Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 102: Pikiran Yang Keliru


__ADS_3

"Sudah berapa bulan kamu menghukum saya begini?"


"Saya sudah mengalah, sudah memberi ijin kamu untuk tinggal disini sementara,"


"Apa kamu tidak kasihan sama saya?"


"Saya masih suami kamu"


Hajah Maesaroh tak bergeming. Andai kata Haji Bagong bersujud di bawah kakinya sekalipun, dia tak akan gentar. Gunung batu itu harus segera di robohkan. Jika selama ini Hajah Maesaroh bersikap layaknya air yang terus menetes di atas batu, dan berharap batu itu akan segera berlubang, namun sekarang dia tak ingin lagi seperti itu. Hajah Maesaroh bertekad menjadi bom waktu saja. Sekali batu itu masih keras juga, dia hanya perlu mengatur waktu untuk meledak.


"Saya juga masih menjalankan kewajiban saya sebagai istri, jangan lupa itu" jawab Hajah Maesaroh cepat.


Sudah lima bulan terakhir ini Hajah Maesaroh tinggal di rumah orang tuanya. Dan Haji Bagong bersabar ikut pulang ke sana, demi istrinya. Meski ternyata tidak mudah membujuk istrinya itu untuk kembali pulang ke rumah.


"Bukankah seorang istri itu harus menurut apa yang di perintahkan suami?"


"Saya anggap ini bukan perintah, tapi permohonan, ayo kita pulang ke rumah"


Hajah Maesaroh tersenyum sinis, "Saya capek Abah, kalau di minta mengulangi permintaan yang bahkan sudah berkali-kali saya ucapkan"


"Kuncinya hanya di Abah, Abah bawa kembali anak kita pulang, baru Umik bersedia pulang juga,"


"Gampangkan?"


Giliran Haji Bagong yang tersenyum getir. "Abah tidak perlu melakukan itu, mereka hanya belum bosan hidup melarat dan menderita"


"Suatu saat nanti, Abah yakin mereka akan memohon, bahkan mengemis untuk kembali ke rumah kita"


Hajah Maesaroh membuah muka. "Hah? Apa yang membuat Abah percaya diri sekali, jika mereka selama ini hidup melarat dan menderita?"


"Apa Abah pernah sekali saja mencari tahu bagaimana kehidupan mereka?"


"Saras bahagia hidup bersama pilihannya, asal Abah tahu!"


Hening sebentar. Seorang laki-laki yang sombong itu bahkan tidak ada guratan yang menyedihkan sedikit pun saat meminta istrinya pulang. Hatinya masih sekeras batu. Dan belum juga menyadari jika rumah tangganya di ambang kehancuran.


Tarik ulur, siapa yang kuat bertahan. Hajah Maesaroh bahkan sudah pasrah jika di ceraikan. Dia tidak mau lagi tinggal di dalam cangkang, yang mengungkung nya selama ini. Sudah cukup perannya sebagai istri sholehah. Dia tidak akan sanggup jika diminta untuk se sholihah seperti istrinya Fir'aun. Hajah Maesaroh tertekan selama ini, dan ini sudah cukup.


"SAYA TIDAK PEDULI!!!"


Jawab Haji Bagong mengakhiri malam ini, kemudian dia pergi, pulang kerumahnya sendiri. Tanpa Hajah Maesaroh lagi. Sejauh ini Haji Bagong masih bertahan. Bahkan dia sama sekali tidak terpikirkan untuk berpisah atau menceraikan istrinya. Meski cintanya pada Maesaroh sebesar itu, tapi pada kenyataannya, keangkuhan dan kesombongannya sama besarnya.


****


Di belahan bumi lain. Paijo dan Saras tengah menikmati makan malam mereka. Di sebuah kafe ternama, dengan nuansa bangunan Kolonial Belanda. Romantis. Di iringi musik band lokal dan hiasan lampu yang temaram. Saras dengan senyum tersungging mengunyah makanannya. Mereka duduk di meja dekat jendela besar yang menghadap jalan utama. Gereja Blenduk yang menjadi salah satu icon di kota lama bahkan bisa mereka lihat dari tempat mereka duduk.


