Terjerat Cinta Mas Paijo

Terjerat Cinta Mas Paijo
Chapter 31: Jadi Korban Penculikan


__ADS_3

Perut kenyang setelah sarapan bubur ayam kiriman Paijo. Dari pada gabut mending melakukan hal yang positif, cuci baju. Kasihan sudah jamuran karena di biarkan menumpuk berminggu-minggu. Berhubung sabun deterjen habis, Saras harus keluar ke warung buat beli sabun. Jalan kaki saja toh warung ga jauh-jauh amat.


Hayu dan Rani sudah pergi di jemput pacar masing-masing. Jomblo macam Saras harus pandai-pandai mengatur jiwa jangan sampai terlihat ngenes. Setelah mendapatkan lima bungkus detergen seribuan yang lembut di tangan, Saras balik jalan. Bulu-bulu di tangannya tiba-tiba meremang saat berpapasan dengan seorang laki-laki yang terlihat mencurigakan.


Laki-laki itu nyaris menutupi seluruh tubuh dan wajahnya. Memakai hoodie gombrong lengkap dengan penutup kepala, wajahnya tertutup masker, kaca mata hitam dan topi. Mirip orang buronan atau begal? Saras membuang pandangan, pura-pura mengabaikannya. Namun tak lama kemudian laki-laki itu berbalik arah dan berjalan mengikuti Saras. Saras ingin lari saja, tapi karena parno kakinya malah terasa lemas.


Kompleks yang biasa ramai dengan anak kecil tumben sepi padahal ini hari Minggu. Mungkin mereka anteng di rumah mainan hp atau nonton sinetron azab. Mau nonton kartun juga bosan paling cuma ada Upin dan Ipin atau Doraemon. Itu juga episode di ulang-ulang.


Saras tahu laki-laki di belakangnya itu mulai mempercepat langkahnya. Terdengar hentakan sepatu yang semakin jelas. Saras tidak berani menoleh. Sumpah dia ingin lari tapi tidak bisa.


Tiba-tiba laki-laki itu menarik tangan Saras dengan cepat. Saras berteriak sambil memejamkan mata. Tidak berani melihat apalagi bertatap mata.


"Ahh! Lepas! Jangan begal saya, saya ga bawa uang sama sekali! Sumpah tadi cuma bawa lima ribu udah buat beli deterjen. Huaaaa...." Saras ingin menangis.


Laki-laki itu panik juga. "Heh, diam Saraswati!"


"Siapa juga yang ingin membegal kamu!"


Saras hafal suara siapa itu. Dia memicingkan mata. Dan langsung melayangkan pukulan pada dada bidang laki-laki yang berhasil membuat jantungnya meronta. "Dasar Paijo! Kenapa pakaian 'mu seperti itu hah!?"


Saras mengulangi pukulan kecil itu. Kali ini di tangkis Paijo. Tangan Saras di genggam erat, yang punya tangan jelas meronta-ronta.


"Memang harus begini! aku mau nyulik kamu!"


Saras tersenyum mengejek. "Hah, kamu pikir itu mudah? aku bukan anak kecil ya, jadi jangan percaya diri dulu."


"Aku bisa teriak minta to----" belum selesai mendebat Paijo. Mulut Saras di bekap, tangannya di ikat dengan cepat. Rentengan deterjen jatuh begitu saja. Saras hanya bisa melotot dan meronta saat tubuhnya di sampirkan di bahu Paijo. Paijo mengangkat tubuh Saras bak memikul karung beras.


"Maaf, habis kamu berisik banget!"


Kemudian memasukkannya ke dalam mobil. Mobil Paijo? bukan, Paijo sengaja merental mobil, lagipula dia belum begitu kaya. Bisa sebenarnya jika hanya untuk beli, tapi Paijo juga belum mau. Dia lebih suka membelikan uangnya untuk membeli kebun atau sawah di bandingkan benda-benda yang lama-kelamaan hanya akan menjadi barang rosokan seperti itu.


Mobil yang mereka tumpangi melaju semakin menjauh. Membelah jalan raya yang lenggang. Saras kesal bukan main, karena sudah capek menendangi dasboard. Dia beringsut duduk memunggungi Paijo.


Melihat korban sudah jinak, Paijo melepaskan ikatan pada tangan dan mulut Saras.


"Dasar gila! Jangan bilang kamu itu psikopat mengerikan, yang menculik dan memutilasi korban, lalu memasaknya menjadi hidangan gulai atau rica-rica!"


"Ide yang bagus, nanti aku kabulkan permintaan 'mu itu" Saras melotot tak percaya. Mengenal bukan berarti kita sudah tahu sejatinya sifat seseorang. Barangkali orang itu baik hanya sekedar kedok.


