Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 23: Voucher Gratis


__ADS_3

Tepat satu bulan proses renovasi kedai bakso Cak Sam rampung di garap. Surat ijin usaha dari dinas terkait telah di kantongi. Pintu kedai di buka lebar. Kedai yang jadul kini sudah berganti wajah layaknya cafe-cafe yang asyik buat tongkrong, apalagi sekarang mengikuti tren free Wi-Fi.


Bergaya vintage, dinding kedai yang dulu berwarna hijau sekarang bercat coklat muda bersih. Dengan jendela kaca yang lebar dan tinggi-tinggi mendominasi bagian muka kedai. Gerobak bakso baru dengan gaya modern lebih mirip meja bartender. Lampu-lampu gantung menjuntai di atas meja kursi kayu yang memanjang. Bau cat dan kayu meja kursi baru bahkan masih tercium khas.


Bejo dan kawan-kawan bahkan sekarang berseragam. Berupa kaos polo berwarna coklat tua dengan bordiran kecil di dada sebelah kiri berlambang semangkuk bakso.


Saraswati terkekeh geli melihat lambang itu, "Perasaan kemarin gambar aku bagus, kog jadinya biasa aja ya. Malah mirip lambangnya Ajinomoto. Hehe..." Saras squad mengedikkan bahu yang mengandung maksud, karep-karepmu Ras. Atau dalam bahasa Inggris sama artinya dengan Whatever!


Namun bagaimanapun, Bejo dan kawan-kawan merasa bangga dengan seragam baru mereka. Dan mereka semua siap menyambut malam ini.


Suara dentuman musik di putar mengiringi langkah pengunjung. Semakin malam kedai Cak Sam semakin ramai. Bejo dan kawan-kawan hilir mudik mengantarkan pesanan. Mereka terlihat sangat sibuk malam ini. Karena kedai ini sangat viral, beberapa wartawan bahkan terlihat datang meliput. Mereka mengkonfirmasi ke khalayak umum, jika berita bakso tikus itu hanya fitnah semata. Terbukti antusiasme pengunjung yang datang malam ini.


Setelah menemani Cak Sam meladeni para wartawan, Paijo menghampiri meja Saraswati yang sedang duduk santai bersama dua sahabatnya itu.


"Ga pengen makan sekalian?"


"Eh, mas Paijo..." sapaan sopan mas, tentu saja itu bukan Saraswati.


"Lagi pada sibuk, kita ntar aja gampang." Semakin kesini, Saras dan Paijo semakin dekat. Hubungan mereka semakin hangat sehangat kuah bakso.


"Mau? aku ambilkan..."


"Wuih... dapat pelayanan eksklusif dari pemilik kedai, tentu kami mau mas Jo."


Paijo terkekeh, "milik Mbah Sam, bukan milikku."


"Tunggu sebentar, aku ambilkan."


"Biar aku bantu" Saras berdiri sukarela.


"Iya iya sana, yang pengennya nempel aja. Pesan kita, jangan siram-siraman kuah bakso. Jangan mentang-mentang kasmaran, terus siram-siraman kuah bakso dianggap romantis, enggak banget ya.."


Saras mencibir, Hayu mulutnya memang sesantai orang di pantai. Tak lama kemudian mereka kembali dengan satu baki berisi tiga mangkuk bakso dan baki satunya berisi empat gelas es jeruk jumbo.


"Mari makan..."


"Heummm... lezatnya sampai ke ubun-ubun."


Berbeda dengan temannya, Saras malam ini makan bakso seanggun mungkin. Padahal biasanya dia rakus soal makan. "Kamu ga pengen?"


"Jangan ngelihatin aku terus, nanti mata kamu juling." Paijo hanya tersenyum.


"Idih... Saraswati percaya diri banget."

__ADS_1


"Paijo cuma pas aja duduk di hadapan kamu, bukan artinya dia fokus ke kamu," goda Rani menimpali Hayu.


"Huh, ada yang punya mata. Tanya aja langsung."


Semakin kesini, aku pengen tahu perasaan Paijo. Pancing-pancing dikit bolehlah. Tapi ini dua titisan nyai ronggeng ga tahu diri banget. Ga bisa ya kalian berdua pergi, jauh sana kepojok atau belakang kedai sekalian.


"Jawab mas Paijo, ada yang mancing pengen tahu jelasnya gimana."


"Mungkin Saras berharap kita berdua pergi, tapi aku dablek orangnya. Kalaupun di usir aku ga mau pergi. Nanggung, lagi enak makan bakso."


