Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 6: Gadis Berambut Pirang


__ADS_3

"Aaaaaaaaaaaaaaaaa....!!!"


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..."


"Aku kapok sumpah mati ini, mati!"


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...Saras sialan! Kampret! edan!!!"


Mereka bertiga terus berteriak histeris saat permainan kora-kora itu mengayun kencang. Saras, Rani, dan Hayu disingkat saja menjadi SaRaH. Ketiganya sedang menikmati Pasar Malam Malang di alun-alun, dengan mencoba salah satu wahana ekstrim yang minim keamanan itu.


Rani dan Hayu terus mengumpat nama temannya yang sejak berangkat sudah merengek mengajak naik wahana ini, siapa lagi kalau bukan Saras. Dia bahkan mengajak mereka untuk duduk di kursi paling ujung yang berarti tubuh mereka berada di paling pucuk saat perahu berhias lampu warna-warni itu mengayun ke kanan dan ke kiri.


Perut mereka sudah terasa di aduk-aduk sejak tadi. Sensasi ngeri dan geli menggelitik jantung secara bersamaan. Perut terasa mendesir saat perahu meluncur turun dan nyawa terasa tertarik saat perahu melambung ke udara. Selama lima belas menit itu jantung mereka benar-benar di uji. Teriakan histeris dari semua penumpang bersaing dengan dentuman lagu keras yang di putar memekakkan telinga. Pasar malam sangat ramai malam ini karena ini sabtu malam Minggu. Waktunya anak muda keluar rumah.


Mereka bertiga terduduk selonjoran di depan salah satu kedai jus buah di pojok alun-alun. Tidak peduli dengan tatapan orang yang berseliweran lewat. Mereka hanya butuh mengatur ritme jantung yang tadi hampir lepas dari tempatnya.


"Sumpah ini pertama dan terakhir aku mau diajak naik kora-kora! mules ***!" Hayu menyedot orange jus kuat-kuat dan mulutnya tidak henti-hentinya mengumpat pada Saras.


"Sama! besok-besok kamu ngajak naik gini lagi. Mending nama kamu kita coret dari KK pertemanan kita!" timpal Rani yang tak kalah megap-megap.


Si biang kerok Saras malah tertawa terbahak. "Ampun deh, kalian ternyata mental yuppy. Gini doang udah ga berani. Asyikkk tau!"


"Asik dengkul 'mu!"


Sementara itu di deretan tenda-tenda penjual makanan dengan berbagai menu dan variasi. Paijo sibuk mengantarkan pesanan bakso ke meja pembeli yang kebanyakan berpasangan.


Bakso Malang Cak Sam nangkring di salah satu tenda. Sebagai salah satu anggota IPBM (Ikatan Penjual Bakso Malang) Cak Sam memiliki hak untuk ikut berjualan meramaikan acara pasar malam ini.


"Silahkan di nikmati, jika butuh tambahan sambel, saos atau kecap langsung panggil saya ya." Paijo terlihat tebar pesona saat mengantar lima mangkuk bakso ke meja lima ABG cantik. Kelima gadis itu tersenyum malu. Paijo memang tidak begitu tampan, tapi masih ingat kan jika Paijo itu kharismatik.


Setelah jantung mereka pulih, mereka kembali berkeliling. Rani dan Hayu sudah tidak mau diajak naik wahana lagi apapun itu. Maupun itu cuma komedi putar mereka sudah ogah.


"Mending kita beli jajan. Cari cilok atau sosis bakar gitu."


"Ahhh... aku belum puas naik kora-kora sekali doang. Belum coba ombak banyu, biang lala, rumah hantu juga." Rengek Saras lagi.


"Ogah...! kamu yang doyan naik begituan habis turun seneng. Pikiran fresh! hilang beban pikiran! hla kita? habis turun bisa-bisa nyawa kita yang hilang!" ucapan Rani mendapat anggukan kepala dari Hayu. Saras kembali manyun karena tidak dituruti.


"Udah ayo kita berburu jajan aja buat bekal ngemil di kos."


Hayu dan Rani menyeret paksa Saras. Mereka berpindah dari stand ke stand lainnya. Mereka sudah menenteng beberapa kantong plastik berisi kebab, cilok, papeda, cimol dan boba.


"Eh masih kurang nih. Sosis-bakso bakar belum." Saras yang doyan jajan juga belum mau pulang jika salah satu camilan pedas membakar mulut itu belum dia beli.


"Hish... cari sebelah sana aja coba. Cari yang agak sepi biar ga antri."


"Yang rame biasanya enak sis!"


"Ga jamin juga. Siapa tahu yang punya warung main dukun jadi laris manis. Aman cari yang sepi aja. Hehe..." Entah teori darimana Saras lebih mengikuti kata hatinya.


