
...Aduh senangnya pengantin baru...
...Duduk bersanding bersenda gurau...
...Duhai senangnya pengantin baru...
...Duduk bersanding bersenda gurau...
...Bagaikan raja dan permaisuri...
...Tersenyum simpul bagaikan bidadari...
...Duhai senangnya menjadi pengantin baru...
...Duhai senangnya pengantin baru...
...Duduk bersanding bersenda gurau...
...Duhai senangnya pengantin baru...
...Duduk bersanding bersenda gurau...
...Bagaikan raja dan permaisuri...
...Tersenyum simpul bagaikan bidadari...
...Duhai senangnya menjadi pengantin baru...
...Tinggalkanlah masa remajamu...
...Peganglah amanat dari tuhanmu...
...Tinggalkanlah masa remajamu...
...Peganglah amanat dari tuhanmu...
...Agar menuju hidup bahagia...
...Rukun dan damai, aman, sentosa...
...Duhai senangnya menjadi pengantin baru...
...Duhai senangnya pengantin baru...
...Duduk bersanding bersenda gurau...
...Duhai senangnya pengantin baru...
...***...
Lagu berjudul pengantin baru milik Nasida ria masih mengalun memenuhi ballroom hotel malam ini. Dinyanyikan oleh grup Qasidah Ezzura, yang merupakan generasi ke empat grup Qasidah Nasida ria itu sendiri. Suara vokalisnya sukses bikin merinding siapa saja yang mendengar.
Di tengah kerumunan tamu undangan, Haji Bagong terus mengumbar tawa saat menyambut tamu-tamu mereka. Suasana pesta resepsi yang meriah. Para tamu yang sebagian besar teman dan relasi Haji Bagong di ajak bernostalgia dengan penampilan apik grup Qasidah itu sambil menyantap hidangan yang lezat.
"Wah Ji, ini pesta yang luar biasa... lihatlah dekorasi yang mewah dan jamuan makanan yang mantap, enak semua... saya sampai khilaf makan banyak!" puji salah satu tamu yang merupakan teman Haji Bagong. Disetujui dengan anggukan tamu yang lain yang satu pemikiran dengan tamu itu. Sepertinya cita-cita Haji Bagong untuk pamer kemewahan terwujud. Terbukti dengan pesta pernikahan pasangan Paijo-Saras yang tanpa celah kekurangan sedikitpun. Sempurna sesuai standar Haji Bagong.
"Alhamdulillah jika kalian semua merasa senang hadir di pesta ini. Saya sangat berterimakasih karena kalian sudah menyempatkan datang" basa-basi Haji Bagong.
"Ah, tentu saja kami datang. Kita ini teman baik bukan? Lagipula mana mungkin kita melewatkan pesta ini, secara yang punya hajat Haji Bagong, pemilik toko emas terbesar di kabupaten ini..." sanjungan itu di akhiri dengan gelak tawa mereka.
"Ah silahkan di lanjutkan makannya, saya permisi dulu..."
Haji Bagong bergeser mencari istrinya. Perempuan yang hampir saja melepaskan statusnya sebagai istrinya itu ternyata masih berkumpul dengan besan dan anak cucu mereka.
Yah, pesta pernikahan Paijo dan Saras di gelar tiga bulan setelah Saras melahirkan seorang bayi tampan, yang kini berada di gendongan Hajah Maesaroh. Sedangkan orang tua bayi itu sedang berdiri di pelaminan. Sibuk menyalami para tamu undangan.
"Tidak rewelkan cucu Mbah kung?"
"Ah... Abah ngagetin, tuh jadi kebangun lagi dedeknya..." gerutu Hajah Maesaroh. Pasalnya tadi bayi mungil itu sudah hampir terlelap. Namun terbangun lagi karena di sapa sang kakek.
"Maaf, tadi saya kira masih melek, habisnya ga kedengaran nangis..."
"Ga bakal kedengeran tangisnya, wong ramenya kayak pasar Syawalan gini" maksudnya pasar yang hanya ada saat bulan Syawal datang, seperti tradisi lokal di sana.
