Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 21: Pelan-Pelan Saja


__ADS_3

Saras tercekat saat bertemu dengan B di depan kos. Pria klimis itu berdiri santai bersandar pada mobilnya.


"Mau kemana?" B tersenyum, padahal kedua temannya bilang kemarin dia terlihat menahan marah.


"Aku kira kamu sudah tidak mau berhubungan dengan 'ku lagi?" jawab Saras menutupi kegugupannya. Rencana ingin ke rumah Cak Sam terpaksa di panding kalau begini ceritanya.


B tersenyum lagi, lama-lama Saras horor apa otak pria klimis di depannya sudah konslet. "Ikut aku, aku sedang bahagia hari ini."


"Kita makan enak!" ajaknya dengan wajah sumringah.


Saras mengamati interior restoran yang terlihat estetik itu. Baru pertama kali B mengajaknya ketempat bagus seperti ini. Dalam rangka apa, Saras bertanya-tanya dalam hati. Tak lama menunggu, menu steak yang di pesan B tadi tersuguh di hadapannya. Saras sempat melirik tadi, harga sepotong daging yang di sajikan di atas tempat batu panas itu harganya cukup merogoh kocek. Apa B tidak akan jantungan nanti?


Belum ada percakapan lagi. B asyik dengan Hpnya. Selain pelit ternyata dia cukup exis. Beberapa kali dia memotret steak di hadapannya. Heran, dia mau makan atau mau pamer ke seluruh dunia kalau hari ini dia makan enak? Bisa di pastikan setelah di foto, makanan itu langsung di posting ke media sosialnya.


"Makan! kenapa hanya di lihat?"


Ucapan B membuyarkan lamunan Saras. Dia sendiri kenapa pakai acara fotografi makanan? memang bisa kenyang?


Saras memotong daging tipis itu menjadi bagian kecil-kecil. Kalau dia makan bersama Hayu dan Rani sudah di pastikan dia meminta tambahan nasi putih. Makan steak saja mana kenyang.


"Mas kenapa terlihat sangat bahagia? bukankah harusnya mas marah ya sama aku?"


B tersenyum, memotong steak pelan dan dengan elegan menyuapkan ke dalam mulutnya . "Marah? untuk cemburu karena pacarku pergi berdua dengan tukang bakso lagi?"


"Hah... ayolah Saraswati. Kalau kamu mau cerita di ajak berjualan keliling bakso sampai mana, aku mau dengerin kog."


"Marah di tempat bagus dan makanan semahal ini? percuma dong. Aku lebih tahu bagaimana caranya bersikap agar bisa melampiaskan kemarahan 'ku...,"


"Maksudnya?" Saras merasa aneh, tapi otaknya terlalu suci untuk berburuk sangka.


"Nothing, aku sedang bahagia. Please, hargai kebahagiaan 'ku hari ini." Saras diam tak merespon.


"Well, sudah lihat berita warung bakso milik teman kamu itu?"


"Cuihhh... menjijikan. Aku menyesal seumur hidup karena sudah pernah makan di sana."


Oh... bukan sudah pernah, tapi sering sekali. Makan di sana karena tentu saja tidak akan menguras isi dompet 'mu. Aku paham sekali.


"Ya, aku tahu. Tapi aku tidak percaya."


"Why? bisa kamu jelaskan? sedekat apa kalian sebenarnya?" Saras masih diam.


"Saraswati, kamu cantik, terpelajar, orang tua kamu terhormat. Apa kamu tidak bisa cari teman yang selevel? tukang bakso tikus hlo itu."


"Ups, sori kita sedang makan makanan mahal. Tidak seharusnya aku membicarakan ti-kus,"


Saras terlalu bingung menjawab apa, rasanya tidak terima jika Paijo di bicarakan buruk seperti itu. Dan warung bakso Cak Sam? Saras tahu jika lelaki tua itu jujur dalam berdagang.


"Mas, aku rasa ada orang yang sengaja menyabotase. Mungkin saingan antar pedagang. Yang jelas aku tidak suka kalau mas Bambang ikut-ikutan mengomentari."


