
Dua Minggu berkutat dengan skripsi dan tumpukan buku-buku. Bolak balik ke kampus untuk bimbingan atau sekedar nongkrong di perpustakaan untuk menikmati WiFi gratis. Saraswati masih menikmati perjuangannya menjadi mahasiswa semester akhir.
Semua terasa damai sejahtera, Abah hanya sesekali menanyakan kabar. Bambang lenyap bak di telan bumi. Rekor orang yang rutin berkomunikasi dengan Saras masih di pegang oleh Paijo. Besok weekend, tidak ada salahnya Saras berkunjung ke tempat Paijo. Mumpung masih banyak uang, Saras pengen mentraktir Paijo cilok atau cilor, terserah Paijo pilih yang mana nanti.
Mau bersantai dan berpesta kerupuk tayamum dengan duo racun juga kerupuknya sudah tatas habis dalam hitungan hari. Saras juga bingung mereka suka atau rakus.
****
Weekend selalu membawa aura bahagia bagi para pekerja, kecuali Paijo. Sepertinya dia hanya libur jika dia mau dan di dua hari raya seperti Idul Fitri dan Idul Adha. Para pekerja sudah membersihkan diri masing-masing. Sabtu jam kerja mereka hanya setengah hari saja. Mesin-mesin sudah di matikan dan akan bergaduh kembali besok Senin pagi. Sedangkan Paijo? Lihatlah pemirsa, dia masih di bawah kolong mesin. Mengotak-atik sendiri dengan kunci inggris yang sepertinya juga butuh liburan.
Kaos hitam dengan lubang kerah sudah sender, di padukan celana pendek hitam sobek-sobek. Wajahnya yang tidak tampan belepotan oli, tidak hanya itu, kedua telapak tangan dan kakinya sudah tidak rupa. Alias dari ujung kepala sampai kaki, Paijo sudah masuk katagori tidak layak di pandang walau sedetik. Kotor dan kumal.
Sangking asyiknya bekerja dia tidak sadar jika pabrik sudah sepi. Sampai beberapa jam kemudian tenggorokan terasa kering. Paijo butuh minum. Dia bangkit dari kolong dan sejenak berdiri mengamati mesin yang sedang dia perbaiki.
Walaupun dia bos, bekerja sesuai passion memang membuat orang tidak mudah puas. Nyatanya dia juga mendapat kebahagiaan saat bersusah payah menyelami dunia permesinan.
Sedetik kemudian Paijo ingat butuh minum. Es teh Pak Gondrong di tepi jalan sepertinya menyegarkan. Berhubung tidak ada orang yang bisa di suruh, Paijo pergi sendiri ke warung. Biasanya tinggal bilang haus, maka es teh ataupun es-es yang lain langsung tersaji. Setelah bersusah payah mencari sepasang sandal swallow yang tak kalah burik dari si empu yang punya. Paijo pun melenggang ke warung dengan tampilan yang masih tak layak di pandang tadi.
Warung Pak Gondrong selalu ramai pembeli, selain nasi mangut yang terkenal enak, es teh di sana juga menyegarkan. Entahlah, cuman es teh yang nampak biasa tapi penggemarnya luar biasa. Paijo ikut berjubal di sana. Tatapan jijik orang-orang sama sekali tidak dia galebo. Dia hanya ingin membeli es teh seperti yang lain.
Sebagian orang yang mengantri di depan pintu warung yang hanya sepetak itu menyingkir. Seorang wanita berbadan gemuk dengan lipstik merah konyos-konyos melirik sebal juga pada Paijo.
"Bu, es teh manis satu, bungkus!"
Wanita itu lagi-lagi melirik tajam, Paijo masih dengan wajah datar. Tidak peduli. Sejurus kemudian sebungkus es teh di sodorkan dengan tatapan mengusir.
"Nih! nih! bawa sana pergi yang jauh! Hush...!"
Paijo membatin, apa karena tampilannya yang begini sehingga dia di perlakukan tidak adil oleh dunia? Hiks...hiks..
Paijo menerima sekantong plastik itu dan mengulurkan uang kertas dua puluh ribu. Masih dengan raut wajah datar.
"Ga usah bayar! Pergi sana cepat!"
Paijo pengen geleng-geleng kepala atau ngelus dada dengan sikap si ibu. Tapi dia juga sadar jika tampilannya saat ini memang tidak layak di pandang apalagi di banggakan. Paijo meletakkan uang itu di meja.
"Ini uangnya, ga usah kembalian. Buat Ibu aja!"
Ibu warung bertubuh gempal berlipstik konyos-konyos itupun mencibir. "Wah, orang gila saja sombong!"
