
Setelah menemukan alamat pemberian dari Hajah Maesaroh, nyatanya Paijo belum bisa bernafas lega. Rumah itu sepi, terkunci rapat. Hanya beberapa pasang sandal yang tertata di rak di dekat pintu, yang membuat rumah itu terlihat masih bertuan.
Paijo meninju ke udara, merasa tidak bejo meski sadar namanya Paijo. Beruntung dia masih terfikir untuk kembali menghubungi nomor asing tadi. Di panggilan ke empat, suara seorang wanita baru terdengar menjawab.
"Hallo! apa kamu Paijo? laki-laki yang siang malam di pikirkan keponakan saya?"
Paijo mengulas senyum lega, mantap dia mengangguk-angguk mengiyakan. Padahal seribu kali mengangguk pun Budhe Sri tidak akan tahu jika dia tidak bersuara.
"Heh, kamu dengar tidak!!??"
"Eh... iya--iya, saya Paijo--" belum selesai omongan Paijo sudah terpotong.
"Kalau begitu cepat kesini, Saras saya bawa ke puskesmas. Dia pingsan tadi, kamu dengar?"
"Dengar Bu, ini saya juga sudah berdiri di depan rumah anda tapi sepi, kalau begitu kirimkan alamat puskesmas itu, sekarang juga saya ke sana!"
Sekarang giliran Budhe Sri yang tercekat di sana, belum menjawab ponsel sudah di putus. Dengan bibir mengerucut Budhe Sri mengetik alamat puskesmas itu. Bukan salah Paijo juga sih, tadi perintahnya di suruh cepat. Mungkin Paijo langsung ngilang cling kayak om jin atau langsung terbang naik awan Kinton miliknya Go kong, misalnya.
Meskipun bukan rumah sakit besar, puskesmas itu terlihat lumayan ramai pengunjung. Bangunan gedung berwarna hijau itu memang satu-satunya fasilitas kesehatan di desa terpencil ini. Tidak sulit bagi Paijo menemukan kamar rawat Saraswati. Kini pandangan Paijo bertumpu pada seorang wanita bertubuh gempal berkulit putih, meski tidak muda lagi wanita ini masih terlihat cantik. Kemungkinan besar dia wanita yang sama dengan pemilik suara yang tadi bercakap dengannya lewat seluler.
Wanita itu juga terlihat memindai penampilan Paijo. Dan sialnya Paijo sedang dalam model pengemis jalanan. Berantakan acak adul. Ditatap penuh penghakiman seperti itu tidak membuat Paijo minder lantas kabur ke salon.
"Maaf Bu, apa benar anda Ibu Sri? Budhe Saras?"
"Hmm..." Budhe Sri hanya bergumam. Masih tidak habis pikir, dilihat dari sisi kanan muter ke kanan lagi, laki-laki yang bernama Paijo tidak ada tampan-tampannya. Kenapa keponakannya bisa tergila-gila dengan pria model begini.
Paijo berkaca-kaca, "Sekarang bagaimana keadaan Saras? saya ingin bertemu dengannya, dimana dia?"
Budhe Sri malas menjawab sebenarnya, tadi dia sempat berekspektasi jika meski bernama Paijo mungkin pacar Saras memiliki ketampanan selevel dengan Abang Iz kakaknya Mail bin Mail. Ternyata dia tidak lebih tampan dari Shaggy Scooby-Doo.
"Masuk saja kedalam! Sebelum saya berubah pikiran, saya bukan wanita yang ramah soalnya!"
Paijo tidak kaget, satu rumpun dengan Haji Bagong. Tidak usah di jelaskan saja Paijo sudah bisa membaca tatapan matanya yang dari tadi mencabik-cabik harga diri Paijo. Sudahlah Paijo masuk saja.
Paijo memegang handle pintu dengan perasaan bergetar. Pelan dia memutarnya. Haru dan bahagia, akhirnya sebentar lagi kedua matanya akan melihat Saraswati realpict. Mesti di putarkan lagu melow ini biar kerasa bagaimana perasaan Paijo Paijan, yang hobi jajan. Mata Paijo berkaca-kaca, melihat Saras terbaring. Satu tangannya terpasang selang infus, dan satunya lagi terangkat membentuk siku menutupi matanya. Mungkin dia tidak nyaman tidur disini.
Paijo menyeret kakinya yang berat, terasa seperti terpasang rantai besi yang membuat langkahnya tertatih. Belum genap satu bulan mereka terpisah. Tapi Paijo merasa sudah menghabiskan setengah abad. Paijo meras sedih, jauh dari Saras. Begitupun sebaliknya.
Tere Liye Hum Hain Jiyeh, Honthon Ko Siye
Demi kamu, aku kan hidup dengan mulut tertutup
Tere Liye Hum Hain Jiye, Har Aansoo Piye
Demi kamu, aku hidup dengan menahan semua air mataku
Dil Mein Magar, Jalte Rahe, Chaahat Ke Diye
Tapi di dalam hatiku, cahaya cinta kan terus menyala
Tere Liye, Tere Liye
__ADS_1
Demi kamu, demi kamu
....
Kya Kahoon, Duniyaa Ne Kiya, Mujh Se Kaisa Bair (2x)
Bagaimana aku bisa menggambarkan kekejaman dunia ini
Hukam Tha, Main Jiyun Lekin Tere Baghair
Aku dipaksa untuk hidup tapi tanpa dirimu
Naadaan Hai Woh, Kahte Hain Jo Mere Liyeh Tum Ho Ghair
Bodohnya mereka, yang bilang kau orang asing bagiku
Kitne Sitam, Humpe Sanam, Logon Ne Kiye
Memangnya sebesar apa dosa kita, Cintaku
Dil Mein Magar, Jalte Rahe, Chaahat Ke Diye
Tapi di dalam hatiku, cahaya cinta kan terus menyala
Tere Liye, Tere Liye...
