
Paijo terpaku saat melihat kedua orangtuanya datang. Tatapan matanya dingin menatap sang Ayah dan ibu tirinya yang sudah berdiri di belakangnya. Sama dengan sang anak, Burhan nampaknya juga tak berniat menyapa anak kandungnya. Paijo memilih keluar dari kamar rawat di mana sang kakek masih terbaring lemas.
"Kenapa kamu tidak menyapa Bapakmu? butuh waktu berapa lama lagi agar amarahmu itu hilang hah?" Salma ibu tiri Paijo itu ternyata memilih menyusul putra tirinya itu. Paijo tak bergeming sedikitpun. Dadanya begitu sesak ketika bertatap dengan ayah kandungnya. Sebagai anak sebenarnya dia rindu di peluk ayahnya. Tapi mengingat betapa keras kepalanya sang ayah, Paijo belum bisa memaafkan pria itu bersama segenap caci makinya.
"Pulanglah, bukankah kamu sudah berjanji akan pulang. Bapakmu itu orang tua, wajar kalau gengsi untuk menyapa lebih dulu. Kamu yang muda harusnya sadar,.." belum selesai Salma menasehati Paijo menyambar.
"Aku akan tepati janji, pasti aku pulang. Itu juga rumahku.Tapi tidak untuk saat ini. Aku belum menjadi orang kaya raya, macam suami anda!"
"Jo! Dia masih Bapakmu!" Salma memejamkan mata sekilas, meredam emosi. Jika di pikir lagi, dua laki-laki beda generasi itu memang sama-sama keras kepala.
"Sial, sebagai ibu tiri harusnya aku bisa bersenang hati melihatmu menjauh dari Bapakmu sendiri! Aku bisa berkuasa, tapi benar-benar sial! Aku justru tidak bisa hidup tenang."
"Bagaimana keadaan Paijo? Apa dia sudah makan? Apa yang dia rasakan sekarang? Jika sedang hujan deras, aku kepikiran, apa Paijo kehujanan?"
"Setiap hari, pertanyaan itu muncul begitu saja."
"Aku merasa bersalah pada ibumu. Aku merasa gagal memberikan kebahagiaan untuk anaknya!"
Paijo masih menatap kosong pada deretan kursi besi di hadapannya. Seolah dia sedang menghitung jumlah lubang-lubang kecil pada kursi itu. "Terimakasih atas perhatiannya, tapi aku tidak sedang butuh di kasihani. Aku masih bisa berdiri di kakiku sendiri."
Salma mendengus kesal, "Lalu gadis itu? sudah sampai mana hubungan kalian?"
"Apa kamu juga akan menunggu kaya raya dulu, baru akan melamarnya huh?"
"Itu urusanku,..." jawab Jo kemudian bangkit dari duduknya.
"Kalian sudah disini, aku titip Mbah Sam untuk beberapa hari. Ada urusan yang harus aku selesaikan!"
Paijo pamit pergi, sedangkan Salma hanya bisa mengantar kepergian Paijo dengan tatapan matanya.
Apa sulitnya meminta maaf dan berbaikan?
Bukankah hubungan darah kalian lebih berharga daripada ego kalian masing-masing?
****
Pagi sekali Paijo berangkat. Berbekal amplop coklat berisi segepok uang, secarik alamat dan sepucuk surat dari Cak Sam. Kemarin, lelaki tua itu sempat menuliskan sesuatu di kertas. Paijo di larang membukanya. Dan hanya bertugas memberikan titipan itu kepada wanita yang bernama Fatimah.
Fatimah sebenarnya siapa perempuan itu?
Perjalanan yang cukup panjang, hingga menghabiskan empat jam lebih. Itu Paijo sudah mengebut, salip kanan dan kiri. Hingga dia tiba di suatu desa. Bukan desa terpencil, karena jika di lihat dari Map masih muncul. Hanya karena jauh dari pusat perkotaan. Makanya Paijo menyebutnya desa. Kalau itu sejak zaman Majapahit reader juga sudah tahu Jo.
__ADS_1
Paijo ragu, apa dirinya tersesat atau perjalanan masih jauh. Jika di lihat dari Map dia merasa tidak salah, tapi kadang juga Paijo sebal. Map kadang juga bisa oon, salah jalan. Pernah dulu, Paijo ketik Jalan Sidodadi, niat hati mencari apotik terdekat karena sakit gigi. Ketika Map bilang belok kanan, Paijo nurut belok kanan. Seratus meter lagi anda sampai pada titik. Paijo girang. Tapi setelah sampai, bukan apotik malah tempat pemakaman umum. Sialan bukan! Lebih baik bertanya pada orang, memastikan jika dia tidak salah jalan.
Paijo pun turun dari motor, bertanya pada seorang bapak-bapak yang sedang duduk santai di depan rumah sambil ngopi-ngopi manja ala Syahrini. Satu pertanyaan yang di jawab dengan kepastian yang tidak perlu di ragukan lagi. Sepertinya perempuan bernama Fatimah itu cukup populer di desa ini.
Paijo merasa miris jika namanya yang sudah merakyat saja tersaingi, pasalnya jika belanja online, kurir masih perlu muter-muter mencari alamat rumahnya. Padahal dia anak kepala desa hlo. Entahlah, sepertinya dunia memang tidak adil bagi Paijo.
Paijo berdiri di depan gerbang besi rumah dua lantai yang terlihat sepi dan tertutup. Di depan gerbang dia melihat papan besar bertuliskan nama Fatimah. Ternyata ini adalah sebuah rumah panti asuhan. Pantas saja ketika menanyakan alamat tadi, bapak-bapak tadi sangat yakin. Bahkan tidak perlu bantuan 50:50 ataupun phone a friend.
