Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 64: Es Gula Batu


__ADS_3

"Apa Mas tahu sesuatu?"


"Aaachoo! Aaaaachooo...!"


Alih-alih menjawab pertanyaan Saras, Paijo malah bersin-bersin. Mungkin ini efek kehujanan. Hidungnya terasa gatal, kepalanya juga sedikit pening. Sepertinya setelah ini Paijo terserang flu, semoga tidak di tambah batuk.


Karena terus bersin-bersin Saras menyarankan Paijo membeli pakaian baru. Setelah itu mandi dan cari minum yang hangat-hangat. Saras jadi lupa lagi membahas perihal fitnah jika dirinya hamil.


"Kamu ga apa aku tinggal sebentar? Aaachoo!"


"Ga apa, nanti kalau Mas ga ganti baju bisa-bisa malah nyusul aku jadi pasien," Paijo tersenyum gemas, sekilas mengacak rambut Saras dan bersiap pergi. Namun baru beberapa langkah Paijo mundur lagi.


"Ada apa?" tanya Saras heran.


"Kamu ga akan pergi kemana-mana 'kan?"


"Memangnya aku mau kemana? aku pasien disini Mas, mau kabur kemana. Kepalaku saja masih muter-muter kayak gangsing, pusing."


"Aaachoo!!!! takut kamu ilang lagi. Kalau bisa aku pengen tanam GPS di tubuh kamu, biar kalau ilang carinya gampang."


Saras geli sendiri, "Dih, segitunya..."


"Aku keluar dulu, ga lama..."


"Iya sana!" Saras menyunggingkan senyuman. Hingga punggung Paijo menghilang di balik pintu.


Sepeninggal Paijo, pintu terdengar kembali terbuka. Budhe Sri sudah berganti baju, tadi saat ada Paijo dia sengaja pulang dulu. Sekalian mengambilkan keperluan Saras.


"Kemana bocah itu?"


Saras yang hampir memejamkan mata harus rela melek lagi. "Budhe ga ketemu di jalan tadi?"


"Barusan keluar, Saras suruh dia cari baju ganti. Kasihan bajunya ames, pasti ga nyaman."


Budhe Sri menjatuhkan pantat di bed kosong sisi Saras. "Kamu udah baikan? padahal tadi pas pingsan Budhe sudah mati-matian takut kalau kamu kenapa-kenapa,"


Saras tertawa, rasa kantuknya menguap jika ada yang mengajak mengobrol. Lagian masih magrib, tidak baik juga kalau langsung tidur.


"Makasih ya Budhe udah khawatir. Saras juga makasih Budhe udah ngijinin Saras ketemu sama Mas Paijo." Budhe Sri hanya mengulas senyum tipis. Penilaiannya tentang Paijo yang penampilannya minus dia simpan sendiri dalam hati. Budhe Sri tidak mau cap ibu-ibu pandai nyir-nyir melekat juga pada dirinya. Meski penasaran juga, apa yang membuat Saras suka dengan seonggok orang bernama Paijo. Budhe belum kenal saja, gimana baiknya Mas Paijo.


Setengah jam berikutnya Paijo kembali. Sudah mandi sudah ganti baju baru, rambut sudah disisir rapi, lumayan Paijo lebih manusiawi di pandang.


"Hei, bawa apa itu?" Saras yang duduk setengah berbaring, matanya langsung berbinar melihat Paijo datang membawa beberapa kantung plastik. Bau harum martabak telur menguar memenuhi ruangan. Saras menerima semua bungkusan dari tangan Paijo dengan rasa riang gembira.


"Jajan, Budhe silahkan di buka." Paijo dengan sopan menawarkan lebih dulu ke orang yang lebih tua.


Martabak telur, martabak Bangka, cheesecake, chicken katsu, sempolan ayam, susu jahe anget, dan tidak ketinggalan es boba, barangkali ada yang pengen. Meski ga tau boleh minum itu tidak, namanya orang sakit kadang minum es sedikit aja ga boleh. Paijo tetap membalikan itu karena tahu Saras suka sekali minuman yang memang sedang ngetren di kalangan muda-mudi.


Makanan dan minuman itu memenuhi meja kecil di samping ranjang Saras. Saras langsung mencomot martabak telur yang masih hangat. Dia makan dengan lahap. Seperti lupa kalau dirinya berstatus orang sakit.


Paijo melirik Budhe Sri yang terlihat sungkan tidak ada pergerakan menyentuh makanan.