Demi kamu, demi kamu
Backsound melow mengiringi langkah Paijo selesai di putar. Kini raga Paijo sebatas berjarak tepi ranjang dimana gadis itu terbaring. Paijo terguguk menangis. Entahlah dia begitu mencintai Saras sehingga urat malu menangis itu seakan sudah putus jauh-jauh hari.
"Huhuhuhu... hoaaaaaaaaaaa...." Jalankan Saras, tangisan Paijo mungkin akan membangunkan mayat-mayat di kamar mayat puskesmas itu.
Saras perlahan membuka mata karena tangisan itu, lengan yang tadi menutupi matanya yang terpejam sudah berangsur tersingkap. Mendapati Paijo yang sudah duduk di sampingnya dengan sebuah tangisan, Saras agak tercenung.
"Huhuhuhu.... hoaaaaa...hoaaaa..."
Bukankah harusnya Saras yang menangis begitu. Sudah keduluan Paijo yang menangis. Ya sudahlah mending Saras berperan sok tegar saja.
"Mas, Mas Paijo! Aku masih hidup, jangan di tangisi begitu..." tegur Saras dengan wajah datar.
Paijo menghapus air matanya dengan susah payah. Dia juga tidak tahu bisa cengeng seperti ini. "Huhuhuhu... apa kamu tidak terharu wahai Saraswati? aku hampir gila karena jauh darimu,"
"Peluk aku Mas! aku kangen kamu sampai sakit gini!"
Paijo merengkuh Saras kedalam pelukannya. Dua anak manusia itu berpelukan sambil menangis terguguk. Cukup lama.
Budhe Sri yang melihat dari sela pintu yang sedikit terbuka, ikut menghapus air mata. Diam-diam dia bisa merasakan betapa besar cinta mereka berdua. Daripada trimbilan mengintip mereka berpelukan, Budhe Sri memilih merapatkan pintu pelan dan pergi mencari makan, lapar juga ternyata setelah menggotong-gotong Saras yang pingsan. Yah meski di bantu tetangga juga. Dia sendiri mana kuat, mana bisa.
Selesai dengan tangis-tangisan. Mereka berdua mengobrol melepas rindu.
Saras duduk bersila di atas ranjang dan meminta Paijo untuk duduk di hadapannya. "Mas, duduk sini!" ucapnya sambil menepuk-nepuk tempat kosong di hadapannya.
__ADS_1
Paijo merenggut tidak percaya diri. "Tidak, aku sini aja, aku bau ternyata..."
Saras tersenyum geli, "tadi aja aku udah minta peluk, masak iya gara-gara bau apek kamu minder Mas, hehe..."
"Aku juga belum mandi dari kemarin sore hlo..."
"Kayaknya kita sama-sama bau badan Mas," Saras nyengir setelah mengatakan itu. Meskipun dalam hati dia juga prihatin melihat Paijo dengan penampilan semrawut. Saras hanya diam, tidak mau menyuarakan hatinya. Takut Paijo tambah minder terus pulang mutung.
Pakaian Paijo masih sedikit ames, wajar jika agak bau apek. "Mas emang ga pakai jas hujan pas kesini? segitu mendalami peran yah?" goda Saras lagi.
"Huh, asal kamu tahu Yunita Saraswati binti Haji Bagong yang terhormat, aku tadi harus rela berdiri di bawah air hujan, mengemis di depan rumah kamu, agar Hajah Maesaroh mau memberi tahu dimana kamu."
"Oh ya? kamu ke rumahku dulu?"
"Iya... soalnya ada yang langsung pingsan setelah bilang minta di jemput, dasar!" Saras terkekeh. Takdir sepertinya punya hak menentukan jalannya sendiri. Siapa sangka sakitnya Saras membawa berkah.
"Saras, aku pengen tahu, kenapa kamu sampai di sembunyikan seperti ini? apa sebegitu tidak setujunya Haji Bagong dengan hubungan kita?"
"Saras, aku ga mau jauh dari kamu lagi,"
"Aku ga bisa!'
Saras memang belum sempat bercerita, dia kembali ingat dengan kehadiran Bambang tempo hari. "Sekitar dua minggu yang lalu, Mas Bambang datang ke rumah. Entah, aku juga masih bingung, bisa-bisanya dia tiba-tiba datang dan menuduh aku hamil. Abah marah besar Mas. Aku bingung saat itu. Dituduh hamil sama kamu, padahal ciuman aja kita belum pernah," Kalimat terakhir Saras entah mengapa mengusik jiwa Paijo. Paijo diam menunggu Saras melanjutkan bicara.
"lebih sadis lagi aku di tuduh menggugurkan kandungan apa ga gila itu!"
"Emang bangsat banget itu si Bambang medit, gara-gara dia Abah tambah sengit sama kamu Mas,"
"Tapi tunggu Mas, kenapa saat itu Bambang bilang kalau Ibu kamu katanya datang kerumahnya dan yang bilang aku hamil ya Ibu kamu? Apa Mas tahu sesuatu?"
Paijo mengatupkan mulutnya, satu hal itu memang dia belum bercerita pada Saras. Siapa sangka improvisasi Salma membawa dampak serius di kemudian hari seperti ini.
Ada yang bisa bantu Paijo menjawab?
.
.
.
.
.
.
Ditulis dari pukul: 00.32-2.38, 1243 kata, mohon feedback ya emak-emak.
Like, komen, di kencengin,
makasih emuacccchhh😘
__ADS_1