
Kamu senang ataupun sedih, dunia tidak akan mau menunggumu. Dunia akan terus berputar. Malam berganti malam, hari berganti hari. Paijo kembali pada kesibukannya, bekerja dan bekerja. Meskipun tidak lupa juga dia mencintai isterinya. Berangkat petang pulang petang. Resiko wirausahawan, apa-apa harus diurus sendiri. Target dan eksekusi langsung!
Hari-hari Saras juga monoton, isteri Paijo itu hanya akan keluar rumah jika ingin belanja sehari-hari. Selebihnya dia anteng di dalam rumah, melakukan pekerjaan rumah tangga, seperti wanita pada umumnya, mencuci baju, memasak, dan bersih-bersih rumah.
Saras tidak pernah mengeluh karena dia melakukan dengan senang hati. Padahal Salma sering melarangnya agar jangan terlalu lelah. Tapi berulang kali juga Saras menjawab jika dirinya tidak keberatan sama sekali. Jika pekerjaan rumah sudah selesai, barulah Saras istirahat. Bersantai, berselancar di dunia maya atau nonton streaming drama Korea. WiFi yang sudah terpasang harus di manfaatkan sebaik mungkin bukan? Paijo memang sebaik itu.
"Apa? benarkah kamu akan segera pulang?"
Tidak bermaksud menguping, hanya tidak sengaja Saras mendengar Salma sedang berbicara lewat telpon saat dirinya hendak mengambil minum di dapur. Dengan siapa, Saras juga tidak tahu.
"Baiklah, Ibu tunggu kepulangan mu nak, Ibu senang sekali, Bapak pasti juga senang mendengar kabar ini,"
Saras termenung, apa itu saudara Paijo?
Selesai dengan obrolannya Salma baru sadar jika menantunya berdiri termenung tak jauh dari tempatnya duduk. "Oi, duduk sini Saras!"
Saras mengulas senyum lantas menjatuhkan pantatnya di dekat Salma.
"Kamu tahu tidak, Ibu senang sekali, anak Ibu, Jaelani, akan pulang dua hari lagi" Binar bahagia jelas tersirat di mata Salma. Wajar, anak kandungnya akan pulang.
Saras kembali mengulas senyum, Saras tidak terlalu kenal Jae. Meski samar teringat memang dulu Paijo punya saudara tiri, tapi di bandingkan Jae, saat kecil dulu Saras lebih sering melihat Paijo. Saras merasa mungkin akan sedikit canggung nanti jika laki-laki itu datang. Tapi mengungkapkan hal seperti itu, mana mungkin.
"Ah... ibu pasti sangat rindu dengannya?"
"Hmm..." Salma mengangguk kecil, "Oh ya, dia lebih tua satu tahu dari Jo, jadi kamu bisa memanggilnya kakak, atau mas, terserah kamu"
"Ibu harap kamu bisa menganggapnya seperti saudara kamu sendiri ya, yah meskipun dia hanya saudara tiri suami kamu"
"Ibu, jangan bicara seperti itu, Ibu sudah menganggap saya seperti anak Ibu sendiri, tentu saja saya akan menganggap anak Ibu juga saudara saya"
Aku harus bisa beradaptasi dengan keluarga ini, harus!
"Syukurlah, Ibu senang sekali, dan kamu tahu Saras, Jae bahkan tadi mengatakan kalau pengajuan pindah tugasnya di acc, dia akan tinggal di rumah ini, nanti pasti rumah ini semakin ramai, Ibu senang sekali"
Entah perasaan apa ini, Saras ikut senang melihat Ibu mertuanya bahagia menyambut kedatangan anak laki-lakinya. Tapi membayangkan akan ada anggota baru di rumah itu, entah mengapa ada perasaan sedikit tidak enak di hati Saras. Terlebih dia seorang laki-laki.
***
Dua hari yang di tunggu tiba juga. Sejak pagi Salma sudah sibuk memasak berbagai masakan kesukaan Jaelani. Ibu tiri Paijo itu bahkan berpesan pada suami dan anaknya agar nanti pulang cepat. Berkali-kali pula Salma terlihat menghubungi Jae.
"Kenapa kamu tidak naik pesawat saja hah?" Salma terdengar mengomeli Jae saat anaknya itu malah naik kereta api dari Jakarta.
"Ibu kira kamu hanya butuh dua sampai tiga jam sampai rumah, Ibu sudah masak makanan kesukaan kamu, huh, sepertinya nanti Ibu harus menghangatkannya lagi!"
"Sampai stasiun jam berapa? apa perlu di jemput?"
__ADS_1
"Jam empat sore ya, baiklah kalau tidak mau di jemput, kamu hati-hati, waspada, masih banyak copet yang belum pensiun di Semarang,"
Dan sore itu seperti biasa Saras sudah mandi paling awal. Semenjak menikah sifat buruknya yang sering malas mandi saat masih gadis dulu, tanpa sadar hilang dengan sendirinya. Berganti kebiasaan yang ingin selalu terlihat cantik dan rapi di depan sang suami. Meski tidak akan pergi keluar rumah, bedak dan lipstik menjadi hal yang wajib dia bubuhkan di wajah ayunya.