Semua sesuai dengan ekspektasinya, tanpa Saras harus mengungkapkan dulu pada Paijo. Paijo memang sehebat itu memahami Saraswati.


"Aku seneng kamu udah bisa makan apa aja,

__ADS_1


jadi semakin semangat buat cari uang, biar terus bisa beliin kamu makanan yang enak-enak"


Saras hanya mencibir, mau protes tapi tentu saja bukan waktunya. Malam ini Saras masih mau romantis ala roman picisan. Mau kerja keras seperti apa lagi. Pikir Saras. Selama ini Paijo bahkan sudah masuk ke kategori orang yang gila kerja.


"Mas itu enak ga?"


Meski sudah pesan banyak makanan, tetap saja rasanya makanan di piring suaminya lebih menggoda. Padahal hanya sepiring pasta. Dan Paijo dengan telaten mulai menyuapi Saras makanan dari piringnya.


Saras hanya perlu membuka mulut dan mengunyah makanan itu se-elegan mungkin. Tapi alih-alih merasa romantis, Saras malah merasa seperti bayi besar yang sedang di suapi ayahnya.


"Kenapa makanan Mas Paijo lebih enak ya, padahal menu biasa, yang aku pesan lebih mahal juga padahal..." gerutu Saras.


"Itu karena aku nyuapi kamu dengan penuh kasih sayang, Aaaaaa... lagi..." dan Saras terus membuka mulut saat Paijo mengulurkan sendok garpu berisi pasta itu di depan mulutnya. Sampai makanan di piring Paijo tandas.


Perut Saras kenyang sudah, karena tak sebegitu tahu dirinya, suaminya belum sempat makan banyak.


"Mas aku khilaf, kamu pesan makan lagi aja ya, bentar biar aku pesenin," Saras hampir bangun dari duduknya, namun di tahan Paijo.


Paijo kemudian tertawa melihat penyesalan di wajah Saras. Perutnya memang masih kosong karena hanya sempat makan sedikit dan malah sibuk menyuapi Saras, tapi Paijo senang melihat istrinya makan banyak malam ini. Tak apa Paijo bisa makan lagi nanti.


"Aku nanti gampang, yang penting istri sama calon anak mas udah kenyang" Paijo menyingkirkan piring-piring di meja bekas makan mereka, lalu kemudian meraih tangan istrinya. Entah mengapa hati Saras jadi berdebar. Debar yang begitu hebat,debar yang sama, seperti awal dia jatuh hati pada laki-laki di depannya.


"Aku ga bisa romantis, kamu tahu, tapi tunggu beberapa menit ke depan, tolong jangan tertawa!" Paijo menatap mata Saras penuh keyakinan, sembari mengatur jantungnya yang tak kalah berdetak hebat. Saraswati istrinya dan calon ibu dari anak yang kini ada dalam kandungannya. Betapa Paijo bangga dan bersyukur bisa memilikinya. Bahkan andai Paijo memiliki dunia dan seisinya, dia tak akan segan memberikan itu di pangkuan Saras.


"Sayang, all the gold and diamond in the world are not enough to buy... the love I have for you"


"Aku Ahmad Ranvir Al Ghazali atau yang kamu cintai dengan nama panggilan mas Paijo, sangat mencintai kamu istriku, terimakasih sudah mau menerima aku yang jauh dari kata sempurna, terimakasih karena kamu sudah mau mengandung anakku juga"


"meski kata-kata dalam bahasa Inggris tadi aku dapat dari Mbah Google, aku harap kamu terpesona..."


"Aku hafalin itu dari kemarin, hehe..."


"Dimaklumi ya kalau ejaannya masih blekutuk-blekutuk... kayak air lagi mendidih..." Paijo nyengir setelah bersusah payah bersikap romantis. Saras jangan ditanya, wajahnya merah karena haru sekaligus malu.


Bagaimana tidak malu, jika mejanya kini jadi pusat perhatian. Pengunjung meja lain bahkan bertepuk tangan memuji keromantisan mereka.


"Suit... suit... Mas sama Mbaknya keren meni euiiii..."


"Lanjutkan mas! Monggo..." celetuk pengunjung yang lain.


