
Trisemester awal ini tidak ada tanda-tanda kehamilan yang membuat Saras mengeluh. Entah itu mual atau hal lainnya. Hanya nafsu makannya yang semakin gila. Namun Saras menganggap ini hal yang wajar saja. Badan satu dia doyan makan apalagi ini badan dua.
Paijo juga selalu mewanti-wanti istrinya itu untuk menjaga kesehatan. Seperti pagi ini sebelum dia berangkat bekerja. Pesan panjang mengalahkan panjangnya rel kereta api harus Saras dengar dengan tekun.
"Jangan capek, jangan stres, kamu harus happy terus, bilang kalau kamu butuh apa-apa"
"Jangan mencuci baju, jangan mencuci piring, jangan bersih-bersih rumah,"
"Ga perlu masak juga, aku bisa makan apa saja, vitamin di minum, istirahat yang cukup, jangan nonton Drakor terus"
"Kalau bosan di rumah kamu boleh jalan-jalan, tapi jangan jauh-jauh"
"Eh, untuk yang itu kamu nunggu aku saja oke!"
"Aku ga mau kamu di lirik-lirik laki-laki lain di luar sana"
"Huh... apalagi semakin kesini, kenapa aku merasa kamu semakin seksi hah!?"
"Jangan pakai skincare dulu, sebenarnya kamu udah cantik tanpa perawatan, tapi aku ijinin nanti, kamu boleh perawatan lagi setelah melahirkan,"
"Eh tidak, setelah melahirkan kamu masih harus menyusui bukan?"
"Pokoknya jaga diri selama aku tinggal kerja, biar semuanya Mbak Kubro yang lakukan"
"Uang jajan kamu masih 'kan? Kalau habis aku transfer sekarang"
"Nanti malam pengen di bawakan jajan apa?"
Paijo yang selesai dengan jaket kulitnya, mengernyit, karena Saras nampak diam memperhatikannya. "Kenapa ada yang salah?"
"Heem" Saras mengangguk lucu.
"Apa?"
Saras mendekat dan melingkarkan tangannya di sekeliling pinggul suaminya. "Salahnya kenapa sekarang, suami aku jadi bawel sekali, hehe..."
Paijo medesis, "Hissss...." Lalu mengecup bibir Saras sekilas. "Karena aku sayang kamu dan calon bayi kita"
"Andai uang bisa datang sendiri tanpa di cari, rasanya tidak rela harus meninggalkan kamu sendirian"
"Hmmm... i'm fine... aku janji jaga anak kamu baik-baik"
"Mana mungkin aku stres, punya suami seperti kamu Mas, mengalahkan dunia dan seisinya"
Saras terkekeh setelah mengatakan itu.
"Dih gombal! Cium lagi sini!"
Saras pasrah saja saat suaminya mengecupi seluruh wajahnya tanpa terkecuali. Lalu turun ke perut Saras yang meski sudah masuk usia tiga bulan masih rata-rata saja. Hanya bagian rahimnya yang jika di rasakan terasa atos berisi. Wajar saja memang ada isinya, mungkin masih sebesar lemon. Maka dari itu, Paijo minta Saras cukup bernafas saja dan bahagia. Agar anaknya juga ikut bahagia.
"Apak juga jaga diri, hati-hati di jalan, jangan ngalamun, jangan lupa makan juga"
Semalam mereka berbincang, kelak ketika dedek sudah lahir, mereka sepakat memanggil Paijo dengan panggilan Apak dan Saras dengan panggilan Mbuk. Pengganti panggilan Bapak dan Ibu. Walau terdengar ndeso tak apa, mereka suka kog.
Setelah berpelukan cukup lama, akhirnya Saras harus mengantar keberangkatan suaminya hingga depan rumah. Rasanya tiap hari seperti di tinggal Paijo berangkat ke medan perang. Jantung Saras selalu berdenyut nyeri. Semoga Tuhan selalu melindungi suaminya.
****
Saras memakai kaos dan legging abu-abu saat mengantarkan Paijo ke depan tadi. Baru saja Paijo mungkur, tetangganya yang super kepo menghampiri Saras.
"Saras!" panggilnya saat Saras akan kembali masuk rumah.
__ADS_1
"Ya?"
"Saya dengar kamu sudah hamil ya?"
"Iya Bu" jawab Saras singkat. Seringnya Saras harus ancang-ancang menjaga hati saat diajak ngobrol ibu-ibu satu ini. Jawab secukupnya saja.
"Oh... berapa bulan? Kog perut kamu masih rata saja!"
Tuh, baru sedetik saja sudah julid. "Masuk tiga bulan Bu" Mau tak mau Saras menjawab.
Bu Tutik tiba-tiba memindai penampilan Saras dari atas turun kebawah, naik lagi turun lagi. Sungguh Saras ingin menjitaknya kalau tidak ingat dia orang tua.
"Orang hamil itu pakai daster, jangan pakai celana terus, kasihan yang di perut, masih masa pertumbuhan," Padahal Saras pakai legging bukan celana jeans ketat yang buat kentut saja susah.
"Kamu mau anak kamu punya telinga pituten? bentuknya tidak sempurna?"
Amit-amit, Saras langsung mengusap perutnya.
"Makanya pakai daster yang longgar, jangan pakai celana, karet pada celana bisa mempengaruhi perkembangan janin"
Teori dari mana itu, hebat sekali pencetusnya. Atau apa sudah ada penelitian tetang karet di pinggang celana bisa mempengaruhi perkembangan janin? Padahal faktanya, ada air ketuban yang melindungi janin dari benturan luar. Tapi dari pada mendebat terus Saras boros tenaga, mending mengiyakan. Lalu Bu Tutik pergi menyebrang kembali ke alam baka. Maksudnya pulang ke rumahnya.
