Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 50: Tak Tik Paijo


__ADS_3

Hinaan yang di terima Paijo masih terngiang di telinganya. Jika hanya kehormatan dan kekayaan yang bisa membuat orang bahagia. Tentu tidak akan ada orang sukses, terhormat, dan kaya raya yang rela mati bunuh diri. Nyatanya, banyak di temukan di media massa, artis tenar mati overdosis, orang terkaya di dunia mati gantung bunuh diri, dan banyak lainnya. Tanpa harus di absen satu-satu.


Andaikan setiap manusia sadar, bahwa apa yang kita miliki hanya sebatas pinjaman dari Tuhan. Tentu saja tidak akan ada kisah ratu Bilqis yang sombong dan Qarun yang mati di telan bumi karena kikir menumpuk harta.


Paijo hanya pemuda biasa, hanya anak kepala desa yang ingin sukses dengan jalannya sendiri. Paijo sadar pendidikan itu penting, tapi apa gunanya sebuah gelar jika pola pikir manusianya sama saja. Lulus sarjana, melamar pekerjaan di perusahaan orang lain, jika belum juga mendapatkan pekerjaan dia akan berpangku tangan menunggu. Atau pilihan yang lain dia akan bekerja di tempat yang sebenarnya tidak sesuai dengan harapan, hasilnya dia tidak bisa bekerja dengan maksimal.


Atau ada juga yang berkali-kali mengikuti tes CPNS yang rumit administrasi dan soal-soal yang memusingkan? Coba terus berharap kali ini akan lolos. No, itu bukan Paijo.


Paijo itu orang yang berpenampilan sederhana, namun memiliki pemikiran yang brilian. Itulah mengapa dia lebih merasa cocok menjadi sebagai seorang wirausahawan. Ini jalan yang dia pilih. Bukan maksud meremehkan orang berpendidikan, bukan. Ini hanya masalah mengambil jalan masing-masing. Dan Paijo sepemikiran dengan jalan yang diambil Bob Sadino, 'setinggi apapun pangkat yang anda miliki, anda tetaplah karyawan. Sekecil apapun usaha anda, anda tetap bosnya.'


Jadi walaupun hanya tukang kayu, Paijo tidak malu. Dia justru merasa bersyukur, setidaknya di setiap keringat yang menetes ada kepuasan tersendiri dari dalam hatinya. Itu salah satu nikmatnya.


Paijo menghembuskan nafas berat. Hampir pagi, dan semalaman dia tidak bisa tidur nyenyak. Jika memang Haji Bagong menginginkan menantu yang terhormat dan kaya raya. Maka Paijo harus bisa membuktikan itu. Bukan tujuan jahat, apalagi menyombongkan diri. Justru hinaan dari Haji Bagong akan dia jadian motivasi diri. Syukur-syukur jika diijabah jadi crazy rich, hehe.


Paijo memantapkan diri untuk hijrah. Dia berniat mendirikan pabrik yang sama, namun bukan di Malang lagi. Tapi di sini, di kota Kendal. Di tanah dimana dia dan Saraswati dilahirkan. Agar Haji Bagong bisa melihat lebih dekat, bagaimana kerja kerasnya di bangun. Bukan bermodal warisan apalagi subsidi pemerintah. Paijo ingin berdiri di kakinya sendiri.


****


Semalaman tidak tidur nyenyak, tidak membuat Paijo balas dendam untuk tidur di pagi hari. Jika orang sering mengatakan 'bangun yang pagi agar rejeki tidak di patok ayam' maka Paijo berpikir; menjemput Saras pagi-pagi sekali agar tidak di gondol orang.


Paijo sudah berdiri di depan pagar rumah Saraswati. Satpam yang menjaga pintu, sudah mirip malaikat penjaga neraka. Maklum, ternyata namanya juga sama, Malik. Walaupun tentu bisa di pastikan malaikat Malik pasti lebih garang lagi. Paijo tidak punya cita-cita bertemu dia di akhirat kelak, tidak! Paijo lebih ingin masuk surga. Malik satpam sama sekali tidak tersenyum. Bisa jadi Haji Bagong sudah memerintahkannya agar tidak memberi ijin masuk saat Paijo datang.


Tidak apa-apa Paijo tidak sakit hati, yang terpenting Saras masih mau menemuinya. Gadis yang dia cintai hingga lupa mencintai dirinya sendiri itupun muncul dengan berlari-lari kecil. Saras sudah rapi dengan setelan baju kantornya.


"Buka pintunya Pak!"


"Tapi mbak..." ragu, Malik terlihat bingung harus mematuhi perintah siapa.


"Abah melarang kamu membuka pintu untuk mas Paijo, lakukan saja. Tapi aku tetap berkuasa untuk keluar masuk lewat pintu ini. PAHAM!"


Di bentak begitu, Malik langsung mengkerut. Dia akhirnya membukakan pintu untuk Saras.


Saras menyambut Paijo dengan senyuman termanis. Paijo saat ini merasa hatinya di penuhi kupu-kupu yang berterbangan.


"Berangkat sekarang?"


"Hayuk..." tanpa sungkan Saraswati merangkul lengan Paijo. Paijo senang-senang saja, tapi dia takut kesetrum.


