
Saras hampir berdecak kesal, sebelum masuk tadi jantungnya sudah berdebar tak karuan. Sekali lagi itu bukan karena terpesona melihat ketampanan laki-laki yang sekarang duduk di hadapannya, apalagi jatuh cinta, tidak! amit-amit.
Dia kira pertanyaan wawancara kali ini akan sesulit pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur kelak. Walaupun dia juga tidak tahu kelak bisa lancar menjawab atau tidak saat di tanyai. Semoga saja bisa. Amin.
Minimal harusnya seorang interviewer untuk bagian accounting itu setidaknya mengajukan pertanyaan yang bersifat akademik, seperti fokus pada bidang akuntansi, pengalaman kerja di bidang akuntansi, atau pertanyaan yang berorientasi pada karir.
Tapi laki-laki yang sudah Saras ketahui bernama Jamalga itu sedikit pun tidak membahas tiga hal di atas. Setelah di minta memperkenalkan diri sekilas, Jamalga tak ada kedip menatap Saras. Sumpah, wajahnya yang tengil membuat Saras ingin sekali menengul kepalanya.
Pandangan mata Jamalga seakan menelanjangi Saras. Untung saja Saras memakai setelan baju yang sopan. Celana kain hitam dengan blouse lengan panjang bermotif polkadot berwarna pink, yang ia selipkan sedikit ke pinggang.
"Makanan kesukaan kamu apa?" Saras muak, kalau saja dia tidak segera membutuhkan pekerjaan, mungkin dia memilih cepat keluar dari ruangan itu. Sama sekali tidak profesional. Dari tadi yang di tanya cuma seputar hobi, warna favorit, tempat yang ingin di kunjungi saat berlibur. Suka swimming atau naik gunung? Tidak nyambung sama sekali.
Walaupun jengah, Saras tetap berusaha menjawab dengan sopan dan lugas. "Bakso, saya suka bakso." jawabnya sederhana. Padahal dia pecinta semua makanan, asal halal.
Jamalga mengulas senyum. "Yang ada telornya juga suka?"
Saras sempat berpikir kotor, apa maksudnya?Saras jadi ingat lagu 'aku suka penthol sing ono endhoke' tapi kemudian dia menampik pikiran kotor tadi cepat-cepat. Sialan!
"Tidak, saya lebih suka yang ada babatnya?" logis juga.
Awas saja kalau pertanyaan berikutnya, sudah punya pacar atau belum? Aku tidak segan-segan untuk menjawab sudah.
"Hehe... saya juga suka. Kapan-kapan saya janji traktir kamu makan bakso babat."
Saras melongo, percaya diri sekali orang ini. Siapa juga yang mau diajak makan dia. Kenal tidak, akan bertemu lagi atau tidak saja tidak ada yang tahu. Sudah sok kenal sok dekat aja. Apa maksudnya,
"Apa maksudnya?" Saras butuh penjelasan.
Jamalga tersenyum mempesona, dari tadi dia memang sedang tebar pesona. "Iya, selamat kamu di terima bekerja disini!"
Raut jengkel Saras yang sudah di ubun-ubun melorot sampai dengkul. Kakinya lemas, terkejut, senang, sisanya tidak percaya. Pertanyaan yang dari tadi nyeleneh berbuah manis. Dia di terima bekerja.
"Sungguh? Terima kasih Pak.."
"Ahh... saya senang sekali!" Mata Saras berbinar, senang bukan main. Umpatan yang sempat dia lemparkan dalam hati tadi, dia tarik kembali. Mungkin memang begini cara si Bapak merekrut karyawan, atau ilmunya sudah tinggi, jadi tidak perlu bertanya hal-hal berbau resmi pada umumnya.
__ADS_1
"Anda bisa menemui Santi di bagian HRD. Mulai besok bekerjalah dengan giat."
"Just for information, bos di sini sangat galak dan perfeksionis, jangan lakukan kesalahan, sekecil apapun itu!" Lagi-lagi Saras menangkap jika Jamalga mengerlingkan mata. Dia segera sadar dari kebahagiaan yang tadi menyelimutinya. Buru-buru Saras pamit keluar dari ruangan sebelum dia muntah di tempat karena jijik.
Flashback beberapa menit yang lalu...
Gusti Agung Prasetyo berjalan beriringan bersama asisten kepercayaannya, Jamalga. Saat di loby dia sempat melihat seorang gadis yang di tunjuk resepsionis sebagai calon staf accounting. Sebenarnya, urusan perekrutan karyawan bisa di handel HRD. Tapi kali ini Gusti sendiri yang memerintahkan Jamalga untuk turun tangan, karena beberapa alasan yang melatarbelakanginya.