"Hentikan mobilnya atau aku akan loncat!"


"Pintunya sudah aku kunci otomatis. Diam dan duduk yang tenang."

__ADS_1


"Ini hukuman karena kamu sudah berani mengabaikan aku berminggu-minggu!"


Saras gemas sampai meremas udara di depan wajahnya. "Hei Paijo, jahanam sekali anda!"


"Siapa yang suruh agar aku fokus kuliah hah?"


"Sekarang giliran aku fokus, kamu yang mencak-mencak. Menyalahkan orang lain padahal kamu sendiri yang salah!"


"Mau 'mu apa hah!!!???"


Paijo memundurkan tubuhnya, Saraswati sudah mirip siamang yang murka. "Sudah jangan cerewet, duduk yang benar!"


"Ini mobil sewa, jangan kamu rusak! Eman-eman kalau harus ganti." Ucap Jo lebih rendah. Bahaya juga gadis ini, takut kalau di gas malah kandas. Bagaimanapun, dia punya misi selain berdebat tidak jelas, ada hal yang lebih penting.


"Bodo!" Saras melipat tangan dan membuang muka.


"Yah, begitu lebih baik!" Saras hanya melirik, bibirnya cemberut untuk memberi tanda jika dia benar-benar jengkel kali ini.


Sebenarnya dia mau membawaku kemana?


Kalau aku bertanya, jelas dia tidak akan menjawab. Yang ada aku akan terlihat bodoh, mana ada orang nyulik ngasih tahu tujuannya.


*****


Yang benar saja, dia mengajakku ke taman safari, untuk sekedar jalan-jalan? atau aku akan dijadikan makanan untuk harimau di sana?


"Ayo, turun!"


"Mau apa kita kesini?" tanya Saras ketus.


"Jalan-jalan, lihat bintang, mau apalagi?"


"Masak iya kita kesini mau cari rumput? Ngarit?" istilah cari rumput buat pakan ternak seperti Sapi atau kambing.


"Opo???"


"Ya Tuhan, Paijo kamu tidak punya belas kasihan hah!?"


"Aku belum mandi, tadi pagi cuma sempat cuci muka dengan metode dua jari."


"Lihat Jo Paijo! Aku bahkan hanya pakai sandal jepit." Wajah Saras memelas. Untung sandalnya agak bermerek terkenal, swallow. Dia juga hanya memakai celana pendek selutut dan kaos oblong. Jalankan jalan-jalan, saat masuk nanti mungkin orang akan mengira kalau dirinya pemulung. Ah tidak juga, Saras cantik orang cantik tidak mandi setahun pun tetap kelihatan cantik bukan? Hanya tidak percaya diri saja, bau asem.


"Memang kenapa? Apa ke kebun binatang perlu memakai pakaian bagus?"

__ADS_1


"Begitu saja juga masih layak kog!"


Sungguh Saras ingin menangis, seumur hidupnya saat akan berpergian, jauh hari pasti dia akan memikirkan, mau pakai baju apa? sepatu apa? tas apa? Kalau perlu beli, dia pasti beli dulu. Walaupun harus paylater, hehe....


"Layak untuk di hina maksud kamu?"


"Aku ga mau turun! Kamu saja sana kalau mau menyamakan muka sama monyet."


"kita pulang saja, sial! aku ga bawa uang seperak pun."


"Tahu mau di culik, aku pasti persiapan. Bawa uang yang banyak, setidaknya bisa naik ojek buat kabur."


Paijo menghela nafas panjang. Berkomunikasi dengan gadis ini lebih susah ternyata, di bandingkan dengan operator seluler.


Saras masih ngoceh ngalor-ngidul tidak jelas. Beberapa menit, Paijo hanya mendengarkan.


"Jo, kamu juga harus tanggung jawab dengan nasib cucian di ember. Deterjen 'ku ya Tuhan. Tercampakan di jalan tadi, hah... beruntung sekali orang yang menemukannya."


"Cucian 'ku Jo, sudah aku rendam tapi belum di kasih sabun. Mati aku, pasti bau kecing nanti kalau kelamaan."


"Kita pulang saja ya, please..."


"Ah... aku punya ide. Begini saja, belikan aku pakaian dulu baru aku mau ikut masuk. Bagaimana?"


"Kamu mau turun jalan sendiri atau mau aku gendong kayak tadi?"


"Heh, Saraswati jangan lupa. Kamu masih berstatus korban penculikan! Jadi jangan ngelunjak!"


Sudah habis ide yang di miliki Saras. Benar juga, dia sedang di culik. Dimana-mana penculik yang punya kendali. Paijo sialan!


.


.


.


.


.


Biasakan yuk, like, komen, bagi hadiah.


Terima kasih ya masih setia sampai detik ini🤣🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2