Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 67: Sabar Bu Sabar!


__ADS_3

"Baik, terima kasih atas kepercayaan anda"


"Saya pribadi pasti akan selalu mengusahakan memberikan yang terbaik,"


"Semoga kerjasama kita semakin lancar kedepannya, dan memberikan keuntungan bagi kedua pihak, sekali lagi terimakasih..."


Paijo rasanya ingin salto, rol depan rol belakang saat ini juga. Proposal kerjasamanya di terima oleh pihak PT. Rimba Indonesia. Salah satu pabrik pengolahan kayu terbesar di Indonesia. Setelah proses kontrak tertulis selesai, dua minggu ke depan Paijo bisa mulai menyuplai bahan mentah berupa kayu sengon. Sesuai permintaan mereka. Mereka bahkan berharap Paijo bisa mengirimkan sepuluh hingga dua puluh rit dalam sehari. Semoga lancar Jo.


Terlalu fokus dengan pertemuan ini, Paijo sampai lupa belum sarapan. Sudah hampir jam sebelas lebih, pantas saja perutnya keroncongan. Paijo jadi pengen makan nasi soto daging. Ah, dia pasti sudah punya warung makan langganan. Jika usaha kayunya tidak mulus, mungkin Paijo bisa banting setir ke kuliner. Atau jadi food influencer saja, wait tapi kamu tidak tampan Jo, minimal seorang influencer makanan kalau tidak tampan ya gemuk ginuk-ginuk gitu. Kira-kira kalau kamu, followermu bakal minat atau minggat Jo? wkwkwk...


Paijo punya indra perasa yang baik, hobi kuliner dan bahkan sudah banyak mengantongi nama-nama warung atau restoran yang recommended. Termasuk warung ini, 'Warung makan Bu Sabar'. Berada di pertigaan jalan raya Kaliwungu, warung ini selalu ramai pengunjung. Saat jam sarapan pagi atau makan siang pasti selalu ramai. Apalagi persis didepan warung ini ada pangkalan ojek. Auto langganan semua di sini.


Nasi soto daging sapi dengan kuah berwarna kuning. Di perasi jeruk nipis di tambah lima sendok sambal, kecap dikit. Nyam-nyam, mantap Jo. Dahi Paijo berkeringat, panas kuah bercampur asam pedas berkolaborasi menjadi rasa yang pecah di mulut.


"Wah Mas Jo, jam segini sudah makan, gasik temen!" itu suara salah satu kang ojek pengkolan. Paijo tidak tahu persis siapa namanya, tapi rekan ojek yang lain memanggilnya Pak No. Pak No langsung duduk di sebelah Paijo dan memesan es jeruk.


"Ehmm... iya, tadi ga sarapan Pak, jadi ini di jamak sekalian makan siang"


Laki-laki yang memiliki jenggot putih itupun menepuk-nepuk pelan pundak Paijo. Kagum. Sebagian besar kang ojek di sana sudah mengenal Paijo. Namanya santer terdengar sebagai pengusaha pemilik pengrajian kayu yang hanya beberapa kilo dari pangkalan ojek. Meski belum lama terkenal, tapi sifatnya yang ramah dan royal membuat kang-kang ojek mudah mengenalinya. Pernah dulu Paijo pagi-pagi mampir ngopi, bersamaan kang ojek yang nongkrong juga. Dia dengan enteng bilang, 'Udah tinggal Pak, saya yang bayar!'


"Sekalian makan Pak No, tinggal pesan aja!" itu bukan tawaran, tapi kalimat perintah. Pak No senyum-senyum, pucuk di cinta ulam pun tiba.


"Suwun Mas Jo, saya hanya haus..." biasalah warga Indonesia yang tinggi akan sifat tidak enakan. Malu-malu tapi mau.


"Eh, saya pesankan sekalian,"


"Bu, tambah nasi soto daging seporsi lagi!"


"SIAP MAS JO!" Suara Bu Sabar menyahuti. Wanita itu dengan cekatan menyiapkan pesanan.


"Wah, saya malah ga enak Mas Jo"


"Santai Pak No... ojek rame?"


Pak No menyeka keringat di dahinya dengan tisu makan yang di sediakan di meja warung. Tisu kasar berwarna hijau. Tidak peduli itu tisu bukan untuk tisu wajah, yang penting keringat terserap gitu aja. Meski pasti ada sisa-sisa tisu yang tertempel di wajah. Beliau kemudian membuang nafas kasar.


"Haaahh... beginilah Mas Jo, apa daya orang tua seperti saya ini, penumpang semakin sepi semenjak kredit motor murah, tiap kepala punya motor satu bahkan ada yang dua, belum lagi anak muda sekarang lebih demen pesan ojek online, ngeri pokoknya Mas,"


Paijo tertegun, nasi soto daging miliknya untung sudah berpindah kedalam perut semua. Kalau belum habis, mungkin daging-daging sapi yang berenang di kuah soto ikut terharu mendengar keluh kesah kang ojek ini.


