
Keesokkan harinya, semua masih menjadi misteri, layaknya misteri gunung berapi. Saraswati masih belum tahu apa yang membuat keluarga Haji Rojak batal datang ke kediamannya. Saat dia bertanya pada Paijo kemarin. Laki-laki itu hanya menjawab diplomatis. The power of doa, dia hanya meminta pada Tuhan dengan ikhlas dan boom doanya di kabulkan. Haji Bagong juga belum tahu alasan Haji Rojak merendahkan Saraswati. Dia sudah terlanjur geram duluan.
"Abah..." Meskipun agak ragu, berhubung menyampaikan pendapat di lindungi Undang-undang Dasar 1945 pasal 28 Saraswati memberanikan diri. "Abah, acara lamaran itu 'kan sudah batal. Boleh tidak Saras cepat kembali ke Malang?" Saras langsung menutup mulutnya, menunggu reaksi sang Abah.
Haji Bagong berdehem sedikit, melipat koran yang dia baca kemudian menatap anak gadisnya yang dua kali gagal di lamar itu. "Sebegitu tidak kerasan kamu tinggal di rumah? baru satu malam dan kamu sudah pengen balik ke Malang?"
Saras merinding, aura Haji Bagong memang tidak perlu di ragukan. Mencekam. Jarang tersenyum dan mustahil bisa bercanda. Mungkin keseringan fokus menimbang kadar emas yang perlu ketelitian tinggi, karena menurut hukum agama bahkan debu yang melekat pada emas harus di perhitungkan.
"Eumm... bukan begitu. Abah tahu sendiri, Saras harus fokus menyelesaikan skripsi. Laptop dan semua buku sumber juga tertinggal di kos. Jadi Saras tidak mungkin berlama-lama di rumah." Saras kembali menutup mulutnya. Padahal laptop dan semua bukunya sengaja dia tinggal, Saras sudah berencana menjadikan dua benda itu sebagai alasan. Semoga berhasil.
"Apa kamu tidak sedih dua kali gagal di lamar?"
Boleh jujur tidak ya, aku jelas tidak sedih dan tidak mau ambil pusing. Toh aku juga tidak ada perasaan dengan si Bambang. Walaupun yang pertama dengan Paijo, ehem... agak menyesal.
"Sedih sedikit Abah, cuman mau bagaimana lagi. Mungkin memang belum berjodoh."
Pura-pura menyedihkan diri sedikit tidak ada salahnya. Beruntung kalau dapat ijin cepat balik ke Malang. Kabur sebelum ada tema perjodohan lagi.
"Abah merasa belum tenang jika kamu belum menemukan calon tunangan."
"Dari awal Abah juga sudah tidak setuju kamu sekolah jauh-jauh. Abah jadi tidak bisa memantau kamu langsung."
Saras ketar-ketir jangan sampai Abah bertanya tentang abang tukang bakso yang kemarin sempat di sebut-sebut pernah pergi berdua dengannya. Sepertinya memang Haji Bagong belum tahu.
"Abah, tinggal beberapa bulan saja. Saras juga sudah berjanji setelah lulus bakal cari kerjanya di Semarang. Saras ga bakal cari kerja di luar kota."
"Bagaimana? boleh Saras pesan tiket kereta sekarang?"
Haji Bagong nampak berpikir sejenak, Saras menunggu dengan hati bersholawat. Menuruti the power of doa, seperti saran Paijo kemarin.
Beberapa detik kemudian Haji Bagong mengangguk.
"Pergilah dan cepat pulang."
"Abah transfer uang saku dan uang kuliah kamu sekarang juga!"
__ADS_1
Wohoho... Saras pengen salto sangking bahagianya. The power of doa is the best.
"Matursuwun, Abah"
Sore hari Saraswati sudah bersiap dengan ransel kecil yang melekat di punggungnya. Tidak mau menunggu besok, ketika sudah mendapatkan ijin dari Haji Bagong dan sukses memesan tiket kereta secara online, sore itu juga Saraswati diantar kedua orangtuanya sampai stasiun Poncol. Takut Haji Bagong berubah pikiran lagi.