Saras tersenyum malu-malu. Suaminya entah belajar dari mana, cara gombal receh seperti ini. Padahal ga perlu di kasih cincin pun Saras sudah bahagia. Saras tidak menyangka Paijo akan seromantis ini.


"Aku ga tau mau ngomong apa, aku... happy banget pas di ajak kesini, aku seneng bisa makan berdua seperti ini, aku ga ada kepikiran minta apa-apa lagi,"


"Dan kamu beri cincin ini sama aku?"


"Kayaknya aku ga perlu tanya lagi seberapa besar cinta kamu mas... kamu udah kasih semuanya sama aku"


"Sebagai suami, kamu jauh di atas ekpektasiku"

__ADS_1


"terimakasih mas... I love you more and more..."


Paijo tersenyum lega, lalu mengecup tangan Saras. Rasa kasih sayang dan cinta ini sudah selayaknya di pupuk agar selalu melekat dan mengendap di hati. Mereka saling mencintai. Itu yang paling sederhana.


"Btw mas, apa kamu ga ngerasa hambur-hambur uang, kemarin kamu udah tebus perhiasan aku hlo... dan ini kamu kasih cincin berlian ke aku? ga eman-eman?"


Dan pada akhirnya Saras adalah istri sekaligus bendahara pemegang uang milik Paijo. Dia pintar menghitung dan mengatur pengeluaran. Jika suaminya membelanjakan dia berlian, tentu saja tabungan mereka berkurang banyak.


"Dih, harusnya ga usah bilang gitu. Aku lagi nyenengin istriku hlo ini... ga ada kata eman-eman buat kamu sayangku..."


Paijo jadi gemas sendiri lantas menowel hidung Saras.


"Pas banget cincinnya mas," kata Saras masih menerawang takjub sebuah cincin berlian di jari manisnya. "Kamu kog bisa tahu sih ukuran jariku mas..." tanya Saras penasaran. Bahkan saat menikah dulu mereka tidak membeli cincin kawin. Pernikahan yang buru-buru asal Sah di mata agama itu membuat Saras tidak mau pusing minta aneh-aneh dulu. Meskipun Paijo sudah berniat membelikan, Saras menolak dengan dalil bisa buat pegangan kelangsungan hidup mereka paska menikah.


"Kamu ga bakal ingat, pas kamu tidur waktu itu, aku diam-diam ukur jari manis kamu sama tali rafia, hahaha..." Paijo terkekeh sendiri mengingat kelakuannya sendiri.


"Apa? tali rafia? gila... ga ada yang lebih estetik gitu mas..." cibir Saras.


"Hahaha.... ga apa sayang, yang penting yang aku kasih ke kamu cincin berlian bukan rafianya..."


Saras tertawa senang. Benar juga sih. Saat mereka berdua tertawa, tiba-tiba Saras merasakan sebuah tendangan bebas di perutnya. Paijo bahkan melihat sendiri bagaimana perut Saras tiba-tiba bergetar sepersekian detik.


Saras meringis, "Woahhh... mas anak kamu ini kayaknya ngambek gara-gara dari tadi ga diajak bercanda"


Paijo tertawa lagi. Lalu mengelus perut istrinya. "Anak Apak, sabar ya, satu bulan lagi... nanti kamu pasti Apak ajak guyonan..."


Dielus-elus begitu jabang bayi di dalam perut Saras lulut. Saras menghela nafas lega setelah di rasa perutnya sudah tak sekencang tadi.


"Oke... sekarang kita jalan-jalan sebentar yuk mas, aku pengen punya foto dengan spot bangunan tua, atau di persimpangan jalan depan juga bagus... ayok mas!"


Kegiatan wajib, bersua foto untuk di simpan sebagai koleksi di galeri hp Saraswati. Saraswati bahagia, bagaimana bisa di lain tempat Abahnya berpikir Saras hidup melarat dan sengsara. Salah besar Pak Haji!!!!


.


.


.


.


.


Maybe tinggal 2 atau 3 bab lagi ya...


menuju ending...


enaknya happy atau sad ending?


Ramaikan komentar dan jangan lupa vote ya🙈😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2