Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 53: Kerja Keras Bagai Kuda


__ADS_3

Sepulang dari toko Saras ingin menemui Paijo. Tapi kekasihnya itu mengatakan tidak bisa bertemu karena sedang ada urusan. Tidak ada tujuan yang pasti, Saras lebih baik langsung pulang. Jaga-jaga kalau Hajah Maesaroh butuh bantuan, mencabuti uban misalnya.


Paijo ternyata sedang bertemu dengan seseorang pemilik tanah yang dia incar untuk di jadikan lahan pabriknya. Setelah sepakat dengan harga dan clear dengan urusan surat-surat tanah, Paijo merasa sedikit lega. Dia akhirnya mampu membeli sebidang tanah dengan luas kurang lebih 3000m. Paijo baru mampu membeli tanah hanya seluas itu, dia harus menyisakan uang untuk membeli alat-alat dan mesin gergaji.


Berada di daerah Wonorejo yang jauh dari pemukiman warga. Akses mudah, karena di tepi jalan utama menuju sebuah pabrik Rimba partikel Indonesia. Salah satu pabrik kayu terbesar di Kendal. Paijo merasa optimis memilih lahan ini untuk dijadikan tempat usahanya kelak.


Di benak Paijo sudah tersusun rencana yang harus dia segara lakukan, secepatnya! Paijo rela bekerja keras bagai kuda. Walaupun harus berlari cepat dia harus sadar arah tujuan dan dengan perhitungan yang tepat. Paijo berjanji dalam hati, jika dia tidak akan pernah menyerah. Baik dalam usahanya membangun pabrik, maupun usahanya untuk mendapatkan restu orang tua Saras. Dua-duanya adalah prioritas bagi Paijo.


****


Senin pagi, seperti hari-hari sebelumnya. Paijo menjemput Saras untuk mengantarkannya berangkat bekerja. Pagi ini terlihat mendung, matahari yang harusnya bangga keluar dari persembunyiannya terlihat enggan menampakkan diri.


Saras keluar menenteng tas bekal dengan corak pelangi. Menghampiri Paijo yang pagi ini wajahnya dua belas tiga belas ikutan mendung.


"Ehem! kelamaan nunggu ya?"


"Enggak juga, sepuluh menitan paling" jawab Paijo sambil membetulkan helem di kepala Saras.


Perilaku kecil seperti ini saja sudah membuat hati Saras senang. "Hla kog sepet amat wajahnya, ada apa hayo?"


"Naik dulu, nanti kalau ngobrol disini kamu bisa telat."


Saras tertegun, perasaannya sudah gelisah. Sepanjang perjalanan mereka hanya diisi dengan diam. Paijo sedih akan meninggalkan Saras walau hanya sebentar. Sedangkan Saras masih bingung kenapa Paijo pagi ini lebih murung dan banyak diam.


Sesampainya di depan PT. Sandang Maju Abadi. Paijo meminta waktu sebentar sebelum Saras masuk. "Ada apa sih, aku jadi deg-degan,"


Paijo masih menyusun kata, tapi bagaimana pun dia harus bilang sekarang juga. Meski baru besok dia berangkat ke Malang. "Saras,"


"Hmmm..." Saras sudah tidak sabar menunggu kalimat selanjutnya. Mata mereka saling tatap, tidak peduli dengan banyaknya seliweran orang-orang yang lewat.


"Besok aku ga bisa nganter dan jemput kamu,"


Makjleb! Saras masih bingung ada apa gerangan. "Haa... memangnya kenapa?"


"Kamu ga berniat buat ninggalin aku 'kan mas?"


Jujur Saras takut jika Paijo menyerah dengan hubungan mereka. Bagi Saras cukup Paijo tahu jika Abahnya memang belum merestui hubungan mereka. Perihal kemarin saja Saras tidak menceritakannya. Saras tidak mau Paijo semakin terbebani dengan masalah-masalah yang di kreasikan Abahnya sendiri. Selama Saras mampu, Saras akan menghadapinya sendiri.


"Aku harus ninggalin kamu..." ucap Paijo dengan guratan wajah serius.


Sumpah demi apapun, Saras sudah berkaca-kaca. Pikirannya terbang bersama bunyi kereta api yang memekikkan telinga. Tak jauh dari pabrik itu memang ada jalur rel kereta.


Tuuuuutttttttttttttttttttttttttttttttt.....!!!!!


jeng--jeng, jeng--jeng, jeng--jeng!!!!