"Budhe, di makan dong. Nanti keburu di habiskan Saras sendiri," goda Paijo. Meskipun pada dasarnya bisa jadi, mengingat Saras doyan makan.

__ADS_1


"Iya... Budhe cicipi deh martabak Bangka, yang ga banyak minyak. Kamu jajan segini banyaknya, mau membuat kami berdua mabuk makanan?" Paijo dan Saras terkekeh. Sekarang Budhe Sri tahu salah satu alasan yang membuat Saras nyaman. Ya ternyata Paijo royal juga, memberi tanpa harus bertanya. Kamu mau makan apa? pengen apa?


Suasana yang awalnya agak canggung kini mencair. Budhe Sri duduk fokus nonton sinetron. Sedangkan Paijo tidak mau jauh barang selangkah dari Saras. Keduanya terlihat mengobrol hangat diiringi senyum yang terus tersungging di bibir. Mulut Budhe Sri terasa gatal jika tidak menggoda keponakannya itu.


"Kalian itu udah kayak es gulo batu ya?" komentar Budhe Sri, mumpung sinetron Aladin sedang iklan.


Paijo mengernyit, merasa belum paham istilah itu.


"Maksudnya Budhe?"


"Iya itu... es gulo batu, bar nanges guyu! Kalian tidak pernah dengar kalimat itu? itu populer hlo saat Budhe masih kecil. "


"Tadi kalian nangis-nangis sesegukan, sekarang bisa guya-guyu (senyum-senyum) kayak wong edan"


Tawa Saras dan Paijo pecah mendengar komentar menggelikan itu. Jika diingat beberapa jam lalu mereka memang sedih sampai menusuk hati, sekarang hanya duduk berhadapan begini saja mereka sudah bahagia sekali. Bahagianya bahkan meresap hingga ke sel-sel terkecil dalam tubuh. Melewati jaringan, organ, dan semua sistem organ yang menempel di tubuh mereka.


"Budhe harap maklum, namanya orang kasmaran ya gini. Aku terlalu sayang sama Mas Paijo, hehe..."


Benar saja, sepanjang pengamatan Budhe Sri, sepertinya besok juga Saras boleh dibawa pulang. Wajah pucatnya langsung hilang berganti merah merona.


Pernyataan Saras yang tak tahu malu itu membuat Budhe Sri kembali mencibir. "Dih!"


Sedangkan Paijo yang sedang di gombali oleh kekasihnya itu menggaruk-garuk kepala, malu juga ternyata.


"Udah malam Jo, kamu pulang sana! Tadi bukannya kamu bilang pakai mobilnya Abah Saras. Ga takut di semprot kamu?"


"Apaan sih Budhe, habis kenyang langsung ngusir." Celah Saras lagi.


"Hehe... maaf Budhe, saya betah jadi lupa waktu. Beneran udah malam yah?" Paijo pura-pura bodoh sembari menilik jam di pergelangan tangan, padahal dia hanya tidak rela jika berpisah dengan Saras.


Saras menurut, mau minta di temani Mas Paijo saja barang semalam kesannya nanti jadi ngelunjak. Mengingat ada mata-mata hidup di sebelahnya.


"Budhe saya pamit dulu. Makasih sudah mau repot mengurus Saras."


"Iya hati-hati... makasih jajannya," jawab Budhe Sri dengan wajah sedatar mungkin.


"Hmm... sama-sama Budhe,"


Paijo sempat menoleh lagi menatap Saras yang mengantarkannya dengan pandangan mata. Dia melempar senyuman, kemudian menutup pinta ruangan itu rapat-rapat. Jangan sampai ada nyamuk yang masuk dan mengganggu tidur Saras nanti.


Untuk hari ini Paijo melewati hari penuh drama dengan baik sekali. Besok pagi apa yang akan terjadi hanya gambaran buram bagi Paijo. Yang jelas dia bersyukur untuk hari.


***


Karena sampai kota sudah terlalu larut, Paijo memutuskan mengembalikan mobil Haji Bagong besok saja. Kalau malam ini juga di kembalikan sudah pasti mengganggu istirahat si empu mobil yang galaknya mengalahkan tuan Takur.


Jam enam pagi, Paijo sudah rapi dan wangi. Salma ibu tiri yang bagai peri saja belum sempat melihat anak sambungnya sejak semalam. Paijo sudah pergi keluar rumah lagi. Berniat mengembalikan mobil ke rumah Haji Bagong. Siapa tahu nanti diajak ngopi bareng.


