
Setelah pulang dari rumah Saras dan mampir mengunjungi Abah Haji, Hajah Maesaroh sebenarnya sudah merasakan pusing, kliyengan. Tengkuk leher berat seperti di tindih batu besar, tapi masih dia tahan. Puncaknya saat Haji Bagong membentak-bentak dengan suara keras, kepala Hajah Maesaroh tidak hanya serasa di tindih batu besar, tapi sudah serasa seperti dipukul berkali-kali dengan batu itu.
Peng! Peng! Peng!
Hingga pandangannya kabur dan jatuh pingsan.
Riwayat vertigo, dokter berpesan agar pasien jangan di ajak berpikir yang berat-berat dulu, jangan stres dan tertekan. Tidak stres bagaimana, kalau suaminya itu garangnya minta ampun. Sepanjang riwayat itu, baru kali ini Hajah Maesaroh sampai opname di rumah sakit. Apa hal ini bisa membuat Haji Bagong menyesal? Yah, kita doakan saja bareng-bareng.
Dua hari menunggui istrinya di rumah sakit, cukup menguras tenaga dan pikiran Haji Bagong. Pasalnya, Hajah Maesaroh tidak banyak bicara sekarang. Mengeluh saja tidak, hanya beberapa kali terlihat meringis sambil memegangi kepala, wajahnya juga masih pucat. Jika butuh apa-apa, semisal mau ke toilet, ibu Saraswati itu justru lebih memilih meminta bantuan perawat yang berjaga.
Haji Bagong ada, tapi justru tak dianggap sama sekali. Rasakan, wanita diam itu lebih menakutkan daripada mengomel.
"Kamu pengen makan apa? nanti biar saya belikan?"
Hajah Maesaroh diam membisu. Malah membalikkan badannya, mungkuri Haji Bagong yang duduk di sebelah kanan tempat tidur.
"Saya mau pulang sebentar, mandi di rumah, kamu butuh di ambilkan apa?"
Tidak ada jawaban. Terdengar helaan nafas berat Haji Bagong. Namun, hal itu juga tidak membuat Hajah Maesaroh menoleh. Menyerah, Haji Bagong pun memilih segera pergi.
***
"Mbak Saras, ga capek apa, jalan mondar-mandir udah kayak setrikaan!"
"Ono opo?"
Ada apa Saras juga tidak tahu, dia merasa cemas saja sejak tadi malam. Tidak sadar Saras mengigiti ujung kukunya.
"Aku ga tau kenapa yah, rasanya kayak cemas, tapi karena apa juga aku ga tau,"
Kubro menempelkan tangannya di kening Saras, lalu menyeletuk, "adem, tidak panas, coba pinjam telapak tangannya mbak"
"Buat apa?" Saras mengernyit.
"Buat di baca garis tangannya!" jawab Kubro emosi jiwa. "Yah di cek dong sis, barangkali kamu sakit,"
"Gayanya... udah kayak dokter aja" meski mengatakan itu, Saras menurut menyodorkan tangannya.
"Heiiii... gini-gini saya pernah ikut PMR pas sekolah SMP dulu"
"Minimal nyari denyut nadi saya bisa"
Lagi-lagi Saras mencibir dengan wajah malas.
"Dingin banget tangannya, kayak mayat hidup, kalau menurut saya, Mbak Saras ini sudah berlebihan cemasnya..."
"Apa yang dipikirin coba? kalau khawatir sama Mas Paijo 'kan bisa langsung di telpon, pulang jam berapa, atau sampai mana gitu..."
"Udah, aku udah telpon tadi, cuman perasaan aku tetep ga enak"
"Kayak deg-degan, kayak takut sendiri kalau-kalau ada hal buruk apa gitu... embuhlah... rasanya ga enak banget"
__ADS_1
"Mau di bikinin teh manis anget?"
Saras hanya mengangguk kecil. Kubro bangkit menuju dapur. Namun wejangannya masih berlanjut.
"Jangan banyak pikiran Mbak, rileks aja, takdir baik atau buruk sudah di atur, kita sebagai manusia harus bisa menerima itu, jika baik alhamdulillah, jika buruk ya harus ikhlas dan sabar di hadapi, gitu pow?"
"Eh tapi, kata Pak Ustadz kalau kita mau terhindar dari hal-hal yang buruk atau musibah misalkan, kita harus banyakin bersedekah,"
"Ini tehnya di minum dulu Mbak!"
Saras menerima gelas teh itu dan segera menyeruputnya sambil terus mendengarkan Kubro bicara. Tumben sekali Kubro bicara layaknya orang waras seperti ini. Biasanya orang ini jarang bisa serius, canda terus.
"Mbak Saras boleh coba deh sedekah, sedekah sama saya juga boleh," Kubro terkikik setelah mengatakan itu.
Hampir saja Saras menyemburkan minumannya. Baru di puji waras dalam hati, ujung-ujungnya tetep gila.
"Dih! ngarep di sedekahin, ingat ya Mbak Kubro, semiskin apapun kita, tangan di atas itu lebih baik daripada tangan di bawah!"