"Permisi! permisi!" teriak Jo dari luar pagar.
"Haish... Arya jangan lari-lari nanti kamu jatuh!" teriak seorang perempuan paruh baya, walaupun kulitnya sudah berkerut keriput, tapi garis kecantikannya belum pudar. Wanita itu berteriak lagi memanggil nama seseorang. Dan seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun datang tergopoh-gopoh mengejar anak kecil yang tadi lari. Sepertinya wanita itu belum menyadari kedatangan Paijo yang hampir mengering di luar pagar karena terik panas matahari yang hampir bertengger tepat di atas kepala.
"Permisi Bu!" suara Paijo meninggi, mengantisipasi jika wanita itu sudah berkurang pendengarnya.
"Eh... siapa?" Wanita itu mendekat dan membukakan pintu pagar. Paijo tertegun beberapa saat.
"Emm... saya ingin bertemu dengan Ibu Fatimah. Apa benar ini rumahnya?" Giliran wanita itu yang tertegun, mengobrak-abrik file di memori otaknya. Dia tidak mengenal pemuda ini, mencoba berpikir tentang orang penagih hutang juga mentok. Dia sama sekali merasa tidak memiliki hutang, hutang panci di mendreng saja dia tak punya.
"Saya sendiri orangnya. Siapa anda?"
Paijo mengulas senyum tipis, "Saya Paijo, cucu Mbah Sam."
Fatimah kembali memindai Paijo dari bawah sampai atas. "Argh..." kemudian dia salah tingkah. Merasa aneh karena biasanya Samsudin menyuruh Bejo yang datang kesini selama bertahun-tahun. Tapi ada apa gerangan, hingga dia mengirim pemuda yang mengaku cucunya itu datang.
****
Menghindar dari seorang pria tampan bernama Jamalga.
"Aishhh... Jamalun unta! sehari saja tidak mencari 'ku tidak bisa apa?!" gumam Saras dalam hati.
Dan seperti hari-hari sebelumnya, Saras harus berdiam diri cukup lama di dalam kamar mandi. Bukan maksud ngulo, istirahat sebelum waktunya. Tapi cara ini yang paling efektif menghindari asisten bos yang tak tahu malu itu. Gimana ga tau malu, terang-terangan dia mendekati Saras. Tanpa aba-aba pula. Membuat Saras repot harus mengumpat, untung sejauh ini dia licin bagai belut.
Sebelum jam istirahat dia sudah pasang kuda-kuda keluar dari ruangan. Begitu pula saat jam pulang, wus-wus melebihi kecepatan cahaya dia raib.
Bunga dan bebagai makanan setiap hari di titipkan untuknya. Saras masih tidak tergoda. Sekali tidak ya tidak. Teman-teman yang satu ruangan dengannya yang makmur kecipratan enaknya.
"Untung saja toiletnya bersih selalu wangi parfum kopi. Kalau saja bau busuk, bisa mati nestapa aku di sini!" Saras kembali bermonolog di depan cermin. Setelah itu dia menelepon Mbak Yuli, memastikan si Unta sudah pergi.
"Aman mbak?"
"Aman Cinta!"
__ADS_1
"Bawa apalagi dia?"
"Biasa, bunga dan makanan!"
"Ambil mbak, ambil! pokoknya meja aku harus bersih dari apapun yang dia beri."
"Beneran ini makanannya juga ga mau?"
"Enak hlo ini..."
"Enggak, singkirkan sebelum aku masuk!" bukan apa-apa sebenarnya kalau masalah makanan, Saras nyaris tergoda alias ngiler. Tahu sendiri Saras suka makan. Maka dari itu, mata dan batinnya harus di jauhkan dari pemberian berupa makanan apapun itu.
Sepulang dari kantor, Saras juga masih belum bisa bernafas lega. Di rumah ada Haji Bagong yang setia setiap saat, sudah mirip iklan deodoran itu bisa kapan saja membicarakan perihal perjodohan. Saras takut dan parno sekali. Cepat-cepat dia masuk ke dalam kamar saat sudah pulang. Keluar kamar saat akan makan saja.
"Bu, kemana Saras? tadi sepertinya masih makan. Kenapa sekarang sudah tidak ada?"
Hajjah Maesaroh paham betul maksud dan tujuan Saras. Dia terpaksa harus ikut bersandiwara. "Oh... mungkin istirahat di kamar Abah. Kasihan, pasti capek dia..."
"Huh, dari kemarin ingin mengobrol dengannya kog susah sekali. Sudah mirip menteri dia, susah di temui."
Saat mendengar suara langkah kaki Abah, Saras cepat-cepat melompat ketempat tidur. Dia ingin pura-pura tidur atau sekalian pura-pura mati saja.
Ceklek!
Pintu kamar Saras terbuka, Haji Bagong melongok ke dalam. Benar saja, Saras sudah bergelung dengan selimutnya.
"Hampir Maghrib, anak gadis kog malah tidur. Ga takut jadi gila? tidur sore-sore?"
Meski begitu Haji Bagong tidak membangunkan Saras. Dia hanya bergumam dan berlalu keluar lagi.
Huh, kalaupun jadi gila itu bukan karena tidur sore-sore. Tapi karena Abah yang terobsesi jadi biro perjodohan!
Balas Saras dalam hati. Entah mengapa matanya beneran ngantuk, seperti ada yang meniup-niup. Lesss, dia pun tertidur pulas.
.
.
.
.
__ADS_1
.
like, komen, bagi hadiah ya😁