Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 28: Bejo Tidak Jadi Mati


__ADS_3

Saras menunggui Paijo yang sedang mandi. Pandangannya menyapu ruangan dimana dia sedang duduk. Ruangan full AC yang menyejukkan dengan seperangkat meja kursi kantoran. Tidak lama kemudian Paijo menjumbul dari balik pintu. Selesai mandi wajahnya sudah kembali layak di pandang. Segar dengan rambut yang masih basah, bahkan bau shampo bisa tercium dari radius satu meter.


Lagi-lagi kaos oblong putih. "Apa kamu tidak punya kaos selain warna putih? perasaan kemana-mana pakai kaos putih terus, beruntung saja tidak ada gambar partai. Bisa sakit mata aku,"


"Protes? emang aku sengaja kalau beli warna putih. Lebih efisien, kalau mau pergi ga perlu mikir mau pakai kaos warna apa,"


"Lagian kita mau kemana?"


"Wah, aku kira ada makna tersendiri memilih warna itu. Ternyata hanya males mikir." cibir Saras lagi.


"Cari makan, aku yang traktir." Saraswati nyengir menyombongkan diri.


Paijo mendengus, "Sok banget, kerja belum udah gaya aja."


"Eits, jangan salah. Sombong dulu kerja menyusul. Lagian ini juga hasil kerja 'ku."


"Kerja apa kamu?" Paijo melirik sedikit kaget, apa tanpa sepengetahuannya Saras punya kerja sampingan. Dia tidak mau gadis yang fix dia cintai itu bersusah payah mencari uang.


"Membersihkan tai kucing di kolong kasurnya Hayu. Mayan dapat lima puluh ribu." balas Saras slegekan.


Paijo shock dong. Dia menyentil dahi Saras hingga empu dahi meringis kesakitan. "Kamu waras?"


"BUKAN! aku Saras!" jengkel juga niat bercanda malah dapat bonus sentilan.


"Haha...dasar!"


****


"Heummmm... mantapnya ini sambal. Enaknya sampai ubun-ubun."


Paijo geleng-geleng melihat Saras yang rakus memakan sambal ayam bakar khas Lamongan. Sambal miliknya nyaris jadi target berikutnya. "Kamu ga takut sakit perut?"


"Makan sambal udah kayak barongan makan beling. Kalap."


"Hehe... sakit tinggal minum obat. Gitu aja kog repot." Jawab Saras menirukan jargon tokoh idola H. Bagong yang telah wafat.


Suasana warung lesehan Lamongan sore itu tidak terlalu ramai. Saraswati masih menikmati sensasi ayam bakar yang pecah di mulut. Sedangkan Paijo memilih makan dengan tenang daripada terus mendebat Saras dengan sambalnya.


Dahi Saras berkeringat, sensasi pedasnya kini baru terasa membakar lidah. Bahkan tangannya terasa panas. Istilah kata simbok di rumah, tangan Saras lombok.en. Karena makan tidak menggunakan alat bantu sendok atau sekop.


Tiba-tiba pandangan Saras bertumpu pada laki-laki yang wajahnya tidak asing. Laki-laki itu terlihat sama lahapnya memakan ayam bakar Lamongan. Siapa dia? kayak kenal? ahhh... wahai otak jangan bodoh sekarang!


Setelah berhasil mengingat, Saras reflek menepuk pipi Paijo yang sedang tafakur mengunyah makanan. Saras kipyak-kipyak.


"Jo! Jo!" Paijo merasa pipinya panas. Tidak hanya karena tamparan yang gagal dia antisipasi, juga karena Saras belum cuci tangan ampun.


Paijo mendelik, "Apa?!"


"Jo! itu lihat. Meja belakang, orang itu..."


"Bukannya itu orang yang viral di Vidio bakso Cak Sam?"


Paijo reflek menoleh, benar sekali. Dia juga sudah menghafalkan wajah orang itu seperti menghafal lambang unsur pada sistem pereodik. Ha Li Na Karo Rubi Cs Forever atau lebih tepatnya H, Li, Na, K, Rb, Cs, Fr.