Raut wajah B sedikit tercekat, tapi cepat-cepat dia buat datar kembali.


"Kenapa? tidak terima? atau jangan-jangan kamu sudah terjerat cinta dengan tukang bakso itu?" Wajah Bambang sudah merah, menegang karena emosi. Saras lihat itu. Tapi B masih kekeh menutupi kemarahannya.


Apa ini saatnya Saras menyudahi saja. Hubungan pura-pura, pura-pura mencintai Bambang sangat melelahkan ternyata.

__ADS_1


"Mas... dia teman 'ku. Aku tidak suka ada orang yang berbicara buruk pada teman 'ku. Aku hutang nyawa hlo sama dia..." dan hutang budi, karena berkat uang pemberiannya aku bisa jajan hari ini.


"Terus, apa aku perlu secara pribadi mengucapkan terimakasih sama dia?"


"Terimakasih sudah menyelamatkan nyawa pacarku, atau, terimakasih sudah mengajak pacarku selingkuh? aku bingung yang pas yang mana,"


Sumpah ya itu mulut pengen aku rajut. Motif renda-renda cocok sepertinya.


"Mas, kita putus aja ya!?" Entah keberanian dari mana, mulut Saras lancar sekali mengucapkan itu dalam satu tarikan nafas.


B berdecak, "Really? kamu yakin mau mengorbankan kuliah kamu yang hanya kurang satu semester ini? masih ingat ancaman Abah kamu 'kan? beliau tidak akan membiayai kuliah kamu jika kamu tidak nurut."


"Kamu pikirkan itu...!"


Saras berdiri dari duduknya, persetan bagaimana nanti nasib biaya kuliah akhir semester ini. Yang jelas sekarang juga dia harus mengakhiri hubungannya dengan pria klimis yang pelitnya bikin ngelus dada. "Hubungan kita belum terlalu jauh, keluarga kamu juga belum resmi datang ke rumah. Terimakasih sudah mengingatkan tentang biaya kuliah. Jika sampai Abah tega tidak mengirimi 'ku uang. Aku bisa bekerja atau jual ginjal sekalian. Jadi jangan khawatir."


"Duduk Saraswati! Jangan membuat 'ku berbicara keras di depan banyak orang!" Saras tetap tak bergeming.


"Bapak Bambang yang terhormat, masih ingat bukan? Anda seorang Pegawai negeri di Balaikota. Jadi saran saya, anda lanjutkan saja makan anda. Tidak perlu meneriaki 'ku apalagi mengejar 'ku sampai depan. Please, ini bukan novel jadi jangan dibuat ribet!"


"Malam ini kita putus, sekian..."


"Terimakasih untuk makanan ma-hal-nya, saya bakal ingat-ingat terus kalau sudah di traktir makanan mahal oleh anda," sindir Saras lagi.


Saras berjalan meninggalkan B, sedangkan B masih duduk rapi di kursinya. Tangannya mengepal di atas meja. Menggenggam selembar tisu yang terlipat rapi menjadi kusut tak berbentuk. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Saras akan berani memutuskan hubungan mereka.


Ga bakal semudah itu Saraswati, ga bakal semudah itu!


Bambang dengan santai menyesap minumannya lagi.


Malam hari Paijo kembali berjalan memutari alun-alun. Langkah kakinya menyusuri trotoar, melewati lalu lalang orang dengan tatapan kosong. Dari kejauhan sana Paijo menatap sendu pada warung bercat hijau yang sekitarnya terpasang police line.


Warung yang selalu ramai kini seperti bangunan kuno yang teronggok. Dia merasa iba dengan sang kakek, bagi pria renta itu warung miliknya seperti separuh nyawanya.


"Paijo 'kah itu?"


Paijo menengok kearah suara, "Saras... sedang apa disini?"


"Aku tadi ke rumah Cak Sam, beliau bilang Paijo ke warung. Jadi aku nyusul kesini."


"Tapi ini alun-alun bukan warung, gimana kamu tahu aku di sini?"


Saras menjatuhkan pantatnya di tanah berumput di samping Paijo. Mereka berdua duduk bersila di pinggir alun-alun. "Aku lacak lewat GPS, hehe..." keduanya tersenyum.