Paijo masih dengar, tapi dia enggan membalas. Tujuannya membeli es dan kewajibannya membayar sudah dia penuhi, bahkan dia membayar lebih. Tidak mengucapkan terimakasih malah menghardik. Sebenarnya siapa disini yang gila. Paijo akhirnya istighfar dalam hati.
__ADS_1
Pembeli yang mendengar nampak berpikir. "Eh Buk, orang gila kog punya uang? jangan-jangan dia orang waras!"
"Iya bisa jadi, harusnya kamu ya kudu malu sama dia."
"Memang kenapa?"
"Hla dia orang gila punya uang, beli es teh ngasih tips. Situ... waras tapi ngutang?"
Pembeli itu kicep. Dia sadar bon utang miliknya sudah tercatat bolak-balik di buku besar. Mau malu juga perutnya butuh makan. Sedangkan uang hasil upah proyek hanya cukup untuk di berikan pada istri dan anak di rumah.
Sementara itu, Paijo berjalan santai dengan menyedot sekantong es teh seharga dua puluh ribu. Dia berhenti ketika suara tawa perempuan yang dia kenali memenuhi gendang telinganya.
BUAHAHAHA....
*****
Beberapa menit yang lalu...
Saraswati turun dari taksi online yang dia tumpangi. Mumpung masih banyak uang dan berhasil mendapatkan promo saat memesan taksi online. Dia memilih naik taksi itu di banding naik bus yang harus berkali-kali berhenti untuk menaikan atau menurunkan penumpang. Kenapa Saras tidak pakai motor saja? Jauh dan butuh dua jam perjalanan. Saras malas, lagipula biar ada alasan diantar Paijo pulangnya nanti, misalnya.
Berniat rehat sejenak di depan warung, memesan es good day coklat biar harinya semakin berasa. Saraswati duduk di bangku bawah pohon agak jauh dari warung. Namun, dirinya masih sanggup mengamati seonggok orang yang dia kenali namun saat itu sedang di beri label "Orang gila".
"Nih! nih! bawa sana pergi yang jauh! Hush...!"
"Ga usah bayar! Pergi sana cepat!"
Tawanya hampir pecah, tapi dia tidak mau menambah malu laki-laki yang terlihat mengenaskan itu. Saat laki-laki itu keluar dengan sekantong es teh di tangannya. Saraswati segera membayar minumannya dan cepat menyusul laki-laki itu.
****
BUAHAHAHA...
"Puas ketawanya?"
"Hahaha ... haduh, haduh, bentar Jo perutku sakit. Hahaha..." Saras memegangi perutnya, sangking geli cacing kremi diperutnya juga ikut ketawa.
HAHAHA...
"Hahaha... ya ampun... hahaha... Paijo kamu termasuk orang yang menganiaya dirimu sendiri,"
Masih dengan wajah pura-pura datar. "Apa apa?" Campur sisa jengkel tadi.
__ADS_1
"Paijo marai laler! Hahahaha..."
Sialan, sejak kapan dia berada di warung. Kenapa aku tidak melihatnya tadi?
Tidak mau lama-lama jadi bahan tertawaan gadis yang dulu sering dia jahili saat kecil, Paijo membalas Saraswati.
"Iya, kamu termasuk laler itu ternyata. Tiba-tiba datang tanpa di undang."
Seketika tawa Saraswati berhenti. Berganti bibirnya yang manyun.
"Daripada jadi lalat, mending jadi larva. Imut kayak yang di kartun..." Dia tidak terima di anggap lalat, walaupun benar dia muncul dengan sendirinya.
"Sama aja, habis jadi larva kamu juga bakal jadi lalat. Ga ada yang mending."
"Atau kalau mau," Paijo memberi jeda.
"ga opo-opo wes, aku dadi wong edan asal kamu sing dadi lalere. Hahaha..."
Saraswati jengah, "Ga keren sama sekali," Walaupun begitu, dia juga tersipu malu. Dan memilih tertawa untuk menutupi rasa itu.
Mereka tertawa bersama, dan berjalan beriringan menuju pabrik. Yang laki-laki kumal mirip orang gila dan yang perempuan cantik jelita bak bidadari keseleo.
Pembeli yang sempat komentar tadi ternyata masih setia mengamati.
Wah, kayaknya besok aku harus merubah judul dongeng untuk Sulis, putriku. Bukan 'Beauty and the beast' tapi 'Beauty and the crazy man'.
Pembeli itu manggut-manggut dan kembali menyuapkan sesendok nasi mangut yang akan dia bayar Minggu depan, kalau ada sisa ganjian.
.
.
.
.
Kalian ketawa ga sih? sama kisah receh ini?
balas di komentar ya
like yang banyak🥰🥰🥰🥰
__ADS_1