Mereka berjalan melewati tenda-tenda nasi goreng, sate Madura, ketoprak, Lamongan, mie ayam dan bakso. Berjalan, mengobrol dan asik bercanda di tengah keramaian. Berdiri di depan stand sosis-bakso bakar yang tidak begitu ramai. Saras tertawa renyah tanpa beban. Rambut sebahu yang kemarin saat pulang ke rumah berwarna hitam kini sudah di cat ulang berwarna merah mirip rambut jagung.


Rambut pirang Saras tertiup angin lembut. Dia terlihat cantik. Paijo sampai lupa berkedip. Malang luas, bahkan di pasar malam ini ratusan orang berjubal. Tapi kenapa kornea matanya bisa menangkap bayangan gadis itu. Seakan ada lampu yang menyorot padanya. Paijo lupa berkedip untuk sepersekian detik. Untung dia tidak lupa untuk menarik nafas.


Saras mengangkat kedua tangannya, dia terlihat sedang mengikat rambutnya sembarangan. Saat tangannya diangkat otomatis kaos berwarna merah dengan potongan crop itu ikut terangkat. Kulit perutnya ketara bahkan pusarnya sedikit mengintip. Untung saja itu tidak lama.


"Jo mingkem Jo mingkem! lihat apa to sampai ngeweh bego gitu!" Bejo salah satu rewang di warung bakso Cak Sam itu menyenggol bahu Paijo. Seketika nyawanya kembali. Kadang Paijo jengah sendiri kenapa namanya sangat pasaran. Lebih jengah jika ada makhluk lain bernama mirip tapi tak ada manis-manisnya macam Bejo ini. Paijo mendengus kesal.

__ADS_1


"Apaan! ganggu aja!" Seperti terkena gaya tarik bumi. Paijo melepas celemek dan pandangannya mencari bayangan Saras yang tiba-tiba menghilang.


"Eh mau kemana? malah kabur! lagi rame ini!"


Paijo sempat menjawab sambil berlari kecil. "Beli kecap!"


"Eh hla gendeng! kecap masih banyak kog. Buat luluran kamu juga masih cukup." gerutu Bejo.


Cak Sam yang mendengar gerutuan pada cucunya hanya berdehem membuat Bejo nyengir.


****


"Suit, suit....!!! cewek boleh dong kenalan!"


goda segerombolan pemuda di samping loket rumah hantu. Teriakan histeris dari dalam arena terdengar menakutkan. SaRaH memang tidak bermaksud masuk, mereka hanya mencari jalan keluar alun-alun yang agak longgar. Di banding harus ikut lewat berjubel dengan lautan orang di tengah. Milih mlipir eh malah di suit-suit.


Ketiganya terlihat acuh tidak menanggapi. Tapi salah satu dari mereka lancang menarik tangan Saras. Dibandingkan dengan Rani dan Hayu, Saras memang terlihat yang paling cantik. Saras yakin pemuda laknat ini masih duduk di bangku SMA. Masih bau kecut, belum kelihatan klimis maklum pelajar belum menghasilkan uang sendiri. Mungkin mereka pikir Saras juga masih SMA padahal udah kuliah dong.


"Eh... apa ini maksudnya ya? berani sekali pegang-pegang!!!" bentak Saras. Lima orang pemuda laknat itu malah tertawa terbahak-bahak, setengah tengil.


"Kenalan dong! bagi nomor hp! bertiga jomblo ya sampai main sendiri. Kita mau kog nemenin!"


Rani dan Hayu meringsut. Tidak dengan Saras. Mulutnya sudah panas ingin menumpahkan kekesalan. "Lepas adik-adik! jangan tengil ya. Godain yang seumuran kalian! Kita ga level sama anak bau ketek macam kalian!"


"Hahahah... uhhh... takut! Jadi apa kita harus panggil kalian kakak-kakak?" Ucap pemuda yang memegang tangan Saras.


"Banyak bacot ya kalian!" Saras menghentakkan tangannya dengan kuat. Kakinya dengan sikap menendang tulang keras milik pemuda itu hingga meringis menahan sakit.


Keempat temannya tidak terima dan hendak meringsut kearah Saras. Tiba-tiba bentakan dari seorang laki-laki sukses membuat mereka menengokan kepala.


"Heh! berani ribut disini gue panggil polisi! bubar ga kalian!" Wajah Paijo garang.


"Makasih..." ucap Saras singkat.


Paijo lagi, dia kenapa bisa ada di mana-mana sih. Heran!


Rani dan Hayu saling pandang. Keduanya bersyukur ada yang masih peduli dengan nasib mereka.


"Makanya kalau pakai baju yang bener! ga takut masuk angin apa? atau sengaja mau pamer puser? huh... tidak aku sangka anak gadis H. Bagong begini jika di luar rumah!" Paijo sendiri bingung kog tiba-tiba mulutnya bisa julid.