Salma belum selesai mandi, jadi Saras memilih duduk santai sambil nonton tv. Saras tidak terlalu suka sinetron istri yang tersakiti, maka dari itu dia lebih memilih menonton Upin dan Ipin. Mau di katakan kekanakan juga tak masalah, Saras menikmati apa yang dia tonton.
Terdengar suara ketukan pintu, tak menunggu lama apalagi menunggu Upin dan Ipin sponsor dulu, Saras bergegas membukakan pintu. Saat pintu terbuka, wusss...angin berhembus lembut, menyibakkan rambut Saras yang terurai indah.
Seorang laki-laki bagaikan terhipnotis di depan gawang pintu, mulut laki-laki itu bahkan terlihat mangap mirip mulut ikan lohan.
Ya Tuhan, ini manusia apa bidadari? Cantik cuy...
"Maaf, permisi!" tegur Saras.
Jaelani gagap, tersandar jika dirinya sempat terbuai dengan kecantikan isteri Paijo, saudara tirinya. "Eh, sori, saya Jae" Jae mengulurkan tangannya. "Kamu pasti Saras"
Jae tersenyum, hatinya pun ikut berdesir tak karuan saat tangan Saras menerima uluran tangannya. "Iya, silahkan masuk, Ibu sudah menunggu mu sejak tadi"
Hebat sekali Paijo, bisa punya isteri secantik ini...
Jae masih sempat sibuk dengan pikirannya sendiri, mengagumi Saras, membuat Saras harus kembali menoleh karena laki-laki itu terlihat tidak beranjak masuk.
"Apa perlu saya bawakan kopernya?"
Lagi-lagi Jae tergagap, "Eh... tidak, tidak perlu, ini berat sekali, kamu tidak akan kuat"
"Oi, JAE!!!"
Salma heboh, tangannya terlentang minta di peluk anak laki-lakinya. "Ibuuuu... aku kangen sekali,"
Sudah pasti mereka berpelukan sangat erat. Pelukan Teletubbies lewat, kalah heboh dengan pelukan mereka.
"Ibu juga kangen banget sama kamu,"
"Kamu sehatkan? Ya Tuhan, lihatlah, kamu kurusan!"
Pelukan mereka berganti interogasi Salma yang menelisik tubuh Jae. Dari garis wajahnya, Jae cukup tampan mewarisi garis wajah ibunya. Salma cantik, wajar anaknya tampan.
"Pasti makan kamu tidak bagus, berapa kali ibu bilang, kamu harus makan yang sehat!"
"Ibu... aku sehat kog, kurus gimana sih, sama aja, anak Ibu ini memangnya pernah gemuk?"
Jae tersenyum menggoda Ibunya.
"Ibu sekarang, kelihatan tambah cantik" Puji Jae, eh tunggu tapi kenapa matanya mampir melirik Saras.
__ADS_1
Saras tentu saja membuang pandangan, daripada terbengong rikuh, lebih baik bikin minum.
"Mas-Jae mau minum apa?" tanya Saras dengan nada bicara senormal mungkin.
"Dia suka kopi hitam yang pahit, biar ibu saja yang buatkan,"
"Ah, biar saya saja Bu. Ibu santai saja oke!"
"Ah, terimakasih sayang..."
Saras menghilang di balik pintu dapur. Jae seperti tidak bosan, pandangannya mengekor pada Saras. Dari dapur Saras masih mendengar mereka mengobrol. Suara Upin dan Ipin bahkan tidak menggangu mereka sama sekali.
"Jam berapa Bapak dan Jo pulang?"
"Bapak paling sebentar lagi, belum tahu kalau Jo."
"Dia sering pulang malam, bahkan kemarin sampai jam sebelas malam baru sampai rumah. Kasihan isterinya, nunggu dia sampai terkantuk-kantuk"
"Oh, sibuk sekali ternyata. Usahanya bagaimana Bu?"
"Bagus, berkembang pesat. Dia sekarang tidak kalah hebat dari kamu"
"Hmm... tahulah kesayangan Ibu" cibir Jae.
"Hei, jangan bicara seperti itu. Ibu sayang kalian berdua, eh bertiga, tambah anak perempuan Ibu, satu"
"Duduk sini sayang, makasih ya..."
Saras meletakkan minuman yang telah dia buat di meja. Kemudian ikut duduk di sebelah Salma. Dalam hati Saras berharap, agar Paijo segera pulang. Meski Jae anak Salma, tetap saja Saras rikuh. Apalagi sejak tadi tatapan laki-laki itu terasa tidak wajar. Saras bukan GeEr, tapi sebagai wanita dia masih peka. Mana boleh Jae memandang Saras sampai begitu. Kalau tidak menghormati mertuanya, Saras tidak ingin lama-lama duduk basa-basi di sana. Kalau boleh, Saras ingin bersembunyi saja di dalam kamar terus kunci pintu rapat-rapat. Bapak kog ya belum pulang-pulang.
Ya Tuhan, Saras benar-benar risih... Upin dan Ipin, bisakah kalian menolong Saras dari situasi tidak mengenakan itu?
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Wah, Mas Jo cepat pulang, udah di tunggu mbak Saras tuh!
Reader, like dan komen kalian di tunggu othor dongπππ