Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 90: Di Rundung Kesepian


__ADS_3

Hajah Maesaroh sudah di bolehkan pulang setelah tiga hari menginap di rumah sakit. Perlengkapan pribadinya sudah tertata rapi di sebuah tas jinjing berwarna coklat muda. Haji Bagong juga sudah selesai mengurusi administrasi rumah sakit. Waktunya pulang.


Haji Bagong sendiri begitu senang karena istrinya sudah sembuh dan boleh pulang. Meski sikap istrinya masih sedingin es balok, tak apa, kalau tidak besok ya besoknya lagi, Haji Bagong yakin Hajah Maesaroh akan kembali melunak padanya.


Namun saat mereka sudah berada di dalam mobil. Satu kenyataan harus membuat Haji Bagong berpikir ulang tentang pemikirannya tadi.


"Antarkan saya pulang ke rumah orang tua saya,"


Haji Bagong tercekat, untung tidak lupa bernafas. "Kenapa? kenapa tidak mau pulang ke rumah?"


"Abah ingat pesan dokter bukan? saya masih butuh istirahat, saya tidak boleh tertekan atau banyak pikiran"


"Apa tinggal dengan saya, kamu merasa seperti itu?"


"iya..." jawab Hajah Maesaroh lugas. Sedikit pun dia tidak berani menatap suaminya. Pandangannya lurus menembus kaca mobil di hadapannya. Sedangkan Haji Bagong tentu saja menahan amarahnya diam-diam. Selama ini tidak ada yang berani menentang perintahnya, baik keluarga besarnya apalagi istrinya. Tapi sekarang, anak-anak dan istrinya bahkan sudah berani melawannya. Bukan melawan, tapi lebih tepatnya berani bersikap. Bagaimana pun kesehatan mental itu lebih penting bukan?


"Maesaroh....harusnya kita tidak bahas ini sekarang. Saya kecewa saat tahu, ternyata kamu diam-diam menemui anak itu,"


"ANAK ITU?" kali ini Hajah Maesaroh berani meninggikan suaranya. "Anak itu Abah bilang?"


"DIA ANAK KITA!!!"


"Auchhhhhh....!!!" Hajah Maesaroh mengerang, memegang kepala, kepalanya kembali pusing saat emosinya meledak-ledak. Padahal ini baru awal mereka bicara setelah berhari-hari Hajah Maesaroh membungkam mulutnya.


"Hai... apa saya bilang, kamu masih sakit, kita pulang sekarang, jangan bahas ini dulu!"


Segarang-garangnya Haji Bagong, Maesaroh istrinya, tentu saja dia khawatir dengan keadaan istrinya.


"Tolong... saya mau pulang ke rumah saya, ke rumah orang tua saya" Hajah Maesaroh mengiba, sembari masih memegang kepalanya yang berdenyut.


"Oke! Saya antar kamu ke rumah Ibu-Bapak, tapi untuk beberapa hari saja, kamu boleh di sana"


"Saya akan pulang sendiri, kalau saya sudah mau pulang"


****


Sementara itu di rumah, Saras khawatir setelah tahu ternyata ibunya jatuh sakit. Kemarin, dia bersama Paijo nekat kerumahnya. Tentu saja setelah memastikan Haji Bagong tidak ada di rumah. Saras dan Paijo hanya berdiri di depan pintu gerbang, lantas memeroleh informasi itu dari Malik, satpam yang berjaga pagi itu.


Selebihnya, Malik tidak mau memberi tahu di mana ibunya di rawat. Saras bersumpah, akan memecatnya jika suatu hari nanti dia di akui kembali oleh Haji Bagong sebagai anaknya.


Kepala Saras tiba-tiba pusing. Makan tak berselera. Ingin setiap waktu di temani Paijo tapi itu juga mustahil. Suaminya itu terlalu sibuk di luar rumah. Sebenarnya Saras juga bosan di rumah sendiri, meski sedikit-sedikit dia juga bisa membantu pekerjaan Paijo di rumah. Mengawasi para pekerja, misalkan.


Saras hanya bisa mendoakan semoga Umiknya lekas sembuh dan bisa kembali mengunjunginya kemari.


Umik, maafkan Saras belum bisa menjenguk Umik....huaaaa....hiks...hiks ...


Saras menangis sendiri di dalam kamar. Di tambah perutnya terasa kram. Saras menebak jika tamu bulanannya akan kembali datang. Lebih baik di buat tiduran dulu, siapa tahu setelah bangun nanti semuanya akan baik-baik saja. Pusingnya akan hilang, perut kramnya juga. Lalu berharap suasana hatinya juga bisa membaik. Pelan tapi pasti, dengkuran halus terdengar. Saras tertidur dengan air mata yang masih basah di sekitar mata dan pipinya.


*****


Baru sekarang oh aku rasakan


Tak punya istri rasanya kesepian


Tiada tempat untuk mencurahkan


Rasa rinduku oh serta kasih sayang


Barulah satu bulan diriku ditinggalkan

__ADS_1


Ya Allah Ya Tuhan hindari godaan syaithan


Baru sekarang oh aku rasakan


Tak punya istri rasanya kesepian


Tiada tempat untuk mencurahkan


Rasa rinduku oh serta kasih sayang


Barulah satu bulan diriku ditinggalkan


Ya Allah Ya Tuhan hindari godaan syaithan


....