"Makasih sudah nolongin, tapi kayaknya ga usah bahas puser segala ya. Kog kayak malah kamu mau ngajak ribut juga! percuma dong bantuinnya." Bukan apa-apa ya, Paijo terlanjur gagal fokus gara-gara kamu. Lihat dia sekarang diam kicep.


Paijo mendengus, "Ayok aku antar kalian pulang!"


"Kenapa? kami bisa pulang sendiri."


Paijo membuang nafas lagi. "Kalau tidak ingat kamu anak H. Bagong aku juga males nganter. Aku khawatir mereka nekat ngikutin kalian terus di cegat di jalan. Ga takut?"


Saras nampak berpikir, sedangkan Rani dan Hayu sudah ngeri membayangkan. Tidak ada yang menjawab, mereka berjalan mengekor di belakang Paijo.


"Kalian parkir dimana?"


"Di sebelah sana!" tunjuk Rani yang ambil suara.


Ternyata mereka bawa dua motor. Hayu membonceng Rani sedangkan Saras sendirian pakai motor metic berwarna merah. Paijo melipir mengambil vespa sang kakek. Untung kuncinya dia yang pegang. Alhasil mereka pulang di kawal Paijo sampai depan kos-kosan.


Hal kecil tapi membuat mereka simpati, terkecuali Saras. Hatinya susah di ketuk.

__ADS_1


"Mas Paijo makasih ya udah antar kita." ucap Hayu yang sudah turun dari boncengan.


Paijo nyengir, "Eh... iya sama-sama. Aku langsung pulang."


"Ga masuk dulu? kita punya jajan banyak hlo."


"Ga makasih." Paijo menggenjot Vespa dan langsung tancap gas pergi.


Saras dan Rani yang keluar garasi setelah memarkir motor menyusul Hayu di depan gerbang. Sekilas mereka melihat punggung Paijo yang menjauh pergi.


"Eh langsung pulang dia?"


"Baguslah kalau langsung pulang." ketus Saras yang langsung balik badan ingin masuk kedalam.


"Eh Ras, sebenarnya dia itu siapa sih? tetangga atau saudara? kenal bapak kamu." tanya Rani penasaran.


"Dia itu orang yang tidak 'ku harapkan hadir di kehidupan 'ku." jawab Saras sok drama.


"Tidak di harapkan tapi hadir. Wah jangan-jangan kalian berjodoh? Hahaha...


"Cerdas! hahaha..."


"Eh tapi menurutku untuk ukuran orang yang bernama Paijo dia itu lumayan manis hlo. Postur tubuh bolehlah. Lihat punggungnya tadi lumayan lebar, bisa buat rebahan. Wajah tidak begitu tampan, tapi masih pantes kog kalau diajak kondangan. Hehe..." Hayu terkekeh sendiri.


Saras mengernyitkan dahi. Dia mana sempat menilai fisik Paijo. Baginya mendengar namanya saja dia sudah muak. Untung Saras belum sempat cerita kalau kepulangannya dulu karena dia sempat di jodohkan dengan laki-laki itu.


"Ambil deh ambil! buat kamu gratis ga pakai pajak!"


Rani dan Hayu tertawa lagi. Kini giliran Rani yang menyahut. "Denger itu Yu, ambil lumayan buat koleksi kamu!" Diantara mereka memang Hayu yang lebih sering gonta-ganti pacar. Seminggu dia bisa ganti tiga cowok. Tidak jarang juga dia menjalin hubungan dengan dua cowok sekaligus. Alias main selingkuh. Emang dasar fuckgirl.


"Eh enggak deh. Gini-gini aku masih punya hati. Paijo kayaknya sudah jadi jatah Saras. Jadi aku No dari sekarang!"


"Amit-amit jabang bayi!"


"Denger ya teman-teman, kalaupun di Malang sudah tidak ada setok cowok aku tidak akan pernah mau sama P-A-I-J-O!" jawab Saras penuh keyakinan.


"Hla... ati-ati kalau ngomong. Sekarang nolak besok cinta. Kapok!"


"Anjirrr... kalau itu terjadi kalian boleh minta apapun yang kalian pengen!"


"Wuah... beneran?"


Hayu sudah bersemangat. "Aku minta toko emas bapak kamu boleh?"


"Kalau itu kamu minta mati!"


Hahaha...


.


.


.


.


.

__ADS_1


Curhat dong Mah. Jujur ya di novel kedua ini, aku sedikit takut nulis. Takut kalian ga suka, takut ga lebih baik dari novel pertama. Tapi aku usahain terus belajar biar lebih baik. Semoga kalian suka🙃 Wkwkwkkw...


Jadi minta apresiasinya ya dengan komen di bawah ini. Like dan vote juga tentu saya harapkan. Terima kasih 😘


__ADS_2