"Biasa aja tangannya, ga takut di lihat Haji Bagong?" Saras gemas mencubit pinggang Paijo hingga dia mengaduh kesakitan.


"Ini adalah bentuk eforia lihat kamu pagi-pagi. Ga di hargai malah di bully. Dasar memang!"


Paijo bersiap memboncengkan Saras, dia juga sempat sok romantis membantu Saras memakai helem. "Hehe... maaf. Aku juga seneng lihat kamu, tapi aku takut kesetrum jadi jaga jarak aman saja."

__ADS_1


Saras tidak menangkap maksud Paijo. Dia manyun dan hanya naik membonceng.


"Ga mau pegangan? nanti kalau jatuh jangan salahkan aku hlo,"


Saras sebal sendiri, "Hish, tadi di gandeng ga mau, sekarang minta di peluk!"


"Haha... aku ga minta peluk, aku bilang pegangan yang bener. Ampun, Saraswati segitunya pengen meluk ya?"


Wajah Saras merona, malulah. "Udah jalan, pagi-pagi udah ceriwis aja!" hardik Saras yang kedua tangannya sudah berpegangan di ujung kantong jaket Paijo. Saras jaga image, ga mau nempel-nempel lagi. Kapok.


Walaupun mata Saras terlihat seperti baru di gigit tawon, setidaknya pagi ini dia bahagia karena bisa diantar Paijo berangkat kerja. Sebelum sampai kantor mereka sempat sarapan bubur ayam di alun-alun. Saras tidak pernah menuntut Paijo untuk serba wah, Saras mencintai Paijo yang sederhana dan punya jiwa pengertian yang tinggi. Bagi Saras itu sudah cukup.


"Nanti pulang aku jemput lagi. Jangan khawatir, dengan berjalannya waktu Abah kamu pasti luluh." Saras mengangguk mantap. Saras percaya Paijo.


"Kamu beneran ga sibuk, antar jemput aku?"


"Ah... kamu lupa. Aku pengangguran selama disini. Jadi, aku bakal ada setiap waktu buat kamu" Saras terkekeh, menertawakan Paijo yang mulai mengoceh manis meski tidak menambahkan gula.


"Oh ya, bagaimana dengan atasan kamu, Jamalun? masih suka goda kamu?"


"Jamalga, kamu ih enak banget ganti nama."


"Iya, dia..."


Saras menggeleng kali ini. "sudah tidak lagi. Beberapa hari ini sudah tidak pernah kirim makanan dan bunga. Syukurlah, aku jadi bisa bernafas sekarang."


"Ya harus, harus percaya!" Saras terkekeh lagi.


Sangat singkron dengan mata bendulnya. Dia banyak senyum saat bersama Paijo. Maka dari itu dia yakin jika bahagianya dengan Paijo bukan dengan yang lain.


"Aku masuk kerja dulu, kamu hati-hati pulangnya."


"Iya, kamu juga hati-hati di dalam. Aku tahu pasti banyak garangan di dalam. Macam atasan kamu!" sindir Paijo lagi.


"Udah jangan di omongin terus, kasihan entar kecakot-cakot orangnya."


****


Sore harinya, Paijo menjemput Saras dan langsung mengantarkannya pulang ke rumah.


"Kamu mau mampir beli jajan apa?"


"Tapi di bungkus aja, makan di rumah."

__ADS_1


"Kenapa ga makan di tempat saja?"


"Heh, Saraswati kita masih dalam pantauan. Aku yakin sekali Abah kamu tidak akan suka, jika aku sering telat mengantarmu pulang!"


Saras manggut-manggut, " Benar juga, manut aja deh sama mas Paijo."


"Umik kamu sukanya apa? nanti di belikan sekalian"


"Umik suka gethuk goreng. Tapi lihat nanti yang jualan ada enggak."


"Nanti jangan lupa beli sekalian," Paijo mewanti lagi, padahal baru saja dia bahas, mereka masih jauh dari alun-alun Kendal.


"Iya, sekalian ga tanya Abah sukanya jajan apa?"


"Enggak, Abah kamu jelas ga suka aku. Kalaupun aku belikan apa yang dia suka, pasti dia menolak. Jadi percuma saja."


"Aku ga ada niat menyogok Haji Bagong dengan makanan. Aku harus memikirkan cara lain. Yang lebih tepat dan akurat."


"Misalnya?"


"Bawa kabur kamu!" Celetukan Paijo tentu saja mendapat hadiah cubitan keras dari Saras.


"Waduhhhh... aish... mesti keluar jurus cubitan!" Omel Paijo. Untung saja dia masih bener mengendarai motornya.


"Meskipun aku cinta mati sama kamu mas, aku ga mau kawin lari."


"Hehe... becanda Saraswati. Aku juga ga mau, aku pasti perlakukan kamu secara baik dan terhormat."


"Aku bakal minta kamu dari orang tuamu secara baik-baik. Jangan khawatir..."


Kali ini Saras yang berbunga-bunga. Pengen meluk singset dari belakang. Tapi otak Saras masih ingat catatan tadi pagi. Ya udah di belakang Saras senyum-senyum sendiri.


Hehe....


.


.


.


.


.

__ADS_1


Like dan komen bagi hadiah dan vote seikhlasnya. Terimakasih banyak.


Semoga kalian terhibur😁


__ADS_2