...Duda- Mas'ud sidik...


Satu bulan berlalu, Haji Bagong terpekur sendirian duduk di ruang tengah di dalam istananya. Tidak ada lagi senyum istrinya atau tawa anak-anaknya. Haji Bagong kesepian. Dia merasa tembok-tembok, jam lonceng besar berlapis emas, foto-foto keluarga yang terpajang di dinding, semuanya menertawakan kesendiriannya. Apa baru sekarang dia bisa merasakan kesedihan itu, atau selama ini dia yang pintar menutupi kesedihannya itu?


Haji Bagong bukan duda yang di tinggal mati istrinya, bukan juga seorang laki-laki yang mandul lantas tak punya anak. Keegoisan dan sifat kerasnya sendiri yang membuat dia kehilangan keluarganya. Kedua anaknya pergi, dan sekarang istrinya pun tidak mau di bujuk untuk pulang.


Sayup-sayup terdengar lantunan lagu dangdut lawas itu. Asalnya dari lorong sayap kanan rumahnya. Tempat di mana para asisten rumah tangganya tinggal. Termasuk kamar para satpam.


Baru sekarang oh aku rasakan


Tak punya istri rasanya kesepian


Tiada tempat untuk mencurahkan


Rasa rinduku oh serta kasih sayang


Barulah satu bulan diriku ditinggalkan


Ya Allah Ya Tuhan hindari godaan syaithan....


"BEDEBAH!!!!"


"SIAPA YANG BERANI MEMUTAR LAGU ITU!!!!'


Teriakan Haji Bagong di ikuti suara vas bunga yang pecah karena kemurkaannya.


PRANGGG...!!!!


Tidak ada yang menyahuti, para asisten rumah tangga memilih pura-pura terlelap tidur daripada menerima amukan Haji Bagong.


Sedangkan Malik yang menjadi tersangka, karena sudah memutar lagu itu sambil minum kopi di samping rumah, langsung mematikan musik. Malik mengutuk dirinya sendiri dalam hati, dan tiba-tiba saja membenci box musik yang selama ini dia bangga-banggakan akan suaranya tajam dan jernih.


"AGGGGHHHHHHhH....!!!!" Haji Bagong berteriak histeris. Bunyi pecahan kaca kembali terdengar. Puncaknya, jam lonceng besar berlapis emas itu tak luput jadi sasaran amukannya.


"Aku sudah gila! Hahaha...."


"Aku gila karena sudah di tinggal anak dan istriku!!!!!"


"Puas kalian?!!!! PUAS???!!!!!"


"PUAS KALIAN MENERTAWAKAN AKU HAH?!!!"


"ATAU KALIAN INGIN AKU MATI HAH!????"

__ADS_1


"HAHAHA... TIDAK AKAN! HARTAKU BANYAK, AKU AKAN HIDUP DUA RIBU TAHUN LAGI!!!"


Sombongnya lama-lama mengalahkan Fir'aun ya?


"KALIAN ORANG-ORANG MISKIN YANG AKAN MATI DULUAN, HAHAHA...."


"UHUK, UHUK, UHUK!!!!!!"


Haji Bagong terbatuk-batuk setelah mencaci maki tidak jelas.


Di dalam kamar dua orang wanita beda usia, beringsut di bawah selimut sambil berbisik-bisik.


"Mesti kae Malik sing nyetel dangdutan mau, gendeng tenan pencen!"


"Iyo, marai Tuan Kaji ngamuk, kesetanan koyo ngono..."


"Mak Yem, Kono tilik'i sampean, Tuan Kaji nak kenopo-nopo, aku wedi!"


"Wegah! mbok pikir aku rak wedi. Senajan aku puluhan tahun melu Tuan Kaji, krungu suarane wae aku wes mengkorok!"


"Yawes Mak, mengko dewe resik-resik nak Tuan Kaji wes mlebu kamar"


"Koyo ngono yo, mergo ulahe dewe, anak bojo sampe rak betah ning omah"


"Percuma sugih, uripe merana!"


"Hush! Cangkem mu, Ojo kebablasen nak ngomong! Tuan Kaji mireng, mati kuwe!"


"HMmmmbbbbbb.... Iki aku mingkem Mak!"


Dan malam itu suasana di rumah Haji Bagong begitu mencekam. Tidak ada satu orang pun yang berani mendekati pemilik rumah itu. Haji Bagong menangis, nelangsa mendalam, membenci dirinya sendiri. Merasa gagal menjadi suami sekaligus ayah dari anak-anaknya.


"Pulang, saya sendirian di rumah, kalau kamu disini terus, saya sama siapa di rumah?"


"Harusnya, Abah sadar begitu, sebelum kedua anak perempuan kita pergi,"


"Kita semakin menua, siapa yang akan menemani, merawat kita, kalau Abah menganggap anak kita mati, padahal mereka masih hidup!'


"Saya tidak akan pulang sebelum Abah sadar dan mau menerima mereka kembali!"


Potongan percakapannya dengan sang istri kembali terngiang di telinga Haji Bagong.


"TIDAK! MANA MUNGKIN SEMUDAH ITU!"


"HAH!!!"


.


.


.


.


.


.


terimakasih yang masih mau mengikuti kisah mereka ya... Ceritain dong perasaan kalian baca part ini, di kolom komentar ya🤭

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏


__ADS_2