Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 35: Aku Tunggu Kamu Pulang!


__ADS_3

Malam hari euforia kelulusan mereka masih berlanjut. Paijo menyanggupi untuk mentraktir mereka makan. Kali ini bukan bakso cak Sam, Saras sedang ingin makan yang pedas-pedas.


Alhasil mereka memilih warung 'SS', singkatan dari suka sambal, yang sudah terkenal akan varian sambal yang lebih dari tiga puluh jenis.


"Pesan apa saja yang kalian ingin makan!" perintah Paijo jumawa.


Tentu perintah itu di terima dengan ikhlas, ikhlas banget malah. Meja mereka penuh dengan makanan dan minuman. Gurami bakar, ayam bakar, bebek bakar, jamur krispi, cak kangkung, pecel terong, aneka buah pencuci mulut. Dan sangking kalapnya Saras memesan tambahan berbagai sambal di sana.


Dari sambal bawang, sambal terasi, sambal teri, sambal mata, sambal mangga muda, sambal Pete, sambal jengkol, hingga sambal dabu-dabu. Paijo melotot tidak percaya. Jika orang akan mabuk setelah minum alkohol, Paijo rasa malam ini Saras akan mabuk sambal.


"Kamu bisa sakit perut Saraswati!" Yang di beri peringatan malah menaik turunkan alis, menggoda. Sudah beberapa suapan nasi hangat beserta berbagai sambal tadi masuk ke perut Saras. Tapi gadis itu belum juga terlihat kepedasan. Paijo sampai ngilu dan ngeri.


"Mas Paijo tidak tahu, kalau Saras itu doyan pedas? dia ratu cabe tau."


"Jadi jangan heran kalau dia sering ngomong pedas, kayak mercon gepuk."


"Hla amunisinya cabe..." Hayu yang bibirnya sudah mulai panas, tidak risi untuk nimbrung.


Sedangkan Rani yang kalem memilih makan anteng daripada tersedak biji cabe. Pasti pedesnya sampai mata.


"Mantap sekali, coba deh Mas sambal yang ini"


"Asli bikin nagih!" Saras mengangsurkan secobek sambal mangga muda. Yang pasti terasa pedas bercampur kecut. Paijo menggeleng, dia juga suka pedas tapi masih baik hati memikirkan lambungnya yang pasti akan cidera jika makan sambal seperti itu.


Perut kenyang, mulut panas terbakar, mata berair, telinga jadi budek. Indikator sambal pedas seperti itu yang baru bisa di akui Saraswati. "Huaaahhh... ini baru namanya sambal. Bukan kaleng-kaleng..."


****


Setelah makan kenyang, Rani dan Hayu memutuskan untuk pulang. Sedangkan Paijo dan Saras masih berlanjut berkeliling mencari jajan. Saras pengen kebab, jaga-jaga kalau malam hari terbangun dan lapar. Dia tidak bisa menahan lapar orangnya. Bisa langsung pusing kepala Barbie.


Jauh di lubuk hati sana, sebenarnya Saras galon, maksudnya galau. Sesuai janjinya pada Haji Bagong, setelah selesai kuliah dia akan kembali ke Semarang. Tapi bagaimana mengatakannya pada Paijo. Saras merasa mulutnya kaku, pikirannya buntu.


Paijo yang tingkat kepekaannya tinggi, memulai mengangkat topik itu.


"Bagaimana setelah ini?"


Saras yang sejak tadi pura-pura fokus mengamati kebab yang sedang di girang di atas penggorengan agak tersentak. "Hah, apanya?"


"Rencana 'mu setelah lulus? apa?"


Saras menelan ludah, "Hmm... sama seperti yang lain, mencari kerja. Biar tidak jadi bahan gunjingan tetangga."


Paijo tersenyum tipis. "Apa kamu akan kembali ke Semarang?"


Bagai memecahkan piring Hajjah Maesaroh di rumah, sama berdebarnya, pertanyaan Paijo sederhana tapi rasanya menyayat hati. Tiba-tiba tenggorokan Saras menjadi kering. Dia menyedot kuat-kuat es cappucino cincau yang di belinya sebelum mengantri kebab tadi.


"Apa kamu tidak bisa mencari kerja di sini saja?"


"Apa kamu akan meninggalkanku?" tanya Paijo dengan raut melas.

__ADS_1


"Sebenarnya aku sudah berjanji pada Abah. Selesai kuliah aku memang harus pulang."


"Aku juga sedih, tapi ayolah beberapa bulan ini kita bisa LDR. Sama saja, beda jarak. Ini hanya agak jauh." Saras memaksakan tersenyum dan kembali mengedarkan pandangan pada kebab.


"Apa kamu yakin bisa?"


"Aku rasa aku bisa mati jika tidak melihatmu berbulan-bulan."


"Sial, aku tidak sadar sudah tergila-gila sama kamu."


"Kalau begitu, kenapa tidak kamu ikut pulang saja. Apa kamu tidak merindukan rumahmu?"


"Huh, aku tidak mungkin pulang. Kamu lupa, aku sudah bersumpah tidak akan pulang ke rumah sebelum kaya,"


Paijo sudah pernah menceritakan pada Saras, perihal hubungannya dengan Ayahnya yang tidak baik. Berkali-kali Saras menasehati agar Paijo mengalah, tapi dia masih bersikeras menolak. "Kaya monyet? atau kayak siamang?"