"Di sabari Pak No, semua pekerjaan memang butuh kesabaran dan ketelatenan"


"Hmm...betul Mas, saya salut sama kamu. Masih muda tapi berani jadi pengusaha" tandas Pak No sambil menyuapkan sesendok nasi soto. Tapi kemudian Pak No sedikit meringis, kuahnya masih panas ternyata. "Huh hah!"


"Pelan-pelan Pak!" Pak No hanya nyengir, perutnya memang lapar, dan bejo sekali ada yang traktir. Apalagi nasi soto daging, jarang-jarang Pak No pesan ini, biasanya rutin nasi rames sama kerupuk acir. Sering malah kas bon juga.

__ADS_1


"Pak No, kira-kira berapa orang yang ada di pangkalan ojek?" tanya Paijo tiba-tiba.


Laki-laki yang kulit tangannya hitam dan keriput itu mulai menghitung dalam hati. "Ada sembilan orangan Mas Jo, kenapa?"


"Oh... baiklah. Pak No, saya harus buru-buru pergi, nanti nitip di bawakan makan siang buat mereka semua ya!"


Paijo bangkit dan langsung memesan nasi dan minuman untuk para kang ojek yang lain.


Pak No terperangah dong. Paijo tidak sempat melirik wajah Pak No yang terhura-hura. Dia sibuk memilihkan lauk yang enak-enak untuk mereka. Bu Sabar senang sekali tentu, sepertinya karyawannya harus masak lagi.


"Yang ini pakai lawuh apa Mas Jo?"


"Samakan aja semua Bu, nasi rames tambah empal!" Wuih, bibir Bu Sabar tersungging dong, daging empal di baskom laris manis tanjung kimpul.


"Ini saya bayar dulu, nanti titipin sama Pak No aja. Saya buru-buru"


"Oke-oke siap tok Mas Jo!"


"Suwun iki wes di larisi!"


"Siiippplah Bu! saya juga sudah kenyang ini"


"Monggo, Pak No duluan!"


Pak No terlonjak, "Enggeh-enggeh, suwun Mas Jo!"


Seorang laki-laki bertubuh kerempeng, lebih muda dari Pak No tergopoh-gopoh menyebrang. "Ada apa toh?"


"Mau makan gratis enggak?"


"Mau, mau, kaliren iki!"


"Nyoh! Bawa semua bagi-bagi sana! Di belikan sama Mas Paijo!"


Mata pria kerempeng itu berbinar, senyumnya melebar selebar bahu jalan tol. "Wuihh... banyak ini! Mas Paijo sing ora bagus tur ireng kae?"


"Lambemu! Di kasih malah bacot!"


"Udah sana! bagi-bagi jangan kamu embat sendiri! bagi yang adil! biar sama-sama kenyang semua!"


"Dikasih ga terimakasih malah menghujat, dasar Kadal!" Pak No ngedumel.


"Hahaha... iya-iya, saya bawa ini. Mayan rejeki!"


"Suwun, Bu Sabar!"

__ADS_1


"Engeh-enggeh!" sahut Bu Sabar dari balik etalase berisi berbagai lauk pauk.


Sementara itu, di balik kebahagiaan mereka semua, ada telinga seorang bapak-bapak Haji yang memerah. Panas. Pak Haji yang tidak pakai kaca mata itu, berdiri menyudahi makan siangnya. "Berapa Bu!"


"Lauknya apa tadi Ji?"


"Nasi mangut, tahu bakso dua, teh hangat,"


"Oh, dua puluh tujuh ribu Ji" Haji Bagong menyerahkan tiga lembar uang puluhan.


"Kembalian ga usah!"


"O... maaf Ji. Ini ada kembaliannya kog. Ga boleh di tolak! Kewajiban saya memberikan kembalian pas, biar ga ada tanggungan kelak di akhirat!"


Di tolak begitu tentu menciderai harga diri Haji Bagong. Setelah tadi dia diam-diam memerhatikan keroyalan Paijo. Haji Bagong merasa tersisihkan.


Sok sekali bocah tengil itu!


Ini juga, penjual nasi aja sok bicara akhirat!


"Ya sudah kalau tidak mau! Baru jual nasi aja udah sok suci!"


Bu Sabar mengerjapkan mata, pembeli baru, bukan pelanggan, pedas juga mulutnya.


Sabar, sabar, nyebut, but---but---but! Untung saya Sabar!


Iyalah Bu itu nama anda bukan?


Wkwkwkwk....


.


.


.


.


.


.


Bahasa Jawa ga perlu di translate Inggris ya?


Pahamkan ibu-ibu?🀣🀣🀣🀣

__ADS_1


Ramaikan komentar dong, saya suka baca komen kalian😁😁😁


__ADS_2