Burhanuddin dan Salma yang berada di sana ikut tersenyum. Kehadiran bayi itu memang membawa anugerah yang luar biasa. Hubungan dua keluarga itu membaik bahkan sangat baik. Sejak merestui hubungan Saras dan Paijo, sejak itulah Haji Bagong juga membuka pintu rumah untuk anak pertamanya, Umi dan suami beserta anaknya juga hadir di pesta itu.
"Bawa sini jeng saya gendongkan, pasti capek gendong cucu kita yang gembul ini" ujar Salma.
"Iya, lagipula mungkin dia memang belum ngantuk masih pengen ikutan nikmati pesta ya..." tambah Burhanuddin.
"Ah tak apa, saya belum capek kog, jeng makan dulu aja sana, dari tadi sepertinya belum sempat makan apa-apa" Salma nyengir, ternyata Hajah Maesaroh cukup posesif pada cucu mereka.
"Oh... baiklah tak apa kalau memang belum capek."
"Jadi mari Pak Burhan, Bu Salma mendingan kita makan dulu aja, istri saya ini sepertinya belum bosan gendong sinang, padahal kalau di rumah juga udah di kekepin melulu"
Hajah Maesaroh melirik tak peduli dengan sindiran suaminya. Kalau belum berhasil menidurkan cucu laki-lakinya ini Hajah Maesaroh merasa belum tenang. "Nanti saya lambaikan tangan kalau sudah tidak kuat"
__ADS_1
"Hahaha.... macam uji nyali saja kamu ini"
"Mau di ambilkan minum?" tawar Haji Bagong. Hajah Maesaroh bisa merasakan kalau sekarang suaminya bisa sedikit bersikap romantis. Mungkin efek takut di pegat. Hahaha....
Di atas pelaminan, Paijo dan Saras merasa sudah pegal-pegal karena seharian berdiri menyunggingkan senyum serta menyalami para tamu yang seakan tak ada habisnya.
"Abah ngundang berapa orang sih sebenarnya, mas yakin besok kaki kita muncul varises kalau begini ceritanya..."
"Ga tau, seribu undangan kali ya mas, aku juga udah capek banget"
"Untung sempat ganti sandal tadi" Bukan Saras kalau tidak gila, demi keselamatan kakinya dia nekat ganti sendal jepit. Untung saja tertutup gaunnya yang menjuntai menutupi kakinya.
"Wah, sudah tahu rasanya capek begini, aku ga bakal pengen nikah dua kali,"
"Oh, jadi sebelumnya ada niat seperti itu?" Saras mendelik.
"Hahaha... canda Saraswati!"
"Ga lucu..." ucap Saras manyun. Paijo mencolek pinggang istrinya sebelum melanjutkan menyalami tamu yang kembali antri.
"Saras, cari ide dong biar kita bisa istirahat"
"Apa?" Saras balik tanya, sedikit berbisik sih.
"Kamu pura-pura kebelet pup aja gimana?"
"Nanti pasti MUA lepas kostum kita yang ribet ini, kita bisa istirahat deh... selesai ga usah salam-salaman gini"
"Gila kamu mas... iya kalau di lepas, kalau mereka ga mau bantu ngelepas gaun ini, yang ada aku viral mas dengan judul pengantin kebelet eek, sori aku ga mau" tolak Saras mentah-mentah. "Cari ide lain!"
Paijo meluruhkan bahunya karena ide brilian miliknya di tolak sang istri. "Terus gimana? padahal aku lebih mengidamkan berdua sama kamu bermesraan di dalam kamar hotel ini, dari pada lama-lama berdiri di sini"
"Heleh, kayak beneran pengantin baru aja, lihat tuh udah ada bayi"
"Yah... anggap saja memang kita pengantin baru, menyesuaikan dengan lagu qasidah tadi...hehe..."
"Lagian lihat, anak kita aman sama kakek neneknya, kabur aja yuk!"
Masih jam enam malam, dan semakin malam bukan tamu berkurang malah semakin banyak tak ada putusnya. Saras di buat pusing oleh Paijo yang terus merengek sejak tadi. Mentang-mentang masuk masa buka puasa paska melahirkan. Suaminya itu seperti sudah haus belaian.