__ADS_1


Saras bisa mendadak gila kalau begini, dia sudah mati-matian mencintai Paijo, tapi kenapa dia jahat. Kenapa Paijo hanya guyon mencintainya. Sungguh tidak adil.


Lutut Saras terasa lemas, air matanya sudah di pelupuk nunggu jatuh. Terbata dia berucap, "Mas, kamu kenapa begini?"


"Kamu serius menyerah gitu aja?"


Paijo mengernyit, merasa aneh dengan Saras.


"Heh! kamu ngomong apa sih?"


"Aku ninggalin kamu karena besok harus ke Malang. Ngurus urusan di sana!"


"Kamu mikir apa hah?"


"Eh... jadi cuma pamit mau pergi ke Malang?"


''Hla iya, emang kamu pikir apa? Jangan berpikiran aku bakal mutusin kamu."


"Mustahil!"


Saras mendongak mengusap air mata yang gagal jatuh. Dia kemudian tersenyum, geli sendiri. Sebegitu cintanya dia sampai takut di tinggal. Ternyata dia sendir yang salah menafsirkan.


"Aghh... habisnya dari tadi wajah kamu udah sempet. Terus apa tadi, ngomongnya ambigu."


"Harusnya bisa langsung pamit aja mau ke Malang. Kenapa membuat kalimat yang begitu, dasar!!!"


Saras cemberut, jengkel sekali dia.


"Ga maksud apa-apa. Kamu pikir aku ga sedih ninggalin kamu. Aku lebih tenang kalau bisa ketemu kamu tiap hari."


"Cuma ke Malang aja 'kan? kalau untuk urusan pekerjaan aku mengerti kog. Kamu masih kerja di sana. Mana mungkin terus-terusan ga kerja."


"Nanti kamu malah ga punya uang, kalau kamu ga punya uang ga bisa beliin aku jajan,"


Paijo mengulas senyum, Saras masih muda tapi Paijo akui dia tidak manja dan bisa berpikiran dewasa. Meski masih suka jajan cilor kayak anak TK. Tapi tak apa, Paijo sayang Saras. "Sebulan aku di sana, setelah beres aku bakal pulang secepatnya dan menetap disini."


Mendengar akan menetap disini, Saras senangnya bukan main. "Satu bulan tok? terus kerjaan kamu?"


"Aku bakal pamit dari sana. Setelah itu rencananya bakal buka usaha sendiri disini."


"Kamu doakan semoga rencana aku lancar"


Saras mangut penuh keyakinan, "Pasti, pasti aku doakan."


"Ah... tahu gitu tadi aku ga bakal nangis. Menyesal sudah baper duluan,"

__ADS_1


"Hmm, emang kamu ga sedih bakal aku tinggal satu bulan?"


"Enggak, ngapain sedih. Kamu pergi untuk kembali tinggal disini."


"Aku seneng, dan bakal sabar nunggu kamu pulang."


"Gadis pintar, sekarang aku bisa lega pergi."


"Nanti sore aku masih bisa jemput kamu."


"Pulang kerja, kamu mau minta apa aku beliin."


"Mau shopping? aku siap."


"Ga perlu mas, tapi kalau diajak aku ga nolak. Hahaha..." Saras terkekeh. Tidak peduli langit mendung, Saras bakal terus berusaha tersenyum agar Paijo ikut senang. Toh Saras juga ga mikir jemuran.


"Hish, dasar wanita,"


"Semuanya sama mas... Jangan gumun, wkwkwkw..."


"Aku masuk dulu ya mas,"


"Iya, semangat kerjanya." Paijo bergegas menyalakan mesin motor. Dia kira Saras akan langsung beranjak. Ternyata masih menunggunya.


"Apa? mau minta sangu-- uang jajan?"


"Mas, sini tangannya!" Saras meminta Paijo mengulurkan tangan. Kemudian mengecupnya beberapa kali. Membuat Paijo terlonjak kaget dan bergetar. Bergetar apanya hayo.


"Sebelum kamu pergi, aku nyium Hajar Aswad


dulu, lumayan berpahala." Saras nyengir kemudian pergi, melambaikan tangan sebelum masuk ke gerbang perusahaan milik Gusti Agung Prasetyo itu.


Mencium tangan suami bagaikan mencium batu Hajar Aswad. Ini baru latihan, besok kalau sudah jadi isteri mas Paijo, Saras berjanji akan rajin menciumi tangan suaminya. Hahaha....


.


.


.


.


.


Silahkan diamalkan ibu-ibu, di cium ya tangan suami masing-masing. 😁😁😁😁

__ADS_1


Jangan suami orang hlo ya!🤣🤣🤣


__ADS_2