"Jangan berharap di beri, kalau bisa jadi orang yang memberi" Omel Saras.
Kubro mendengus, "Hei...kata siapa saya mau jadi yang tangan di bawah, kalau Mbak Saras mau memberi, cukup buka telapak tangannya saja, nanti saya ambil sendiri, kalau gitu tangan saya kan yang di atas ga di bawah, hehe..."
"HE-HE... pinter kamu ya!" Saras mendelik kesal.
"Canda Mbak, Mbak Saras baik kog, baik banget malah...ga usah di ingetin, sudah rajin sedekah sama saya"
Ting! Ting! Ting!
"Mbak Saras itu ada bakso lewat... Mbak Saras kan baik ya... hehe..."
"Beli, beli sana..." Saras melolos satu lembar uang kertas dari dalam dompetnya.
"Punyaku kosongan ga usah pakai mie, ga pakai saos kecap, banyakin sambel aja, oke!"
Kubro berbinar menerima uang itu. "Siap Mbak..."
"Oh ya Mbak, kalau kata orang tua, firasat ibu dan anak itu kuat banget, kalau Mbak Saras cemas atau khawatir, barangkali Ibu Mbak Saras kangen atau sedang ngarep-ngarep Mbak Saras, coba deh cari tahu..." Kalau sudah pegang selembar uang, Kubro merasa semakin pintar.
Kubro ngacir keluar setelah mengatakan hal yang lebih masuk akal itu. Saras tertegun beberapa detik. Kangen? baru beberapa hari yang lalu mereka bertemu.
Atau jangan-jangan Abah sudah tahu jika Umik kesini? Abah murka, lalu memarahi Umik, lalu apa?
Apa yang terjadi pada Umik? Mereka pasti bertengkar hebat. Apa Abah juga mengusir Umik?
Saras meremas rambutnya sendiri. Tiba-tiba kepalanya semakin pening. Cemas berlebihan memang tidak baik. Ingin mencari tahu tapi bagaimana. Saras takut kalau harus menelpon Umiknya. Kalau ketahuan Haji Bagong bisa semakin runyam kayak kutu air.
***
Malam hari setelah selesai beribadah dengan suaminya. Saras mengungkapkan unek-uneknya sejak tadi. Tentang kegelisahan yang berputar-putar di pikirannya. Barangkali dengan berbagi seperti ini, ada jalan keluar yang baik.
"Besok Mas bantu cari tahu, kamu jangan khawatir, Umik pasti baik-baik saja" Paijo mengecup ujung kepala Saraswati kemudian kembali merengkuh tubuh istrinya itu kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Caranya gimana Mas?"
"Hemmm... gimana ya, Mas ke rumah kamu langsung aja gimana?"
"Wah, kalau itu sih sama saja bunuh diri Mas"
Paijo terkekeh, kemudian meyakinkan Saras jika besok dirinya benar-benar akan mencari tahu, agar istrinya tidak cemas lagi.
"Tenang saja, Mas punya seribu satu cara, jalankan untuk mengetahui kabar Umik, buat cari tahu kabar Song Jong Kok saja Mas bisa"
"Song Joong Ki Mas, ya Tuhan, belahan jiwaku itu Mas..." Saras tidak terima, opa kesayangannya di bully. "Jongkok-jongkok, enak saja!"
"Auchhhhhhhh...." tiba-tiba Paijo mengaduh kesakitan. Saras jadi panik.
"Hah, apanya yang sakit Mas?" Perasaan Saras tidak mencubit, yang ada tubuhnya masih terhimpit.
"Sini sakit sekali," tunjuk Paijo tepat di hatinya.
Saras mendengus sebal, "Dih, lebayyyyyyy!!!"
"Iya sakit sayang, kamu bilang dia belahan jiwa kamu, padahal yang ngasih kamu enak tiap malam aku, huh!"
Saras nyengir, lalu mengoreksi kalimatnya tadi.
"Enggak kog Mas, kamu tetep belahan jiwaku part 1, anggap saja Song Joong Ki part 2, kamu jangan cemburai yah!" Rayu Saras, sambil bergelayut manja di lengan Paijo.
"Tidak bisa! pokoknya aku mau jadi satu-satunya, the one only titik!"
Huh, kalau sudah cemburu begini Saras harus ekstra merayunya. Saras takut, tidak di kasih uang jatah beli kuota lagi kalau Paijo ngambek. Bisa terancam kesejahteraan nonton Drakor kegemarannya jika tak ada kuota.
"Mas Paijo ganteng deh, sekali lagi yuk!"
Wkwkwkwkwk...
Jurus ampuh wanita itu... kalau tidak ngambek ya merayu yah😁
.
.
.
.
.
.
.
Maaf ya baru sempat nulis, kemarin-kemarin aku kayak stuck ide, meh nulis apa blank...
__ADS_1
Akhirnya malam ini aku paksa otak aku ini, semoga kalian terhibur, minimal tersenyum kecil...🤗