"Oke kita kabur, tapi sebentar nunggu teman-temanku datang, kemana mereka sudah jam segini belum datang juga, padahal sudah janji mau datang," mata Saras mencari keberadaan teman satu kosnya dulu pas kuliah di Malang.
"Kamu yakin mereka bakal datang?"
"Iyalah, mereka teman baikku"
"Mas itu teman-teman kamu?"
Paijo melongok arah pandangan Saras lalu nyengir kuda. "Iya, itu teman-teman ku SMA, pasukan emplok-emplok!"
"Pasukan apa mas?"
"Emplok-emplok!" ulang Paijo.
"Maksudnya?"
"Lihat saja nanti, pasti mereka kalau ambil makan menjijikkan, kalau belum luber itu piring mereka ga bakal berhenti menambahkan makanan!"
"Hahaha... Hish kamu mas! Pasti dulu kamu juga begitu..."
"Enggaklah... gengsi dong!"
"Satu lagi, mereka itu teman edan, lihat saja nanti malam kalau ada amplop kosong, sudah pasti dari mereka!"
"Wakakaka... kalau iya, bisa-bisa kita ga untung ini mas!" Lalu keduanya terkekeh bersama. Obrolan absurd di atas pelaminan itu setidaknya mengalihkan Paijo agar tidak ingat ranjang melulu.
Sementara di sudut yang lain, Kubro dan tetangga julidin, siapa lagi kalau bukan Bu Tutik dan anak gadisnya sedang berekreasi mencicipi semua makanan di sana.
"Heuuummmm, ini enak, ini enak, enak semua" tutur Bu Tutik yang mengundang cibiran Kubro.
"Jelas enak pesta orang kaya, jangan samakan pesta di kampung kita, rakyat jelata"
"Sekarang ibu percaya kalau Saras itu ternyata anak orang kaya, kamu yang sabar ya nak!"
"Memang kenapa Bu, ibu aja yang selama ini menutup mata, saya tak ada mengharap mas Paijo, lagipula saya sukanya sama Yadi!"
Ibu Tutik hampir tersedak potongan daging saat mendengar pengakuan anaknya yang jatuh cinta pada salah satu karyawan Paijo.
"Jangan buta! Yadi makhluk pemalu itu apa bagusnya?"
"Bagusnya banyak Bu, terlepas dari dosa ghibah karena sedikit bicara, ga kayak ibu!" Setelah mengatakan itu anak Bu Tutik itu melenggang pergi, mengabaikan Bu Tutik yang ngomel dalam hati.
Sedangkan Jay yang ada tak jauh dari sana, tersenyum merasa anak Bu Tutik itu sangat lucu. Huh, ternyata banyak gadis lain yang lebih lucu di banding Saras, meski tetap Saras yang paling cantik.
Menit berikutnya, pelaminan Saras di hebohkan dengan kedatangan Rani dan Hayu beserta pacar mereka masing-masing. Cak Sam juga datang bersamaan dengan mereka. Namun merasa orang tua sendiri, alih-alih naik ke atas panggung, Cak Sam lebih tertarik menyambangi para tetua di sana.
"Happy wedding bestie!" teriak Hayu dengan suara cempreng. Saras membuka kedua tangannya lebar-lebar untuk menyambut pelukan mereka.
__ADS_1
"Makasih, makasih... aku kira kalian ga jadi datang"
"Jadilah gila, masak iya kita ga datang, jahat banget, cuma beda kota aja belom beda samudra, haha..." sambar Hayu
"Selamat ya mas Paijo... akhirnya sah" Ucap Rani yang selalu kalem di banding Saras dan Hayu.
"Ah... terimakasih." Paijo menyambut uluran tangan mereka. "Silahkan bisa langsung menikmati hidangan seadanya..." Maksudnya Paijo setengah mengusir agar dia dan Saras bisa cepat kabur. Saras kira Paijo sudah melupakan niat gila itu.
"Oi... kita sudah pernah makan ya say, lama ga ketemu, Selfi-selfi dulu Yoh!"
Paijo mendengus, untung saja yang sadar cuma Saras. "Mas ga sopan" bisik Saras.
"Ayo boleh, kita foto dulu dong!"
"Mas minta foto ya!" Teriak Saras pada fotografer yang berada tak jauh dari pelaminan.
