Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 87: Terpantau CC TV


__ADS_3

Ini adalah keempat kalinya Hajah Maesaroh akan bertandang mengunjungi Saras. Pagi-pagi sekali Hajah Maesaroh sudah berkutat di dapur. Menyiapkan masakan rawon yang sengaja dia buat untuk Saras dan anak mantunya.


Hajah Maesaroh paham sekali kalau Saras tidak pandai memasak, apalagi rawon yang bumbunya beraneka ragam. Jalankan mengingat apa saja bumbu yang diperlukan untuk membuat rawon, bentuk keluwak saja Saras tidak tahu. Padahal keluwak itu yang paling berjasa membuat kuah rawon menjadi hitam pekat dan kental.


Bau harum masakan Hajah Maesaroh menarik perhatian Haji Bagong yang sedang membaca koran di halaman samping. Jika anda tahu lirik lagu seperti ini, aku moco koran sarungan, kuwe blonjo dasteran... maka seperti itu mereka sekarang. Bedanya Hajah Maesaroh dasteran, tapi tidak sedang belanja melainkan sedang memasak.


"Masak apa kamu?"


Kemunculannya yang tiba-tiba membuat Hajah Maesaroh yang sedang mencicipi kuah rawon menjendil kaget. Untung saja sesendok kuah itu tadi sempat di tiup dulu, jika masih panas mungkin lidah Hajah Maesaroh bisa ikutan matang kayak daging di panci.


"Eh... Abah, Umik sampai kaget"


"Abah mau sarapan sekarang? Umik masak rawon"


Haji Bagong mengangkat satu alisnya, merasa aneh. Bukan karena isterinya yang pagi-pagi masak, Hajah Maesaroh sudah biasa masak pagi-pagi. Tapi melihat satu panci besar rawon untuk makan mereka berdua, rasanya terlalu berlebihan.


"Kenapa masak banyak sekali?"


Wah...kenapa Abah pakai acara masuk ke dapur segala. Ah... bagaimana ini... terpaksa harus bohong.


"Emm... sengaja Abah, Umik rencana nanti mau ke rumah Abah Haji, makanya masak agak banyak biar bisa di bawa ke sana sekalian"


Abah Haji panggilan Hajah Maesaroh pada ayah mertuanya. Semoga Haji Bagong tidak curiga karena bagaimanapun memang sudah lama mereka tidak berkunjung ke sana.


"Oh... kenapa tidak bilang sejak tadi malam. Kalau begitu nanti berangkat bareng saya, jangan banyak-banyak bawa rawonnya, kamu tahu sendiri Abah tidak boleh makan daging terlalu banyak, nanti kolesterolnya bisa naik!"


Mati aku! Batin Hajah Maesaroh. "Eh... memang nya, Abah tidak kesiangan kalau harus nganter Umik dulu?"


"Umik bisa dianter supir nanti----"


Haji Bagong mendelik curiga. Di atas kepalanya seperti ada tanda tanya besar.


Hajah Maesaroh buru-buru memberi penjelasan "Maksud Umik, nanti Umik bisa agak siangan ke sananya, soalnya belum beres-beres rumah,"


"Oh... Umik juga belum mencuci baju, banyak sekali, astaghfirullah cucian Umik, gara-gara kemarin ga enak badan Umik ga nyuci tiga hari ini," panik, panik, gila apa ga panik. Tatapan Haji Bagong selalu menyeramkan. Untung saja mulut Hajah Maesaroh tidak terpeleset, ternyata diam-diam Hajah Maesaroh berbakat juga untuk berbohong.


Hajah Maesaroh baru sadar, bertanya pada diri sendiri kenapa dulu dia mau menikah dengan laki-laki menyeramkan ini. Ah... mana mungkin keluarga Hajah Maesaroh menolak lamaran Haji Bagong yang keluarganya terkenal kaya raya tujuh turunan itu. Keluarga Hajah Maesaroh juga tergolong kaya, punya toko kain, pabrik tempe, rumah makan dan lain-lain, membuat segalanya lebih mudah karena dianggap satu level. Tak ada drama cinta terhalang restu orang tua apalagi sampai nikah siri seperti Saraswati.


Haji Bagong tercenung, kemudian membiarkan percaya pada isterinya yang terlihat gugup menjelaskan ini itu. "Hem, baik kalau begitu, sekarang siapin saya sarapan, bau masakan mu membuat perut saya keroncongan!"


