
Katakanlah sudah dua minggu Saras tinggal di rumah Paijo. Tetangga dekat rumah juga sudah familiar terhadap Saras. Lagipula Paijo yang mengalah tinggal terpisah di sepetak rumah yang jadi satu dengan area pabriknya. Tidak apa-apa, Paijo laki-laki bisa tinggal dimana saja. Asal Saras mendapatkan tempat tinggal yang layak di rumahnya. Daripada harus membiarkan Saras kos di tempat asing. Membayangkan saja Paijo tidak tega.
Keinginan Paijo untuk menikahi Saras bukan wacana belaka. Dia bersungguh-sungguh. Saras juga mempercayai Paijo. Meski sebagai perempuan tetap saja di hatinya ada ke khawatiran. Mengingat jika mereka menikah dalam waktu dekat ini, tentu pernikahan mereka hanya bisa di langsungkan secara siri.
Pernikahan siri, tentu semua orang sudah paham artinya. Pernikahan yang di lakukan tanpa mencatatkan ke pihak berwenang dalam hal ini KUA, Kantor Urusan Agama. Sehingga tidak memiliki kekuatan hukum terlebih pada ibu dan anaknya kelak. Meski sah-sah saja di mata Agama. Wajar jika Saras juga khawatir, meski sekarang dia percaya 100% pada Paijo, namanya hati, kapan saja bisa berubah bukan?
"Kamu janji tidak akan menyia-nyiakan aku 'kan mas? sampai kapanpun kamu ga bakal ninggalin aku 'kan?"
"Ya kali kalau ke toilet kamu mau ikut?" canda Paijo membuat Saras manyun seketika.
"Aku janji setia sama kamu, kita bakal hidup bareng sampai kakek nenek, aku janji!"
"Lagipula ini sementara, aku yakin suatu saat nanti Abah kamu bakal merestui hubungan kita,"
Saras mengangguk, Saras percaya. Tapi hati kecilnya tetap bersiaga, jaga-jaga Paijo khilaf dan melukai kepercayaannya. "Baiklah mas aku mau di nikahi secara siri, kamu berani berjanji setia sama aku, satu hal yang harus kamu ingat dan catat benar-benar."
Itu nyaris terdengar seperti ancaman. Paijo sampai bergidik ngeri. "Apa itu Saras?"
"Tidak ada kesempatan kedua jika kamu berani selingkuh, dan jika itu terjadi, aku tidak segan mendoakan kamu impoten seumur hidup!"
"Hishhhh... mengerikan Saraswati! Kamu ga kasihan apa?" Kali ini bulu-bulu halus di tangan Paijo sampai meremang. Ngilu memikirkan dedek Jo yang belum mencicipi surga dunia sudah di ancam punah.
"Itu kalau kamu selingkuh mas!"
"Ga, aku ga bakal selingkuh!"
"Hla... biasa aja wajahnya!" desis Saras lagi
Dedek Jo terancam gimana wajahnya bisa biasa saja. Kadang memang wanita itu lebih menakutkan. Ancamannya itu hlo tercatat hingga langit ketujuh.
****
Malam hari mereka berkumpul. Burhanuddin kembali membahas rencana pernikahan Paijo dan Saras. Roti pendem terlihat mengepul di atas meja. Masih panas karena baru saja matang dari pengukusan.
"Nunggu adem dulu, baru bisa di makan rotinya," Salma dengan gaya santainya bergabung setelah meletakkan makanan yang disebut tadi.
Hidung Paijo kembang kempis tak terima. "Ini singkong rebus mamake. Bisa ya sebut roti pendem!"
"Ya biar agak keren gitu Jo. Kalau nyebut singkong rebus itu mainstream sekali, haha..."
Saras terkekeh, hiburan sendiri menyaksikan pertikaian ibu dan anak itu. Burhanuddin tampak acuh menyesap secangkir kopi miliknya. Menyeruputnya sekilas ternyata masih panas juga. Akhirnya dia letakan gelas miliknya lagi di meja.
"Jo, Bapak sudah menemukan kyai yang bersedia menikahkan kalian" pengumuman itu langsung sukses membuat mereka semua kicep.
"Siapa Pak?"
__ADS_1
"Kyai Aziz, teman Bapak. Bapak udah cerita semua dan beliau bersedia membantu."
"Alhamdulillah," mereka patut sedikit lega. Ada harapan. Lagipula menunggu nanti-nanti lagi keburu semakin mengundang fitnah.
