
Minggu pagi Saras masih bermalas-malasan untuk bangun. Jika tidak karena bunyi dering hp yang terus saja mengusik telinga, dia benar-benar malas membuka mata. Akibat begadang semalam bersama Rani dan Hayu di depan kos, sambil menghabiskan jajan yang mereka beli.
"Iya hallo..." suara Saras serak khas orang bangun tidur.
"Jawab salam abah dulu!"
"Hmm... Wa'alaikumsalam abah."
"Kamu baru bangun? ini jam berapa ha?"
Saras melirik jam di dinding dengan mata riyep-riyep. "Hoamm... setengah sepuluh abah."
Nyawa Saras belum kembali sepenuhnya. Dia terlalu jujur menjawab. Abah pasti sudah mencak-mencak di sana karena tahu anak gadisnya bangun kebluk.
"Ini yang abah tidak suka. Kamu ga ada yang ngawasi di sana. Bebas los sampai jam segini juga belum bangun! Pasti kamu sering lupa ga sembahyang! atau jangan-jangan kamu sudah terbiasa tidak sembahyang?!!!" suara abah sudah menggema di telinga Saras.
Mati aku...!
Saras terduduk dengan wajah dan rambut sama awut-awutannya. Pipinya terasa lengket mungkin sisa iler yang belum sempat mengering.
Dan sekarang dia harus rela mendengarkan ceramah dari abah. Tentang sholat wajib yang tidak boleh ditinggalkan, sampai penyesalan mayat di dalam kubur yang meninggalkan sholat semasa hidup. Saras hanya mengiyakan. Ceramah itu seakan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Besok atau besoknya lagi pasti dia lalai. Masih suka bolong-bolong, padahal dia anak Pak Haji. Eh tidak menjamin juga, tergantung kesadaran individu ya. Berhubung Saras masih nakal semoga dia cepat dapat ilham.
"Iya abah, Saras usahain ga ninggal sembahyang lagi. Abah kenapa telpon pagi-pagi?" Bukan janji tapi diusahakan.
Mendengar pertanyaan Saras, abah baru sadar jika ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
"Kamu ingat H. Rojak? yang jualan ayam potong di pasar pagi?"
"Yang mana bah, lupa aku?"
"Kamu ini ingatnya apa sih!"
"Aku ingat abah belum kirim uang, hehe... udah limit nih bah. Ga bisa jajan aku." rengek Saras.
"Ah itu gampang nanti abah transfer. Yang harus kamu tahu sekarang, H. Rojak itu ternyata anak laki-lakinya sekarang sudah jadi PNS."
"Terus hubungannya apa?" Kalau bahas PNS Saras sudah ketar-ketir.
"Hebat ya, katanya sekarang tugasnya di balaikota Malang."
"Terus?"
"Abah dan H. Rojak sepakat menjodohkan kalian!"
Sudah aku duga! "Aghhh... abah. Baru dua Minggu hlo Saras di jodohkan dan gagal. Masak iya ini di jodohkan lagi. Abah takut Saras ga laku?" Heran juga kenapa sih abah semangat banget buat acara cari jodoh buat aku.
"Justru itu karena gagal makanya harus di coba lagi. Bukan takut ga laku. Anak abah cantik, abah pengen kamu dapat suami yang terbaik. Kamu denger abah! nomor hp kamu udah abah kasihkan ke nak Bambang. Nanti sore temui dia. Bersikap yang baik! Kamu nurut abah atau pulang saja ga usah ngelanjutin kuliah!"
Tut...Tut...Tut...
Panggilan terputus sepihak tanpa salam penutup, Saras mendengus kesal. Selalu saja abahnya mengancam dengan larangan melanjutkan kuliah.
Suara berisik dari luar menandakan dua makhluk penghuni kamar itu telah datang. Pintu kamar terbuka Rani dan Hayu masuk dengan tubuh berkeringat. Mereka pulang dari acara car free day.
"Ya ampun Ras baru bangun? itu kenapa wajah kog di tekuk gitu?"
"Aghh... aku bete banget."
"Why? kenapa sis?" Hayu menyalakan kipas angin dan menghadapkan kearah tubuhnya.
__ADS_1
"Abah habis telpon, aku diminta nemuin cowok ntar sore. Pakai acara di jodoh-jodohkan lagi. Sebel!"
"Hahaha... darius?"
"Hmm... males banget."
"Bilang aja ga mau, gitu aja repot markonah"
"Ga semudah itu Jamilah! Abah ngancem nyuruh aku berhenti kuliah kalau ga nurut."
"Ih wow! lagian abah kamu kuno banget. Jangan-jangan abah kamu punya cita-cita terpendam!" timpal Rani yang ikut-ikutan berdesakan di depan kipas.
Saras mengernyitkan dahi. "Cita-cita apa?"
"Jadi Pak comblang." Hayu dan Rani tertawa.
Saras semakin frustasi, dia memutuskan tidak akan mandi saja sampai sore nanti. Dasar jorok!
*****
Setelah mendapat pesan dari pria yang mengaku anak dari H. Rojak ayam potong, mereka sepakat bertemu sore ini.
"Harus ya ganti warna rambut lagi?"
Saras terpaksa mengecat rambutnya lagi menjadi hitam. Untung Hayu terampil mengecat rambut, jadi Saras bisa menghemat untuk tidak pergi ke salon.
"Harus! kalau si B itu ember mulutnya dan bilang ke H. Bagong kalau rambut anaknya merah menyala, bisa-bisa di gantung aku
H. Bagong!"
Hayu membalas dengan tawa kecil.
