Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 66: Oh, ternyata!


__ADS_3

"MAS!"


Meski di panggil-panggil Paijo tetap ngeloyor keluar lewat samping rumah. "Dih, beneran pulang!"


"Ayok, Mas kita nikah sekarang aja!" teriak Saras. Tidak di gubris sama sekali. Saras jadi kalang kabut.


Apa tadi bercandaku keterlaluan? Dia pulang bahkan tidak berpamitan sama Budhe, dasar Paijo! Aku baru tahu dia mutungan.


Saras masuk kedalam rumah dengan lesu. Besok dia akan di jemput, pasti akan sulit lagi bertemu Paijo. Sekarang laki-laki itu malah pulang begitu saja.


Budhe Sri yang selesai dengan makan siangnya, menanyakan keberadaan Paijo.


"Hlo, si Paijo kemana? ga kamu ajak makan dulu,"


Saras membuang nafas kasar dan menjatuhkan pantatnya di sofa depan televisi. Lantas menyalakan tv dengan bibir merenggut. "Pulang, ngambek..."


"Pulang? kog ga pamit sama Budhe?" Penilaian Budhe Sri hampir saja buruk pada Paijo, jika tidak terdengar pintu depan di ketuk.


"Ada tamu kamu bukakan sana!"


Walaupun malas Saras menurut, saat pintu terbuka Saras langsung mengulum senyumnya.


"Ah, kog balik lagi? ada yang tertinggal?"


Paijo tidak langsung menjawab, masih marah ternyata. Minta di sun (cium) kali ya biar marahnya hilang? Sun? sundulke lawang! Saras buru-buru mengusir pikiran gilanya. Paijo mengulurkan sekantong jajanan dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.


"Lupa belum ngasih uang jajan kamu!"


"Budhe Sri mana? aku mau pulang!" terang Paijo dengan ekspresi dingin.


Saras melongo, ada orang marah tapi masih baik. Dibelikan jajan, masih dikasih lima lembar uang bergambar bapak proklamator. Saras senang sekali. Budhe Sri muncul karena namanya di sebut-sebut. Pendengarannya ternyata tajam juga.


"Hlo tadi katanya udah pulang?"


Paijo memaksa tersenyum, "Hehe... iya Budhe, ini baru mau pamit"


Budhe Sri tak tahu kenapa dengan mereka berdua, agak aneh. Dia melirik Saras yang tangan kirinya menenteng kantung plastik berlogo Mamamart dan tangan kanannya menggenggam uang berwarna merah-merah delima alibaba. Saras yang sadar di lirik begitu, buru-buru menyembunyikan uang jatah jajan dari Paijo di balik sisi roknya. Takut di palak Budhe Sri mungkin. Saras membuang pandangan masa bodoh pada sudut langit-langit yang ternyata banyak spiderman nongkrong di sana. Lalala... aku tidak paham!


Paijo pun pamit dan berpesan kalau besok Saras harus mengabarinya jika sudah sampai rumah. Selepas kepergian Paijo, Saras menutup rapat pintu itu lagi.


"Jadi, harus ya dapat uang jajan gitu?" sindir Budhe Sri.


Saras melengos, "Apaan sih Budhe... ini namanya rejeki gadis sholeh-hah!" ucap Saras 'hah' dengan mulut seperti sedang mengababpi.


"Ga usah ngiri!"


"Siapa yang ngiri? Budhe nganan kog, cuman Budhe ingetin, jangan mudah menerima pemberian seperti itu, status kalian itu masih dipertanyakan, belum apa-apa dia udah keluar banyak sama kamu. Iya kalau jadi nikah sama kamu, kalau gagal?"


Saras mendengus kesal. "Makanya Budhe doain Saras yang baik-baik. Biar Mas Paijo berjodoh sama Saras... btw dia emang baik kog, tadi ngambek tapi masih mau beliin jajan aku,"

__ADS_1


"Budhe nanti aku bagi jajan aja, tenang, Saras ga pelit, ayok duduk di depan tv sambil ngemil," Saras menggandeng lengan Budhe Sri sampai ruang tengah. Di bayangannya, berbagai snack gurih seperti cheetos, Lay's dan kawan-kawan sudah menantinya minta di kunyah.


Tapi saat Saras membuka bungkusan plastik putih itu, mata Saras malah hampir lepas, menggelinding dari tempatnya. Saras geram.


"Aghhhhh.... emang dasar Mas Paijo!!!"


"Heh, apa isinya?" Budhe Sri ikut melongok isi kantung plastik itu. Wanita yang sudah puluhan tahun hidup menjanda itu langsung tertawa terbahak-bahak.


"Wkwkwkwkwk... kamu habisin aja. Budhe malu sama gigi kalau cuma buat ngunyah yupi!"


"Ahhh... dia mengerjaiku!" Saras gejok-gejok. "Apa dia pikir aku anak kecil yang doyan yupi? ga lucu sama sekali, hambur-hambur uang aja!"


Bagaimana tidak gemas, Paijo sepertinya memborong semua stok yupi di minimarket tersebut. Sekantung plastik penuh berisi permen yupi dengan berbagai miniatur. Dari bentuk hamburger, pizza, love, hingga ular-ular an. Maksudnya apa coba? Paijo memang kadang tidak sejelas itu.


****


Keesokkan harinya giliran Saras yang berpamitan pada Budhe Sri. Mereka berpelukan seakan tidak bakal bertemu lagi. Meski Saras sering membuat Budhe Sri pusing, tapi keberadaannya selama sebulan ini, tinggal bersama membuat Budhe Sri terhibur. Dan pada akhirnya dia harus kembali hidup sendiri lagi, berteman dengan sepi.