"Oh... betul dia orangnya!" Sangking menggebu-gebu dan berisik, laki-laki itu sadar telah jadi pusat perhatian dua pasang mata. Secepat kilat dia bangun, bahkan meninggalkan sepatunya tanpa sempat memakainya dulu. Saras yakin orang itu juga belum membayar.


"Ayok, kita kejar dia."


"Kamu kejar dia Jo! aku bayar dulu!"

__ADS_1


Paijo mengangguk, dengan langkah seribu dia berlari mengejar, sedangkan Saras menghampiri pegawai warung yang berusaha menagih pembayaran pria tak beradab itu. Habis makan seenaknya kabur.


"Pak, biar sekalian saja saya yang bayar makanan orang itu. Dia buronan kami!"


Ya ampun, buron aja tetap aku traktir makan, betapa baiknya diriku.


Setelah bangkit dari kenarsisannya Saras bergegas menyusul. Dia tidak mau kehilangan jejak. Tapi kemana larinya mereka berdua?


Saras sebenarnya malas sekali jika harus lari. Lari dari kenyataan dia lebih jago.


Nafas Paijo tersengal-sengal, dia berhenti karena lututnya juga sudah bergetar sangking cepatnya dia berlari mengejar. Ponselnya berdering.


"Hallo Jo, aku kehilangan jejak. Share lock aja yah"


Belum sempat menjawab ponsel di matikan. Saraswati memang seenaknya. Paijo share lock titik dia berdiri. Tidak sadar ternyata dia sudah berada di gang sepi. Entah seperti bekas kawasan pabrik yang terbengkalai. Paijo sekilas sempat berpikir apa dirinya kena oyot mimang? bingung mau kemana. Sambil menarik nafas tak lama kemudian Saras muncul. Dia turun dari gojek. Curang sekali.


"Jo, mana orangnya?"


"Kehilangan jejak! Sialan!" Wajah Paijo geram, harusnya dia bisa menangkap orang itu.


"Kita cari lagi, pasti belum jauh dari sini! Ayok!"


Sebenarnya Paijo agak ragu, tapi melihat sorot semangat di mata Saras dia kembali bergelora.


Mereka kembali berlari, menelusuri lorong-lorong yang memang sepi.


"Woi, tunjukkin anu kamu kalau berani jangan ngumpet kayak bocah!" teriak Saraswati.


Paijo melotot, "Hush, Saraswati bicara yang sopan! kamu mau mulutmu di tabok malaikat?"


Saras bergidik ngeri. Dia mengulang kembali teriakan itu. "WOI, tunjukkan wajah kamu. Jangan ngumpet kayak kotoran kuping! susah di korokin!"


PROK...! PROK...! PROK...!


Seketika muncul lima orang pria berpenampilan sangar, walaupun tidak begitu berotot lengan mereka bertato. Total jumlah mereka enam orang. Preman kalau Saras kenali.


Laki-laki botak yang bertepuk tangan itu target Paijo. Dia ternyata membawa bala tentara.


"Bocah! Apa kalian mencari saya?"


"Apa katamu tadi? kotoran kuping? Hish... jorok!"


Saras mengkerut, dia ngumpet di balik punggung Paijo. Tangannya bahkan memegang ujung kaos Paijo. Saras setengah berbisik. "Jo, kita belum kawin. Bahkan aku belum tahu bagaimana jelasnya perasaan kamu. Apa kita akan mati sekarang?"


Paijo melirik sekilas Saraswati, saat ini bukan waktu membahas perasaan, sebisa mungkin dia tenang. Jika melawan jelas lawan tak sebanding, apalagi mereka bawa alat berat. Pentungan kayu. "Siapa orang yang menyuruh 'mu?! Katakan! maka aku tidak akan mengejar 'mu lagi!!!"


"Hahaha..." tawa mereka pecah.


"Kamu ngantuk bocah?"


"Kamu yang terancam di sini! bukan saya apalagi mereka. Hahaha...."