Hajah Maesaroh tersenyum lega. "Ah...tentu saja Abah, tunggu sebentar ya Umik siapkan"


Huh, syukurlah Abah percaya....


*****


Pukul sepuluh pagi lebih beberapa menit saat mobil mewah Hajah Maesaroh kembali terparkir di halaman rumah Paijo. Saras yang sedang menyapu daun mangga kering di depan rumah, lantas mencampakkan sapu lidinya dan menyongsong kedatangan sang ibu.


"Umik... selalu saja tidak bilang kalau mau kesini"


"Huh, memangnya kenapa? tidak boleh? harus gitu Umik buat janji dulu? kayak kamu udah jadi pejabat aja!" cibir Hajah Maesaroh.


"Eh... ga gitu juga sih Mik, maksudnya kalau bilang dulu, Saras ga bakalan nyapu-nyapu kayak gini, gengsi dong di lihat Umik, haha..."


"Ngaco! justru Umik bangga kamu sudah ga alergi pegang sapu, dulu-dulu mana pernah pegang sapu, tahu letaknya sapu dimana juga enggak"

__ADS_1


Hajah Maesaroh menyodorkan satu rantang Tupperware berisi rawon kepada Saras.


"Wah, di bawain makanan lagi, apa isinya?"


"Rawon" jawab Hajah Maesaroh pendek. "Ayok, bawa Umik masuk segera, kayaknya dari seberang ada Ibu-ibu yang dari tadi ngelihatin kesini, Umik ga nyaman"


"Hahaha... Umik tahu aja! Itu CC tv Saras" Saras terkekeh sendiri, Bu Tutik diam-diam berjasa sekali, selalu mengamati rumah Saras dari seberang, Saras merasa tidak perlu repot memasang CC tv lagi. Tidak takut juga kalau ada maling dan semacamnya, secara punya CC Tv hidup.


Anak dan ibu itu akhirnya masuk sambil terkekeh geli. Kalau sudah berdua begini, mereka selalu tengelam dengan percakapan yang tidak ada habisnya. Saras menceritakan kehebohannya tinggal bersama Paijo, dia mengakui kalau sangat bahagia dengan pernikahannya. Sedangkan Umik, selalu bercerita jika rumah terasa hampa. Semua biasa-biasa saja, Abah ke toko setiap hari dan pulang menjelang Maghrib. Di rumah tidak pernah mengajak bercanda, apalagi mengajak romantisan, hal yang mustahil.


"Umik juga bawakan ini" Hajah Maesaroh mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya, kotak perhiasan milik Saras.


"Itu..."


"Ini milik kamu, barangkali kamu mau pakai, makanya Umik bawakan"


"Tidak, bawa ini pulang saja, Saras tidak mau nantinya malah membuat perkara baru kalau sampai Abah tahu"


Hajah Maesaroh meletakkan kotak perhiasan itu di pangkuan Saras lagi. "Hei... ini milik kamu, kamu yang harus simpan,"


"Umik... tapi itu pemberian Abah, Saras ambil dari toko Abah lebih tepatnya, Saras ga mau, lagian Saras jarang pakai perhiasan, anting aja cukup!"


Hajah Maesaroh mengamati jari-jari tangan Saras yang nampak kosong. "Bahkan cincin pernikahan kamu ga pakai?" pertanyaan ironis.


Ah, Saras menikah serba dadakan, bahkan dia tidak terpikirkan untuk meminta cincin pernikahan. "Itu tidak penting Umik, yang penting Saras sudah sah menjadi isteri Mas Paijo di mata agama"


"Saras harap Umik paham ya maksud Saras"


"Saras ga apa-apa, Umik jangan khawatir, Mas Paijo mencukupi semua kebutuhan Saras, kalau Saras minta pasti Mas Paijo belikan kalau sekedar emas-emasan seperti ini"


"Kenapa harus beli kalau sudah punya? kamu tidak harus memakainya, tapi Umik bawakan ini barangkali kamu butuh, kamu bisa simpan dulu,"


"Lagipula, Paijo sedang mengembangkan usahanya, Umik dengar usahanya semakin maju, buat jaga-jaga, kalau Umik ngasih uang tunai ke kalian, pasti juga kalian tolak"


"Ini milik kamu, hak kamu mau di apakan, oke?"