Beberapa kali jepret tapi mereka seperti tak ada puasnya. Sampai Rani menginterupsi. "Udah Yu, giliran yang lain, gila dari tadi kita kuasai pelaminan Saras!"
"Ga apa kali, seumur hidup sekali, besok-besok si Saras udah ga pakai gaun pengantin, tapi dasteran!"
"Bener ga? apalagi nanti kalau hamil, auto jadi seragam wajib" tambah Hayu lagi.
"Kalau itu masa sudah aku lewati kelessss!" balas Saras. Kedua temannya melongo bingung.
"Tuh lihat bayi gembul yang lagi di rebutin kakek neneknya, itu buah cinta kami... hehe... hebatkan?"
"What! demi Semarang ibukota Jawa Tengah, kamu ga MBA 'kan? tekdung duluan?" tanya Hayu yang nyaris di sumpal tisu mulutnya oleh Saras. Selama ini mereka memang jarang bertukar kabar. Pun Saras tidak pernah cerita drama cintanya pada sahabatnya.
"Enggaklah, kita udah nikah setahun lebih, resepsi nyusul, kayak ga kenal Coronah aja!"
Alasan masuk akal sih. Hayu manggut-manggut percaya saja.
"Owalah, jahat berarti kamu tuh, menyembunyikan kabar baik itu dari kita, kita jadi ga bisa hadir jadi saksi kalian" meski begitu Hayu masih menggerutu.
"Dahlah Hayu, yang penting sekarang kita udah tahu, lagian kayaknya kamu juga ga pantas jadi saksi, otak kamu aja di ragukan ada atau tidak, sini kau periksa!" tembak Rani dengan wajah datar. Sontak mereka tertawa. Saras jadi kasihan sama Hayu, di tembak Rani begitu dia bisa apa, pasti tak berkutik.
"Ya sudah kita turun dulu, mau lihat ponakan juga, bye..."
"Siap.... makan juga jangan lupa!" teriak Saras saat punggung teman-temannya itu berjalan menjauh.
"Kalau itu ga usah di ingetin Saraswati" Cibir Paijo.
"Ye... emang mereka teman kamu, pasukan emplok-emplok! Bedalah!"
Paijo mendengus. "Udah ayok!"
"Kemana?"
"Kabur!"
"Hla kalau di cari bagaimana?"
"Ga apa, lagian ada Abah, serahkan pada Abah kamu yang hebat itu"
Saras masih berpikir bagaimana caranya menghilang dari sana. Pakaian mereka terlalu mencolok untuk menyamar jadi waiters bukan.
"Gimana caranya?"
"Udah kamu ikut aku aja, melipir, kalau di tanya jawab aja kebelet, oke!" Saras akhirnya nurut saja. Lagipula benar juga tubuhnya sudah serasa remuk.
****
Tengah malam di dalam sebuah kamar hotel yang mewah. Berniat mengulang malam pertama mereka di sana. Setelah membersihkan diri dan berbalut baju kimono yang di sediakan hotel, keduanya malah sibuk pijit-memijat. Hingga giliran Paijo yang di pijat, sangking enaknya malah tertidur.
Saras juga lelah, jadi ga mempermasalahkan itu. Dia ikut berbaring di samping suaminya. Hingga pagi tak ada adegan cikidul, yang ada suara ngorok yang saling sahut menyahut.
Ngrooookkkk.... ngroooookkkk.... ngroookkkkkk....!!!!
Hahaha... Paijo dan Saras memang seabsurd itu. Kabur dari pesta dan malah enak-enakan tidur sampai pagi. Padahal di rumah, Haji Bagong muring-muring sejak semalam mereka menghilang.
"Kemana mereka? dasar anak dan mantu gila!"
Blaissssss.....
Hahaha....
...-*Tamat*-...
17/3/2022
Alhamdulillah, akhir kata mohon maaf apabila ada kurang dan salahnya. Terimakasih atas dukungan, hadiah dan vote kalian selama ini.
Saya akan terus belajar menulis untuk bisa menghadirkan karya-karya yang lain.
Terimakasih 😘 Udah tamat ye ye ye....
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1