Dengan perasaan gembira tentu, pulang membawa uang saku dari Mbah kaji lima ratus ribu hasil memuji ganteng kemarin, di tambah saat berpamitan tadi total satu juta lima rtaus rupiah dan rekening dengan angka melimpah ruah setelah di TF Abah haji. Di tambah lagi bekal rantang Tupperware berisi daging rendang buatan ibu Haji Maesaroh plus sambel Pete, plus lima karung kerupuk tayamum. Kerupuk goreng pasir khas Kaliwungu. Saraswati gembira sekali, apalagi membayangkan pesta makan kerupuk tayamum dengan di cocol sambel lotek, bersama Hayu dan Rani nanti. Sambil ghibah berjamaah, pasti mengasyikkan.
Tepat jam empat sore kereta Saras berjalan meninggalkan stasiun. Saras selalu menikmati perjalanan saat pulang ataupun pergi ke Malang. Walaupun harus duduk berjam-jam tidak masalah. Saras suka naik kereta. Melihat pemandangan dari balik jendela. Hamparan sawah yang memanjakan mata. Seperti slide-slide yang berganti dengan cepat.
Saras tidak tahu siapa jodohnya kelak. Bahkan Saras belum punya gambaran bagaimana hidupnya setelah lulus nanti. Apakah dia akan segera mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya atau harus menganggur dulu, atau mungkinkah Abahnya akan segera menikahkan dia. Saras hanya ingin menikmati sedikit kebebasannya hari ini. Menikmati masa muda dengan menuntut ilmu, berkumpul dan bermain bersama kawan-kawan. Bonus jika punya pacar. Tapi walaupun cantik dan banyak peminat, Saras agak malas dengan hubungan status pacaran. Males toh akhirnya dia harus nurut di pilihkan jodoh sesuai standar nasional Haji Bagong.
Sekitar jam sebelas malam, Saras baru sampai. Rani yang membukakan pintu sedangkan Hayu sudah nyenyak dengan sejuta mimpi indahnya. Sepanjang perjalanan Saras di temani Paijo secara virtual. Dari video call, chat panjang sampai telponan yang membuat telinganya panas, untung saja tidak jadi budeg.
Baru masuk kamar, Paijo calling.
"Sudah sampai mana?"
"Baru aja masuk kamar. Belum tidur juga?"
Hish... bagaimana aku tidak baper kalau begini.
"Hehe ... aman Sulaiman."
"Btw, kapan kamu pulang kesini? mau balikin uang pinjaman kemarin. Bisa ketemu?"
"Uang itu lagi? aku sudah bilang tidak perlu di kembalikan."
"Tapi aku mau mengembalikan. Tenang saja, berkat gagal lamaran kemarin Abah luluh dan memberikan banyak uang."
"Ahh... aku bersyukur sekali, benar di balik masalah, memang selalu ada hikmah yang bisa di petik."
Paijo menelan ludahnya susah payah di sebrang sana. Andai Saraswati tahu di balik gagalnya lamaran itu ada hal gila yang dia sembunyikan. Apa dia masih bisa bersyukur?
"Kalau sekedar ingin ketemu datanglah kesini kapan saja, tapi jangan pernah berpikir untuk mengembalikan uang itu. Aku tidak mau menerima titik."
__ADS_1
"Wah Paijo, aku tidak mau kelak di tagih di akhirat. Di akhirat sana tidak ada dirham apalagi rupiah. Jadi aku mohon terima saja ya..."
"Sudah aku ikhlaskan Saraswati. Anggap saja aku investasi kebaikan. Semoga amal ibadah 'ku di terima di sisi Tuhan."
"Hahaha.... Paijo Paijan apa kamu sudah bosan hidup? bagaimana bisa kamu berdoa seperti itu hah?
"Hemm... itu karena kamu keras kepala!"
"Hahaha... baiklah. Aku pikirkan lagi. Mungkin aku akan sulit tidur malam ini."
"Kenapa? mau mikirin aku?"
Lama Saras menjawab. Kupingnya terlalu malu mendengar pertanyaan itu. "Hah, apa? suaramu putus-putus."
"Berisik sekali, tidak jelas."
Mana ada tengah malam gaduh? Semua orang sudah rapi tertidur. Kalau mau berbohong yang pinter sedikit Saraswati!
.
.
.
.
.
.
Maaf ya telat update, selain sibuk di dunia nyata. Othor juga gemar membaca karya orang lain. Apalagi pas nemu cerita yang lucu-lucu gitu maraton bacanya. Efeknya bahagia, lumayan sebelum nulis lagi saya juga wajib bahagia.
Like dan komen di banyakin biar tambah semangat membara. Wkwkwkk....
š„°š„°š„°š„°
__ADS_1