"Cak Sam bilang kamu sangat sedih. Padahal yang seharusnya paling sedih Cak Sam."


Paijo menarik bibirnya tipis, lalu menengadahkan kepalanya menatap langit. "Aku merasa tidak berguna, aku tidak bisa membantu apa-apa..."


Saras ikut menengadahkan kepalanya. Langit sangat indah malam ini, bertaburan bintang walau hanya samar-samar. "Jo, Tuhan menciptakan apapun itu ada tujuan dan manfaatnya. Bahkan tai pun yang menjijikkan masih ada manfaatnya."


"Kenapa kita sebagai manusia harus merasa rendah diri?"


Paijo menoleh, dari beribu kosakata dalam kamus bahasa Indonesia, kenapa gadis di sebelahnya ini memilih kata tai untuk mengutip quote. Sungguh Paijo tak habis pikir.


"Apa kamu tidak bisa cari kosakata yang lain?"

__ADS_1


"Hahaha... itu sudah paling bagus. Jarang-jarang hlo aku berbicara bijak."


"Kamu bukannya tidak bisa melakukan apa-apa, cuman belum ketemu jalan keluarnya." Keduanya diam sejenak, menyelami pikiran masing-masing.


"Aku curiga orang yang bikin ribut itu yang sengaja melakukan ini. Aku bersumpah akan menemukan orang itu dan menjebloskannya ke penjara!"


Saras menghela nafas. "Aku malah berpikir bagaimana caranya agar warung kakek kamu bisa di buka lagi secepatnya."


"Memang mengembalikan nama baik itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi justru itu yang harus kita buktikan."


"Daripada harus memburu orang yang tidak jelas. Lebih baik kita fokus membuka warung lagi. Kita harus mendapatkan surat ijin usaha resmi dari dinas. Kita juga bisa meminta argumen masyarakat agar mendukung kita."


"Aku yakin masih banyak orang baik di sini. Kebanyakan dari pelanggan setia warung bakso Cak Sam juga pasti berpikir yang sama. Pasti masih ada kepercayaan di hati mereka."


Paijo menyimak, benar juga yang di katakan Saras. Daripada membuang tenaga mencari orang itu, lebih baik fokus mengembalikan nama baik kakek.


"Kamu benar,..." Paijo menatap warung bakso Cak Sam lagi. Warung jadul yang jauh dari kata kekinian. Tiba-tiba bayangan untuk merenovasi warung itu muncul begitu saja di pikiran Paijo. Iya benar, warung Cak Sam harus tampil dengan wajah baru.


Mata Paijo berbinar, "Saraswati, aku sudah punya ide. Maukah kamu membantu?"


"Benarkah? apa itu?"


Paijo menggebu-gebu menjelaskan detail ide yang baru saja terlintas di benaknya. Kini dia merasa bersemangat untuk menyambut besok.


"Bagaimana menurut 'mu?"


"Briliant... aku tidak menyangka jika ternyata seorang Paijo smart juga. Hah, membuat aku menyesal saja..."


"Kenapa?"


" Aku belum cerita ya, aku putus sama Bambang, tadi sore,"


Paijo tersenyum, entah mengapa hatinya berdesir senang. "menyesal putus dengan Bambang?"


"Bukan, menyesal karena dulu aku pernah melakukan kesalahan. Jika saja aku tidak mengatakan pada keluarga 'ku, kalau ibu kamu berbohong saat itu, mungkin sekarang kita sudah bertunangan."


Wajah Paijo bersemi, apakah ini artinya Saras menaruh hati padanya?


"Apa aku boleh GeEr?" tanya Paijo bego.


"Hahahaha...." Saras hanya tertawa dan itu membuat Paijo jadi gila.


Malam itu Saras juga merasa gila, sore dia memutuskan hubungan dengan Bambang dan malam hari, dia bahkan nyaris mengungkapkan perasaan dengan laki-laki yang pernah dia sumpahi. Pelan-pelan saja Saraswati!


.


.


.


.


.


like dan komen yang banyak, wkwkkwwk😁

__ADS_1


__ADS_2