
Kepanikan Mama Rosa karena kembali di teror, nampaknya menular pada Saras. Saras yang duduk bertiga di ruang keluarga bersama Abah dan Umiknya di rundung kecemasan yang sama. Televisi masih menyala, menampilkan Mama Rosa yang terbaring di tempat tidur rumah sakit.
Hajjah Maesaroh yang biasanya tidak akan rela kelewatan meski sekilas adegan, kali ini harus ikhlas karena di ikut sertakan rapat dadakan.
"Saras," baru di sebut namanya bulu halus di tangan Saras sudah berdiri, merinding.
"Abah mau bicara serius sama kamu, kali ini Abah tidak mau dengar alasan apapun."
"Abah mau kamu cukup nurut saja!"
Saras menunduk dengan hati bergemuruh. Andaikan dia punya keberanian untuk mendebat. Padahal sejak dulu Saras selalu nurut. Kecuali kuliah di Malang. Dia harus mati-matian meminta ijin pada Abahnya saat itu. Saras yang hanya terfikir setidaknya bisa merasakan dunia luar, hidup jauh dari keluarga, bebas seperti burung merpati, menikmati masa muda, terpaksa menyanggupi saat Haji Bagong mengajukan persyaratan agar dia bersedia di jodohkan dengan siapapun pilihan Abahnya. Dan malam ini seperti dugaan Saras, Haji Bagong menagih janji.
"Kamu sudah selesai kuliah, Abah sudah memberi kebebasan sama kamu selama kuliah di Malang."
"Walaupun pertunangan 'mu dengan Bambang gagal. Tapi Abah tidak akan berhenti mencarikan kamu jodoh."
Pria berkumis yang sudah berkali-kali naik haji itupun merogoh kantung bajunya. Kemudian mengeluarkan dua buah foto dari sana dan meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Saras. Sedikit pun Saras tak bergeming.
"Lihatlah dulu, kemudian pilih salah satu. Yang mana yang ingin kamu temui terlebih dahulu."
"Kali ini Abah masih berbaik hati, memberikan kamu kesempatan untuk memilih."
"Yang ini namanya Gunawan, pegawai negeri di Kejaksaan." Tunjuk Haji Bagong pada foto laki-laki berkepala plontos.
"Dan ini Mahfud, guru agama Islam di SMA Kendal, sudah PNS juga."
Saras menelan ludah dengan susah payah. Pilihan yang sulit, bukan karena keduanya terlihat tampan dan pasti sukses dengan jabatan masing-masing. Tapi rasanya sangat sulit karena hati Saras sudah penuh dengan cinta Paijo. Mata Saras berkaca-kaca, siap meneteskan air mata kapan saja.
"Abah..." suara Saras bergetar. Tenggorokannya tercekat tak mampu melanjutkan bicara lagi.
Saras melempar pandangan pada ibunya, memohon pertolongan.
"Saras maksud Abah..." Tangan Haji Bagong terangkat, memberi tanda agar istrinya itu tidak perlu bicara apapun. Hajjah Maesaroh langsung diam. Seketika suasana ruang keluarga itu terasa mencengkeram.
"Kamu bisa pilih salah satu sekarang!"
Mata Saras mau tak mau memindai dua foto di hadapannya. Otaknya di peras agar bisa menentukan pilihan, laki-laki mana yang sekiranya bisa dia ajak berkompromi untuk menggagalkan perjodohan ini.
Gunawan, gundul dan menawan. Tampan memang, tapi sepertinya seseorang yang bekerja di kejaksaaan pasti bawaannya tegas, galak menyeramkan. Big No!
Pilihan yang kedua, Mahfud tidak kalah tampan, pandangan matanya juga teduh. Terlihat kalem dan penyabar. Jika di ajak berkompromi akankah dia mau? Dia guru agama, harusnya lebih mudah menjelaskan jika hubungan rumah tangga itu harus dengan dasar suka sama suka, dan tidak bisa di paksakan. Tapi tidak adil juga jika hanya memanfaatkannya. Ya Tuhan aku harus bagaimana?
__ADS_1
Di tengah kesulitannya menentukan pilihan, tiba-tiba...
"Hik...! hik....! hik....! hik....!"
Haji Bagong mengernyitkan dahi sedangkan Hajjah Maesaroh hampir saja kentut gara-gara menahan tawa. Bisa-bisanya di situasi genting seperti ini, Saras malah cegukan. Anak bungsunya itu terlihat merana gara-gara cegukan yang bertubi-tubi.
"Hik...! Um... Hik...!...mik....Hik....!"