"Kita mampusin sekarang aja!" sahut preman satu.


"Sisakan gadis itu, cantik lumayan kalau bisa dicicipi!" balas preman dua yang jeleknya audzubillah.


Saras berbisik lagi. "Jo, apa rencana 'mu? Jo kamu bisa gelut 'kan?" Tapi mereka terlalu banyak."


Preman-preman itu semakin mendekat. "Heh, kalian stop di sana! Kalian tidak tahu aku orang mana?"

__ADS_1


"Cih..."


"Memang kamu siapa hah?!"


"Pernah dengar kota Kaliwungu?"


Mereka seperti berpikir sejenak. Saras berbisik lagi. "Jo memang kenapa jika kamu orang Kaliwungu?"


"Stttt... diam Saraswati!" Paijo hanya mengulur waktu. "Jika aku bilang lari, kamu harus lari secepatnya oke?" Bisik Paijo. Saras mengangguk. Kali ini dia sadar diri daripada di cicipi.


"Kaliwungu kota santri? Lalu apa kalian pikir kami takut? TIDAK sama sekali. Hahaha..."


Mulut Paijo mulai komat-kamit. Baca doa. "Kalian berani, lihat saja! Jalankan kaki kalian yang lumpuh, anu kalian bisa juga ikut lumpuh."


"Heh, baca doa apa kamu!" salah satu preman terpancing juga. Dia merinding, membayangkan anu lumpuh. Bisa di katakan dia pernah mendengar kehebatan kyai-kyai Kaliwungu yang hanya berkedip bisa melumpuhkan lawan.


Paijo tetap komat-kamit. Melihat lawan yang seperti sedang berpikir Paijo meraih tangan Saras dan berbalik arah. "LARI!!!!!"


Saraswati dan Paijo lari sekuat tenaga. Mereka masih terlihat mengejar di belakang.


"Jo! Cari jalan ke pusat keramaian!"


"Ah... ga bisa mikir. Penting lari, ayok!"


"Lebih cepat Saraswati!"


Mereka masih terus berlari sekuat tenaga! Teriakan orang-orang di belakang mereka mengerikan karena sudah merasa di bodohi. "WOI!!! Berhenti!"


"Dasar bodoh!"


"Mana mau mereka berhenti!"


"Kejar terus! bikin mereka mampus sekalian!"


Langkah Paijo dan Saras zig zag tak terarah. Dalam hati mereka berdoa, agar Tuhan menyelamatkan mereka. Tidak lucu, awalnya mengejar buronan, malah sekarang nyawa mereka yang terancam.


"Jo, aku tidak sanggup! kaki 'ku...!"


"Ayok, Saras kita harus terus lari!"


Mereka berhenti untuk mengambil nafas sejenak. "Ayok kamu kuat! ingat cita-cita kamu belum tercapai."


Cita-cita yang mana, Saras bingung. Cita-citanya terlalu banyak. "Hah.... ayokk..."


Mereka lari lagi, kali ini mereka sudah sampai di bibir jalan. Paijo masih menggenggam tangan Saras saat langkah mereka menghampiri segerombolan ojek pangkalan.


Paijo menjelaskan jika sedang di kejar preman. Dia memohon bantuan pada bapak-bapak ojek itu. Bapak ojek pun sudah berkacak pinggang jika benar harus bertempur.


Tak lama rombongan preman itu berhasil menyusul juga di bibir jalan raya. Si botak dari gua hantu, terlihat menghentikan langkah mereka. Mereka sadar sudah berada di tempat umum. Kalaupun menyerang mustahil. Tak jauh dari sana ada kantor polisi. Sama saja mereka mengantarkan nyawa. Dengan tatapan menghujam sampai jantung, mereka mundur. Paijo dan Saraswati menghela nafas lega.


"Slamet... Slamet..." ucap Paijo.


"Bejo... Bejo... kita tidak jadi mati Jo!"


.


.


.

__ADS_1


.


like dan komen, bagi vote 😁🄰😘😘😘


__ADS_2