget terus masuk kembali.


Paijo tertawa terbahak karena berhasil lagi mengerjai isterinya tercinta.


"Mas! jangan gila kamu!" hardik Saras.


Paijo tertawa terpingkal-pingkal lalu menutup pintunya lagi.


Tengah malam, bahkan semua orang mungkin sudah tertidur dengan nyenyak. Mereka berdua masih umprus di sana. Balapan aneh! Untung saja jauh dari tetangga ya Saras. Yang denger kalian berantem rebutan toilet cuman katak dan ular di sawah. Wkwkwkwk...


.


.


.


.


.


Part ini aku dedikasikan buat suamiku yang suka nyerobot ke WC padahal isterinya yang Sholihah ini juga udah kebelet. Wkwkwkkwkw....


Kalian pernah ga sih kurang kerjaan kayak gitu, maaf kalau ada yang jijik ya...

__ADS_1


Komen yang banyak! suwun😘😘😘😘😘😘


__ADS_2