"Sering-sering main kesini! Nanti kalau kamu jadi nikah sama Paijo. Budhe di kabari, Budhe bakal sumbang pakai daun tembakau, soalnya kamu tahu sendiri, Budhe miskin, tidak sekaya Abah kamu!"


Saras mencibir, "Hilih, merendah untuk di puji."


"Pasti Saras kabari, boleh juga nyumbang daun tembakau, tapi janji harus satu kwintal. Lumayan bisa di jual dapat uang juga"


"Saras pulang, terimakasih Budhe sudah mau menampung Saras. Budhe juga jaga diri baik-baik."


Bukan Saras dan Andre namanya kalau tidak terus ribut bagaikan kucing dan tikus. Entah siapa yang cocok jadi kucing, tapu Saras dari tadi rasanya sudah ingin mencakar wajah menyebalkan sepupunya itu.


"Pacar kamu itu enggak banget ya, wajah pas-pasan, penampilan bikin sepet mata!"


Sumpah, kalau kuku-kuku Saras tidak terlanjur di potong kemarin, dia tidak akan segan-segan mencakar wajah Andre. Kalau perlu sampai wajahnya rusak dan musti bedah kresek, jangan bedah plastik kebagusan.


"Heh, cacing kremi! Apa aku tanya pendapatmu hah?"


"Mau dia jelek atau burik sekalipun, yang penting akhlaknya tidak minus kayak kamu!"


"Laki-laki itu yang penting bertanggung jawab dan dapat di percaya, suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan!"


Andre tersenyum miring, sembari fokus menyetir. Dia seperti belum puas memancing amarah Saraswati. "Heh, kamu pikir aku tidak tahu kalau itu poin kesembilan dan kesepuluh teks Dasa Darma Pramuka, dasar ga kreatif!"


"Baguslah kalau tahu, ternyata kamu tidak tolol-tolol banget!" Sambar Saras, enak ternyata membalas mengatainya tolol. Terserah mau di nilai bagaimana, lagi pula Saras cinta, Saras sayang. Tidak peduli sejelek apa Paijo. Dimata Saras Paijo tetap semanis Aditya Roy Kapur versi dalam negeri. Apa hak Andre, mencela karya Tuhan. Minta di sampluk terompet milik malaikat Israfil sepertinya ini orang.


Keduanya membuang muka dan memilih diam sepanjang perjalanan. Satu hal yang di sembunyikan dari Andre. Dia sering kali tidak akur pada Saras, bukan dia benci. Tapi sebenarnya ada rasa yang tidak biasa. Andre tidak mau mengakui itu. Memilih memendamnya dalam hati saja, karena bagaimanapun mereka masih terikat tali saudara bukan.


Mobil Toyota Alphard yang di tumpangi Saras sampai juga di halaman rumahnya. Hajah Maesaroh menyambut kedatangan putri tersayangnya di depan pintu. Saras turun dari mobil, dan berhambur kepelukan ibunya.


"Umik, Saras kangen."


Wanita paruh baya itu tidak kalah membalas memeluk singset. "Tahu, Umik juga kangen sama kamu nduk,"

__ADS_1


"Bocah kog melas men, onone di mulosoro!"


(Kasihan kamu, selalu di hadapkan masalah)


"Gapapa Umik, Saras kuat, yang penting terus doakan Saras, biar tetep waras."


Butiran bening meleleh dari sudut mata Hajah Maesaroh. Ini anaknya, yang dia kandung selama sembilan bulan lebih satu minggu. Tidak perlu diminta, setiap hari dan di setiap sepertiga malam doa mengalir untuknya.


Semoga kamu sehat selalu, selamat dunia akhirat, di berikan kebahagiaan yang berlimpah...


Andre dengan wajah besengut, terlihat mendekat menyeret koper milik Saras. "Nih, barang kamu! seenaknya main di tinggal. Pasti sengaja, biar di bawakan! Manja!"


Hajah Maesaroh tidak kaget, sudah biasa.


"Makasih! kayaknya itu mobil punya Abahku, kalau ketinggal juga ga masalah. Aman!"


"Kopernya aja anteng, orangnya yang berisik!"


Saras menarik kasar koper yang di pegang Andre. Tanpa mau basa-basi dia memilih masuk kedalam rumah, meninggalkan sepupu laki-lakinya itu tanpa menoleh lagi. Hajah Maesaroh hanya geleng-geleng.


"Kebiasaan kalian berdua, dulu pas kecil sering ribut rebutan sarung sama peci! Sudah besar ga rebutan apa-apa juga ribut terus tiap ketemu!"


Meski Saras perempuan, saat kecil dulu gadis itu sedikit tomboy. Masih jelas di ingatan Hajah Maesaroh. Barang yang selalu mereka rebutkan tidak lain dan tidak bukan, sarung dan peci milik Andre.


Andre hanya nyengir sambil garuk-garuk kepala. Dia kemudian pamit kembali ke toko Bagong. Tugasnya menjemput dan mengantarkan Saras sampai rumah sudah selesai. Mendengar bagaimana Saras membela pacarnya, membuat Andre mantap untuk semakin meredam perasaannya sendiri. Hem, keputusan yang cukup bijak.


.


.


.


.


.


.


.


Hai, kalian ada yang kangen mereka ga sih?


semoga ada ya, hehe...


Jangan lupa sentuh itu like dan komen, kalau ada sisa poin boleh buat hadiah mereka, wkwke🙏🙏🙏🙏



Kenalin ini kang mas Aditya Roy kapur😁

__ADS_1


__ADS_2