"Kenapa calonnya cuma satu orang?"
"Ehem!" Jamalga berdehem kecil sebelum menjawab pertanyaan bos sekaligus teman baiknya. "Kata bos kemarin, percaya dengan pilihan saya. Saya sudah pilih dia, jadi tidak perlu calon yang lain. Lebih efektif dan efisien."
"Fresh graduate, smart, single, and beautiful girl, hehe..."
"Masih sangat muda, semoga mudah di bina!"
Gusti tidak ambil pusing, dia hanya berdecak dengan nada sedikit mengancam. "Dasar! awas jangan main-main api. Ingat umur, jangan sampai orang-orang menyebutmu pedofil karena menyukai anak di bawah umur!"
Jamalga mengumpat dalam hati. Dasar tidak tahu diri, dia juga pedofil dong, tidak sadar istrinya juga masih belia.
Baiklah dia bos dia menang banyak, "Wah bos, saya ini juga masih belajar untuk bisa menjadi pria yang baik. Maka dari itu saya mencari gadis yang baik untuk membimbing kejalan yang benar."
Gusti menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba, lalu membalikkan badan. Membuat Jamal sedikit kaget dan ikut berhenti. "Mau menyelam sambil minum bensin silahkan, tapi ingat, pro-fe-sio-nal!"
"Siap 86 bos!"
****
Keluar dari ruangan HRD, Saras merasa lega. Mulai besok pagi dia bisa bekerja. Karena masih karyawan baru, mulai besok selama satu bulan ke depan statusnya masih on the job training. Tidak masalah, justru ini sangat bagus. Bagaimana pun dia juga perlu beradaptasi. Walaupun Saras merasa terusik dengan laki-laki yang bernama Jamalga itu.
Paijo? Saras kembali berbunga-bunga mengingat kekasihnya. Segera dia menghubungi Paijo Paijan. Tersambung.
"Hai, tebak aku punya berita gembira apa?"
"Apa kamu di terima bekerja?"
__ADS_1
"Yups, anda benar Pak Jo." Saras kadang memang tidak waras, beda suasana hati dia bebas memanggil pacarnya apa saja. Dengan wajah berseri-seri dia berjalan sambil telponan.
"Aku langsung di terima di perusahaan garmen terbesar di Semarang. Hebat bukan?"
Diam beberapa detik, "Hmm... hebat! Selamat, kamu memang hebat!" jawab Paijo datar. Entah mengapa Paijo semakin cemas. Terjun di lapangan pekerjaan. Bertemu banyak orang. Saras gadis yang cantik, pasti tidak sedikit yang melirik.
"Eh, kenapa nada bicara mu begitu hah?"
"Tidak suka aku bekerja?"
Paijo tidak ingin egois, itu hidup Saras dan pilihannya. Dia seharusnya mendukung dan membuang jauh pikiran seperti itu. Cepat-cepat dia berbicara sewajarnya. "Hah, kenapa? aku seneng kog!"
"Serius?!"
"Iya, Darius Saraswati!" canda Paijo.
"Hahaha... gaje, Darius Sinathrya yang benar! Mau di marahi Dona Agnesia? mereka lagi liburan ke Bali. Jangan di sebut-sebut, kasihan, ntar ke cakot-cakot. Hehe..." Saras terkekeh sendiri.
"Baiklah, aku tutup dulu ya. Udah sampai parkiran. Aku pulang dulu. Bye, Paijo seyeng..."
"Hati-hati, jangan ngebut! Miss you..."
"Miss you too," Saras mematikan telpon dan memasukan ponselnya ke dalam tas. Saras mengulas senyum sebelum menyalakan motor. Dia benar-benar bahagia di terima bekerja. Selain punya alasan baru untuk di jadikan senjata jika nanti Haji Bagong memintanya segera menikah. Saras juga merasa ada kebanggaan tersendiri, lulus dan bekerja. Pasti semua orang menginginkannya. Wajar jika dia senangnya bukan main.
Untuk merayakan keberhasilannya hari ini, sebelum pulang nanti Saras ingin mampir beli ayam geprek spesial ala kedai Mazphuag yang terkenal pedasnya racun. Beli es kelapa muda juga, pakai gula pasir di tambah susu putih. Wah, seger pastinya. Let's go, i'm coming ayam geprek!
.
.
.
.
.
__ADS_1
like, komen, bagi hadiah, besok hari Senin ya teman. Boleh dong kasih voteðŸ¤ðŸ¥°ðŸ¥°ðŸ¥°