Saras menghela nafas panjang, akhirnya dia mengalah. "Hemft... ya sudah Saras terima, Saras simpan ini,"


Setelah makan siang bersama, Hajah Maesaroh pamit pulang. Dia juga berencana mampir dulu mengunjungi ayah mertuanya. Anggap saja ini penebusan karena sudah berbohong tadi pagi.


"Umik pamit pulang dulu, salam buat Paijo, bilang ke suamimu itu suruh libur barang satu kali dalam seminggu, heran, punya suami dan menantu kog ya sama-sama kabelan kerja"


"Hahaha... demi siapa coba? kalau bukan demi kita sebagai isterinya," Saras sok bijak, aslinya sih kapan-kapan dia mau mendemo suaminya agar bisa libur kerja juga.


"Umik hati-hati ya, terimakasih karena sudah mau mengunjungi Saras." Ucap Saras sepenuh hati sambil mencium punggung tangan ibunya.


"Dih...banyak gaya!" cibir Hajah Maesaroh. Saras hanya terkekeh, kemudian melambaikan tangan hingga pantat mobil terlihat pergi menjauh.


Unyuk-unyuk, Bu Tutik menyebrang jalan selepas kepergian Hajah Maesaroh.


"Hai, Saraswati!"


Saras membalikan badan padahal tadi sudah mau bergerak cepat masuk rumah. Ternyata kalah cepat dengan gerakan tetangganya itu.


"Gimana Bu Tutik? ada yang bisa di bantu?"

__ADS_1


"Ehem! Saya lihat tadi ada tamu, Ibu kamu?"


Saras mengangguk, malas aslinya menanggapi ke kepoan tetangganya ini.


"Di bawain oleh-oleh apa?"


"Kayaknya tadi bawa rantang"


"Oh...itu, di bawain rawon sih,"


"Hih, ibu kamu itu penampilan saja terlihat kaya, mobil kempling, pakai perhiasan banyak, giliran bawain oleh-oleh buat anaknya sendiri cuma rawon,"


"Kalau saya, besok kalau datang ke rumah anak saya sendiri pasti tak bawakan bermacam-macam oleh-oleh, beras, gula, buah-buahan, jajanan, pokoknya bakal saya bawakan semuanya"


Saras nyengir, nyatanya itu hanya rencana Bu Tutik, entah kapan atau apakah benar, kenyataannya saja belum terwujud. Anak gadisnya masih belum menikah. Siapa tahu nanti Bu Tutik kalau datang ke rumah menantunya malah tidak bawa apa-apa, hanya bawa dosa.


Jadi Saras berusaha tidak terlalu ambil pusing.


Bu Tutik bahkan tidak tahu, bukan di bawakan sekarung beras apalagi dua kilo gula pasir, Hajah Maesaroh bahkan membawakan sekotak perhiasan untuk Saras. Andaikan mau sombong, Saras menang banyak.


"Ga apa Bu, lagian saya lebih suka di bawakan masakan Umik, orang-orang bilang masakan seorang Ibu itu paling lezat, saya setuju"


"Bu Tutik mau coba? sebentar saya ambilkan, masih banyak kog beneran, tunggu sebentar ya!"


Saras masuk ke dalam, beberapa menit kemudian terlihat keluar lagi membawa semangkuk rawon. Bu Tutik masih berdiri di tempatnya tadi. Sepertinya dia juga tidak terlihat sungkan untuk menerima pemberian itu. Padahal tadi sudah sempat menghina hlo.


"Ah... terimakasih, nanti mangkuknya saya kembalikan kalau sudah saya cuci!"


"Santai Bu, cuma mangkuk aja!"


"Oh ya... tadi pas kalian masuk kedalam, ada mobil bagus juga berhenti di belakang mobil Ibu kamu, itu siapa? tamu kamu juga? tapi kayaknya yang punya ga turun dari mobil, aneh"


"Hah? apa iya?"


"Iya,"


"Tapi tamu saya cuma Umik saya, palingan cuma mobil yang putar balik"


"Hmm... mungkin..."


Kemudian Bu Tutik menyebrang balik ke rumahnya. Saras menghela nafas lega.


Huft... ada saja polahnya... benar-benar CC Tv!


.


.


.


.


.


like dan komen, makasih🥰

__ADS_1


__ADS_2