"Selamat pagi Pakde Haji, Budhe," Orang tua Saras pagi itu sudah rapi duduk di kursi taman yang tak jauh dari garasi mobil. Mereka bahkan sudah bisa melihat sejak mobil putih itu masuk ke halaman rumah mereka. Sapaan Paijo hanya di jawab dengan sebuah deheman tak berarti.


"Boleh saya duduk?" tanya Paijo memastikan, jika lancang langsung duduk, Paijo khawatir dia bakal di tendang Haji Bagong hingga keluar angkasa.


"Silahkan Nak," itu suara Hajah Maesaroh, mustahil Haji Bagong.

__ADS_1


"Pakdhe Haji, saya mau mengembali-kan kunci mobil anda. Terimakasih sudah di pinjami."


"Saras sudah mendapatkan perawatan, kondisinya juga sudah membaik. Dokter bilang dia hanya demam biasa. Mungkin hanya tiga hari dirawat, setelah itu boleh pulang." Paijo melapor dengan tekun, seakan dia baru ikut seminar dan sedang dimintai laporan pertanggungjawaban.


Hening sejenak. Paijo bisa merasakan aura Haji Bagong yang keras dan mengerikan. Daun pohon di taman sepertinya memilih nanti saja jika akan gugur. Mungkin sangking seramnya aura Haji Bagong.


"Setelah ini, saya mau kamu jauhi Saras!"


"Berapa kali saya bilang, saya tidak suka kamu."


"Jangan berpikir, hanya karena meminjami mobil dan mengijinkan kamu menemui Saras, terus kamu anggap saya kalah dan merestui hubungan kalian! Jangan harap! Mobil yang baru kamu pakai saja saya sudah tidak Sudi memakainya lagi!"


Kalimat itu menohok hati Paijo. Dia diam sebentar. Dia memang berharap Haji Bagong luluh. Tapi ternyata waktunya bukan sekarang. Atau kapan Paijo juga tidak tahu. Haji Bagong memang keras kepala melebih semua antagonis di dunia halu.


Setelah menyusun kata-kata serapi mungkin, Paijo kembali bersuara.


"Siapa yang menang siapa yang kalah? apa yang kita perebutkan memangnya?"


"Saras anak anda Pakdhe Haji, sampai kapanpun saya tidak bisa merubah kenyataan itu. Tapi saya ini laki-laki yang di cintai anak anda, harusnya anda paham itu,"


"Kami saling mencintai, kenapa anda begitu menentang hubungan kami,"


"Dimana letak kesalahan kami? Kami hanya mengharapkan restu dari anda,"


"KAMU! SAMA SEKALI TIDAK PANTAS UNTUK ANAK SAYA!!!"


"KURANG JELAS APA!!!"


"BERAPA KALI SAYA HARUS ULANGI!!!"


Paijo sebenarnya malas sekali ribut. Tapi mau di ulang berapa episode lagi Haji Bagong sepertinya tetap sama saja.


"Pakdhe Haji, kalau anda terus saja bersikeras menentang hubungan kami. Jangan salahkan saya jika saya nekat!" Haji Bagong melotot, rahangnya sudah mengeras. Tapi cengkraman di lengannya menahan agar dia tidak lepas main tangan.


Paijo langsung bangkit dari duduknya, tidak betah lama-lama duduk di sana. Sedikit mengancam Paijo kembali bergumam. "Apa Haji Bagong mau melihat anaknya jadi gadis gila? kleweran sepanjang jalan?" Paijo sudah bertekad bulat. Bagaimanapun juga dia harus segera menikahi Saras.


"KURANG AJAR KAMU!!!" Haji Bagong paham arah omongan Paijo. Itu sama artinya dengan jika cinta di tolak dukun bertindak. Meskipun mustahil Paijo pergi ke dukun. Dia hanya sebatas menggertak saja.


"Saya pamit dulu, lebih baik saya menemani anak anda daripada duduk disini hanya akan membuat anda marah bukan?"


"Budhe, saya permisi. Tolong jaga ayah mertua saya."


Mau di hina semakin keparat atau bangsat sekalipun, Paijo sudah tidak peduli. Paijo hanya ingin Saras. Titik!


.


.


.


.


.

__ADS_1


jangan bosan-bosan, jangan pusing, ceritanya emang mbulet, mau gimana wong susah sekali membujuk Haji Bagong.


like dan komen, makasih ah😁


__ADS_2