"Hemft... pergi ambil minum sana!" Haji Bagong bertitah. Dengan senang hati Saras bangkit dan ngeluyur ke dapur. Di susul Hajjah Maesaroh.
Saras harap pembicaraan ini berakhir malam ini. Setidaknya Saras butuh jeda untuk bernafas.
Sesampainya di dapur, Hajjah Maesaroh tak bisa menahan tawa. Dia terkikik sendiri, sambil berusaha sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara.
"Umik! Hik...! bantuin ini! hik...!"
"Menghentikan- cegukan- Hik...! gimana!"
"Haha... bentar Umik lanjutin ketiwi dulu, haha..."
"Kamu lucu banget sih nak...haha..."
"Umikk- hik...!"
"Mau di coba?"
"OGAH! Ngik!" Saras meminum air putih hampir setengah gelas tapi cegukan belum juga hilang.
"Eh tunggu, Umik tanya Mbah Google dulu, pasti ada caranya menghentikan cegukan." Saras hanya bisa ngangguk-ngangguk menyetujui ide ibunya.
"Cegukan itu terjadi ketika diafragma atau membran otot yang memisahkan rongga dada dan rongga perut mengalami kontraksi, bisa terjadi pada anak kecil ataupun orang dew..."
"Caranya a-ja mik- ngik!" Saras memotong ucapan Hajjah Maesaroh yang terlalu teoritis. Ibu gadis yang sedang galau itu, garuk-garuk pelipis, gatal ternyata ada nyamuk hinggap.
"Oke, bentar! ada banyak cara diantaranya lakukan posisi telungkup agar dada menekan ke lantai, atau duduk dengan melipat kaki sampai menyentuh dada, menggigit lemon, mengecap cuka, bernafas di kantung yang terbuat dari kertas,...."
"Yang mu-dah sa-ja mik- hik...! hik...!"
Kali ini Hajjah Maesaroh nyengir sambil terus menggulir ponselnya. "Ah... ini mudah sekali. Tahan nafas sekuat mungkin, sambil menghitung dalam hati. Lakukan berulang-ulang sampai cegukan berhenti. Ayo di coba!"
Masuk akal dan lebih simpel, Saras pun mencobanya. Sepuluh detik, Saras membuang nafas, masih belum berhasil. Dia ulangi lagi lima belas detik, masih belum berhenti. Saras terengah-engah membuang nafas kasar. Coba lagi barang kali yang ketiga dapat gelas. Sepuluh detik, lima belas detik, dua puluh dua detik, dua puluh sembilan detik, mati saja. Saras manusia bukan ikan duyung, mana kuat dia nahan nafas lama-lama.
__ADS_1
"Um-mik hik...! Sa- ba-lik- hik...! kekamar..."
"Hehe .... iya sana, nanti Umik yang bilang ke Abah kalau kamu butuh istirahat buat ngilangin cegukan."
Hati Saras berhore-hore. Ah walaupun tersiksa, Saras masih bersyukur gara-gara cegukan sialan ini dia punya kesempatan untuk tidak segera memberikan keputusan. Walaupun mungkin besok pagi-pagi sekali Abahnya sudah menagih lagi. Besok pikirkan besok. Malam ini Saras ingin tidur. Pusing.
Masih dengan suara khas orang cegukan. Saras mengirimkan pesan pada Paijo.
Saras 008
aku ngantuk, tidur dulu ya.
Have a nice dream....
^^^Paijo Paijan^^^
^^^Ada masalah?^^^
Saras 008
Tidak, tadi Abah hanya minta tolong sebentar
^^^Paijo Paijan^^^
^^^ya sudah, tidurlah!^^^
Paijo memang tidak romantis, dia tidak pintar berkata manis. Walaupun begitu Saras sayang dia, karena di mata Saras Paijo itu cukup manis. Tidak sempat membalas pesan Paijo yang terakhir. Saras sudah terlelap. Siapa sangka dengan tidur cegukan otomatis hilang sendiri. Tahu gitu tadi tidak perlu tahan-tahan nafas sampai bikin sesak nafas.
Di sudut kamar yang lain, Paijo masih terjaga. Ada perasaan cemas yang semakin menyesakkan dada. Dia merindukan Saras. Walaupun Saras mengatakan tidak ada apa-apa. Entah mengapa sebaliknya, dia merasa Saras menyembunyikan sesuatu.
to be continue....
.
.
.
.
like, komen, bagi hadiah, vote kalau berkenan.
__ADS_1
Salam manis dari Paijo yang termanis.