****
Dari pada di tegur dua kali, Saras memutuskan untuk membeli daster lewat aplikasi belanja online. Berhubung voucher gratis ongkirnya hanya tersisa untuk pembayaran COD, akhirnya Saras pakai yang itu saja.
Saras scrolling dari toko satu ke toko yang lain. Kiranya mencari daster yang kualitasnya bagus dan pilihan beragam. Saras akan beli kira-kira dua lusin daster dengan motif yang beda-beda. Biar nanti bisa ganti daster sehari tiga kali. Biar saja Bu Tutik iri nanti. Dan mulutnya tidak akan Saras kasih kesempatan untuk julid lagi. Lihat saja!
Saras menyisipkan garis miring nama suaminya, Ahmad Ranvir Al Ghazali. Pikirnya agar kurir mudah menemukan alamat rumahnya nanti. Maklum nama Saras tidak terlalu populer di kampung itu, dia pendatang. Dan masyarakat sana lebih mengenal suaminya.
Sip! Sudah berhasil check out. Estimasi barang akan sampai tiga sampai empat hari ke depan. Atau bisa lebih cepat karena pengiriman dari Pekalongan. Tentu saja Saras lebih memilih kota Pekalongan, kota itu yang terkenal dengan sebutan kota Batik. Banyak industri batik di sana. Sehingga dia tidak ragu untuk membeli.
***
Kurir itu berhenti di depan rumah Bu Tutik. Lalu bertanya untuk yang kesekian kalinya.
"Maaf Bu mau tanya, rumah Ahmad Ranvir Al Ghazali, tahu tidak yang mana ya Bu?"
Bu Tutik berpikir keras, nama yang asing. Di ingat sampai kepala botak pun sepertinya tidak ada warga sini yang memiliki nama sebagus itu. Bu Tutik menyerah. "Ga tau Pak, memang RT dan RW berapa?"
"RT 3 RW 2"
"Ya... bener sini sih. Tapi ga ada tuh yang punya nama itu"
Kurir itu nampak frustasi. Kalau tidak berhasil mengirimkan paketan itu pasti dia dapat komplain. Belum lagi di omeli bos di kantor.
Bersama dengan itu Kubro melintas sambil bersenandung,
"Awak dewe tau duwe bayangan"
"Besok Yen wes wayah omah-omahan"
"Aku Moco koran sarungan, Kowe belonjo dasteran....aaaaaaa...."
Bu Tutik memanggilnya, "Heh, turunan jin, sini!"
Kubro mendelik jengkel, tapi mendekat juga. Kalau dia turunan jin, Kubro menurut saat di panggil titisan Dajjal versi wanita.
"Apa? Apa?"
"Tanya dia Pak coba, dia pernah jadi panitia sensus penduduk di sini!"
__ADS_1
"Barangkali manusia setengah matang ini tahu, kalau tidak tahu suruh dia pindah kewarganegaraan saja sana yang jauh!"
"Hih! amit-amit... Eike, masih cinta tanah air Indonesia. Jangan sembarangan ngomong, di tabok malaikat baru rasa!"
Kurir semakin bingung di buatnya. Mau tidak mau dia jadi wasit dan menghentikan perdebatan itu. Bu Tutik melengos tapi enggan pergi, kepo sebenarnya siapa sih pemilik nama itu?
Kubro membaca nama dan alamat yang tertera pada pada paketan berbungkus hitam itu.
"Oh... Eike, tahu betul ini."
"Tuh... rumahnya!" Kubro menunjuk rumah seberang. Rumah Paijo. Kurir dan Bu Tutik melongo bego.
"Astaga, yang bener saja, saya sudah lewat empat kali di sini, ternyata itu rumahnya..."
"Eh... bener ga kamu! Itu rumah Paijo, sejak kapan Paijo ganti nama?"
"Sumpah! berani di kutuk jadi cantik kalau Eike bohong!"
"Ahmad Ranvir Al Ghazali ini nama resminya, kalau nama panggungnya ya Paijo, nih juga, Yunita Saraswati, majikan saya yang tercantik dan terbaik sedunia nyata dan halusinasi"
"Jadi sudah jelas bukan?"
"Eike tak perlulah pindah warga negara"
"Situ aja sana yang pindah dunia! sama tetangga sendiri tak kenal!"
"Tak kenal tak sayang!" Cibir Kubro. Lalu berlalu mengajak sang kurir untuk menyebrang.
"Oh...." Bu Tutik manggut-manggut masih gumun dengan satu kenyataan ini. Dia bahkan tidak punya kesempatan membalas cibiran Kubro.
Baru detik berikutnya dia sadar. "SETAN!"
"Enak saja nyuruh aku mati!"
Pak kurir mengeluh karena muter-muter mencari alamat atas nama Saraswati. Sudah di kasih nama suaminya pun ternyata malah semakin membingungkan. Saras lupa kalau suaminya itu lebih famous dengan panggilan Paijo. Setelah meminta maaf dan mengucapkan terimakasih pada Pak Kurir,
akhirnya siang itu Saraswati, Kubro dan Pak Kurir bisa ikutan nyanyi khas Tukul Arwana.
"Chopee COD! Chopee COD...."
"Bayar langsung di tempat"
"Chopee COD! Chopee COD"
"Pasti di jamin aman"
"Pakai Chopee COD"
.
.
.
.
.
Kalian ikutan nyanyi dan goyang ga sih?
Wkwkkwkw....
__ADS_1
suwun ya masih ngikutin cerita receh iniπ