"Kenapa ga sekalian bertanggung jawab dan dapat di percaya?" Hayu terkekeh geli.
"Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan! Lo pikir Dasa Darma Pramuka!"
"Haha... boleh itu di amalkan, bagus untuk di aplikasikan di kehidupan kamu yang tipu-tipu."
"Asem! udah ah bawel. Ini juga mana sih itu orang ga datang-datang. Buang-buang waktu aja!"
"Cie... yang udah ga sabar pengen ketemu B"
"Berisik!"
Suara klakson mobil dari luar memaksa Saras untuk mengintip dari jendela. Seorang pria turun dari mobil sejuta umat dengan penampilan pari purna. Di bandingkan dengan Paijo dia memang lebih tampan. Klimis dan good looking. Garis setrikaan pada lengan kemeja biru yang dia pakai sangat jelas terlihat. Rapi dari atas sampai bawah.
"Eh... kenapa aku masih ngintip. Bodoh! kelamaan deket kamu aku jadi lemot Yu!"
"Lambemu!"
Saras pun berjalan kearah pintu gerbang. Dia menemui B di luar pagar. "Mas Bambang ya?"
"Saras?" Bambang memastikan kalau dia tak salah orang. Ternyata benar sesuai dengan foto yang di kirimkan H. Bagong. Anaknya memang cantik, bahkan lebih cantik aslinya.
"Iya..."
"Mau bicara di dalam atau di luar saja?"
"Hmm... enaknya gimana?" kalau boleh sih mending di dalam, jadi aku ga perlu keluar uang buat beliin kamu minuman. Batin Bambang.
__ADS_1
"Gimana kalau keluar cari restoran aja. Tempat makan atau tempat nongkrong gitu?"
Kita lihat seberapa loyal kamu.
Bambang terlihat berpikir. "Ba- baik, mari." ucapnya ragu.
Mobil mereka membelah jalan raya, sore hari di hari Minggu. Ruas jalan terlihat di dominasi mobil-mobil pribadi.
"Mau kemana?"
"Gimana ke warung steak aja? kita bisa makan steak sekalian ngobrol santai." males banget sebenarnya.
Waduh, minta steak lagi. Pasti mahal. Eman-eman. "Hmm... aku ga begitu suka steak. Gimana kita cari yang lain." sebenarnya doyan sih, tapi kalau harus keluar uang sayang.
"Oh... ya udah kalau gitu terserah kamu."
"Beneran ga apa-apa?" Saras hanya mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke ponsel.
Bambang masih berpikir mencari tempat makan yang sederhana dan murah. Tidak perlu tempat yang mewah. Jika dari bangunan saja sudah megah bisa di pastikan harga makanannya juga mahal. Skip kalau itu. Saat melihat sebuah warung bercat hijau pupus, Bambang merasa itu tempat yang cocok.
"Kita ke sana aja ya. Makan bakso Malang. Ramai pembeli, pasti enak."
Yah... kayak ga ada tempat nongkrong yang lain. Warung bakso biasa, mana bangunannya kuno. Tidak Instagramable sama sekali.
"Hm... ya udah boleh."
Mobil mereka terparkir di tepi jalan. Tidak ada tempat parkir khusus untuk mobil. Rata-rata kebanyakan pengunjung hanya mengendarai sepeda motor. Terlihat dari deretan sepeda motor yang berjejer rapi di depan warung.
Saat masuk mereka mengedarkan pandangan mencari tempat yang kosong. Pengunjung terlihat cukup ramai. Untung saja tersisa satu meja tak jauh dari tempat kasir. Meja itu terlihat sedang di bersihkan.
"Kita duduk di sini aja!"
Saras berjalan mengekor setelah selesai memesan dua mangkuk bakso komplit. Dari papan menu Saras tahu harga semangkuk bakso. Murah sekali cuma tiga belas ribu untuk semangkuk komplit bakso malang. Es teh cuma tiga ribu dan es jeruk empat ribu. Hmm... ini namanya makan ala pelajar.
Tidak lama bakso pesanan mereka datang.
"Silahkan di nikmati!" Paijo yang kembali dari toilet langsung di minta mengantar pesanan kemeja ini. Betapa kagetnya dia ketika matanya beradu pandang dengan mata Saras. Gadis yang sempat di jodohkan dengannya kini sudah duduk berhadapan dengan seorang pria lain.
Rambutnya sudah berubah hitam lagi. Secepat itu?
Cepat-cepat Saras membuang pandangan. Dia tidak mau menyapa Paijo. Lebih baik pura-pura tidak mengenalinya. Paijo pun memilih langsung pergi kembali bekerja. Mengantar pesanan dan mengangkut mangkuk kotor serta mengelap meja agar bisa segera di gunakan pengunjung yang lain.
Walaupun terlihat gesit ke sana kemari dan cuek, pandangan Paijo beberapa kali curi-curi pandang kearah meja mereka.
Huh, jadi pria seperti itu tipenya. Klimis dari ujung rambut sampai kaki. Penampilan mahal tapi kog ngajak makan di sini. Kontras! ga malu sama baju yang di pakai!
UPS, bukan maksud meremehkan warung bakso Mbah Sam, tapi memang harga bakso disini di tujukan untuk masyarakat menengah kebawah. Agar mereka bisa merasakan makan bakso enak dengan harga yang terjangkau. Anggap Mbah Sam sudah mesupsidi harga, karena memang di bandingkan dengan yang lain, harga bakso malang Cak Sam lebih murah. Rasa bintang lima harga kaki lima.
bersambung....
.
.
.
.
like dan komen yang rajin😂
__ADS_1