"Aku tidak tahu seperti apa perlakuan ayah kamu dulu Mas, tapi yang aku tahu se salah apapun orang tua, sebagai anak sudah sewajibnya kita yang mengalah."


"Pulang dan minta maaf, aku yakin tidak ada orang tua yang benar-benar membenci anaknya." Paijo masih diam.


"Kamu percaya aku mas, walaupun nantinya kita masih harus berjuang dengan hubungan ini. Aku pasti mau berusaha, sampai kita berdua sama-sama bisa mendapatkan restu orang tua."


"Maaf mbak, ini kebabnya sudah jadi."


Saras menerima bungkusan itu dan menyerahkan sejumlah uang pada penjual. Sangking sedihnya, Saras dan Paijo tidak sadar tempat. Entah mereka paham atau tidak obrolan mereka. Malam ini, walaupun perut kenyang tapi hati Saras tidak senang.


"Kapan kamu pulang?"


Setelah itu tidak ada percakapan lagi, Saras tenggelam dalam kesedihan. Dia hanya bisa memeluk Paijo erat-erat saat membonceng. Menempelkan kepalanya di punggung Paijo yang lebar. Paijo sama, membisu dan hanya fokus meniti jalan malam yang mulai sepi. Seakan malam itu juga mereka akan berpisah.


Hari berikutnya mereka masih bertemu. Paijo rela tidak bekerja. Dia memilih setia menjadi tukang ojek Saras seminggu ini. Mengantarnya ke kampus dan kemanapun yang Saras mau. Serta membantunya berkemas ini dan itu.


"Sudah tidak ada yang tertinggal 'kan?"


"Ada, pasti ada." jawab Saras cepat.


"Apa?"


"Hatiku, tertinggal untuk Mas Paijo."


"Hish, kamu ini! masih bisa bercanda padahal sebentar lagi kita berpisah."


"Aku serius, kamu mau pergi jangan sampai ninggal hutang!"


"Heh, Paijo! aku mau pulang ke Semarang. Bukan mau mati!"


"Mas...!" Paijo melirik tajam, karena mulut Saras yang keceplosan.


"Hehe... iya maaf Mas Paijo."

__ADS_1


"Habisnya, kamu bicara seolah aku mau mati saja. Sembarangan, aku belum mau mati, sebelum kisah cinta kita happy ending."


"Haha... terimakasih ya..."


"Terimakasih kamu sudah mau berusaha, aku juga pasti berusaha. Jadi pejuang LDR"


"Semangat Yoh! Kita bisa!" ucap Paijo yang mengandung sarkasme.


Mereka terkekeh kemudian, siapa sangka dari menolak perjodohan, terus berantem dan memaki, bisa berubah jatuh cinta dan harus berjuang untuk hubungan mereka. Andai mereka bisa membaca masa depan, pasti saat di jodohkan dulu mereka iya-iya saja.


Walaupun terasa berat, Paijo tetap melepas kepergian Saras. Dia sendiri yang akan mengantar Saras sampai stasiun kereta. Saras berpamitan pada Hayu dan Rani dan ibu kos tentunya, mereka berpelukan sambil menangis sesenggukan.


"Jaga diri baik-baik, ingat kita kalau kamu lagi makan ya!" pesan terakhir Hayu melepas kepergian Saras. Yang hanya di balas dengan anggukan kepala karena Saras masih terisak.


"Iya, jangan lupa undang kita kalau kamu mau nikah. Sejauh apapun kami pasti usahakan datang." Saras memeluk sahabatnya itu erat-erat. Enggan melepaskan kalau tidak ingat jam keberangkatan kereta.


Sepanjang jalan dia memeluk lengan Paijo. Kali ini Paijo menyewa mobil lagi mengingat barang bawaan Saras dua koper besar dan satu ransel besar. "Jangan nangis lagi, mata kamu sudah sembab gitu. Nanti malah sakit!"


Lengan Paijo sudah basah karena air mata Saras sejak tadi tidak ada jedanya berhenti.


"Hiks...hiks... hiks... huaaaa... "


Srooottt....!


Saras menyeka hidungnya karena ingus yang ikutan mengalir tumpah-ruah.


"Kemarin sok bijak, GPP hanya beda jaraknya agak jauh. Sekarang malah cengeng nangis gini!"


"Kalau ga mau pulang, jangan pulang." Paijo juga sedih, tapi dia malu kalau harus nangis di hadapan Saras. Nangisnya nanti saja kalau sudah di kamar.


Tidak menjawab apalagi mendebat seperti biasa. Saras terus menangis. Memuaskan tangisannya, sebelum sampai stasiun.


"Hiks... hiks... aku pulang dulu Mas, aku tunggu kamu pulang juga, secepatnya!"


Setelah berpamitan mereka harus rela berpisah. Kereta beroda besi itu perlahan meninggalkan stasiun. Saras melambaikan tangan dari jendela kereta. Sungguh saat ini dia merasa seperti tokoh Anjeli yang di perankan oleh Kajol dalam film Kuch-Kuch Hota Hai. Paijo hanya bisa berdiri terpaku, dengan mata berkaca-kaca.


Aku mencintaimu Saraswati, sangat mencintaimu,


.


.


.


.


.


jangan lupa like dan komen, bagi hadiah.

__ADS_1


Dukung terus ya, doakan lolos review biar Mas Paijo dapat kontrak di NT. Suwun🙏🥰


__ADS_2