Paijo tertawa, kali ini semua rentetan gigi dan gusi sehatnya terlihat sehat. Benar juga, Paijo memang tidak begitu tampan, tapi kharismanya patut di acungi jempol. Auranya itu hlo.


"Benar gitu Ras?"


"Enggak usah di jawab, abaikan saja. Kecuali kalau mereka berdua budek. Boleh kamu jawab jujur." Jawaban Saras sukses mendapat timpukan gulungan tisu bekas dari Hayu.


"Lambemu..." Dan mereka terkekeh bersama.


Aku pengen tahu perasaan kamu, tapi di tempat romantis, di atas puncak gunung Himalaya atau di dasar laut Atlantika.


Aku tidak ingin kamu sebatas hanya mendengar ungkapan perasaan 'ku. Tapi aku pengen kamu merasakan sendiri. Kalau sebenarnya aku ada rasa sama kamu. Apa masih perlu di ungkapkan?


Paijo dan Saras saling pandang dalam jeda tawa mereka. Dari kejauhan Cak Sam memerhatikan mereka. Dia pun memilih mendekat.


Seperti anak TK yang sedang makan bersama, mereka semua kompak menjawab. "Enak banget Cak!"


Ingin rasanya Cak Sam mendramatisir, terharu dengan mata berkaca-kaca. Tapi beliau sadar umur, "Terimakasih ya kalian sudah banyak membantu. Berkat kalian juga, kedai ini sekarang bisa buka kembali."


"Begini contoh gadis-gadis yang hebat, tidak hanya cantik tapi juga pintar. Iyakan Jo?"


Paijo yang tiba-tiba mendapatkan lemparan pertanyaan terlonjak. "Eh... iya Mbah."


"Btw, kalian minta imbalan sama Cak Sam. Laris manis kedai ini berkat kalian.." provokasi sang cucu di tanggapi senyuman santai dari Cak Sam.


Saras antusias kalau urusan imbalan. "Boleh memang Mbah?"


"Traktir ya ini..." tanpa malu dia meringis dengan wajah memelas dan mengangkat mangkuk bakso miliknya.


Dengan wajah sombong Cak Sam menjawab. "Itu saja? murah sekali."


"Oh....." semua berdecak mendengar bagaimana sombongnya pria tua di hadapan mereka.


"Jalankan mentraktir kalian malam ini."

__ADS_1


"Sebagai pemilik sah kedai ini, saya memberikan voucher gratis makan seumur hidup untuk kalian bertiga."


"Agghhhhh... so sweat!" mereka bertiga terharu biru, Saras histeris hampir berteriak sangking senangnya. Maklum anak kos, makan tetap prioritas utama selain harus bayar kos tepat waktu.


"Terimakasih Cak, semoga tambah barokah. Panjang umur sehat selalu." tambah Saraswati yang di amini mereka semua.


"Mbah yakin? mereka makannya banyak hlo"


"Terutama ini, Saraswati anak Haji Bagong. Pewaris toko emas terbesar di Jawa Tengah."


Saras mencibir, "Lebay Mbah. Bukan terbesar di Jawa Tengah, baru sekabupaten Kendal."


"Tapi Haji Bagong itu pelit Mbah, buktinya sekarang anaknya yang cantik ini belum dapat kiriman. Huh...! kasihan 'kan Mbah?"


Cak Sam tertawa, bergaul dengan mereka sepertinya bakal awet muda. "Mbah paham kalian anak kos, makanya Mbah jamin perut kalian. Kalau lapar kesini saja."


"Tapi kalau butuh uang buat bayar sekolah, minta Paijo. Duitnya lebih banyak dari Mbah."


"Ahay,.. apa ini artinya setelah dapat voucher gratis makan bakso seumur hidup. Kita bakal dapat beasiswa kuliah dari Paijo?" sindir Saras.


Paijo tersenyum simpul. "Kamu saja, aku sanggup. Kalau Hayu sama Rani, maaf kalian cari donatur lain aja ya."


"Hiya... Hiya... mas Paijo kita di sini cuma figuran."


Hahaha....


Saraswati, saya akui jiwa bisnismu luar biasa. Tapi jangan lupa, Paijo juga pebisnis. Bagi pebisnis tidak ada yang gratis di dunia ini.


Seperti harus ada perhitungan keuntungan yang bisa di raih karena sudah bersikap baik sama kamu. Paham apa itu artinya?


.


.


.


.


.


.


like komen vote

__ADS_1


mksh ya,🄰


__ADS_2