Saras tidak berani bersuara banyak. Dia hanya diam, dan diamnya Saras mengundang Burhanuddin untuk bertanya.
"Kamu benar-benar mau dan siapkan Saras?"
"Kamu percayakan sama anak saya?"
Saras mengangkat wajahnya. Dan tiga pasang mata lekat memandangnya. "Saya percaya Mas Paijo, saya mau Pak menikah dengan Mas Paijo" Seketika Paijo plong.
Burhanuddin mengangguk kecil. Tinggal mencari hari yang baik untuk menyegerakan pernikahan mereka. "Kami orang tua hanya bisa membantu sebisa kami nduk, karena kalian sudah mantap, apapun yang terjadi nanti setelah kalian berumah tangga sendiri, kalian harus bisa bertanggung jawab sendiri"
"Tentu Pak, terimakasih sudah membantu kami sejauh ini" Paijo berkaca-kaca, mengingat hubungan yang dulu buruk dengan Bapaknya sendiri, sedikit banyak dia menyesal. Bapaknya terlihat keras kepala itu dulu karena dirinya yang memang sulit diatur. Tapi sekarang, Paijo tidak tahu akan seperti apa tanpa bantuan dan dukungan dari orang tuanya sendiri.
"Jadi kapan Pak bisa di langsungkan?"
"Dua mingguan lagi Bu, Kyai Aziz bilang tanggal 30 bulan ini bagus untuk melangsungkan pernikahan mereka"
"Kamu tolong atur untuk acara Walimahan ya Bu,"
"Selain saudara, tetangga kita juga perlu tahu kalau mereka menikah"
"Nduk, maaf ya belum bisa ngasih kamu pesta pernikahan yang pantas..." ada keprihatinan di sana. Sebagai sesama perempuan tentu Salma paham, jika pasti setiap gadis punya mimpi yang indah tentang pernikahan mereka. Itu pasti.
Paijo terlihat curi-curi memegang sebelah tangan Saras. Menguatkan gadis yang dia cintai entah sejak kapan itu.
"Ga papa Bu, Saras bisa nikah sama Mas Paijo saja itu sudah mewujudkan mimpi Saras, itu sudah cukup. Saras ga kepikiran pesta atau semacamnya"
"Ga begitu nduk, andai saja Abah kamu merestui, Ibu tidak segan-segan mengelar tanggapan wayang tujuh hari tujuh malam untuk merayakan pernikahan kalian. Hemft... tapi gimana lagi ya nduk, kahanan..."
"Ga papa Bu, Saras seneng, Saras bersyukur sudah di terima di keluarga ini" air mata Saras lolos begitu saja. Sekuat apapun Saras, tetap saja dia merasa ada yang perih, di hatinya, dia akan menikah, tentu saja ingat Abah ingat Umik, ingat keluarganya.
Umik, Saras kangen...
Maafkan Saras...
"Ibu sih ngomongnya kebanyakan, tuh Saras jadi nangis!" Paijo mengerutu.
"Eh... haduh nduk, cup-cup! udah jangan nangis lagi yah. Makan roti pendem yuk biar hatinya adem, hehe..."
"Blaisss... tanggung jawab, ini calon istri Jo hlo..."
"Ga papa ding Bu, maaf Saras akhir-akhir ini jadi cengeng" bela Saras sembari mengusap air matanya yang memalukan memang.
__ADS_1
Burhanuddin menghela nafas, semenjak Jo dan Saras ada rumah mereka lebih ramai.
"Kopi Bapak sampai lupa, jadi adem."
"Oh ya Jo, kamu tanya Saras mau minta mahar apa? udah tanya belum?"
Kali ini Paijo meringis, "belum"
"Kamu mau minta mahar apa sayang?"
PLAKK....
Keplakan dari Salma mendarat di paha Paijo.
"Ga langsung tembak sekarang dong Jo. Saras pasti malu ada Bapak-Ibu. Kamu tuh gitu aja harus diajari, ga ada romantis-romantisnya!"
"Hla... salah lagi..."
"habisin roti pendemnya biar kamu tambah pinter!"
"Singkong rebus!" Paijo tak terima.
"Roti pendem!"
"Singkong rebus!
"Roti Pendem!"
"Udah diem!"
Paijo dan Salma langsung bungkam jika sudah di tegur Burhanuddin. Kira-kira Saras minta mahar apa ya? Mbak Saras diem-diem baek.
.
.
.
.
.
.
like dan komen ya😁🙏
__ADS_1